Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Hingga Akhir Hayat


__ADS_3

"Nay, kamu enggak usah anter aku pulang, Al udah otewe ke sini," ucap Icha saat Kakak iparnya itu baru saja turun dari kamar mengambil kunci mobil.


Benar saja, setelah belanja tadi mereka berdua membuat kue, dengan telaten Icha mengajari Kakak Iparnya itu untuk membuat kue yang di minta. Dan setelah semuanya jadi, Icha memutuskan untuk pulang, ia sudah tidak sabar ingin bertemu kedua buah hatinya dan kasian juga dengan sang Mama yang seharian menjaga dua anaknya meskipun ada beby siter.


"Apa enggak kasian Al jemput kamu ke sini? Jalan ke sini sama rumah Mama kan beda arah, biar aku antar aja, lagian lebih dekat dari sini dari pada dari kantor Al kalo ke rumah Mama," timpal Nayla.


"Udah enggak apa-apa, Al yang mau sendiri. Lumayan kamu bisa istirahat, mandi aja sana terus sambut kepulangan suami," tutur Icha.


"Nanti deh, nunggu kamu pulang dulu," Nayla tidak enak jika harus meninggalkan Icha sendirian.


"Enggak usah tungguin aku, lagian Al juga masih lama, mandi aja sana. Suami itu lebih seneng kalo pulang istrinya sudah cantik dan wangi," ucap Icha sambil tersenyum.


"Iya deh, aku mandi dulu kalo gitu," Nayla meninggalkan Icha yang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya.


Waktu berlalu, Nayla sudah rapi dan wangi dengan pakaian santainya. Ia kembali menemui adik iparnya yang ternyata masih setia menunggu di ruang keluarga.


"Coba aja tadi aku anterin, udah sampai rumah Mama Cha," celetuk Nayla lalu ia duduk di sofa ruangan tersebut.


"Enggak apa-apa, aku kasian sama kamu, Al nya juga yang mau kok," timpal Icha sambil tersenyum.


Tak lama terdengar deru mobil dari arah luar.


"Mungkin itu suami kamu Cha," ucap Nayla.


"Bukan, itu Kak Farhan sepertinya. Al baru aja ngirim pesan dia baru sampai perempatan dekat komplek sini," timpal Icha. Baru saja Icha menyelesaikan ucapannya, terdengar ucapan salam dari luar. Mereka berdua pun menjawab salam bersamaan.


Saat tahu jika yang datang suaminya, Nayla pun beranjak untuk menghampiri sang suami. Mencium punggung tangan suaminya, lalu meraih tas kerja yang di bawa oleh Farhan, tetapi Farhan justru mencegahnya.


"Enggak usah, temani Icha aja dulu. Mas mau mandi," ucap Farhan, lalu ia mengecup singkat kening sang istri.


Nayla pun menuruti ucapan Farhan.


"Kakak mandi dulu ya Cha, jangan sungkan-sungkan anggap aja rumah sendiri," ucap Farhan pada sang adik.


"Iya Kak, aku juga sebentar lagi pulang. Al sudah hampir sampai sini," timpal Icha. Dan hanya di angguki oleh Farhan sebelum berlalu meninggalkan keduanya.


Tak berselang lama Al pun datang, dan Icha segera berpamitan tanpa menunggu Farhan selesai mandi terlebih dahulu, karena ia sudah rindu dengan kedua buah hatinya.


Setelah kepergian Icha, Nayla pun menyusul sang suami ke dalam kamar.


¤¤¤

__ADS_1


"Tidur sayang, ini sudah malam," titah Farhan, ia mendekati Nayla yang masih sibuk dengan kegiatannya. Mengerjakan tugas kuliah.


"Iya Mas, ini juga sudah selesai," timpal Nayla.


Farhan mengangguk, ia lebih dulu naik ke atas tempat tidur sambil menunggu sang istri.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Nayla berencana ingin memberikan suaminya itu kejutan malam ini. Tadi di sela-sela belajarnya, ia sempat minum kopi supaya tidak ketiduran sampai tengah malam nanti. Saat minum kopi tadi ia bersembunyi-sembunyi, karena bukan kebiasaan Nayla meminum minuman hitam plus pahit itu. Jika Farhan tahu pasti akan curiga.


Nayla menyusul Farhan yang sudah berada di atas tempat tidur.


"Ayo Mas katanya mau tidur," ucap Nayla karena Farhan masih fokus dengan layar ponselnya, entah apa yang sedang ia lakukan.


Farhan meletakkan ponsel tersebut di atas nakas, lalu ia merebahkan diri di sisi sang istri yang sudah lebih dahulu berbaring. Memeluk tubuh Nayla yang membelakanginya.


"Mas,"


"Iya sayang,"


"Besok ke rumah Mama ya, aku kangen sama Mama dan Papa, udah lama banget kita enggak ke sana, kan?" Memang sudah beberapa minggu ini mereka tidak mengunjungi rumah Mama Hania.


"Iya sayang, besok kita ke sana," jawab Farhan. Ia faham jika Nayla menyebut Mama tanpa embel-embel nama berarti istrinya itu menyebut Mama Hania, jika Mama Adela, Nayla pasti akan menyebutkan nama.


Tak berapa lama terdengar dengkuran halus, Nayla meyakini jika Farhan pasti sudah berkelana dalam alam mimpi. Sedangkan Nayla benar-benar belum mengantuk, ternyata efek kopi sangat berpengaruh terhadap dirinya.


Menunggu kurang lebih dua jam, Nayla mencoba melepas pelukan sang suami dengan perlahan, ia tidak mau membangunkan Farhan. Setelah lolos dari dekapan sang suami, Nayla pun bergegas keluar dari kamar, ia mengambil kue yang sudah di buat tadi dan ia sembunyikan di tempat yang tidak pernah Farhan jangkau.


Setelah mengambil kue buatannya tadi, Nayla pun kembali ke kamar. Belum sampai masuk ke dalam kamar, Nayla mendengar sang suami memanggilnya. Segera ia menyalakan lilin sebelum Farhan membuka pintu.


Kebiasaan sang suami seperti itu, jika Nayla terbangun Farhan pasti akan ikut bangun. Sepertinya Farhan merasakan jika Nayla menghilang dari dekapannya.


"Hampir saja gagal. Kebiasaan banget, di tinggal sebentar aja, pasti ikut bangun," Nayla berdecak.


Terdengar langkah mendekati pintu yang tertutup.


Cklek


Farhan membuka pintu, ia terkejut mendapati sang istri yang berada di depan pintu dengan membawa kue ulang tahun, diatasnya ada lilin yang sudah menyala. Ia tidak pernah menyangka jika Nayla akan memberikannya kejutan.


"Selamat ulang tahun Sayang," ucap Nayla sambil tersenyum. Farhan masih bisa melihat jelas senyum sang istri, meskipun lampu di sekitar padam.


"Kamu tahu hari ini Mas ulang tahun?" tanya Farhan masih dalam keterkejutannya, pertanyaan konyol yang seharusnya tidak di tanyakan. Tentu saja seorang istri pasti hafal tanggal kelahiran suaminya.

__ADS_1


Nayla tersenyum dan mengangguk.


"Makasih ya istriku," ucap Farhan, ia akan memeluk tubuh sang istri tapi ucapan Nayla membuat Farhan mengurungkan niatnya.


"Tiup dulu lilinya Mas, main peluk-peluk aja. Lihat di tanganku masih ada kue," ucapnya.


"Baiklah, Mas tiup lilinnya, tapi di dalam aja ya, masak di sini," ucap Farhan, lalu ia meraih kue dari tangan sang istri. Membawa kue tersebut ke dalam kamar.


Keduanya duduk di sisi ranjang, Farhan pun meniup lilin tersebut lalu ia memotong kue itu. Menyuapi Nayla dengan potongan pertamanya, setelah itu ia juga mencicipi kue tersebut.


"Gimana kuenya Mas? Ini aku sendiri yang buat lho," ucap Nayla sambil tersenyum.


"Enak," jawab Farhan singkat sambil mengunyah kue dalam mulutnya, ia kembali memasukan potongan kue ke dalam mulutnya.


"Jadi, kamu ngajakin Icha ke sini, minta di ajarin buat kue?" tanyanya. Meletakkan kue tersebut di atas nakas.


Nayla mengangguk, "Dan ini kue pertama yang aku buat, khusus untuk kamu Mas," ucapnya.


"Makasih sayang, Mas terharu," ucap Farhan lalu memeluk tubuh sang istri.


"Kamu tahu, Mas enggak pernah ngerayain ulang tahun sejak dulu, Mas selalu nolak kalau Mama menawari untuk merayakannya, palingan kita cuma makan bersama keluarga saja tanpa ada kue, karena Mas merasa buat apa ulang tahun di rayakan, apalagi Mas kan cowok, jadi rasanya enggak patut aja. Berbeda dengan Icha, yang ulang tahunnya sering di rayakan," tutur Farhan.


Nayla melepas pelukannya, ia menatap netra sang suami, "Jadi Mas enggak seneng dapet kejutan dari aku?" tanya Nayla sambil mengerucurkan bibirnya.


Farhan menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Nayla, "Bukan begitu sayang, Mas bahagia mendapat kejutan dari kamu. Karena ini ulang tahun yang paling berkesan, meskipun hanya sederhana seperti ini," ucapnya lalu mendaratkan bibirnya di kening Nayla.


"Apalagi yang memberi kejutan adalah orang tersayang," tambahnya.


Wajah Nayla tampak bersemu, ia tersenyum malu-malu mendengar ucapan sang suami.


"Terus hadiahnya mana?" tanya Farhan.


"Hadiahnya besok ya Mas," ucap Nayla.


"Yaudah enggak apa-apa. Tanpa hadiah pun Mas bahagia, yang penting kamu selalu ada di sisiku hingga akhir khayat nanti," timpal Farhan


Nayla tersenyum lalu mengangguk, "Iya Mas," jawabnya.


Farhan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, hingga kening keduanya menyatu saling melempar senyum, lalu hal selanjutnya mereka pun menyalurkan perasaan cinta yang hadir diantara keduanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2