
"Tapi maaf semua penyesalanmu sudah terlambat dan aku tidak akan mencabut tuntutan itu. Selamat bersenang-senang di sana," ucap Farhan penuh penekanan, ia sudah mencoba mengontrol emosinya, jika saja yang ada di hadapannya saat ini bukan wanita sudah pasti ia akan melayangkan sebuah tinjuan, tapi karena yang sekarang berhadapan dengannya seorang wanita ia hanya bisa mengontrol emosi supaya tidak kelepasan.
Rita beranjak dari duduknya, ia berlutut di hadapan Farhan, "Please, beri aku satu kesempatan Han, tolong cabut tuntutannya, kalau tidak gimana orang tuaku nanti, kalau tahu aku di dalam sel, please Han, aku akan lakuin apapun asalkan kamu cabut tuntutan itu," ia mengiba, mencoba membujuk Farhan supaya melepaskannya.
"Itu urusanmu, sekaligus biar orang tuamu tahu gimana kelakuan kamu. Aku tidak peduli, karena kamu juga tidak peduli perasaan orang lain, dulu saat melakukan kejahatan," timpal Farhan.
"Akui semua kejahatan yang pernah kamu lakukan, supaya hukuman mu di ringankan," tambahnya, lalu ia berdiri meninggalkan Rita yang masih bersimpuh di lantai dengan berderai air mata.
Penyesalan memang datangnya selalu terlambat setelah semuanya hancur berkeping-keping, atau bahkan setelah semuanya hilang dari hadapan kita. Tapi dengan seperti itu kita akan sadar betapa buruknya perbuatan itu hingga membuat sebuah penyesalan.
Rita mendongak, menatap kepergian Farhan hingga hilang bayangan tubuh lelaki itu. Jika waktu bisa berputar, ia tidak akan melakukan kejahatan seperti itu, kejahatan yang hanya bisa menghancurkan masa depannya. Persahabatan dengan Farhan yang terjalin sejak masih SMA pun harus berakhir mengenaskan. Ya, mereka bersahabat sejak masih SMA, tapi Rita terjebak dalam pesona seorang Farhan, hingga membuat ia melakukan segala cara untuk mendapatkan Farhan. Tapi, kini yang ia dapatkan justru sebuah penyesalan akan semua kejahatan yang pernah ia perbuat.
***
Farhan kecewa mendengar semua pernyataan Rita, orang yang ia percaya sejak dulu ternyata yang menghancurkan kehidupannya. Tapi ia bersyukur juga, karena ulah Rita membuat dirinya bisa bersama sang istri. Tapi percayalah, semua itu sudah digariskan.
Farhan masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Dika. Mereka melakukan perjalanan dengan hening, berperang dalam pikiran masing-masing.
Tak lama mereka pun sampai di kafe tempat tujuan selanjutnya.
Setelah semua kegiatan mereka berakhir, keduanya pun kembali ke kantor, tak lupa pesanan sang istri yang setia menunggu di sana.
Farhan masuk ke dalam ruangannya, lalu menghempaskan tubuh ke sofa, lelah membuat dirinya harus mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum melanjutkan rutinitasnya kembali.
"Kamu sudah kembali, sayang?" senyum tulus sang istri seketika membuat semangatnya membara, rasa lelah dan kekecewaan yang mencokol di hati lenyap begitu saja tanpa bekas.
Farhan membalas senyum manis wanita hamil itu dengan tulus.
Nayla menghampiri sang suami, ia tadi mendengar pintu di buka, lalu buru-buru keluar untuk memastikan jika itu sang suami tercinta, ternyata dugaannya benar.
"Capek ya Mas?" tanyanya sambil memijit-mijit pundak sang suami.
"Lumayan, tapi capeknya hilang saat melihat senyuman mu," timpal Farhan.
__ADS_1
"Gombal," Nayla mencubit pelan pundak yang masih ia pijit itu.
"Serius sayang, senyuman mu itu bagaikan obat mujarab yang tiada bandingannya,"
"Gombal banget, mana ada senyuman itu obat? Kalau senyuman itu obat, rumah sakit enggak laku Mas," timpal Nayla sambil terkekeh.
"Ya kan itu khusus buat aku,"
"Iya deh iya, nanti kalau kamu sakit, aku senyumin aja ya, enggak usah minum obat, biar irit,"
"Boleh, asalkan kamu senyum sapanjang hari," timpal Farhan.
"Capek dong," Nayla masih memijit sang suami, kini beralih ke punggung. "Pesanku mana Mas?" tanyanya saat teringat dengan pesanannya tadi.
"Mas lupa sayang...." ucapan Farhan terhenti karena Nayla lebih dulu menyela.
"Kok lupa sih, aku ngambek," ucap Nayla sambil mengerucutkan bibirnya, kedua tangannya bersedekap di dada.
"Jangan nagmbek dulu dong, Mas lupa bawa kesini, masih di dalam mobil," ucap Farhan.
"Biar Mas suruh Dika yang ambil, kamu tunggu sini aja," ucap Farhan.
Nayla kembali duduk di sisi sang suami.
"Teman kamu mana?" tanya Farhan saat menyadari kedua teman Nayla sudah tidak ada di sana.
"Udah pulang, mereka ada pertemuan di kampus sore ini, jadi aku suruh pulang," jawab Nayla.
Farhan mengangguk.
Tak selang berapa lama, Dika sudah berhasil mengambil pesanan Nayla. Dan saat ini wanita itu sedang menikmati makan siangnya yang sudah terlewat, karena ia tadi belum nafsu untuk makan.
"Mas mau enggak? Ini enak banget lho, bener-bener seperti dalam bayanganku, ada rasa asemnya, pedesnya pas manis plus gurih," ucap Nayla seperti reporter televisi yang sedang mendeskripsikan makanan yang ia makan.
__ADS_1
"Habiskan kamu aja, Mas juga masih kenyang," tolak Farhan. Ia tersenyum melihat sang istri makan dengan lahapnya.
"Hati-hati kalau makan sayang," tutur Farhan saat melihat Nayla seperti orang kelaparan dan tidak bertemu nasi satu minggu.
Tak butuh waktu lama, makanan Nayla pun habis tanpa sisa, hanya menyisakan tulang-tulang ayam saja.
"Alhamdulillah luar biasa banget rasanya. Besok mau ini lagi ya Mas, enak banget," ucap Nayla.
"Siap,"
***
"Jahat banget sih dia, untung aja rencananya selalu gagal," celetuk Nayla. Ia baru saja mendengarkan Farhan berbicara tentang kejadian di kantor polisi tadi. Semuanya Farhan jelaskan tanpa terkecuali.
"Entahlah, manusia memang bisa berubah seiring berjalannya waktu dan keadaan. Seperti Rita itu, dia dulu baik sekali, tapi ternyata dia bisa berubah jadi jahat," timpal Farhan.
Nayla mengangguk, membenarkan ucapan Farhan, "Allah itu Maha mebolak-balikkan hati manusia," ucapnya.
"Oh iya Mas, hampir lupa. Erva katanya mau lamar kerjaan di sini, mau jadi sekretaris kamu," ucap Nayla.
Tadi saat ada Rara dan Erva, Nayla bercerita jika sekretaris suaminya masuk penjara dan sedang mencari sekretaris baru, dan Erva antusias untuk mengisi kekosongan itu. Mengingat kuliahnya hanya tinggal skripsi.
"Suruh ajuin magang aja dulu, dia kan belum berpengalaman, jadi kalo magang dulu Mas bisa tahu kamampuannya seperti apa," Farhan memberi usulan.
"Iya deh, nanti aku sampein ke Erva, sepertinya anak itu pengen banget kerja di sini," timpal Nayla.
"Yuk pulang, dah sore juga ini, kerjaan Mas juga dah beres semua," Farhan mengajak sang istri untuk kembali ke rumah karena waktu memang sudah hampir senja.
"Iya Mas,"
"Besok waktunya kita periksa kandungan kamu sayang, Mas dah enggak sabar banget buat liata perkembangan dedek bayi," ucap Farhan sambil melajukan mobilnya, salah satu tangan terulur untuk mengusap perut sang istri.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke rumah.
__ADS_1
"Iya Mas, sama aku juga pengen liat," timpal Nayla ia juga ikut mengelus perutnya, hingga tangan mereka saling berebut untuk menyentuh perut Nayla yang tertutup baju.
Bersambung....