Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Rumah Baru


__ADS_3

Ia tidak berniat menerima panggilan dari Farhan, justru panggilan itu ia tolak, lalu melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Membuka pintu kamar, melihat sekeliling, ternyata suaminya tidak ada di dalam kamar, "Mas Farhan!" panggilnya.


"Di luar," jawab seseorang dari balkon kamar.


Nayla keluar menuju balkon mendapati suaminya tengan berdiri menghadap ke arah jalanan depan rumah, "Sudah bangun sejak tadi?" tanyanya.


"Lumayan," jawab Farhan tanpa menoleh.


"Mau pulang sekarang?" tanya Nayla lagi.


Kali ini Farhan berbalik menghadap Nayla, "Kalau udah selesai ayo," jawabnya. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Nayla.


"Ini sudah semua?" tanya Farhan melihat ke arah dua koper, yang satu berukuran kecil.


"Iya sudah, enggak aku bawa semua karena kita pasti akan menginap di sini kapan-kapan, kan?" tanya Nayla.


"Iya, yasudah ayo kita bawa semua barang-barang ini," titah Farhan, ia memegang koper yanh besar.


Nayla mencegah tangan Farhan yang akan menarik koper itu, "Biar Mamang yang bawa," ucapnya.


Farhan melepaskan koper tersebut, lalu ia menoleh ke arah Nayla yang sedang menghubungi seseorang, "Mang tolong angkatkan barang-barangku di kamar ya," ucapnya pada orang di seberang sana. Lalu ia mematikan ponselnya beralih menatap Farhan yang masih mematung di tempat.


"Ayo kita keluar, ini biar di sini saja," ajak Nayla, ia melangkah lebih dulu keluar kamar di susul oleh Farhan. Di depan kamar mereka mendapati mamang yang tadi Nayla telfon, ia pun langsung masuk setelah mendapatkan injin dari Nayla.


Mereka benar-benar pulang dan tidak singgah lebih lama di rumah orang tua Nayla. Mereka pulang setelah berpamitan dengan orang tua Nayla dan juga Kakak-kakaknya. Sikap Enggar masih sama seperti saat pertama kedatangan keduanya.


¤¤¤

__ADS_1


Waktu berlalu, keduanya sudah berada di rumah baru mereka. Nayla menelisik seluruh ruangan, ia kagum dengan rumah baru itu, di penuhi dengan berbagai barang mewah. Padahal dari luar rumah tersebut terlihat biasa saja, semua orang pasti akan kagum saat masuk ke dalamnya.


Ia melangkah menuju dapur, disana juga sudah tersusun rapi berbagai macam perabot rumah tangga. Ia sedikit terkejut saat tiba-tiba ada yang masuk ke dapur.


"Eh, siapa?" tanyanya pada wanita paruh baya sedikit lebih muda dari Mamanya.


"Perkenalkan Non, saya Sumi, pembantu di sini," ucapnya memperkenalkan diri.


"Ah iya maaf Bik, Mas Farhan enggak bilang kalau sudah ada pembantu di sini, silakan Bibik lanjutkan lagi, saya mau lihat ruangan lain," ucap Nayla lalu ia keluar dari dapur menuju ke kamar atas, ia sudah bisa menebak pasti kamar mereka ada di lantai dua.


Setelah menaiki anak tangga, Nayla sedikit bingung pasalnya di atas ada empat pintu, ia penasaran dengan semua ruangan itu. Tapi ia lebih memilih mencari kamar utama, ia menebak kamar mereka pasti di sisi sebelah kanan tangga, karena terlihat paling jauh jaraknya dengan pintu yang lain. Ia melangkah mendekat ke arah pintu, sebelum memegang handle pintu ternyata pintu sudah di buka dari dalam.


Ckleek


Pintu terbuka, orang yang membuka pintu terkejut begitu pun Nayla, "Buat aku kaget aja," ucap Farhan, ia tidak jadi keluar kamar saat mendapati Nayla berada di depannya, karena niatnya tadi keluar untuk mencari Nayla.


"Maaf Mas, aku baru aja mau ketuk pintu," Nayla tersenyum, lalu ia masuk karena Farhan sudah masuk ke dalam kamar tersebut. Ia melihat sekeliling kamar, kamar yang luas bahkan lebih luas dari kamarnya. Ada sofa dan juga televisi di sana, meja rias juga ada bahkan sudah lengkap isinya. Ia melangkah menuju pintu ke luar, pintu itu menuju balkon, terdapat pemandangan taman di samping rumah, dan juga kolam renang. Lalu ia meninggalkan balkon dan kembali masuk.


Nayla menoleh ke arah telujuk Farhan, ia pun mengangguk lalu mendekat ke arah koper dan membawa masuk ke ruangan tersebut. Ia kagum melihat isi walk in closet itu, pasalnya ada beberapa koleksi sepatu yang tertata rapi dan juga pakaian yang ada di dalam almari. Membuka salah satu almari itu, ia terkejut karena sudah terisi oleh pakaian wanita.


"Itu semua masih baru Nay, kalau kamu mau silahkan di pakai, ada beberapa sepatu dan tas juga," ucapan Farhan membuat Nayla terkejut.


"Ini?" tanya Nayla ambigu.


"Maaf sebelumnya Nay, itu semua memang sudah aku persiapkan jauh-jauh hari tapi ...." Ucapan Farhan menggantung, karena Nayla lebih dulu menyela.


"Iya aku tahu Mas, tidak masalah," Nayla tersenyum, ia tahu apa yang di maksud Farhan, bahwa itu semua baju-baju yang ia persiapkan untuk Sherena.

__ADS_1


"Maaf ya, pakai aja semuanya, kalau kamu mau yang lain atau tidak suka dengan yang itu tinggal bilang aja," ucap Farhan. "Tapi kamu tenang, dia bahkan belum tahu semua itu," beritahunya. Karena ia memang sengaja mempersiapkan semuanya untuk kejutan.


Nayla mengangguk, "Iya Mas, akan aku pakai. Aku pasti menyukai semuanya, karena aku bukan orang pemilih," ucapnya.


"Yaudah, aku keluar dulu, kamu bisa kan beresin sendiri?" tanyanya, takut-takut Nayla membutuhkan bantuan.


"Iya bisa," jawabnya.


Setelah Farhan keluar, Nayla membereskan pakaian yang ia bawa dari rumah. Tak butuh waktu lama ia pun sudah menyelesaikannya, lalu ia kembali mengamati setiap barang yang ada. Semua barang-barang yang ada di walk in closet tersebut barang branded, ia bahkan tidak percaya jika selera mantan kekasih Farhan sangat tinggi. Terbukti barang-barang yang Farhan beli tersebut harganya puluhan juta bahkan ada yang lebih.


Ia berfikir, betapa sedihnya Farhan saat tahu ternyata kekasihnya justru selingkuh dan bahkan ia sampai hamil. Karena dengan semua bukti yang ia temui, sepertinya Farhan sangat menyayangi Sherena.


Tidak mau berfikir terlalu jauh, Nayla memilih keluar dari walk in closet tersebut, rasa ngantuk menjalar seluruh tubuhnya. Ia pun melangkah ke arah ranjang dan terridur di sana.


¤¤¤


Malam harinya setelah makan malam, Nayla membantu membereskan bekas makan mereka. Sedangkan Farhan memilih ke kamar terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Nayla pun menyusul masuk ke dalam kamar, ia harus mengerjakan tugas karena kemarin ia ijin tidak masuk.


Ia masuk ke dalam kamar mendapati Farhan duduk di atas sofa, menatap laptop yang ia pangku. Ia terlihat sangat serius bahkan saat Nayla masuk pun tidak menyadarinya.


Nayla memilih mengambil laptopnya, ia akan membuat tugas kuliahnya. Satu jam berlalu mereka tampak diam dengan kesibukan masing-masing. Deringan ponsel Farhan membuat mereka sedikit terkejut. Farhan pun menerima panggilan itu.


"Brengsek!" seru Farhan setelah mendengar orang di seberang sana bicara.


Nayla terkejut dengan umpatan Farhan, ia melihat ke arah Farhan yang terlihat memendam amarah.


Bersambung....

__ADS_1


jangan lupa like dan komen.


Mau komen apa aja boleh, mau kritik dan saran juga boleh😉


__ADS_2