Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Kamu Sama Siapa?


__ADS_3

Nayla mondar-mandir di dalam kamar, pikirannya melayang, apalagi setelah mendengar cerita dari sang Mama sore tadi.


"Dulu Mama bertemu Papa kamu di Jogja, kebetulan banget, karena waktu itu Papamu sedang mengadakan perjanjian dengan bos Mama, dan Mama ikut serta. Setelah pertemuan itu, kami menjalin hubungan kembali, meskipun Mama tahu Papamu sudah beristri," Mama Adela menerawang beberapa tahun yang lalu, "Tapi Mama nyesel banget kalau ingat dulu, jadi malu sendiri," tukasnya.


"Jika saja waktu bisa di ulang, Mama tidak akan melakukan tindakan itu, sungguh memalukan. Untung saja Nenekmu memisahkan kita, jika tidak Mama sudah jadi perusak rumah tangga orang," Mama Adela menyesali perbuatan di masa lalunya.


Pikiran Nayla tidak terfokus dengan cerita sang Mama, tetapi justru memikirkan sang suami yang jauh dari hadapannya. Ia membayangkan sesuatu yang tidak-tidak pada sang suami, apalagi suaminya hanya berdua dengan sekretarisnya yang masih lajang itu.


"Ngapain telfon sampai puluhan kali? Ada apa Nay?" pertanyaan Irfan mengagetkan Nayla yang sedang melamun.


Bahkan Nayla tidak menyadari kehadiran Irfan di kamarnya.


Nayla menghampiri Irfan yang masih berdiri di ambang pintu, "Anterin aku nyusul Mas Farhan ke kota B ya Bang," pinta Nayla.


Irfan melihat jam di pergelangan tangannya, "Udah malem ini, apa kamu yakin? Kita sampai sana nanti sekitar pukul sebelas kalau enggak dua belas malam lho," ucapnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Lagian kamu sih Bang, aku telfonin dari sore kenapa enggak di angkat? Kalau tadi kamu langsung angkat telfonku kita udah sampai sana, ayo harus pergi sekarang enggak ada tapi-tapian," titah Nayla tidak mau di protes.


"Capek Nay, sama supir aja deh. Kenapa harus banget sih? Satu malam aja tidur sendirian emang enggak bisa?"


"Bukan masalah tidur sendiri atau berdua, tapi masalah hidup dan mati, ayo." Nayla menyeret Irfan yang ogah-ogahan, dengan terpaksa Irfan menuruti Nayla.


Mereka berjalan menuju ruang keluarga, dimana sang Mama dan Papa sedang duduk di sana sambil menonton televisi.


"Mau kemana kalian?" tanya Mama Adela.


"Anak Mama ini, minta di anterin nyusul suaminya, mana aku capek, udah malem juga," keluh Irfan, sebelum Nayla menjawab pertanyaan sang Mama.


"Iya Ma, aku mau nyusulin Mas Farhan, perasaanku enggak enak Ma, please boleh ya," Nayla memohon karena melihat raut wajah sang Mama yang terkejut mendengar keluhan Irfan.


"Tapi ini sudah Mama sayang, kasian bayi kamu perjalanan juga jauh dua jam lebih lho," Mama tidak begitu saja mengijinkan putrinya untuk pergi.


"Ma, please ya, aku khawatir sama suamiku. Kalau Bang Irfan enggak mau nganterin biar aku sendiri aja," Nayla memohon supaya sang Mama mengijinkan.


"Mama tidak akan ijinin kalau kamu sendiri, boleh nyusul suamimu tapi sama Irfan, kalau perlu sama supir juga,"

__ADS_1


"Biar Nayla sama supir aja deh Ma," protes Irfan.


"No! Mama enggak akan ambil resiko kalau terjadi sesuatu sama Nayla, kalau sama kamu, kamu bisa jagain dia,"


Irfan mengehmbuskan nafas, ia sebenarnya lelah sekali seharian menemani kekasihnya di rumah sakit. Bahkan meninggalakan kuliahnya.


"Yaudah, sama supir, aku enggak sanggup nyetir sendiri, capek," ucap Irfan lalu berjalan mendekati kedua orang tuanya, mencium punggung tangan mereka, pun sama dengan Nayla.


"Hati-hati sayang, nanti kalau sudah sampai kabari ya, Mama sebenarnya berat ngebiarin kamu menyusul suamimu, tapi karena kamu memaksa Mama bisa apa," ucap sang Mama pada Nayla, "Nanti tidur aja di mobil ya," tambahnya diangguki oleh Nayla.


Setelah berpamitan, mereka pun melesat menuju kota B. Nayla duduk di belakang, bukan duduk tapi tiduran, sedangkan Irfan duduk di depan dengan supirnya.


Malam semakin larut, perjalanan mereka memang sedikit jauh. Untung saja malam jadi tidak terlalu macet dan perjalanan juga tidak memakan waktu lama.


¤¤¤


"Nay, bangun, Nay." Irfan menguncang tubuh adiknya yang terbalut selimut, karena Nayla memang membawa selimut dan bantal dari rumah.


"Udah sampai Bang?" tanya Nayla sambil membuka mata perlahan.


"Alamat hotelnya mana? Kamu enggak ngasih tahu, kapan kita akan sampai," ucap Irfan sedikit sewot.


"Kok jadi marah-marah sih? Udah syukur aku nganterin kamu sampai sini, lagian aku juga enggak akan tega kalau kamu cuma berdua sama Mamang," timpal Irfan, "Yang berubah itu kamu, jadi ngambekan," tambahnya.


Nayla hanya mendengus mendengar penuturan Irfan, ia memang merasakan setelah hami dirinya selalu baperan dan sewot, bahkan ngambekan.


"Nih Mang alamatnya, tau enggak?" tanya Irfan pada sang sopir.


"Tahu Den,"


"Yudah jalan, hati-hati,"


"Nih hapenya, udah enggak usah marah. Aku ikhlas nganterin sampai sini," ucap Irfan, mengembalikan ponsel Nayla.


Nayla tidak menimpali ucapan sang Kaka, ia memilih diam. Wanita hamil memang selalu seperti itu, tersinggung dengan ucapan yang bernada sinis, bahkan berfikir yang tidak-tidak.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di sebuah hotel tempat menginap Farhan. Nayla buru-buru turun dari mobil tanpa menunggu sang Kakak.


"Nay tunggu, jangan lari!" cegah Irfan, karena Nayla berlari saat memasuki loby hotel.


"Oke, aku minta maaf karena ucapan ku tadi," ucap Irfan.


Nayla mengangguk, tanpa menimpali permintaan maaf Irfan dengan kata-kata.


"Yaudah, ayo aku antar masuk," ajak Irfan lalu menggandeng tangan adiknya itu.


Mereka berdua bertanya pada resepsionis hotel tersebut, dimana kamar Farhan. Setelah mendapatkan nomor kamar Farhan, mereka pun bergegas menuju kamar tersebut.


Setelah sampai di depan kamar, Nayla buru-buru mengetuk pintu. Pintu terbuka, Nayla terkejut melihat siapa yang membuka pintu, tanpa berucap sepatah kata pun, ia langsung mendorong tubuh si pembuka pintu yang tidak lain adalah Rita dengan kasar, hampir saja Rita terjatuh jika tidak berpegangan dengan daun pintu.


Nayla bernafas lega saat di dalam kamar ternyata bukan hanya Farhan dan Rita, tapi ada Dika juga di sana. Justru yang terkejut adalah Farhan, karena melihat sang istri yang berada di hadapannya.


"Sayang, kamu sama siapa? Kenapa malam-malam menyusul ke sini? Bahaya buat kandungan kamu," ucap Farhan lalu menghampiri sang istri.


Nayla tidak menjawab pertanyaan Farhan, ia justru langsung memeluk tubuh sang suami.


"Bang Dika kok di sini juga? Bukannya tadi masih di Jakarta ya?" tanya Irfan setelah melihat Dika.


Mendengar suara Irfan, Farhan jadi tahu jika sang istri datang bersama Kakaknya.


"Baru aja sampai Fan," jawab Dika.


Memang Dika baru saja sampai belum ada lima menit dirinya duduk di kamar Farhan. Baru saja masuk kamar Farhan, tiba-tiba Rita datang membawakan kopi untuk Farhan, karena ada Dika, Rita pun berinisiatif membuatkan kopi untuk Dika juga, tapi pintu kamar Farhan kembali di ketuk, ternyata sang istri yang datang.


"Yaudah, aku pulang ya Nay, kamu kan udah sampai. Apa mau ikut pulang juga?" tanya Irfan.


"Enggak usah pulang, ini udah malem banget, tidur aja bareng sama Dika," bukan Nayla yang menjawab tapi Farhan.


"Ada sopir di depan Bang,"


"Suruh masuk aja, kita bisa satu kamar untuk bertiga," usul Dika.

__ADS_1


"Yaudah, kalo gitu, aku panggil dia dulu,"


Bersambung....


__ADS_2