Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Jangan Nonton Drama Aja


__ADS_3

Satu minggu berlalu, hubungan dua sejoli ini semakin membaik, keduanya semakin membuka diri dan hati mereka untuk saling menerima satu sama lain. Meski kadar cinta masih menipis, kadang merasa mencintai kadang kala juga merasa belum tumbuh rasa itu.


Pagi ini sebelum berangkat kuliah, Nayla meminta untuk mengantarkan Farhan ke bandara, meskipun Farhan melarangnya karena Nayla pagi ini ada ujian, namun Nayla bersikukuh untuk mengantarkan suaminya itu. Karena pagi ini Farhan akan berangkat ke luar kota bersama asistennya Dika.


"Mas, kabari aku kalau sudah sampai ya," pesan Nayla, mereka kini sudah berada di bandara.


"Iya, nanti aku kabari. Kamu belajar yang baik selama aku pergi, jangan kebanyakan nonton drama," Farhan memperingati, mengingat istrinya itu jika sudah menonton drama kesukaannya akan lupa waktu.


"Iya Mas, tenang aja," jawab Nayla tersenyum, "Aku akan menginap di rumah Mama ya, untuk beberapa hari," Nayla meminta ijin untuk menginap di rumah orang tuanya.


"Iya. Yaudah sana berangkat, satu jam lagi ujiannya di mulai, kan? Enggak usah tunggu sampai aku berangakat," Farhan takut jika Nayla terlambat, karena ini hari pertamanya ujian.


Nayla mengangguk, lalu ia meraih tangan kanan Farhan dan mengecup punggung tangan suaminya, "Hati-hati di jalan ya Mas, aku ke kampus dulu, kalau sudah mau pulang kabari aku," pamitnya, ia juga khawatir akan terlamabat masuk.


Farhan mengecup kening Nayla, "Biar semangat ujiannya," ucapnya sambil tersenyum.


Nayla tersenyum malu-malu di perlakukan manis seperti itu. "Makasih Mas, aku duluan ya," pamitnya.


Farhan mengacak rambut Nayla, "Iya hati-hati," ucapnya sambil tersenyum.


Nayla pun berjalan menjauh dari Farhan, ia melambaikan tangan ketika hampir berada di belokan. Melangkah keluar dari bandara.


Di dalam mobil, Nayla tersenyum ketika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu saat Farhan mengecup keningnya.


"Aku tahu, ini bukan pertama kalinya Mas Farhan melakukan itu, aku kira dia beraninya saat aku tidur aja," gumam Nayla, ia tersenyum ketika mengingat setiap malam sebelum tidur Farhan selalu mengecup keningnya.


Tanpa terasa Nayla sampai di kampus, karena selama perjalanan ia membayangkan sikap manis Farhan kepadanya, untung saja ia selamat sampai kampus karena nyetir sambil melamun.


Keluar dari mobil, ia melangkah menuju ruangannya. Masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum ujian.


Ia duduk di sebuah kursi, melihat ke arah belakang seseorang yang selama beberapa hari ini tidak mau berbicara, bertemu saja sepertinya enggan apalagi berbicara padanya. Ia tahu pasti apa alasan orang itu bersikap seperti itu padanya, tapi Nayla tidak mau terlalu memikirkan semua itu, mungkin saat ini dia kecewa, tapi Nayla yakin suatu saat dia akan menerima takdir ini.


"Sudahlah, enggak usah pikirkan dia, nanti lo pusing sendiri memikirkan orang yang tidak perlu lo pikirkan," ucap Irfan, ia duduk di sisi Nayla.


Nayla mengalihakan pandangannya ke arah Irfan, ia tersenyum menanggapi ucapan pemuda itu, "Gue enggak mikirin dia sih, cuma gue heran sepertinya dia benci banget sama gue," Nayla menghela Nafas. "Padahal kita udah akrab sejak kelas satu SMA, tapi kenapa dia bersikap seperti itu setelah tahu semuanya," tambahnya.


"Dibilangin enggak usah di pikirkan, dia itu pasti akan kembali seperti dulu setelah menerima kenyataan yang ada," tutur Irfan.

__ADS_1


Nayla mengangguk, "Semoga aja," tukasnya.


"Gimana hubungan sama Mas suami?" tanya Irfan, kepo.


"Alhamdulillah baik, cuma beberapa hari ke depan dia ke luar kota," jawab Nayla, ia memang sering bercerita atau curhat sama Irfan, karena dia sudah menganggap Irfan seperti saudara sendiri, entah Irfan menganggap Nayla seperti apa.


"Bagus deh, gue kira lo bakalan di siksa karena kalian enggak saling mencintai,"


"Ngaco aja, Mas Farhan bukan orang seperti itu, gue tahu dia seperti apa," timpal Nayla, ia sedikit tidak terima Irfan berkata seperti itu.


Irfan mengangguk, saat ia akan kembali berucap dosen lebih dulu masuk ke ruangan tersebut. Mereka pun mulai mengerjakan beberapa soal ujian.


¤¤¤


Waktu berlalu, Nayla sudah menyelesaikan ujian di hari ini. Saat ini ia sedang berada di kantin kampus bersama Irfan dan seorang gadis teman sekelasnya. Ia tersenyum ketika melihat Farhan mengirim pesan, ia pun langsung membalasnya.


"Serem senyum-senyum sendiri, baca pesan dari siapa sih Nay?" tanya gadis yang duduk di sisi Nayla.


Nayla mendongak, ia tersenyum, "Dari suami," jawabnya.


"Beneran lo udah nikah? Gue kira lo pinjem buku dari gue waktu itu cuma iseng-iseng kaya gue," gadis itu seakan tidak percaya dengan ucapan Nayla.


"Gitu kalo lagi jatuh cinta," gadi itu mendengus karena ucapannya tidak di tanggapi, "Padahal gue kira kalian berdua ini pacaran, soalnya deket banget, seisi kampus ini juga pasti mengira gitu," tambahnya.


"Cinta gue udah di tolak duluan sebelum nembak," celetuk Irfan.


"Apa?" tanya Nayla, karena ia mendengarnya tidak begitu jelas.


"Enggak apa-apa," timpal Irfan.


"Va, gue itu anggep Irfan seperti kakak gue sendiri, mana mungkin gue pacaran sama dia," ucap Nayla, karena dia tadi mendengar penuturan temannya itu.


Hati kecil Irfan sakit saat Nayla mengucapkan itu, ia tahu betul gadis itu tidak ada rasa cinta untuknya. Apalagi sekarang setatus Nayla sudah berbeda, akan sulit membuat ia jatuh cinta.


Setelah mengucapkan itu, ponsel Nayla berdering menandakan ada telfon masuk.


"Gua angkat telfon dulu ya," ucap Nayla, lalu ia menjauh dari ke dua insan itu.

__ADS_1


"Gue tahu, sebenanya lo suka sama Nayla, kan Fan? Keliatan dari sikap lo sama dia," ucap gadis yang bernama Erva itu, setelah Nayla pergi meninggalkan keduanya.


Irfan mengangkat bahunya, "Entahlah, gue udah keduluan orang, sepertinya Nayla juga enggak ada rasa sama sekali ke gue," ucap Irfan, ia sedikit kecewa mengingat ucapan Nayla tadi.


"Yang sabar, jodoh itu enggak akan kemana," timpal Erva.


Irfan hanya mengangguk.


"Betewe, Nayla nikah kok enggak ngundang gue ya?" tanya gadis itu.


"Emang enggak ada yang di undang, karena pernikahan mereka dadakan," jawab Irfan.


"Kok bisa?" tuh kan, makin penasaran si Erva.


"Lo tanya sendiri aja sama Nayla, gue enggak berhak bicara di sini," Irfan tidak mungkin menceritakan alasan Nayla menikah, karena ia tahu itu sebuah privasi.


Ervan mengangguk, ia akan bertanya langsung pada gadis itu.


Di sisi lain Nayla menerima telfon yang ternyata dari suami tercinta, ia terlihat senyum-senyum saat menerima telfon itu.


"Assalamu'alaikum Mas," ucap salam Nayla.


"Wa'alaikumussalam Nay, masih di kampus?"


Nayla mengangguk, padahal sudah di pastikan Farhan tidak melihatnya, "Iya Mas, ini mau makan siang bareng yang lain, Mas Farhan sedang apa? Udah makan?"


"Banyak sekali pertanyaannya, aku belum makan, tapi udah pesen, lagi nunggu makanan datang, sambil istirahat,"


Nayla tersenyum mendengar ucapan Farhan, entah kenapa dia bahagia sekali dapat telfon dari sang suami, "Bagus deh, jangan telat makan Mas, istirahat yang cukup jangan sering begadang," rentetan pesan yang Nayla sampaikan.


"Iya, iya, makasih atas perhatiannya, udah dulu ya ini Dika datang, sepertinya makanan juga udah sampai. Kamu selamat makan siang, ingat belajar jangan nonton drama aja," pesan itu yang sejak tadi Farhan ucapkan.


"Iya Mas, selamat makan siang juga, Assalamu'alaikum," Nayla lebih dulu mengucap salam.


Setelah Farhan membalas salamnya, ia pun mematikan panggilan itu, lalu kembali ke kantin kampus menemui dua temannya yang menunggunya.


Bersambung....

__ADS_1


Maaf ya, mungkin aku bisa update hanya satu episode saja, karena yang satu episode aku buat untuk DMS. Kemampuanku nulis sehari hanya dua episode, jadi mohon di maklumi. Terimakasih🙏🙏


__ADS_2