
"Nay, pulang bareng aku aja," celetuk Irfan, mereka kini berada di parkiran kafe.
"Enggak Bang, aku tadi bilang sama Mas Farhan perginya sama Rara jadi aku pulang juga harus sama Rara, kalau Bang Irfan mau anter ayo, ikutin kami dari belakang," timpal Nayla, ia tidak mau sang suami beransumsi yang tidak-tidak, karena tadi ia tidak memberitahu jika saat ini bersama Irfan.
"Yaelah sama-sama naik motor aja," celetuk Irfan.
"Yaudah ayo Ra, setelah anter aku ke kantor Mas Farhan, silakan kalau kalian mau pacaran terserah, yang penting anterin aku dulu," ucap Nayla, lalu ia naik ke atas motor metic Rara.
Rara melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Irfan pun mengikuti mereka berdua dari belakang.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di kantor Farhan. Nayla lebih dahulu turun dari motor Rara, lalu ia melepas helem dan memberikan helm tersebut ke Rara.
"Makasih Ra, udah nganterin, mau ikut masuk apa enggak?" tanya Nayla, sebenarnya ia sudah mengetahui jawaban yang akan di berikan oleh Rara.
"Lain kali deh. Titip salam buat abang gue," ucap Rara, "Eh iya, apa boleh gue nitip motor di sini?" tanya Rara sedikit ragu.
"Silakan saja, yang penting ambilnya jangan terlalu malam, karena gerbang pasti udah di tutup," jawab Nayla.
"Siap bosque," timpal Rara sambil menaruh tangannya di atas kening seperti sedang hormat bendera.
Nayla mengangguk, "Gue duluan, kalo pacaran jangan aneh-aneh, inget belum muhrim," ucap Nayla lalu ia melesat masuk ke dalam loby kantor, padahal belum sempat Rara menimpali ucapannya.
Seperti biasa, Nayla masuk ke dalam ruangan Farhan tanpa permisi, karena sudah menjadi kebiasaannya. Padahal sering kali ia datang saat ada tamu di sana, tapi itu semua tidak membuat Nayla berubah.
Membuka pintu ruang kerja sang suami, tapi di dalam terlihat sepi dan tidak ada seorang pun di sana. Nayla memilih duduk di sofa, mengistirahatkan dirinya di sana. Naik motor hanya tiga puluh menit saja sudah membuat ia merasa lelah, karena sudah lama sekali ia tidak pernah naik motor.
Pintu terbuka, terlihat sang suami di sana. Tersenyum saat mendapati Nayla sudah berada di ruangannya, lalu ia mendekati Nayla da duduk di sisinya.
"Sudah lama sayang?" tanyanya, sambil mengacak rambut Nayla.
"Baru lima menit yang lalu Mas," jawab Nayla, lalu ia meraih tangan sang suami untuk di cium.
"Kok lemes? Kenapa? Belum makan siang?" tanya Farhan, karena ia melihat wajah Nayla sedikit pucat.
"Biasa Mas, datang bulan hari pertama," jawabnya. "Aku belum makan, maunya makan sama kamu Mas," tambahnya dengan manja.
"Oh yaudah, kita makan dulu setelah itu kamu istirahat. Makan di sini aja ya, Mas pesenin, mau makan apa?" tanya Farhan, ia sebuk menggeser-geser layar ponselnya.
"Samain aja Mas," jawab Nayla.
Tak butuh waktu lama, makanan yang mereka pesan pun datang. Keduanya menikmati makan siang mereka dengan hening. Sesekali Farhan menyuapi Nayla, dan di terima oleh istrinya itu dengan senang hati. Farhan sudah hafal jika sedang datang bulan, porsi makan Nayla bertambah tapi anehnya, istrinya itu tidak bertambah gemuk, padahal Nayla tidak pernah menjaga pola makannya.
__ADS_1
Setelah menyelesiakan makan siangnya, Nayla membereskan bekas makan mereka, setelah selesai ia kembali duduk di sisi sang suami.
"Mas, aku mau bicara sesuatu sama kamu," ucap Nayla.
"Bicaralah, kebetulan Mas enggak terlalu sibuk hari ini," Farhan duduk menghadap sang istri.
"Maaf sebelumnya Mas, tadi aku enggak bilang sama kamu, sebenarnya tadi Sherena mengajakku untuk bertemu tanpa kamu dan aku menurutinya," ucap Nayla perlahan-lahan, ia takut sang suami murka.
Farhan mengernyitkan dahi, "Buat apa dia minta ketemu sama kamu? Apa dia berbuat jahat sama kamu?" tanya Farhan menyelidik.
Nayla menceritakan semua yang dikatakan oleh Sherena tanpa sedikit pun yang tertinggal.
"Menurut dia seperti itu, ada yang ingin berbuat jahat dengan Mas Farhan," Nayla mengahiri ceritanya.
"Apa iya? Ah sepertinya Sherena cuman mengada-ada aja sayang, enggak usah terlalu di fikirkan," Farhan tidak percaya begitu saja dengan apa yang di ucapkan oleh Sherena pada Nayla.
"Tapi kalau yang dia katakan benar gimana Mas? Yang penting kan kita harus waspada dan hati-hati," padahal Nayla percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sherena, tapi entah mengapa Farhan merasa Sherena berbohong.
"Iya, kita serahkan semuanya sama yang mengatur hidup. Jangan di fikirkan lagi ya, Mas akan berhati-hati seperti apa yang kamu katakan," Farhan akhirnya mengiyakan perkataan Nayla, ia faham sekali di saat istrinya itu datang bulan, emosinya sangat labil.
"Yaudah, sekatang istirahatlah sayang, Mas mau kerja lagi," ucap Farhan sambil mengusap puncak kepala sang istri.
"Selamat bekerja sayang," ucapnya lalu ia masuk ke dalam kamar yang ada di ruangan tersebut.
¤¤¤
Farhan terlihat tidak konsentrasi dalam bekerja, ia memikirkan apa yang di katakan oleh Nayla, menerka-nerka siapa yang di maksud oleh Sherena, tapi ia tidak menemukan siapa orangnya. Karena yang ia tahu semua karyawannya baik, tidak ada yang terlihat mencurigakan. Orang terdekatnya di kantor, Dika dia tidak mungkin berhianat, mengingat Farhan sudah banyak membantu pemuda itu, saat masih sekolah dan kuliah dulu. Alasannya memilih Dika karena pemuda itu pandai, cekatan dan tentunya bisa di percaya.
Rita, tidak mungkin juga. Farhan sudah mengenal Rita sejak masih sekolah dulu, gadis itu sangat baik dengan dirinya sejak dulu. Semua bawahannya seperti wakilnya juga bukan orang sembarangan, karena mereka semua dulu bekerja dengan sang Papa.
"Sepertinya tidak ada orang yang seperti di tuduhkan Sherena, mungkin dia memang mengada-ada saja," gumamnya.
Farhan menghela nafas dalam, "Gara-gara masalah itu, jadi enggak konsen kerja," gumamnya lagi.
Dari pada pekerjaannya tidak beres karena ia tidak konsentrasi dalam bekerja, Farhan pun memilih untuk menyusul Nayla ke dalam kamar. Lebih baik mengistirahatkan pikirannya sejenak dari pada memikirkan hal-hal yang belum jelas.
Membuka pintu kamar, melihat sang istri ternyata sudah tertidur lelap. Satu lagi kebiasaan Nayla saat sedang datang bulan, yaitu suka tidur. Kadang saat bangun pagi ia sampai kesiangan karena susah di bangunkan.
Farhan ikut naik ke atas ranjang, merebahkan dirinya di sisi sang istri yang membelakanginya, lalu ia memeluk tubuh Nayla dari belakang, mencium aroma mawar dari rambut sang istri yang membuat ia lebih tenang.
Farhan merasakan ada pergerakan dari Nayla.
__ADS_1
"Mas?" tanya Nayla pelan, tapi masih di dengar oleh Farhan.
"Iya sayang, sudah tidur lagi, Mas juga mau tidur," titah Farhan.
Nayla mengangguk, lalu ia kembali memejamkan matanya, begitu juga dengan Farhan.
¤¤¤
Dika yang berada di luar ruangan Farhan, tampak bingung, pasalnya sudah berulang kali mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam, mencoba membuka pintu ternyata di kunci, karena Farhan tadi sempat mengunci pintu sebelum masuk ke dalam kamar.
"Pak Farhan ada di dalam?" tanya pemuda dingin itu pada Rita.
"Ada kok, tadi ada istrinya juga," jawab Rita. "Coba masuk aja," titahnya.
"Di kunci," jawab Dika datar tanpa ekpresi.
"Telfon aja kalau penting banget," saran Rita.
Tanpa menjawab omongan Rita, Dika pun langsung menelfon Farhan, tapi sialnya tidak di angkat padahal sudah berulang kali dia menelfon.
"Kalau enggak bisa, berarti Pak Farhan memang enggak mau di ganggu, mungkin lagi seneng-seneng sama istrinya," celetuk Rita dan mendapatkan tatapan tajam dari Dika. Rita tersenyum canggung melihat tatapan Dika.
Dengan terpaksa, Dika kembali ke dalam ruangannya.
¤¤¤
Sore hari Farhan terbangun lebih dahulu, ia melihat jam yang melingkat di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam empat sore, ia pun memilih untuk keluar kamar, mencuci muka di wastafel lalu kembali ke meja kerjanya. Yang pertama ia lihat ponsel, ada beberapa kali panggilan dari Dika, ia pun langsung menghubungi Dika untuk masuk ke dalam ruangannya.
Farhan menekan remote untuk membuka kunci pintu, sebelum Dika datang.
"Ada hal penting apa Dik? Maaf saya ketiduran dan enggak denger kamu telfon," ucap Farhan saat Dika sudah berada di hadapannya.
Dika mengangguk, "Begini Pak, tadi Pak Samuel menawari kerja sama dengan perusahaan ini, beliau langsung menelfon saya, menurut Bapak gimana?" tanya Dika, hal itulah yang membuat Dika buru-buru ingin bertemu Farhan.
"Sebentar saya pikir dulu ya," timpal Farhan.
"Beliau memberi waktu tiga hari Pak," beritahu Dika.
"Baiklah, saya rasa cukup dalam tiga hari untuk berfikir dan memberi keputusan," ucap Farhan.
Bersambung.....
__ADS_1