
"Tunggu Nay," ucap Farhan, ia meraih dompet dari saku celananya, "Ini untukmu, maaf aku lupa memberikannya, belanjakan apa pun kebutuhanmu," ucapnya, ia memang sudah berniat memberikan credit dan debit card pada Nayla tetapi selalu lupa.
"Tidak usah Mas, bawa Mas Farhan aja," tolak Nayla.
Farhan meraih tangan Nayla, meletakkan dua kartu itu di atas telapak tangan gadis itu, "Kamu adalah istriku, ini sudah jadi kewajibanku Nay, uang yang kamu punya simpanlah dan jangan minta uang lagi sama Papa, jika kurang mintalah sama aku, karena sekarang kamu tanggung jawabku," tutur Farhan panjang lebar.
Seketika Nayla memeluk tubuh Farhan, "Makasih Mas, aku terharu dengan semua ucapanmu, aku merasa jadi wanita paling beruntung mendapatkan suami sepertimu Mas," ucapnya, air mata lolos begitu saja tanpa permisi.
Farhan membalas pelukan Nayla, "Itu sudah tanggung jawabku, sudah ya sekarang kamu masuk, lima menit lagi jam delapan tepat," ucap Farhan lalu ia melepaskan pelukannya.
"Udah, jangan nangis. Ternyata selain malu-malu kebiasaan kamu itu meluk secara tiba-tiba dan nangis," Farhan terkekeh di akhir kalimatnya, karena Nayla sering melakukan itu. Menghapus jejak air mata di pipi Nayla dengan kedua ibu jarinya.
"Yaudah aku masuk dulu ya," ucap Nayla, ia kembali meraih tangan Farhan, mencium punggung tangan itu. Melepaskan tangan Farhan lalu dengan kilat ia mencium pipi Farhan dan keluar dari mobil dengan terburu-buru, seperti maling yang sedang melarikan diri.
Brak
Bahkan menutup pintu mobil pun dengan kasar.
Farhan terkejut tentu saja, ia menyunggingakan senyum di bibirnya, lalu memegang pipi bekas ciuman Nayla. "Dasar malu-malu kucing," ucapnya.
Farhan melihat ke arah pintu masuk, tapi sudah tidak mendapati Nayla di sana, ia yakin istrinya itu sudah lari terbirit-birit karena berhasil mencium pipinya tanpa ijin. Lalu ia melajukan mobilnya kembali, entah ia akan menunggu Nayla di mana, mungkin akan kembali ke rumah atau justru menunggu di sekitar kampus.
Di sisi lain, setelah keluar dari mobil, gadis itu tidak langsung lari menuju ruangannya, ia justru bersembunyi di balik tembok menunggu Farhan pergi dari sana. Tersenyum ketika melihat mobil Farhan sudah tidak ada di tempat tadi, ia kembali melangkah menuju ruangannya. Hari ini ia akan mengejrakan ujiannya dengan senang hati dan lebih bersemangat tentunya, tidak seperti beberapa hari lalu saat di tinggal Farhan pergi ke luar kota.
¤¤¤¤
Pukul sepuluh siang, Farhan sudah berada parkiran kampus, ia sengaja menunggu Nayla dengan pakaian yang berbeda dari tadi pagi yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos, saat ini ia terlihat lebih rapi, dengan kemeja kotak-kotak, di bagian lengan ia gulung sampai siku, celana jeans panjang dan sepatu cats, ia terlihat seperti anak kuliahan.
Banyak mahasiswi yang memperhatikan dirinya, bahkan berbisik-bisik saat melihat ketampanan pemuda itu. Banyak yang mengira jika itu mahasiswa baru, karena mereka tidak pernah sekalipun melihat pemuda itu di kampus.
__ADS_1
Setelah mendapat pesan dari Farhan, jika suaminya itu sudah menunggu di parkiran, Nayla langsung bergegas meninggalkan ruangannya, ia mengabaikan teriakan teman-teman yang menyerukan namanya. Gadis itu berjalan tergesa-gesa menuju parkiran. Baru saja kakinya memasuki area parkiran, ia di buat terkejut karena banyak mahasiswi yang memperhatikan suaminya dengan terang-terangan.
"Sudah lama Mas?" tanya Nayla, ketika dirinya sudah berada di hadapan Farhan.
Farhan mendongak karena sejak tadi ia sibuk dengan ponselnya, hingga tidak menyadari kedatangan sang istri, ia tersenyum, "Baru beberapa menit yang lalu," jawabnya.
Nayla tanpa ragu meraih tangan kanan Farhan, mengecup punggung tangan suaminya.
Apa yang di lakukan Farhan? Ia mengecup kening Nayla selama beberapa detik, membuat gadis itu tersipu malu, karena mereka di tonton banyak pasang mata. Ada yang iri melihatnya, ada juga yang bahagia dan ingin memiliki kekasih atau suami seperti Farhan.
"Biar pada tahu kalau aku sudah beristri," bisik Farhan di telinga Nayla.
Nayla menunduk, wajahnya merona merah. Diam-diam ia tersenyum, bersorak ria dalam hatinya.
Lalu Farhan menuntun Nayla, membukakan pintu mobil untuk sang istri. Setelah Nayla masuk, ia mengitari mobilnya lalu masuk melalui pintu yang berbeda.
"Aku malu Mas, diliatin banyak orang," celetuk Nayla setelah Farhan duduk di sisinya.
Deg
Jantung Nayla kembali berdetak di atas normal, ia sekuat tenaga menormalkan debaran jantungnya yang tak menentu. Menarik nafas panjang dan mengeluarkannya.
"Kamu kenapa?" tanya Farhan menyadari jika Nayla menarik nafas panjang. Netranya fokus menatap jalanan.
"Enggak apa-apa Mas," jawab Nayla tak jujur, tidak mungkin jika ia mengatakan yang sesungguhnya.
"Kita langsung ke rumah sakit ya," ucap Farhan, tanpa persetujuan Nayla ia sudah melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Iya Mas, aku penasaran dengan bayinya Icha, pasti menggemaskan," ucap Nayla antusias, "Aku jadi rindu keponakanku, waktu itu enggak sempet main bareng mereka," tambahnya. Nayla mengingat beberapa waktu lalu, saat kedua kakaknya datang ke kota ini.
__ADS_1
"Maafkan aku, karena sikapku waktu itu, kamu jadi enggak bisa main sama keponakanmu," Farhan menyadari perubahan wajah Nayla yang menjadi sendu, ia meraih tangan gadis itu dan membawa ke pangkuannya, "Kapan-kapan kita ke rumah mereka ya, aku juga penasaran sama kota Jogja, tempat kelahiranmu," ucap Farhan.
Nayla mengangguk, ia tersenyum menatap Farhan, "Iya Mas, enggak masalah, itu juga sudah berlalu," timpalnya.
Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit. Farhan memarkirkan mobilnya, lalu mereka keluar dari mobil secara bersamaan.
Mereka langsung menuju ruang rawat Icha karena Farhan sudah bertanya terlebih dahulu pada sang Mama di mana Icha di rawat.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di ruang rawat Icha.
Mereka menghabiskan waktu dengan menggendong bayi kembar yang Icha lahirkan. Bahkan bayi laki-laki terlihat lebih nyaman di gendongan Nayla. Entah mengapa bayi itu bisa langsung menyukai Nayla.
¤¤¤
Sore hari mereka baru keluar dari rumah sakit. Keduanya memilih singgah untuk makan malam terlebih dahulu. Farhan membelokkan mobilnya ke sebuah mall terbesar di kota itu.
"Kok ke mall Mas?" tanya Nayla, pasalnya Farhan tadi mengatakan mau makan bukan belanja.
"Kita sekalian belanja, gimana? Mumpung ini malam minggu juga, anggap saja kita kencan," ucap Farhan.
"Baiklah, aku ikut saja, di ajak belanjan siapa sih yang nolak, apalagi kalau di belanjakan," timpal Nayla.
"Kamu tenang saja, malam ini kamu boleh belanja apa saja yang kamu mau, tapi bayar sendiri," Farhan terkekeh di akhir kalimatnya.
Nayla mendengus, ia memalingkan wajahnya.
Farhan justru makin terkekeh dengan tingkah Nayla. Ia senang sekali menggoda gadis itu.
"Ayo turun Sayang, apa minta di gendong?" tanya Farhan.
__ADS_1
Nayla terkejut dengan panggilan 'sayang' yang Farhan ucapkan. Apa dirinya salah dengar tadi? Menggelengkan kepala, menetralkan rasa keterkejutannya, lalu ia membuka pintu mobil dan keluar sebelum Farhan benar-benar menggendongnya.
Bersambung....