Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Lucu Juga


__ADS_3

Nayla terbangun, ia terkejut tidurnya masih dalam keadaan sama seperti semalam, ia melihat sekeliling, suaminya itu tidak ada di dalam kamar. Melihat jam baru pukul tiga pagi, ia bertanya-tanya di manakah suaminya, apakah mungkin masih di dalam ruang kerja? Dengan malas-malasan ia pun menuruni ranjang, berjalan keluar menuju ruang kerja sang suami.


Melihat sekeliling, sudah gelap gulita, ia sedikit menggidikkan bahu karena merinding. Membuka pintu ruang kerja dengan amat pelan, ia melongo ketika melihat Farhan tidur di sofa. Mau membangunkan tapi enggan, memilih untuk keluar dari ruang kerja Farhan dan kembali ke kamar. Merebahkan diri dan tidur kembali, ia berfikir Farhan sengaja tidur di ruang kerja untuk menghindari dirinya.


Saat sarapan pun suasananya sama seperti saat makan malam, mereka saling diam, masih mementingkan ego masing-masing.


¤¤¤


Beberapa hari berlalu, hubungan mereka masih sama, saling mendiamkan. Jika bicara hanya sepatah kata saja, bahkan Farhan jarang tidur di kamar, ia memilih tidur di ruang kerja. Entah kenapa keduanya justru semakin menjauh.


Farhan pun kerap kali mendapati Nayla senyum-senyum sendiri saat berkirim pesan dengan seseorang yang pasti sudah ia tebak. Dan itu membuat Farhan semakin merasa cemburu, tetapi ia enggan untuk menanyakan hal itu pada Nayla.


Pagi ini Farhan terlihat tidak semangat, ia memasuki ruangan kerjanya dengan wajah lesu, bahkan seperti belum makan satu minggu saja. Pikirannya kacau, selama beberapa hari beridam-diaman dengan sang istri ternyata membuat dirinya down dan tidak bersemangat untuk bekerja.


Ia pun menghubungi asistennya Dika, untuk ke ruangannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Dika ketika ia sudah duduk di depan Presdirnya itu.


Farhan mengehembuskan nafas kasar, "Gue sedang ada masalah dengan istri, mungkin lo bisa bantu memecahin masalah," entah kenapa Farhan justru curhat dengan asistennya itu, bahkan ia berbicara tidak formal dengan Dika, mengingat Dika adalah temannya waktu SMA dulu, meski begitu, Dika selalu menghargai Farhan sebagai persdirnya. Padahal Dika masih bujangan belum memiliki istri, entah jika kekasih, Farhan pun tak tahu.


Farhan menceritakan masalahnya, tetapi tidak semua, ia hanya menceritakan dari sisi Nayla. Sedangkan dari sisinya tentunya ia tidak menceritakan, jika dirinya menunggu Nayla berbicara terlebih dahulu, mungkin gengsi.


Dika mendengarkan Presdirnya itu curhat, ia tahu Farhan sedang membutuhkan solusi dari masalahnya.

__ADS_1


"Menurut saya ya Pak, bagaimana kalau Bapak pergi ke luar kota beberapa hari, selain menenangkan diri, juga memberi kesempatan buat Ibu untuk berfikir, lihat saja nanti, jika Ibu benar-benar sayang sama Bapak, dia akan menyambut kepulangan Bapak dengan bahagia, tetapi jika Ibu tidak mencintai Bapak, maka sebaliknya, itu saran Saya Pak," Dika tetap berkata dengan formal, karena ia tahu ini masih jam kantor, meskipun di luar kantor ia lebih sering berkata formal dengan Farhan.


Farhan tampak menimang, "Tapi kalau pas saya pulang dia terlihat sedih dan tidak seperti yang kita harapkan gimana? Apa yang harus saya lakukan lagi?" Farhan memikirkan hal yang tidak ia harapkan, tentu saja ia mengharapakn jika Nayla bahagia menyambut kepulangannya.


"Masalah itu, kita pikir nanti Pak, jika memang yang terjadi seperti itu," terang Dika.


"Oke, setuju. Kebetulan juga minggu depan ada pertemuan di luar negri, tadinya saya mau ajak Nayla, tapi sepertinya bukan momentum yang pas, karena dia masih seperti itu,"


"Selama saya tinggal ke luar negeri dia akan sendiri di rumah, jika harus ke rumah orang tuanya nanti mereka curiga lagi, kenapa Nayla tidak di ajak padahal dia juga masih liburan semester," ucap Farhan, ia tidak mau masalah ini sampai ke telinga para orang tua.


"Gimana kalau Rita di suruh nemenin Ibu saja Pak, kita ke luar negerinya berdua saja, itu pun kalau Bapak setuju," usul Dika.


Farhan kembali termenung, sepertinya ia berfikir, "Ide kamu bagus juka Dik, salut sama kamu Dik, makasih ya, sepertinya sekarang saya sudah lebih baik, kamu boleh kembali. Nanti Saya akan bicara sama Rita," ucap Farhan, setelah itu Dika pun berpamitan.


Farhan tampak menimang-nimang ide Dika, lalu ia tersenyum, "Boleh di coba dulu," lalu ia menghubungi sekeretaris untuk masuk ke ruangannya.


Setelah mendapatkan solusi dari Dika, Farhan sedikit lega, terlihat ia sudah mengerjakan pekerjaannya dengan tenang, tak gusar seperti beberapa hari yang lalu.


¤¤¤


Waktu yang di tunggu-tunggu oleh Farhan pun tiba, pagi ini Farhan tidak ke kantor karena siangnya ia akan ke luar negeri bersama Dika. Farhan sedang menata pakaian ke dalam koper, ia belum mengatakan pada Nayla, jika hari ini akan pergi.


Nayla yang baru saja masuk kamar setelah menyelesaikan acara memasaknya, di buat heran oleh Farhan yang sedang sibuk memasukkan baju ke dalam koper.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Nayla.


"Mau ke luar negeri," Farhan menjawab dengan singkat.


Nayla mengangguk, tentu saja Farhan tidak melihat karena pemuda itu sedang menunduk. Nayla melangkah ke kamar mandi, ia masuk kamar tadi berniat untuk mandi, ia bahkan tidak bertanya lagi. Seperti itu lah mereka selama beberapa hari ini, berbicara alakadarnya.


Farhan berdecak setelah Nayla pergi dari hadapannya, "Ck, gitu doang tanggapannya. Apa dia enggak pengen ikut, kenapa gue jadi kesel sendiri gini." Farhan melempar pakaian yang ada di tangannya ke dalam koper. Ia enggan melanjutkan pekerjaannya.


"Basa-basi, kan bisa. Sini aku bantuin lah, atau gimana gitu, malah pergi tapa mengatakan apa-apa," Farhan mengomel sendiri.


Nayla yang lupa mengambil pakaian ganti, membuka pintu kamar mandi, baru saja akan melangkah ia mendengar Farhan berbicara sendiri, langkahnya pun terhenti, memilih mendengarkan ucapan Farhan. Ia terkekeh geli mendengar Farhan berbicara sendiri. Ia tahu ternyata suaminya itu juga sama gengsinya dengan dirinya.


Krek


Nayla keluar setelah Farhan selesai berbicara, ia akan pura-pura tidak tahu, lalu melangkah mengambil baju gantinya di lemari yang berada di walk in closet, tentu saja tanpa menoleh ke arah Farhan.


Farhan yang melihat Nayla keluar kamar mandi, ia pun berpura-pura kembali mengemasi pakaiannya, tanpa memperdulikan Nayla.


Nayla masuk ke dalam kamar mandi, ia menyalajan kran lalu tertawa melihat sikap Farhan yang seperti itu, sebenarnya sejak tadi ia sudah menahan tawanya.


"Ternyata Mas Farhan lucu juga ya, sebenarnya aku pengen ngomong duluan sama dia, tapi kenapa rasanya enggan ya, pengennya dia yang ngomong dulu," Nayla menghembuskan nafas kasar.


Lalu ia pun mandi. Tak butuh waktu lama ia sudah menyelesaikan acara mandinya, keluar kamar ternyata Farhan sudah selesai dengan pekerjaannya. Tadinya ia akan membantu jika pekerjaan suaminya itu belum selesai, karena sudah selesai ia memilih turun untuk sarapan.

__ADS_1


Saat sampai dapur ia terkejut karena ada dua orang lain yang juga ikut sarapan, mereka menunggu kedatangan Nayla.


Bersambung....


__ADS_2