
Dua puluh tahun yang lalu, seorang wanita yang baru saja mendapatkan kabar dari orang suruhannya, ia bergegas menuju alamat yang di berikan oleh orang suruhannya tersebut, dengan hati yang tak tentu, emosi yang tak terkendali. Meski ia terlihat sedang mengandung, namun itu tidak jadi halangan untuknya.
Ya, ia Hania. Wanita itu beberapa hari lalu dapat kabar dari temannya, jika sang suami yang mengaku ada pekerjaan di luar kota selama beberapa hari ternyata berkeliaran di pusat perbelanjaan dengan seorang wanita hamil, bahkan mereka terlihat mesra seperti sepasang suami istri. Setelah mendapatkan kabar tersebut, Hania menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan sang suami, ternyata apa yang di katakan temannya itu benar. Sang suami tidak ke luar kota, akan tetapi ia tinggal dengan seseorang di sebuah rumah yang cukup jauh dari kediamannya.
Butuh waktu lama Hania sampai di alamat tersebut, karena keberadaan mereka sudah di luar kota Jogjakarta. Wanita hamil itu memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana, hanya satu lantai tidak seperti kediamannya yang memiliki dua lantai. Mencocokkan alamat yang ia bawa, ternyata benar itu alamat rumah yang ia cari. Gerbang tanpa penjaga yang terbuka sedikit, membuatnya mudah untuk masuk ke halaman rumah tersebut.
Tak
Tak
Tak
Langkah yang terlihat tergesa-gesa, masuk ke dalam rumah yang ternyata pintunya juga terbuka. Ia masuk bak maling, bukan tapi seperti rentenir penagih hutang, bahkan lebih parah dari itu. Betapa terkejutnya dirinya, melihat pemandangan di depan mata, di mana suami yang selama ini ia cintai dan mengatakan akan berusahan mencintainya, meski hingga saat ini ia tahu suaminya belum membalas cintanya, namun ia tidak semudah itu untuk melepskan suami yang sudah ia cintai sejak pertama bertemu. Sepasang manusia berbeda jenis itu, sedang asyik bercengkrama, bahkan sang lelaki tak segan memeluk dan mencium wanita itu.
Melangkah semakin mendekat, ia semakin mendengar jelas apa yang di bicarakan dua insan itu. Bahkan mereka tidak menyadari keberadaannya.
"Ternyata ini kerjaan kamu selama ini Mas!" serunya, saat berada tepat di sisi mereka.
__ADS_1
Kedua insan itu terkejut mendengar ucapan itu, lebih terkejut saat tahu siapa pemilik suara tersebut. Aditama seakan tidak percaya, melihat wanita yang sudah ia nikahi lima tahun lalu itu berada di hadapannya.
"Kamu terkejut Mas? Tentu saja terkejut, kan? Istri sah mu melihat kelakuan keji kalian. Tega-teganya kamu seperti ini Mas! Apa kurangnya aku? Apa? Bahkan aku sudah berikan segalanya untukmu, tapi ini balasanmu, hah? Aku rela menikah denganmu dan meninggalkan cita-citaku demi kamu Mas! Aku tahu kamu belum mencintaiku, tapi mana janjimu yang mengatakan akan berusahan mencintaiku, mana? Aku kecewa sama kamu!" Istri mana yang tidak marah jika melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Begitu pun Hania.
Aditama bergeming, ia tidak bisa mengatakan apapun, karena di sini dirinya memang bersalah. Jika saja ia jujur, mungkin keadaanya tidak akan seperti ini.
Hania melangkah lebih dekat ke arah mereka berdua. Amarah masih menguasai tubuhnya, ia bahkan tak segan menarik rambut wanita yang bersama suaminya.
"Dasar wanita ja**ng! Teganya kamu menggoda suamiku!" bentak Hania, ia menarik paksa wanita yang sedang hamil tua itu tanpa ampun. Wanita yang tak lain adalah Adela itu pun membalas perbuatan Hania, alhasil mereka saling menjambak satu sama lain.
Aditama panik, mencoba memisahkan keduanya namun, ia tidak berhasil. Berteriak minta tolong pada artnya, tapi hasilnya sama mereka berdua tidak bisa melerai pertengkaran dua wanita hamil itu. Hingga yang terjadi
Kepala Adela menghantam meja, membuat wanita itu limbung tidak sadarkan diri. Bahkan terlihat darah segar mengalir dari area bawah.
Aditama, mengangkat tubuh istri keduanya itu, lalu membawa Adela kerumah sakit. Saat di rumah sakit, Adela terpaksa di operasi untuk melahirkan anaknya, bahkan ia sempat koma selama lima hari. Pada saat itu, Aditama terlihat frustasi, ia akan marah pada Hania tapi tak mungkin, akhirnya ia memilih untuk diam. Hingga tanpa terduga, orang tua Adela menemukan Adela di sana yang di cari-cari selama dua tahun belakangan. Mereka mengambil Adela secara paksa dari Aditama dengan cara mengancam Aditama, selain itu keluarga besarnya juga tidak mendukung hubungan mereka.
Akhirnya Aditama memilih untuk menceraikan wanita yang ia cintai sejak pertama bertemu di kampusnya dulu. Ia beralasan akan memilih Hania karena Hania istri sahnya secara agama dan negara. Sesuai permintaan keluarga Adela, ia mengatakan jika anak yang di kandung Adela meninggal. Sejak saat itu Adela membenci Hania, ia berjanji akan membalaskan dendamnya ketika suatau saat bertemu dengan wanita itu lagi. Dendam karena kematian anaknya dan juga suami yang lebih memilih Hania di bandingkan dirinya.
__ADS_1
Memilih untuk hidup di luar negeri, mengganti nama anaknya supaya Aditama tidak menemukan jejaknya. Karena jujur ia juga benci dengan sikap Aditama yang seperti itu.
Setelah empat tahun ia menjada dengan seorang putra, Adela bertemu dengan lelaki yang kini menjadi suaminya, yaitu Aditya. Sosok lelaki yang menyayanginya dan juga anaknya, meskipun Aditya seorang duda beranak satu, tapi ia tampak tulus menyayangi anak dari Adela. Bahkan puta Aditya pun menyanyangi anak Adela yang jarak umurnya sekitar lima tahun, Fahri menganggap Irfan seperti adiknya sendiri, dan sejak itu Aditya dan Adela memutuskan untuk menikah.
Adela sudah melupakan cintanya pada Aditama, tapi ia tidak melupakan dendamnya pada Hania.
¤¤¤
Hania yang melihat lawannya sudah tak sadarkan diri, ia pun keluar rumah tersebut tanpa memperdulikan teriakan Aditama. Ia masuk kedalam mobilnya, mengendarai mobil itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Karena panik dan rasa takut jika wanita itu meninggal. Sejak saat itu, Hania mengurung dirinya di kamar tanpa memperdulikan kedua anak kembarnya yang masih balita, bahkan kandungan yang baru berusia empat bulan itu harus keguguran.
Tetapi entah mengapa, setelah ia tahu suaminya kembali padanya dan menceraikan istri keduanya, membuat Hania mau menerima anak yang di lahirkan oleh Adela. Bahkan ia menyayangi anak itu seperti anak kandungnya sendiri, meski keluarga besar mereka tidak menerima kehadiran anak itu.
Hingga kedua anak kembarnya, selalu di profokasi oleh keluarga besar mereka, jika Nayla adalah anak pela** dan bukan saudara mereka. Tapi ternyata hanya anak lelaki mereka yang terprofokasi, karena Arumi selalu menyayangi adik perempuannya, meskipun sang nenek selalu mengatakan jika dia bukanlah adiknya. Hingga mereka tumbuh menjadi dewasa bahkan saat Arumi sudah mengetahui kisah sesungguhnya, ia tetap menyayangi Nayla seperti adik kandungnya sendiri.
Karena kasihan melihat anak bungsunya yang selalu di kucilkan oleh keluarga besar mereka, membuat Aditama dan Hania memutuskan untuk pindah dari kota Jogjakarta. Kala itu mereka memilih untuk tinggal di Surabaya sebelum akhirnya mereka menetap di Jakarta sejak enam tahun yang lalu. Bahkan di Jakarta pun mereka beberapa kali pindah tempat tinggal. Entah karena alasan apa.
Bersambung....
__ADS_1
Cerita orang tua Nayla ya... kalau enggak aku ceritakan nanti dibilang ngegantung.