Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Panggil Aku Mas


__ADS_3

Pintu kamar mandi terbuka, Farhan hanya menampakkan kepalanya saja, lalu ia mengambil baju yang disiapkan oleh istrinya. Karena saking terburu-buru gaun yang dikenakan Nayla sampai tertarik dan siempunya pun ikut tertarik.


"Eh Kak," merasa dirinya ikut tertarik ia menahan sekuat tenaga supaya tak masuk kedalam kamar mandi.


"Ah maaf Nay, enggak sengaja," menyengir karena kegugupannya membuat ia tak sengaja menarik gaun yang Nayla kenakan.


Nayla hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia melangkah dan kembali duduk di sofa, menunggu suaminya selesai mengenakan pakaiannya.


Tak lama Farhan keluar dari kamar mandi sudah mengenakan baju gantinya, ia terlihat lebih segar, menggosok-gosokkan handuk dirambutnya yang masih basah. Aura ketampanannya terlihat jelas dimata Nayla, bahkan tanpa sadar ia terus memperhatikan Farhan hingga lelaki itu sampai di depan meja rias. Buru-buru Nayla mengalihkan pandangannya saat tahu Farhan akan menoleh ke arahnya.


"Aku mandi ya Kak," tak ingin terlarut memandangi ciptaan Tuhan yang dia kagumi, Nayla memilih masuk kedalam kamar mandi, untuk menyegarkan dirinya yang terasa lengket.


Tak lupa dia membawa baju gantinya, sebuah gaun berwarna peach kesukaannya yang tadi dibelikan oleh Farhan. Entah kebetulan atau apa, baju-baju yang dibeli oleh Farhan adalah warna dan model yang di sukainya. Mungkin juga Farhan meminta Icha yang membelikannya, ia juga tidak tahu dan hanya bisa menebak saja.


Sepeninggalan Nayla ke kamar mandi, Farhan duduk di depan meja rias, menyisir rambutnya lalu memandangi dirinya di pantulan cermin.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tega-teganya Rena meninggalkanku disaat acara pernikahan, kenapa enggak jujur sebelumnya saja. Akkhh pusing!" Farhan memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


"Yang terpenting sekarang pikirkan Nayla, dia sudah rela menjadi istriku saat masih muda, aku harus belajar mencintainya, meskipun akan terasa sulit," gumamnya. Ia harus menerima takdir yang sudah digariskan, karena semua yang terjadi pasti atas kehendak Tuhan. Tapi Farhan tetap mencari tahu dimana Sherena, ia juga penasaran dengan siapa wanita itu hamil.


Tak butuh waktu lama, Nayla sudah keluar dari kamar mandi dengan balutan pakaian yang berbeda, riasan diwajahnya juga sudah hilang terbawa air. Terlihat lebih segar, pastinya rasa lengket pun sudah hilang.

__ADS_1


Nayla mengeringkan rambutnya dengan alat pengering yang ada di kamar itu, setelah dirasa kering ia menyisir rambut panjangnya, mengoleskan bedak tipis diwajahnya, tipis sekali hingga tak nampak jika dia bermake up.


Bingung harus berbuat apa, setelah semuanya selesai. Mau naik keatas ranjang merebahkan dirinya disana tapi ada Farhan yang lebih dulu disana. Mau duduk di sofa lagi tapi dia ragu. Akhirnya memutuskan untuk diam saja didepan meja rias, hingga suara Farhan mengagetkannya.


"Sini Nay, kenapa disitu aja, sini aku mau ngomong," Farhan menepuk bagian kosong disebelahnya, dia menyuruh istrinya duduk disebelahnya. "Jangan takut, aku tidak akan berbuat apa-apa Nay," tambahnya.


Dengan sedikit ragu, dia berjalan mendekat ke arah ranjang, naik ke atas ranjang dan duduk disisi suaminya. Tak berniat memulai pembicaraan, karena masih sedikit ragu.


"Nay, kita memang tidak saling mencintai saat ini." Dengan sedikit ragu meraih satu tangan Nayla, "suatu saat aku harap kita bisa saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain, kamu harus belajar mencintaiku ya, aku juga akan belajar mencintaimu Nay," tutur Farhan lembut, dia memandang wajah istrinya yang juga memandang ke arahnya.


Hati Nayla berdesir saat suaminya memegang salah satu tangannya, jantungnya pun sudah tidak bisa di kondisikan, tapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja.


Jika itu Sherena, Farhan pasti akan mencium bibir yang menciptakan senyum manis itu. Tapi ke adaan berbeda, ia belum memiliki keberanian untuk melakukan hal itu, mengingat mereka belum saling mencintai bahkan berbicara sedekat ini pun belum pernah mereka lakukan.


Masih menggenggam jemari Nayla, "Mulai sekarang jangan panggil aku Kak ya Nay, seperti bicara sama Icha aja. Aku ini suami kamu bukan Kakak kamu, panggil aku Mas, mau kan?" pinta Farhan, ia merasa seperti dengan adiknya saja jika dipanggil dengan sebutan 'Kak'. "Jika Papa dan Mama tahu pasti akan protes jika kamu masih panggil aku Kak," tambahnya, lalu melepas tangan Nayla, ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Iya Ka, eh Mas Farhan maksudku," ia terbata, masih sulit mengucapkan kata Mas pada Farhan.


Farhan tersenyum, "Sekarang tidurlah, nanti aku bangunin, kamu pasti capek sekali," titah Farhan, ia tahu jika istrinya memang lelah, ia juga sebenarnya lelah, tapi masih enggan untuk beristirahat.


"Iya Kak, eh maksudku Mas," ucap Nayla, malu rasanya masih salah saja menyebut panggilan suaminya.

__ADS_1


Lagi-lagi Farhan tersenyum menanggapi ke gugupan Nayla. "Nanti lama-lama juga terbiasa Nay," ucapnya.


Nayla mengangguk, "Iya Mas," ia merebahkan diri disamping Farhan, dia tidur miring dengan membelakangi Farhan. Rasa capek yang menyerang membuatnya langsung terlelap dalam mimpi.


Farhan memainkan ponselnya, ia tadi menyuruh seseorang untuk mencari tahu dimana keberadaan Sherena, dia masih penasaran keberadaan wanita itu di mana saat inj? Ia juga ingin tahu Sherena hamil dengan siapa? Padahal selama setahun ini mereka selalu bersama, karena Sherena sudah kembali ke Indonesia.


Saking cintanya pada Sherena, ia sebenarnya akan menerima keadaan apapun, jika Sherena menjelaskan sebelumnya, tapi kenapa Sherena justru kabur dan memberi tahu kehamilannya saat hari H pernikahan. Dan itu membuat Farhan kecewa pada wanita itu.


Tersadar dari lamunannya, ia menoleh kearah Nayla, melihat gadis itu yang sudah terpejam, "Nay, aku akan berusahan untuk mencintaimu mulai saat ini. Mungkin akan sangat sulit karena aku selalu mengganggapmu sama seperti Icha, yaitu adikku," lirihnya, dia mengelus ramput panjang Nayla.


Ia teringat sesuatu, ponsel yang isinya nomer-nomer keluarga dan teman-temannya hancur saat ia lempar pagi tadi. Ia sama sekali tidak menyesal melempar ponsel yang di belikan oleh Shrena itu, ponsel yang sama warna dan typenya dengan milik Sherena. Lalu ia menghubungi seseorang entah siapa.


"Hallo Dika, tolong belikan saya ponsel baru. Jika sudah dapat bawa ke hotel," ucap Farhan dengan orang di seberang sana, ia memutus panggilan telfonnya tanpa menunggu orang yang di seberang sana menjawab.


Farhan ikut merebahkan diri disamping Nayla, ia juga ingin istirahat. Merefres setimulus otaknya yang terus berfikir sejak tadi. Tetapi matanya tak bisa terpejam, karena pikirannya justru berkeliaran kemana-mana. Hingga sore tiba, Farhan tak kunjung memejamkan mata, ia lebih memilih untuk melaksanakan sholat asar terlebih dahulu, sebelum membangunkan Nayla.


Bersambung....


Jangan lupa like dan komennya yah...


Ada satu episode lagi di tunggu ya.

__ADS_1


__ADS_2