
Nayla mendengus berkali-kali, ia masih mengamati dua orang yang ada di hadapannya. Entah membahas apa, ia tidak mengerti. Sudah satu jam lebih Nayla menunggu, tetapi sepertinya kedua orang itu belum akan menyelesaikan pekerjaan mereka.
Bahkan ini sudah hampir pukul sepuluh malam, ia sebenarnya sudah mengantuk, jika saja Farhan di ruang kerja hanya sendirian sudah di pastikan ia memilih untuk memejamkan mata terlebih dahulu. Tetapi karena di ruang kerja ada orang lain, dan orang itu sepertinya menyukai sang suami yang terlihat dari pandangan Nayla, jadi ia tidak akan membiarkan mereka hanya berdua saja di dalam sana. Dan Farhan sepertinya tidak menyadari jika sekretarisnya itu menaruh hati padanya.
"Sayang, kalau sudah mengantuk tidur dulu aja," entah sudah berapa kali Farhan mengatakan itu.
"Enggak, aku mau nunggu sampai selesai," itu pun yang selalu menjadi jawaban Nayla.
Merasa tidak tega dengan istrinya, Farhan pun menyudahi pekerjaannya. "Lanjut besok aja, kamu boleh istirahat sekarang," ucap Farhan pada Rita, dan diangguki oleh gadis itu.
Setelah Rita keluar dari ruang kerjanya, Farhan pun menghampiri Nayla yang masih setia duduk di sofa menunggunya, duduk di sisi gadis itu yang terlihat memendam kekesalan.
"Kenapa kok wajahnya jutek gitu?" tanya Farhan, ia mengamati wajah Nayla yang sedang cemberut.
"Dia itu sepertinya menyukaimu," jawab Nayla masih dengan wajah cemberut. "Kamu harus hati-hati sama dia," tambahnya.
"Cemburu ternyata," ucap Farhan sambil tersenyum, lalu ia mencolek dagu Nayla. "Iya aku akan hati-hati sama dia, sesuai permintaanmu," tambahnya.
"Beneran ya," ucap Nayla.
"Iya sayang, yaudah ayo tidur, sepertinya kamu udah mengantuk," ucap Farhan, lalu dia mengajak Nayla keluar dari ruang kerjanya menuju kamar.
Keduanya masuk ke dalam kamar, lalu Farhan mengunci pintu dan menyusul Nayla yang sudah lebih dulu naik ke atas ranjang. Merebahkan diri di sisi Nayla, lalu menarik gadis itu supaya merapatkan tubuhnya.
Terlihat jelas, wajah di Nayla jika gadis itu masih sedikit kesal. Karena keduanya kini tidur saling berhadapan.
"Sudah, jangan cemberut lagi," ucap Farhan, menyadari kekesalan di wajah sang istri. Lalu ia mengecup seluruh wajah Nayla tanpa terkecuali. Terkahir ia mengecup bibir pink Nayla, tadinya ia hanya ingin mengecup sekilas, akan tetapi Nayla sepertinya menginginkan lebih, membuat Farhan membalas apa yang lebih dulu Nayla awali.
Tubuhnya semakin memanas. Merasa sudah di kuasai oleh hasrat, Farhan pun melepaskan pagutannya. Ia menatap lekat wajah cantik sang istri.
"Kamu enggak sedang datang bulan, kan?" lebih baik bertanya dari pada kecewa seperti sebelumnya.
Nayla menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Apa boleh sekarang?" tanya Farhan lagi, tentu saja Nayla tahu apa yang di maksud oleh suaminya itu.
Nayla pun tersenyum, lalu ia mengangguk.
Nayla hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang di berikan sang suami. Dengan sesekali ia menggelijang karena merasakan sensasi menggelitik. Tangannya meremas rambut Farhan, bahkan terkadang ia juga menjambak rambut suaminya itu, tetapi Farhan tak terusik dengan perlakuan Nayla, ia menikmati apa yang ada di depan matanya.
Tanpa Nayla sadari, ternyata ke duanya sudah polos tanpa sehelai benang pun. Farhan menghentikan aktifitasnya sejenak, ia mendongak menatap Nayla yang tiba-tiba membuka mata, karena merasakan jika Farhan menghentikan kegiatannya.
"Sudah siap sayang?" tanya Farhan dengan nada lembut dan menggoda terdengar di telinga Nayla.
Nayla pun mengangguk, ia tidak mampu berucap apapun.
Farhan mengecup kilas bibir Nayla, lalu ia memandang lekat wajah sang istri. "Kamu terlihat lebih cantik saat seperti ini, sayang," bisik Farhan tepat di dekat telinga Nayla.
Wajah Nayla kembali bersemu merah, tentu saja ia malu.
Farhan kembali berbisik, "Aku akan melakukannya dengan pelan, jika sakit kamu boleh menggigit tubuhku atau mencengkeramnya," ucapnya.
Farhan merasakan di bahunya jika Nayla mencengkeram kuat bahunya.
Nayla membuka matanya, ia tersenyum ke arah sang suami yang sedang mengkhawatirkannya. "Aku menangis karena bahagia," jawabnya dengan senyum menghiasi bibir manis itu.
Sebenarnya Nayla tak sengaja menjatuhkan air matanya, karena menahan rasa sakit di area intinya. Tetapi ia tidak mau membuat Farhan kecewa. Farhan kembali melakukan aksinya.
"Aku sayang kamu Nayla," ucap Farhan setelah keduanya merasakan nikmatnya terbang ke nirwana.
Menjatuhkan tubuhnya di samping Nayla, nafas keduanya terdengar memburu, menghirup oksigen dengan rakus. Mencoba menormalkan kembali nafas dan detak jantung keduanya.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu," ucapnya.
Nayla mengangguk, "Aku juga mencintaimu sayang," ucap Nayla lembut. Ia masih merasakan perih di area intinya. Sebenarnya sejak tadi ia merasakan itu, akan tetapi ia mencoba untuk menikmati permainan sang suami, takut jika Farhan akan kecewa.
"Masih sakit ya?" tanya Farhan lagi.
__ADS_1
"Iya, sayang," jawab Nayla.
"Sakitnya cuma sebentar, besok pasti sudah lebih baik. Maaf ya sayang," ia mengecup puncak kepala sang istri.
Nayla menggeleng, "Jangan minta maaf, ini sudah kewajiban ku sebagai seorang istri," ucap Nayla, lalu ia mengecup sekilas bibir sang suami. "Mas, aku haus," rengekannya dengan manja.
"Bentar Mas ambilkan minum di bawah ya," ucap Farhan, lalu ia melepaskan pelukannya. Menyelimuti tubuh polos Nayla dengan selimut yang berada di sampingnya. Memakai celana pendek yang tadi dia kenakan. Saat ia hendak melangkah ucapan Nayla menghentikannya.
"Mas, pake kaosnya, nanti kalau ada yang lihat gimana?" ternyata Nayla tidak rela jika ada yang melihat tubuh sang suami yang menurutnya menggairahkan.
"Tenang aja, mereka sudah tidur semua," ucap Farhan tersenyum ke arah sang istri, menyadari jika Nayla tidak rela orang lain melihat tubuh kekar sang suami.
Benar saja, ke khawatiran Nayla terjadi karena saat akan kembali ke kamar, Farhan berpapasan dengan Rita yang akan ke dapur, sepertinya Rita juga akan mengambil air minum.
Farhan pun enggan menegurnya, ia tidak mau gadis itu bertanya padanya. Karena jaraknya juga cukup jauh, Farhan sudah di depan tangga dan Rita baru saja keluar dari kamarnya. Farhan menaiki anak tangga, menuju kamarnya.
Rita mengernyitkan dahinya saat menyadari sesuatu, jika Farhan bertelanjang dada. Lalu ia menggidikkan bahunya acuh, setelah berfikir beberapa detik.
"Ini sayang, minumnya," Farhan duduk di sisi ranjang, lalu membantu Nayla untuk duduk. Karena sepertinya istrinya itu kesulitan saat akan duduk.
"Sakit banget ya?" tanya Farhan.
Nayla tersenyum lalu ia mengambil air minum yang baru saja Farhan bawa, "Enggak apa-apa, sakit ini bukti cintaku ke kamu Mas," ucap Nayla, entah kenapa ia bisa mengatakan seperti itu.
"Berarti kalau kita ulang yang tadi lagi, mau dong?" tanya Farhan menggoda.
Nayla tersenyum, lalu dia mengangguk, mengiyakan permintaan Farhan yang sebenarnya pura-pura, karena ia merasa iba melihat Nayla kesakitan.
"Kamu serius sayang? Kan masih sakit?" tanya Farhan memastikan.
"Iya aku serius Mas, selama kamu masih menginginkannya, sebisa mungkin aku akan melayani," jawab Nayla. "Meskipun sebenarnya masih perih banget sih," tambahnya dalam hati, lagi-lagi ia tidak mau membuat Farhan kecewa.
"Terimakasih sayang," ucap Farhan lalu memeluk Nayla. Ia kembali naik ke atas ranjang, membawa tubuh polos istrinya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Bersambung.....