Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Pusing


__ADS_3

"Dugaanku bener kan? Kalau Rita yang melakukan itu semua, kamu udah lapor polisi Mas?" tanya Nayla.


Mereka kini sudah berada di atas tempat tidur, duduk sambil bersandar di kepala ranjang, Nayla baru saja mendengarkan penjelasan Farhan tentang kedatangan Dika tadi sebelum mereka pergi makan malam.


"Apa perlu lapor polisi? Karena sepertinya Rita juga takut menampakkan diri setelah melakukan kesalahan itu," Farhan tidak berfikir sampai melaporkan Rita ke polisi, karena menurutnya Rita sudah jera.


"Harus dong Mas, itu tindakan kejahatan. Bisa saja sekarang dia pura-pura takut, tapi padahal dia sedang sembunyi untuk merencanakan perbuatan yang lebih jahat lagi, dan sebelum itu terjadi, kamu harus laporin kejahatan dia," ucap Nayla sedikit geram menghadapi sang suami yang dengan mudahnya menyepelekan masalah seperti ini.


"Oke, Mas akan menyuruh Dika melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib, besok pagi," timpal Farhan.


"Kamu itu gimana sih Mas? Ini itu masalah serius, kamu malah gitu. Aku enggak bisa ngebayangin apa yang akan terjadi, jika kita tidak datang menyusul kamu ke sana, pasti tu ulet keket udah berhasil ngejebak kamu," Nayla bergidik ngeri membayangkan jika mereka tidak datang kemarin malam.


"Oke, Mas minta maaf, sekarang Mas akan hubungi Dika supaya melaporkan ini ke polisi, supaya Rita jera," ucap Farhan, ia meraih gawainya lalu menghubungi Dika sang asisten.


Setelah menghubungi Dika, Farhan kembali menyusul sang istri yang sudah lebih dahulu merebahkan diri dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Maafin Mas ya sayang, bukan maksudku menyepelekan masalah ini, tapi Mas kira akan bisa menghadapi ini tanpa polisi, tapi Mas baru sadar ini sebuah kejahatan yang terencana," ucap Farhan sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang. Ia tahu Nayla masih kesal terhadap dirinya karena menyepelekan masalah seperti ini.


Nayla diam, ia tidak mau menimpali ucapan sang suami.


"Sayang, bujuk Mama dong supaya enggak marah lagi sama Papa." Ucap Farhan sambil mengelus perut Nayla.


"Bilang sama Mama kalau Papa sayang banget sama Mama kamu sayang," Farhan masih berbicara dengan bayi dalam perut Nayla.


"Yaudah deh kalo Mama enggak mau maafin Papa, biar Papa tidur di luar aja, kamu temenin Mama ya, kasih tahu Papa kalau ada hantu," ucap Farhan, ia sengaja berkata seperti itu supaya Nayla tidak mendiamkannya lagi.


Farhan melepas pelukannya, baru saja ia akan turun dari ranjang, tiba-tiba,


Blup


Lampu padam, entah di sengaja atau tidak. Tentu saja dengan padamnya lampu tersebut membuat Nayla dengan cepat menggapai tubuh sang suami dan memeluknya.

__ADS_1


"Mas, takut," rengeknya dengan manja.


"Katanya ngambek? Kok peluk-peluk," bukannya merespon rengekan Nayla, Farhan justru menggoda Nayla.


"Ih Mas, ngambeknya aku cancel, salah siapa mati lampu," ucap Nayla yang masih memeluk erat tubuh sang suami.


"Emang bisa ya, ngambek di cancel, kaya belanja online aja," bukannya mencari penerangan, mereka berdua justru asyik berdebat.


"Mas!" rengek Nayla lagi.


Farhan terkekeh, lalu ia menghadap sang istri karena tadi Nayla memeluk Farhan dari belakang.


"Nyalain lampunya Mas, aku takut, horro," ucap Nayla.


Farhan meraih ponsel yang berada di atas nakas, lalu menyalakan senter yang ada dalam ponsel tersebut.


"Kamu di sini dulu, Mas mau cari lilin," ucap Farhan, ia memberikan ponsel satunya pada sang istri setelah menyalakan senter di ponsel itu.


"Yaudah ayo, nyari lilin di laci itu, mau ikut?" tanya Farhan karena ia hanya akan mengambil lilin di laci yang masih ada dalam kamar.


Nayla tersenyum lalu, menggeleng. Ia memilih untuk merebahkan diri sambil menunggu sang suami.


Setelah menyalakan lilin, Farhan pun menyusul Nayla ke atas ranjang.


"Udah malem, ayo tidur kasian juga si dedek kalau diajak begadang," ucap Farhan setelah merebahkan diri di samping sang istri, memeluk tubuh yang terlihat lebih berisi tersebut lalu memejamkan mata menelusuri alam mimpi.


****


Pagi menjelang, saat ini Farhan sudah berada di kantor dan baru saja masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh sang istri yang selalu mengikuti kemana pun Farhan pergi. Farhan mengernyitkan dahi saat melihat sebuah amplop yang berada di meja kerjanya, tak lupa beberapa dokumen juga ada di sana.


"Surat apa Mas?" tanya Nayla yang juga melihat surat tersebut.

__ADS_1


"Mas juga enggak tahu," ucap Farhan, lalu ia meraih surat tersebut. "Surat pengunduran diri?" tanyanya setelah melihat surat itu.


"Siapa yang mengundurkan diri Mas?" tanya Nayla penasaran, ia mendekat ke arah sang suami.


"Rita masih sempet-sempetnya buat surat pengunduran diri, enggak habis pikir aku sama wanita itu," garam Nayla saat membaca siapa yang mengirim surat pengunduran diri.


"Entahlah, ternyata dia masih berani datang ke kantor," timpal Farhan. "Udah kamu jangan marah-marah lagi, Mas akan urus semua ini, tenangkan dirimu biar anak kita juga tenang," tambahnya, Farhan bisa melihat jelas api kemarahan di wajah sang istri, lalu ia menuntun Nayla untuk duduk di sofa.


Setelah Nayla duduk dengan tenang, Farhan menelfon seseorang lewat telfon yang ada di dalam ruangannya. Tak butuh waktu lama setelah telfon terputus, seseorang mengetuk pintu, Farhan pun mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Duduk Pak, saya mau tanya sesuatu sama Bapak," Farhan mempersilakan seorang laki-laki paruh baya berseragam satpam itu untuk duduk.


"Apa Bapak tadi lihat Rita masuk ke kantor?" tanya Farhan.


Rita memang membawa kunci cadangan ruangan Farhan, karena Farhan terbiasa menyuruh sang sekretaris yang mengunci ruangannya saat pekerjaannya telah usai.


"Iya Pak, tadi Bu Rita datang ke kantor pagi sekali, bahkan saya juga baru datang, saat saya tanya dia bilang mau ke luar kota dan ada dokumen yang harus dia ambil gitu," jelas Pak Satpam. Satpam sift siang memang datangnya pagi sebelum jam enam untuk menggantikan satpam yang berjaga malam.


"Oh yaudah Pak terimakasih, Bapak boleh kembali," ucap Farhan setelah mengintrogasi satpam tersebut.


Hari ini Farhan benar-benar tidak fokus bekerja, ia memikirkan masalah yang terjadi, sekaligus harus bekerja tanpa sekretaris di tambah lagi Dika yang sedang menyelidiki kejadian setahun silam untuk memastikan apakah benar Rita terlibat atau tidak, jika terlibat maka hukuman akan lebih berat untuk wanita itu. Farhan tidak akan mudah melepaskan Rita, meski wanita itu yang telah membantunya selama beberapa tahun ini.


"Kenapa Mas?" tanya Nayla saat melihat sang suami menyusulnya masuk ke dalam kamar. Nayla belajar di dalam kamar yang ada di ruangan Farhan, sambil menunggu sang suami bekerja, karena jika ia menunggu di sofa akan mengganggu Farhan bekerja.


"Pusing, sayang," jawabnya, lalu merebahkan diri di sisi Nayla yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. "Mas mau tidur sebentar ya," tambahnya.


Nayla meletakkan laptopnya, lalu memijit-mijit kepala sang suami dengan lembut. "Yaudah Mas tidur, biar aku pijitin kepalanya," ucapnya.


Tak lama Farhan pun terlelap.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2