Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Nagih Janji


__ADS_3

"Kamu udah bangun sayang?" tanya Farhan saat memasuki kamar yang ada di dalam ruang kerjanya. Ia melihat Nayla sedang tiduran sambil memainkan ponsel di tangannya.


Nayla menoleh ke arah sumber suara, "Aku enggak tidur Mas," jawab Nayla lalu ia beranjak dari tidurnya. "Mau pulang sekarang?" tanyanya.


"Iya, kita sholat dulu terus pulang," jawab Farhan.


"Makan di luar ya Mas," pinta Nayla, ia turun dari ranjang lalu menghampiri sang suami.


"Boleh deh," Farhan menyetujui permintaan Nayla.


Keduanya keluar ruangan Farhan menuju mushola yang ada di kantor itu. Melaksanakan kewajiban mereka. Para karyawan sudah tidak asing dengan pemandangan yang mereka lihat, karena Farhan terbiasa melaksanakan kewajibannya di sana, bahkan ketika Nayla ikut ke kantor seperti saat ini.


Setelah sholat keduanya langsung ke luar dari perusahaan. Farhan mengendarai mobilnya dengan kecepan sedang, tak berapa lama Farhan membelokkan mobilnya di sebuah kafe. Turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Nayla.


Nayla melingkarkan tangannya di lengan sang suami, keduanya pun masuk ke dalam kafe tersebut yang terlihat ramai. Mencari tempat duduk yang pas, setelah menemukannya mereka pun duduk di sana. Memsan makanan yang mereka sukai dan menunggu makanan itu di sajikan.


Tak butuh waktu lama, makanan pun telah di sajikan, mereka menikmati makanan tersebut, sesekali Farhan tak ragu menyuapi Nayla, dan istrinya itu menerima dengan senang hati. Keduanya terlihat masih seperti sepasang kekasih, karena mereka terlihat masih muda.


Setelah menyelesaikan makannya, keduanya tidak langsung pulang, mengobrol sebentar sambil menikmati suasana kafe yang menyuguhkan suasana romantis, karena adanya penyanyi yang sedang menyanyikan lagu bernuansa romantis.


Tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri ke duanya.


"Bang, boleh bicara sama Nayla," ucap pemuda itu, ia berani sekali mendekati Nayla bahkan saat bersama suaminya.


Nayla bringsut mendekati Farhan, ia menatap Farhan supaya tidak memberi ijin pada orang tersebut. Seakan Farhan mengerti akan tatapan netra Nayla, lalu ia memluk pinggang istrinya secara possesive.


Farhan beralih menatap pemuda yang masih berdiri menunggu jawabannya. "Boleh, silahkan kamu mau bicara apa, bicaralah," ucap Farhan.


"Tap ...."

__ADS_1


Farhan memotong ucapan pemuda itu, seakan ia tahu apa yang ingin di katakan oleh pemuda itu.


"Di sini saja, masalah Nayla juga masalah saya, kamu bermasalah dengan Nayla berarti kamu juga bermasalah dengan saya, karena dia istri saya," ucap Farhan, ia menekan kata 'istri' supaya pemuda itu sadar jika Nayla adalah miliknya.


Pemuda itu yang tak lain adalah Irfan, ia kesal dengan mengepalkan ke dua tangannya. Bahkan terdengar ia juga mendesah.


"Oke, enggak apa-apa," ucap pemuda itu akhirnya. Ia memilih untuk mengalah saat ini, tapi tidak untuk kedepannya, karena ia akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Oke, sekarang gue ngalah dulu. Pura-pura baik sama Nayla supaya dia enggak menjauh. Dan saat dia kembali dekat sama gue, baru gue akan lakuin sesuatu," ucap Irfan dalam batinnya.


Irfan menghela nafas panjang sebelum memulai berbicara, "Nay, gue cuma mau minta maaf sama lo, gue nyesel beneran. Sekarang gue sadar lo udah punya suami, dan gue enggak berhak ngusik kehidupan kalian," ucapnya, dibuat seakan-akan benar-benar menyesal, padahal itu cuma akal-akalannya saja.


"Bang, gue minta maaf udah ganggu kehidupan kalian, gue janji enggak akan ganggu Nayla lagi," tambahnya.


Farhan hanya mengangguk, ia enggan untuk membalas ucapan pemuda itu karena ia tidak mau tersulut emosi, mengingat Irfan adalah adik dari sahabatnya. Apalagi Nayla sejak tadi ia menghindari tatapan mata dengan Irfan, ia bahkan enggan untuk melihat wajah Irfan.


Merasa jika mereka tidak mau menimpali, Irfan pun berpamitan, "Gue pamit, cuma itu aja yang mau gue omongin," ucapnya lalu meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Iya Mas, semoga aja. Meskipun begitu aku tetep belum percaya sepenuhnya sama dia Mas," timpal Nayla, ia tidak mau percaya begitu saja dengan Irfan.


"Mas juga sependapat sama kamu, yang penting kamu hati-hati sama dia," tipal Farhan, ia pun belum percaya sepenuhnya dengan Irfan. "Ayo pulang, waktu maghrib sebentar lagi habis, kita sholat di masjid sebrang jalan itu," Farhan lebih dulu membayar makanan mereka. Lalu ke duanya keluar dari kafe tersebut menuju masjid yang disebut oleh Farhan tadi.


Setelah melaksanakan sholat keduanya pun langsung pulang ke rumah. Karena saking macetnya mereka baru sampai rumah setelah menempuh perjalanan satu jam. Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk ke dalam kamar, untuk membersihkan tubuh dan melaksanakan sholat isya' karena waktu sudah menunjukkan jam sholat isya'.


"Mas siapa yang mau mandi dulu? Aku apa kamu?" tanya Nayla, setelah ia meletakkan tas dan jas Farhan di tempatnya. Lalu ia berjalan ke arah almari, mencari pakaian ganti untuknya dan untuk sang suami.


Farhan berjalan ke arah Nayla yang sedang mengambil pakaian ganti, memeluk istrinya dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Nayla. "Mandi bareng aja sayang," ucap Farhan di tepat di saping daun telinga Nayla, hingga membuat wanita itu sedikit kegelian.


Nayla menghentikan pekerjaannya, "Mas, geli ah," ucapnya.

__ADS_1


"Mandi bareng ya," ulang Farhan, ia masih menempel seperti ulat bulu.


"Enggak, apa kamu mau kita masuk angin? Ini sudah malam lho Mas, Aku udah tebak bakalan seperti apa kalo kita mandi bareng. Nanti malam aja kalau mau itu," tolak Nayla, ia sudah bisa menebak jika mandi bersama maka tidak hanya mandi saja yang terjadi.


"Serius ya? Kalau gitu Mas mandi duluan," ucap Farhan dengan semangat, ia mengecup sekilas pipi Nayla, melepas pelukan pada sang istri lalu masuk ke kamar mandi.


Nayla hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang seperti itu. Dulu bahkan ia tidak pernah tahu sisi lain dari Farhan, setelah jadi istri seutuhnya ia baru tahu jika suaminya semanja manja itu terhadap dirinya.


"Sayang, ambili handung dong, tadi lupa," ucap Farhan sambil menjembulkan kepalanya di balik pintu kamar mandi.


Nayla bergegas memberikan handuk pada Farhan, "Kebiasaan, belum tua aja udah pelupa, gimana kalau udah tua coba?" tanya Nayla.


Farhan menyengir, "Sengaja," ucapnya lalu masuk ke dalam kamar mandi lagi.


Setelah Farhan selesai mandi bergantian dengan Nayla, tak butuh waktu lama Nayla mandi. Setelah itu mereka pun melaksanakan sholat isya' berjamaah.


Setelah sholat, Nayla mengerjakan tugas kuliahnya. Sedangkan Farhan seperti biasa, ia melihat beberapa email yang masuk. Mereka melakukan itu di kamar, karena biasanya memang seperti itu.


Farhan melirik Nayla yang terlihat serius mengerjakan tugasnya. Padahal dirinya sudah merasa bosan, lalu ia mendekati Nayla dan duduk di sisi wanita itu. Menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.


"Udah malam sayang, udah ya lanjut besok lagi," ucap Farhan dengan manja.


"Bentar Mas, lima menit lagi," ucap Nayla tanpa menoleh ke arah Farhan.


Farhan tak menanggapi, tetapi ia masih setia bersandar di bahu sang istri, seakan tidak merasa jika Nayla terganggu dengan dirinya yang seperti itu.


Lima menit berlalu, Nayla pun merentangkan ke dua tangannya ke atas, merenggangkan otot-otot yang terasa kaku. "Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucapnya.


"Mas, mau nagih janjimu," ucap Farhan sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2