
Tok
Tok
Tok
"Non, ada saudara-saudara Non Nayla di bawah," ucap Bik Sumi setelah mengetuk pintu kamar majikannya.
Nayla yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya, ia pun melangkahkan kaki mendekati daun pintu lalu membukanya.
"Siapa Bik? Bang Irfan sama Ayna?" tanyanya. Pasalnya mereka tidak memberi kabar jika hari ini akan menyambangi rumahnya.
"Iya Non," jawab Bik Sumi.
"Yaudah suruh tunggu sebentar, buatkan minum ya Bik sama cemilan," titah Nayla lalu ia kembai masuk ke dalam kamar.
"Siapa yang datang sayang?" tanya Farhan yang baru saja keluar dari kamar mandi, satu tangannya menggosok rambut yang masih basah.
Setelah sholat subuh tadi, Farhan berhasil membujuk istrinya untuk melayani dirinya di atas ranjang. Mengingat tadi pagi hujan membuat hawa terasa dingin, tadinya mereka ingin melanjutkan tidurnya karena ini hari minggu tapi nyatanya Farhan justru meminta haknya.
"Kata Bibik sih Bang Irfan sama Ayna, enggak tahu kenapa mereka datang tanpa memberi tahu," jawab Nayla tangannya sibuk menyisir rambut yang sudah hampir mengering.
"Aku temui mereka ya Mas," Nayla beranjak dari duduknya di depan meja rias.
"Iya, nanti Mas nyusul. Sekalian di ajak sarapan aja mereka," tutur Farhan.
Nayla yang baru berjalan dua langkah menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah sang suami, "Yakin mereka belum sarapan jam segini Mas?" tanyanya, mengingat ini sudah sangat siang, hampir setengah sepuluh.
Farhan tersenyum, ia lupa jika ini sudah siang, karena mereka baru saja bangun tidur. "Yaudah, enggak usah aja kalo gitu," ucapnya.
Nayla pun kembali melanjutkan langkahnya, keluar kamar meninggalkan sang suami yang sedang mengganti pakaian yang sudah ia siapkan
"Tumben kalian kesini enggak ngasih kabar?" tanya Nayla saat dirinya sudah duduk di sofa bersebelahan dengan Ayna.
__ADS_1
"Buat kejutan Kak, Ayna mau ajak Kakak jalan-jalan ke mall, mau belanja nanti Kakak yang pilihin buat aku ya," gadis kecil itu sangat antusias saat mengatakan itu.
"Boleh, apa sih yang enggak buat kamu," timpal Nayla sambil mengacak rambut Ayna.
Gadis lima belas tahun itu terlihat bahagia, jarang sekali ia pergi ke mall bersama teman-temannya karena Mama Adela yang overprotektif terhadap dirinya. Saat mengetahui jika ia memiliki Kakak perempuan, ia jadi lebih bersemangat apalagi Nayla orangnya sangan asyik.
"Nanti kita nonton juga ya, jarang-jarang kan kita jalan bertiga, aku pengen ngerasain jalan bareng sama kalian," pinta Ayna.
"Tadi Ayna maksa kesini, katanya dia mau jalan bertiga, mau belanja sama kamu, yaudah aku turutin kalau enggak di turutin aku bisa di omelin Mama seharian," beritahu Irfan
"Yaudah, kalo gitu aku siap-siap dulu, minta ijin juga sama Mas Farhan, moga aja dia ngijinin. Oh iya aku sarapan dulu ya, kalian udah pada sarapan belum? Kalau belum ayok sarapan bareng," Nayla mengajak kedua saudaranya untuk sarapan yang sudah telat sekali.
Irfan menaikkan satu alisnya, "Jam segini baru sarapan? Ngapain aja dari tadi?" tanyanya tidak percaya dengan kelakuan adiknya itu.
"Biasa hari minggu, tidur sampe puas," jawab Nayla sambil menyengir. Irfan hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Nayla. Baru saja Nayla akan beranjak dari duduknya sang suami lebih dulu datang.
"Wah pagi-pagi udah nyampe sini, ada apa? Ganggu pengantin baru aja," celetuk Farhan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Irfan memutar bola matanya jengah, mendengar ucapan Farhan, "Bukannya lo yang ...." ucapan Irfan terhenti karena Farhan lebih dahulu menyela.
Karena keduanya menolak, akhirnya hanya Nayla dan Farhan yang menikmati sarapan kesiangan mereka.
¤¤¤
"Mas, Ayna ngajakin aku jalan-jalan ke mall, katanya dia mau jalan bertiga aja, apa kamu ngijinin?" Nayla meminta ijin pada Farhan, keduanya sudah selesai sarapan dan masih duduk di meja makan.
"Terus Mas ngapain kalau kamu pergi sama mereka? Mas ikut ya?" Farhan seakan tidak mau di tinggal oleh istri tercintanya.
"Gimana ya Mas? Sekali ini aja deh, aku jalan sama mereka berdua, kasian Ayna Mas, please ya, kamu bisa main ke rumah si kembar seperti rencana kita sebelumnya," Nayla tidak enak dengan adiknya jika Farhan ikut serta, pasti pergerakan mereka tidak akan bebas saat ada Farhan.
"Aku juga pengen ngerasain jalan bareng saudara-saudaraku Mas," tambahnya.
Farhan menghela nafas dalam, "Yaudah, Mas ijinin. Nanti kalau sudah mau pulang kabari ya, biar Mas jemput," Nayla tersenyum mendengar ucapan Farhan yang mengijinkannya pergi tanpa dirinya.
__ADS_1
"Makasih Mas, kalau gitu aku siap-siap dulu, kamu temani mereka berdua ya," ucap Nayla, lalu ia beranjak dari duduknya. Mengecup pipi Farhan sekilas, dan melangkah menuju kamar untuk berganti pakaian.
¤¤¤
"Mas, kita pergi dulu ya, kamu ke rumah si kembar sendirian enggak apa-apa kan sayang?" tanya Nayla. Mereka kini sudah berada di halaman depan.
"Iya, enggak apa-apa. Yaudah sana nanti kesiangan," Farhan mengelus puncak kepala Nayla. "Fan jaga istriku dengan baik," tambahnya sambil menatap Irfan.
"Iya Bang,"
"Kalian itu kebalik, harusnya Mas Farhan yang panggil Irfan Abang, ini aneh adik iparnya di panggil Bang," protes Nayla. Ini sudah kesekian kalinya wanita itu protes dan mereka masih saja menggunakan panggilan sesuka hati.
"Yaudah sana kalian berangkat," tidak menghiarukan ucapan Nayla, Farhan justru mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
Nayla meraih punggung tangan Farhan, untuk di kecup. Lalu ia menyusul kedua saudaranya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Setelah Nayla masuk ke dalam mobil, Irfan pun melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Nayla. Sesekali tiga saudara itu bercanda di dalam mobil, lebih tepatnya hanya Nayla dan Ayna, karena Irfan sibuk mengemudi dan sesekali membalas pesan di ponselnya, yang terus berbunyi, entah dari siapa.
Tiga puluh menit berlalu, keduanya pun sampai di mall terbesar di kota itu. Mereka masuk ke dalam mall dengan bergandengan tangan, eits hanya Nayla dan Ayna ya yang bergandengan tangan, sedangkan Irfan berjalan di belakang dua adiknya itu. Ia tersenyum menatap keakraban mereka, ia bahagia melihat Ayna begitu bahagia memiliki seorang kakak perempuan. Kakak yang selalu Ayna idam-idamkan sejak dulu.
Irfan mengikuti kemanapun mereka melangkah, kali ini kedua adiknya itu terlihat memasuki toko pakaian. Irfan memilih duduk di sofa yang tersedia di sana, sambil memantau kedua adiknya itu.
"Dea?" Nayla melihat seseorang yang sangat ia kenal, temannya waktu SMA dulu sedang memilih-milih dres di hadapannya. Dea juga sahabat Rara saat mereka masih SMA.
"Eh Nayla, apa kabar? Lama tidak ketemu ya? Kamu nikah aja aku enggak datang, maaf ya," ucap Dea, ia memeluk Nayla.
"Alhamdulillah baik, ia enggak apa-apa De, kapan kamu pulang ke Indonesia?" tanya Nayla setelah melepaskan pelukannya.
"Seminggu yang lalu Nay. Aku kira dulu kamu beneran jadian sama Alvian, eh ternyata aku salah. Aku sempet terkejut saat mengetahui kamu nikah sama Kakaknya Icha, dan terkejut lagi pas di ceritain sama Rara kalau kamu ternyata saudaraan sama Irfan. Dunia ini memang sempit ya kalau di pikir-pikir," ucap Dea, mereka justru asyik bercerita dan melupakan orang yang menunggunya.
"Iya bener apa yang kamu katakan De, eh ngomong-ngomong kamu kesini sama siapa?" tanya Nayla penasaran.
Sebelum Dea menjawab, seseorang lebih dulu datang dan membuat Nayla terkejut.
__ADS_1
"Sayang, menurut kamu bagus yang mana?" orang itu membawa dua buah kemeja ke hadapan Dea.
Bersambung....