
Adela masih termenung beberapa saat, ia bingung harus bicara dari mana dulu. Menyeka butiran kristal yang terus membanjiri pipi, menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan. Satu tangannya terulur menyentuh jemari Nayla. Menetralkan degub jantungnya yang semakin bertalu-talu tak menentu, ia masih takut, takut akan penolakan dari putrinya sendiri. Tetapi ia harus menyelesaikan ini semua secepat mungkin, seperti apa hasilnya ia sudah siap bahkan jika yang terjadi adalah hal terburuk sekali pun.
"Nak, maaf karena perbuatan Mama kamu jadi seperti ini," ungkapan maaf yang pertama ia utarakan.
Nayla semakin di buat bingung, kenpa wanita yang di hadapannya ini meminta maaf, maaf untuk apa? Dan lagi ia menyebut dirinya Mama? Pikiran Nayla berkeliaran mencari jawaban yang tepat, tapi nihil ia tidak menemukannya.
"Maksudnya apa ya?" akhirnya ia putuskan untuk bertanya.
Adela menghela nafas, lalu ia meraih salah satu tangan putranya. Menyatukan telapak tangan ketiganya. Nayla tampak ragu, ia sempat melirik sang suami yang justru bergeming dari tempatnya.
Irfan pun sama, ia terlihat linglung, tak mengerti dengan apa yang di inginkan oleh wanita yang sudah melahirkannya ini. Tapi ia juga tidak menolak dengan apa yang di lakukan Mamanya.
"Jangan bermusuhan lagi, Mama tahu kalian sedang memiliki masalah. Mama harap setelah ini kalian kembali akur seperti sedia kala,"
Bingung, keduanya masih terlihat bingung dengan ucapan Adela, tapi mereka tidak ada yang ingin mengeluarkan isi hatinya.
"Jadilah saudara yang saling menyayangi dan mengasihi, meski kalian terpisah terlalu lama. Tapi Mama yakin kalian memiliki rasa saling menyayangi sejak di pertemukan kembali, tapi ada yang mengartikan itu sebuah cinta, tidak bisa di pungkiri memang, jika saudara sedarah itu memiliki ikatan yang kuat, meski Mama waktu itu belum merasakannya,"
Deg
Keduanya terkejut dengan apa yang di ungkapkan oleh Adela, saudara sedarah? Siapa yang saudara sedarah? Banyak spekulasi yanh muncul, tetapi mereka belum mengerti maksdunya di sini. Saling menatap satu sama lain, meminta penjelasan tetapi keduanya sama tidak memiliki jawaban.
"Kalian itu anak Mama, yang terlahir dalam satu kandungan yang sama, darah yang mengalir di tubuh kalian pun sama,"
Deg
Nayla menggelengkan kepala, ia tidak percaya dengan apa yang di ungkapkan oleh Adela.
Sedangkan Irfan, ia menatap netra sang Mama lekat, mencari sebuah kebohongan di sana, tapi nihil yang ia temukan sebuah kejujuran.
"Mama pasti bohong kan?" tanya Irfan, ia melepaskan genggaman tangan Mamanya.
__ADS_1
Nayla sudah tidak bisa berkata apa-apa, ia sulit percaya dengan semua ini.
"Mama enggak bohong, kalian memang kaka adik," bukan Adela yang menjawab tetapi Aditama yang entah sejak kapan sudah berdiri di antara mereka.
"Maafkan Papa yang sudah memisahkan kalian berdua," Aditama memeluk putra yang sudah lama ia lupakan itu.
Tetapi dengan cepat, Irfan melepaskan pelukannya, ia menatap tajam penuh intimidasi lelaki paruh baya tersebut. Karena tidak mudah bagi Irfan kecil melewati hidupnya tanpa seorang ayah. Ia selalu iri dengan teman-temannya yang selalu di antar sekolah oleh ayah dan ibunya, sedangkan dirinya hanya punya Mama saja.
"Aku enggak percaya, kalian semua pasti bohong!" serunya, ia melangkan tergesa keluar ruangan itu. Tidak bisa menerima kenyataan ini, sulit baginya. Wanita yang ia cintai ternyata adiknya sendiri, kenyataan yang tidak mungkin ia terima begitu saja. Dan lagi, ia yang sudah menganggap ayahnya telah tiada, nyatanya masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.
Brak
Irfan membanting pintu dengan kasar membuat semua yang ada di dalam terkejut dengan tindakannya.
Fahari mengejar adiknya yang ia sayangi sejak belasan tahun lalu, benar-benar ia sayangi seperti adik kandungnya sendiri. Begitu pun Aditya dan Adela yang menyayangi mereka berdua seperti anak kandung sendiri, tidak membedakan satu sama lain.
"Fan, tunggu!" teriak Fahri masih mengejar adiknya.
"Turun, dengerin gue dulu," titahnya.
Irfan nurut, ia turun dari jok motornya. Dengan cepat Fahri merangkul pundak adiknya, membawanya ke sebuah taman sekitar rumah sakit tersebut. Duduk saling berdampingan.
"Gue tahu lo kecewa, tapi seenggaknya lo harus dengerin dulu penjelasan mereka Fan. Apa alasan mereka merahasiakan ini, dan kenapa lo sama Mama di tinggalkan begitu saja oleh ayah lo, mereka pasti punya alasan Fan," menghela nafas sejenak.
"Soal Nayla, lo harus terima kenyataan karena dia memang adik lo, mungkin bener yang Mama bilang, sebenarnya cinta yang lo miliki untuk Nayla adalah cinta seorang kaka pada adiknya, tapi lo yang salah mengartikan, karena waktu itu kalian belum tahu jika bersaudara. Gue harap lo memikirkan masalah ini dengan otak jernih, pikirkan baik-baik." Fahri menepuk pundak Irfan.
"Apa lo tahu ini sudah lama Bang?" tanya Irfan menyelidik.
Fahri menggeleng, "Gue tahu baru semalem, setelah Mama di jemput dari kantor polisi karena Papa Nayla mencabut tuntutannya. Mama menceritakan semuanya, tapi Mama melarang gue buat cerita sama lo. Dan lo baru tahu juga kan kalau sebenarnya Mama yang mencoba membunuh Nayla,"
Tentu saja Irfan terkejut dengan penuturan Fahri, karena ia memang jarang pulang ke rumah setelah memutuskan untuk tinggal di apartemen. Saat Mamanya di bawa ke kantor polisi, sang Papa pun tidak memberitahu masalah ini pada dirinya.
__ADS_1
"Lo serius?" tanya Irfan.
Fahri mengangguk, "Gue akan ceritakan kenapa ini bisa terjadi," ucap Fahri, lalu ia pun menceritakan semuanya yang telah Mama Adela ceritakan tadi malam, karena menurutnya Irfan harus segera mengetahui, jika tidak ia akan semakin salah faham.
¤¤¤
Di ruang rawat Nayla, ia menumpahkan rasa keterkejutannya hanya dengan air mata. Ia masih tidak percaya, karena ini sulit sekali untuk di percaya. Tapi di sisi lain ia bersyukur, jika Irfan adalah kakaknya maka, ia akan sangat bahagia.
Beberapa kali Adela, menyentuh tangan putrinya itu, beberpa kali pun Nayla menepisnya. Ia masih mencerna semua kata-kata yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu.
"Nak, kamu jangan seperti ini sama Mamamu sendiri, meski dia tidak mengasuhmu sejak kecil tapi dia yang mengandungmu selama sembilan bulan," tutur Aditama.
"Papa juga jahat, kenpa enggak mengatakan fakta ini sejak dulu, kenapa Pa?" ia pun menepis tangan sang Papa.
Hania melangkah mendekati putrinya, seketika Nayla menghambur ke dalam pelukan wanita yang sudah mengasuhnya sejak bayi.
"Ma, ini semua bohong kan? Katakan Ma, aku anak Mama kan? Darah daging Mama, katakan Ma," ucapnya dalam isak tangis.
Hania tidak bisa menahan sesak dalam dadanya, ia pun ikut larut dalam lautan air mata. Tidak bisa menjawab perkataan putrinya, ia hanya mengelus punggung putrinya dengan sayang.
Selama ini, Hania memang sangat menyayangi Nayla bahkan bisa dikatakan melebihi anak kandungnya sendiri. Mengingat keluarga besarnya tidak menerima Nayla dengan baik, itulah yang menjadi alasan Hania begitu menyayangi putrinya itu.
"Anak Mama yang paling Mama sayang, dengarkan Mama Adela bicara ya, ini semua bukan sepenuhnya salah Mama Adela, ada andil Mama dalam hal ini," Hania berharap Nayla masih mau mendengarkan ucapan Adela.
"Untuk sekarang, aku mau sendiri, aku akan menemui dia kalau aku sudah siap lagi," tutur Nayla, ia masih belum mau menerima penjelasan Adela apalagi tadi wanita itu sudah mengatakan jika dirinyalah yang menyabotase mobil sang Mama.
Adela mengerti, ia pun berpamitan pada mereka, karena Nayla belum bisa menerima kehadirannya.
"Del, biarkan nanti aku yang akan menjelaskan pada Nayla, kamu berdoalah supaya hati Nayla terbuka untuk menerima kehadiranmu," wanita yang penah di sakiti oleh Adela ini begitu baik, ia bahkan akan membantu Adela menjelaskan semuanya.
"Terimakasih Han, aku sama Mas Aditya permisi," ucap Adela, ia keluar dari ruang rawat Nayla dengan derai air mata. Aditya merangkul pundak sang istri mencoba menenagkan wanita itu.
__ADS_1
Bersambung....