Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Demi Anak Kamu


__ADS_3

Sampai ruangan Farhan, Nayla menjatuhkan dirinya di atas sofa. Membuat Farhan khawatir dengan keadaan istrinya, ia pun bangkit dari duduknya menghampiri Nayla yang baru saja masuk bersama Icha.


"Dia mabok sama bau parfum, bahkan berpapasan dengan karyawan Kakak, Nayla juga menutup mulutnya," ucap Icha seakan tahu apa yang di fikirkan oleh Farhan.


"Yaudah mulai besok Mas akan melarang seluruh karyawan supaya tidak pake farfum," ucap Farhan setelah duduk di sisi Nayla.


"Minum dulu ya sayang," tambahnya lalu memberikan satu botol air mineral miliknya.


Nayla menerima botol tersebut, lalu menegak seluruh isinya tanpa sisa.


"Mual banget Mas, kalo gini caranya gimana kuliahnya? Masak harus di tunda, padahal sebentar lagi skripsi," keluh Nayla, ia memikirkan nasib kuliahnya.


"Yang penting kamu sehat, kuliah kan bisa nanti sayang," tutur Farhan.


"Iya Nay, fokus dulu sama kesehatan kamu, kuliah bisa nanti setelah bayinya lahir, kalau enggak kamu juga bisa kuliah online aja, tapi enggak enak menurutku," Icha menimpali.


"Yaudah soal kuliah di fikirkan nanti, sekarang kamu makan dulu ya, biar Mas pesenin,"


Nayla mengangguk, detik berikutnya ia mencegah sang suami yang sedang berkutat dengan ponselnya.


"Makan di luar ya Mas, kamu kan udah janji tadi pagi," wanita hamil itu masih ingat saja, padahal kondisinya saat ini tidak baik-baik saja.


"Apa kamu yakin? Gimana kalau kamu mual bau parfum Dika? Enggak jadi makan malah tambah lemes kan?" padahal Farhan sudah bahagia, ia tadi mengira istrinya lupa dengan obrolan mereka tadi pagi.


"Suruh Dika ganti baju, jangan pake parfum saat makan siang nanti," usul Nayla.


Farhan mendengus, sedangkan Icha di buat heran dengan percakapan suami istri itu, ia tidak faham apa maksudnya.


"Emang kenapa dengan Kak Dika? kenapa harus ganti baju saat makan siang?" tanya Icha penasaran.


Nayla menceritakan pada Icha jika dirinya ingin makan bareng Dika dan melihat Dika tersenyum. Seketikan tawa Icha pecah memenuhi ruangan tersebut.


"Kak, anak kamu ada-ada aja sih, jangan-jangan pas buatnya Kakak lagi kesel sama Kak Dika, jadi gini kan," ucap Icha masih dengan gelak tawanya.


Farhan hanya berdecak, dirinya kesal tapi adiknya itu justru menertawakan kekesalannya.


"Yang sabar ya Kak, untung cuma mau makan barenga aja, enggak minta di cium kan Nay?" Icha masih saja tertawa tebahak-bahak.


"Kalau sampai minta itu, Dika akan Kakak pindah tugas, dan enggak akan mau nurutin hal seperti itu, biarkan saja Kakak cantikmu itu mau nangis apa ngambek," ucap Farhan sambil melirik sang istri yang berada di hadapannya.

__ADS_1


Sedangkan Nayla mengerucutkan bibirnya, ia juga tahu batasan, tidak mungkin minta di cium oleh sembarang orang.


"Yaudah aku pamit ya, silahkan nikmati makan siang kalian," ucap Icha lalu ia pergi dari ruangan Farhan.


"Mas beresin pekrjaan dulu ya, ini juga belum waktunua makan siang, kamu istirahat di kamar aja dulu, nanti Mas bangunin," titah Farhan, karrna saat ini memang belum waktunya untuk istirahat makan siang.


Nayla mengangguk, ia beranjak dari duduknya. Lalu Farhan menuntun sang istri masuk ke dalam kamar yang ada di ruangan itu. Membaringkan tubuh Nayla di atas ranjang, mengecup sekilas kening sang istri, lalu beralih mengelus perut Nayla yang sudah terlihat menonjol.


"Jangan nakal ya sayang, kasian Mama. Jangan minta yang aneh-aneh, cukup sekali ini aja minta yang aneh, besok-besok mintanya yang Papa bisa kabulin ya," tutur Farhan, lalu ia mengecup perut sang istri.


Nayla tersenyum melihat kelakuan Farhan, ia bahagia melihat suaminya seperti itu.


"Mas keluar ya,"


Nayla mengangguk, "Iya Mas," ucapnya.


Farhan kembali mengerjakan pejerjaannya yang sempat tertunda. Duduk di kursi kebesarannya, lalu ia menghubungi seseorang, setelah berbicara secukupnya, ia pun mematikan panggilan itu.


"Niatnya biar enggak jadi makan bareng Dika, ternyata gagal," gumam Farhan, ia tadi sudah menyuruh Dika untuk menggunakan parfum berlebihan, tapi ternyata usahanya gagal, sang istri teteh kukuh untuk makan siang bareng Dika. Membuat Farhan kembali memerintah Dika supaya berganti pakaian saat makan siang nanti.


¤¤¤


Sesuai janji Farhan, mereka saat ini sedang berjalan menuju sebuah restoran. Karena Dika sudah berada di sana, setelah bertemu dengan klien, Dika langsung meluncur ke sebuah restoran sesuai perintah Farhan. Ia juga sudah mengganti pakaiannya sebelum tiba di restoran.


"Kenapa sayang?" tanya Farhan saat Nayla menghentikan langkahnya.


"Kenapa ada dia sih? Aku enggak mau kalau ada dia," ucapnya sambil cemberut.


"Emang kenapa dengan Rita?"


"Pulang aja, besok makan sama Dikanya, tapi jangan ajak si Rita, males" ucap Nayla lalu ia berbalik. Baru saja melangkah Farhan mencegahnya.


"Yaudah, biar Mas suruh Rita pulang duluan, tunggu di sini, jangan kemana-mana," titah Farhan, lalu ia menghampiri Dika dan Rita yang duduk tidak jauh dari mereka.


Ia melakukan itu kerena tidak mau melihat Nayla terus merengek minta makan bareng sama Dika. Ia juga tidak mau ambil resiko, jika nanti malam Nayla merengek minta di antar ke rumah Dika, kan tidak lucu.


Entah apa yang di katakab oleh Farhan, Rita menurut ia keluat restoran dengan wajah kesal. Melirik sinis pada Nayla saat melewati wanita itu, tapi Nayla menaggapinya dengan tersenyum mengejek, sepertinya Nayla sengaja melakukan itu, bukan karena keinginan bayinya.


"Ayo, katanya mau makan siang," ucapan Farhan membuyarkan lamunan Nayla.

__ADS_1


Nayla mengangguk, lalu ia mengikuti Farhan menuju meja yang sudah di pesan oleh Dika.


"Dika kamu terlihat manis deh, apalagi kalau pakai baju santai gini," ucap Nayla setelah duduk di hadapan Dika.


Sedangkan Dika salah tingkah, karena tatapan sang bos yang mengerikan membuat ia mati kutu. Dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum paksa.


"Katanya mau makan, cepetan mau pesen apa?" tanya Farhan sedikit sewot, ia tidak terima dengan pujian sang istri pada asistennya itu.


"Mas aku makananya yang sama kaya Dika ya," ucap Nayla sambil tersenyum


Farhan mendengus, lalu ia mengelus dadanya perlaha, mengehembuskan nafas dalam-dalam supaya menetralkan sesak di dadanya.


"Sabar-sabar, demi anak kamu," monolognya dalam hati.


Akhirnya mereka bertiga memesan menu yang sama.


"Makannya habiskan dulu sayang, kasian Dika kamu tatap sepeti itu, dia jadi enggak bisa makan," ucap Farhan, padahal ia cemburu melihat tatapan sang istri pada Dika, tapi lihatlah yang di tatap hanya fokus dengan makannanya. Ia tidak mau menatap balik istri sang bos, karena takut dengan tatapan mata elangnya.


"Aku dah kenyang Mas," ucap Nayla sambil mendorong piring di hadapannya.


Farhan menghembuskan nafas, ia melihat isi dalam piring masih banyak, sepertinya Nayla hanya makan dua atau tiga sendok saja, karena ia hanya memandang Dika yang sedang makan dengan was-was itu.


"Kamu boleh kembali ke kantor dulu Dik," ucap Farhan, sebenarnya ia mengusir berharap Nayla mau memakan makanannya.


"Baik Pak," buru-buru Dika berdiri dan meninggalkan pasangan suami istri itu.


Nayla mendengus saat Dika keluar dari restoran, "Kok di usir sih Mas," ucapnya.


"Kamu itu aneh banget sih, dari tadi liatin Dika terus, sampai-sampai melupakan suamimu sendiri. Mas enggak akan turutin kemauan kamu yang aneh seperti ini lagi, nyesel," ucap Farhan kesal.


"Yaudah aku mau pulang," Nayla berdiri lalu Farhan menahannya.


"Nay, jangan seperti anak kecil gini dong, malu di liatin orang," ucap Farhan. Nayla tidak mau mnghentikan langkahnyaa.


"Oke Mas minta maaf, sekarang makan dulu ya, kasian anak kita, kalau Mamanya tidak makan dia nanti kelaparan," tutur Farhan lembut.


Nayla berhenti, ia berfikir sejenak, "Oke, aku makan tapi suapin," ucapnya.


"Iya Mas akan suapin,"

__ADS_1


Keduanya pun kembali ke meja yang tadi, karena makanan mereka belum habis.


Bersambung....


__ADS_2