
"Sayang, Mas aja ya yang antar kamu ke kampus, kasian kan Irfan harus ke sini dulu," ucap Farhan, ia sedang berdiri di hadapan sang istri yang memasangkan dasi untuknya.
Setelah selesai memasang dasi, Nayla pun rapikan dasi tersebut dengan cara mengusapnya, "Perfec," ucapnya. Lalu ia menatap wajah sang suami sambil tersenyum manis, "Kenapa Mas masih cemburu aja sama dia?" bukannya menjawab Nayla justru bertanya. Menatap bola mata sang suami, ia tersenyum saat Farhan mengalihkan pandangannya.
"Siapa yang cemburu? Enggak ya, dia kan Kakak kamu," kilah Farhan, ia tidak berani menatap wajah sang istri, takut jika Nayla mengetahui dirinya benar-benar masih cemburu dengan Kakak iparnya itu.
"Ngaku aja Mas, kamu tuh tipe orang yang enggak bisa bohong, keliatan banget kalo bohong," Nayla menangkup wajah sang suami supaya menghadap dirinya.
Farhan tersenyum canggung, ia malu ternyata istrinya mengetahui jika ia cemburu melihat Kakak beradik itu bersama.
"Enggak usah cemburu Mas, di sini cuma ada kamu enggak ada yang lainnya," ucap Nayla sambil menunjuk dadanya. Lalu ia mendaratkan kecupan di pipi sang suami.
Farhan menatap Nayla, lalu ia mengangguk dan tersenyum, "Yaudah, kamu hati-hati ya, nanti kabari kalau sudah sampai kampus, Mas harus berangkat sekarang," ucap Farhan, keduanya pun turun ke lantai bawah, Nayla mengantar sang suami sampai ke halaman depan.
Beberapa minggu berlalu, setelah kecelakaan yang menimpa Nayla, wanita itu sekarang sudah bisa jalan meski kadang masih merasakan ngilu di kakinya, tetapi ia harus memulai kegiatannya kembali supaya tidak tertinggal terlalu jauh kuliahnya. Hari ini ia berencana masuk kuliah, Irfan yang akan menjemputnya, bahkan pemuda itu bersedia antar ****** Nayla karena Farhan belum mengijinkan istrinya untuk menyetir mobil sendiri.
Sebenarnya Farhan belum begitu percaya dengan Irfan, ia takut Irfan akan melakukan hal yang tidak-tidak pada istrinya, mengingat sebelum mereka mengetahui jika keduanya bersaudara, Irfan sangat antusias mendapatkan Nayla. Berbeda dengan Nayla, ia tahu jika Kakaknya itu sudah melupakan cinta terlarang yang hadir untuk dirinya.
"Sayang, Mas berangkat ya, nanti setelah selesai kuliah hubungi aku, biar ku jemput," ucap Farhan, ia menyodorkan tangan kananya ke hadapan sang istri.
Nayla pun menerima dan mencium punggung tangan Farhan, "Biar Irfan yang antar, dia sudah janji Mas. Mas enggak usah khawatir Irfan enggak bakal macam-macam," timpal Nayla. Ia tahu suaminya itu masih belum percaya sepenuhnya pada Irfan.
Farhan mengangguk, lalu mendaratkan bibirnya di kening sang istri, "Yaudah, Mas berangkat, assalamu'alaikum," ucap salam Farhan, lalu ia masuk ke dalam mobil, meninggalkan Nayla yang masih berdiri di sana.
"Wa'alaikumussalam," jawab salam Nayla, melambaikan tangan sampai mobil Farhan menghilang dari hadapannya.
¤¤¤
Tak berapa lama berselang setelah kepergian Farhan ke kantor, Irfan pun datang. Ia membunyikan klakson mobilnya beberapa kali suapa Nayla mengetahui jika dirinya sudah datang. Karena ia malas untuk keluar dari dalam mobil.
Nampaklah Nayla yang sudah rapi keluar dari dalam rumah, ia pun langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu di suruh.
"Enggak sabaran banget sih Bang," gerutu Nayla sambil memasang sabuk pengaman.
"Biasanya cewek itu lelet, terlalu lama dandan," timpal Irfan lalu ia menyalakan mesin mobilnya.
"Itu enggak berlaku buat aku," dengus Nayla, "Tumben pake mobil? Biasanya pake motor terus," tanya Nayla, karena Irfan jarang sekali pakai mobil ke kampus.
"Kalau pake motor bisa di omelin sama suamimu yang bucin itu. Masih aja dia cemburu, padahal aku ini Kakak kamu," dengus Irfan, ia masih fakus menatap jalanan.
__ADS_1
"Tahu dari mana kalau suamiku cemburu?" tanya Nayla penasaran.
Irfan meraih ponselnya, lalu menyodorkan ponsel tersebut pada Nayla, dengan layar yang sudah terbuka memperlihatkan sebuah pesan. Nayla menerima ponsel tersebut, lalu membaca pesan yang ada di ponsel Irfan dengan nama 'Bang Farhan'.
Nayla tertawa setelah membaca pesan dari Farhan, ia tidak habis fikir suaminya itu ternyata bucin akut.
"Ya kan, Mas Farhan masih takut sama kamu yang dulu, meskipun menurutku ini lucu tapi itu wajarlah, dia pasti enggak mau istrinya kenapa-napa," ucap Nayla setelah menghentikan tawanya.
"Ya tapi kan enggak usah lebay gitu. Enggak mungkinlah aku nyakitin kamu, berbuat yang aneh-aneh sama kamu, aku juga tahu batasan. Mungkin kalau kamu bukan adikku, aku akan melakukan berbagai cara supaya dapetin kamu, merebut kamu dari Farhan," timpal Irfan, ia tersenyum penuh arti sambil menoleh ke arah Nayla sebentar.
"Tuh kan, kenapa Mas Farhan khawatir karena kamu gitu Bang," dengus Nayla. Baru saja ia akan mengembalikan ponsel pada Irfan, ponsel tersebut bergetar, ada sebuah pesan masuk.
"Cie, ada yang dapat pesan dari pacarnya, katanya hati-hati di jalan, nanti kita ketemu di kampus," Nayla membacakan pesan tersebut tanpa membukanya, ia tidak tahu itu dari siapa karena nama yang tertera 'Dia'.
Irfan pun merebut ponselnya, lalau memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya, tanpa menggubris ucapan Nayla.
"Kenalin sama pacar kamu Bang, dia satu kampus sama kita kan? Siapa sih aku kepo nich," ucap Nayla, menatap wajah sang Kakak dari samping.
"Bukan pacar, aku enggak punya pacar. Masih trauma takut di tolak, dan satu lagi takut kalau dia itu ternyata adikku," jawab Irfan asal.
Nayla terkekeh mendengar jawaban Kakaknya, pasalnya ia juga yang pernah menolak Irfan dan dirinya juga yang ternyata adik dari Irfan, menyindir banget Kakaknya itu tapi Nayla tidak ambil pusing.
"Bang, entar mau anter ke kantor Mas Farhan apa enggak? Kalau iya aku kan enggak usah minta jemput," ucap Nayla setelah keduanya berjalan, meninggalkan parkiran.
"Ntar gue anterin," Nayla pun mengangguk, mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri koridor kampus yang nampak ramai.
Dari kejauhan, Nayla melihat sahabatnya yang beberapa minggu ini tidak bertemu, melambaikan tangan saat gadis itu menatapnya.
"Lo udah sembuh Nay? Syukurlah gue seneng banget," ucap gadis itu setelah Nayla berada di hadapannya, memeluk Nayla dengan erat. Lalu melepaskannya saat menyadari sesuatu yang berbeda.
"Tunggu, kalian sudah baikan? Terus lo enggak takut Irfan berbuat yang aneh-aneh gitu? Atau jangan-jangan lo jadian sama dia?" berbagai pertanyaan ia lontarkan, karena dirinya belum mengetahui status mereka.
"Jangan ngaco deh, Bang Irfan kakak kandung gue yang hilang sejak bayi," jawab Nayla asal.
"Seriusan?" tanya gadis itu yang tak lain asalah Erva.
"Serius lah, yaudah sana kalian masuk gue mau ke perpus ngerjain tugas," ucap Nayla lalu ia berbalik meninggalkan mereka berdua.
"Tunggu Nay," Erva mencegah Nayla, ia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Nayla dan ingin meminta penjelasan.
__ADS_1
"Kapan-kapan gue ceritain, yang tadi gue bilang itu serius, coba deh lo liat wajah gue sama Irfan ada mirip-miripnya, meski sedikit," ucap Nayla, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
¤¤¤
Setelah selesai kuliah, Nayla pun diantar oleh Irfan ke kantor Farhan. Ia bahkan mengekori adiknya itu sampai ke ruangan Farhan. Tanpa mengetuk pintu dan menyapa Rita yang sepertinya sedang sibuk, Nayla pun masuk ke dalam ruangan Farhan.
"Mas," ucap Nayla saat masuk ke dalam ruangan Farhan dan mendapati suaminya itu sedang sibuk dengan berbagai tumpukan kertas di hadapannya.
Farhan mendongak, tersenyum saat mendapati sang istri yang sudah berada di hadapannya, lalu ia berdiri menghampiri Nayla.
"Wa'alailumussalam," Farhan sengaja menjawab salam tanpa ada yang mengucapkan salam sebelumnya.
Nayla tersenyum lalu ia meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu. "Assalamu'alaikum Mas," ucapnya sambil tersenyum, lalu memeluk tubuh Farhan.
Farhan beberapa kali mengecup puncak kepala Nayla. Keduanya bermesraan tanpa memperdulikan seseorang yang masih mematung di depan pintu.
"Ck, gue kaya setan aja, enggak keliatan. Bisa enggak sih, mesra-mesraannya itu nanti kalo gue udah pergi," Irfan berdecak lalu duduk di sofa tanpa permisi.
Kedua sejoli itu saling pandang lalu terkekeh mendengar decakan Irfan, lalu mereka melepas pelukannya. Menghampiri Irfan dan ikut duduk di sana.
"Kalian pasti belum pada makan siang, mau pesen apa mau makan di kantin atau makan di luar?" tanya Farhan.
"Pesan aja Mas," jawab Nayla, ia malas untuk keluar dari ruangan Farhan.
"Gue enggak usah, mau cabut aja. Ogah jadi fape," ucap Irfan lalu ia beranjak dari duduknya.
"Lho Bang kok pulang sih? Terus maksudnya ngikutin aku sampai sini apa?" tanya Nayla.
"Buat mastiin kalau kamu baik-baik aja sampai sini, dan buat buktiin sama suamimu kalau aku bisa di percaya menjaga adikku sendiri," ucap Irfan menekan kata adik.
"Yaudah makasih Bang, besok jemput lagi ya," timpal Nayla.
"Iya, gue pamit, assalamu'alaikum," ucap salam Irfan lalu ia keluar dari ruangan Farhan.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka berdua secara bersamaan.
Bersambung....
Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih semua😘😘
__ADS_1