Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Suami Terbaik


__ADS_3

Mendengar ketukan pintu, Nayla pun lebih dulu melepaskan pagutan mereka. Mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena kehabisan oksigen. Farhan pun melakukan hal yang sama, lalu ia menyuruh orang yang di luar sana untuk masuk ke dalam ruangannya.


Ternyata Dika yang datang, "Maaf Pak mengganggu, saya cuma mau minta tanda tangan Bapak saja," ucap Dika sungkan, ia merasa tidak enak hati karena menganggu Farhan dan istrinya.


Farhan mengangguk, lalu ia menerima map yang di sodorkan oleh Dika. Membaca sebentar lalu membubuhkan tanda tangannya di sana.


"Makasih Pak, saya permisi," pamit Dika, lalu ia keluar dari ruangan Farhan.


Farhan melihat jam yang berada di pergelangan tangannya, "Sayang, kamu sudah makan?" tanya Farhan, karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang, bahkan cacing di perutnya pun sudah mulai demo.


"Belum Mas, aku tadi ke sini juga sebenarnya pengen makan siang sama kamu," jawab Nayla.


"Ayo kita makan siang sekarang, aku dah laper," ajak Farhan, lalu ia berdiri dari duduknya. Meraih tangan Nayla dan menuntun keluar ruangan. Mereka lebih dulu melaksanakan ibadah dhuhur, karena waktu memang sudah masuk waktu dhuhur.


Setelah selesai melaksanakan ibadah, keduanya memutuskan untuk makan di kafe depan kantor, karena tempatnya dekat dari kantor jadi keduanya memutuskan untuk berjalan kaki saja.


Setelah sampai di kafe, mereka berdua memilih duduk outdor kafe tersebut. Memsan makanan yang mereka inginkan. Tak lama pesanan mereka pun datang. Menikmati makanan dalam keheningan.


Setelah selesai makan, mereka mengobrol sebentar sambil menikmati suasana kafe yang terlihat ramai pengunjung, karena saat ini memang jam makan siang. Melihat jam ternyata sebentar lagi waktu istirahat habis, Farhan pun mengajak Nayla untuk kembali ke kantor.


"Maaf Pak, ada tamu yang menunggu Bapak," ucap sekretaris Farhan, saat Farhan baru saja sampai di depan ruang kerjanya.


Farhan mengernyitkan dahi, ia tidak ada janji dengan siapa pun hari ini. "Siapa?" tanyanya.


"Itu ... em Pak Samuel," ucap sekretaris Farhan sedikit terbata karena ragu, pasalnya ia tahu jika Samuel lah yang mengahncurkan acara pernikahan Farhan dulu. Ia juga tadi sempat melihat jika Samuel sedang memendam amarah.


Farhan mengangguk.

__ADS_1


"Siapa Samuel?" tanya Nayla yang penasaran, pasalnya ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.


"Nanti aku ceritakan, sekarang aku akan temui dia, kamu tunggu di dalam ya," tutur Farhan, lalu ia berjalan menuju ruang tunggu, "ada apa dia datang kemari?" gumamnya, Farhan menggelengkan kepala, karena ia tidak bisa menebak kenapa Samuel datang menemuinya.


Farhan membuka pintu, lalu ia masuk ke dalam ruangan tunggu tersebut. Terlihat Saumel sedang duduk di sofa, ia bangkit saat melihat Farhan datang.


Bugh


Farhan mendapat satu bogeman dari Samuel. Ia limbung karena tidak bisa menahan tubuhnya yang mendapatkan serangan tiba-tiba. Berdiri sambil memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Kenapa Anda memukul saya? Apa salah saya?" tanya Farhan, ia tidak berniat membalas pukulan Samuel.


"Lo jangan pura-pura bodoh! Di mana Sherena? Lo pastikan yang nyembunyiin dia?" Samuel sudah di kuasai emosi sejak pertama masuk ke dalam kantor Farhan, ia bahkan tak enggan untuk membentak Farhan yang notabene pemilik perusahaan tersebut.


"Anda salah kalau cari dia di sini. Saya tidak tahu di mana dia, karena saya bukan siapa-siapanya," ucap Farhan santai.


"Iya, dia memang kesini tapi sudah saya usir," jawab Farhan, "Silahkan Anda bisa keluar kalau sudah tidak ada yang ingin di bicarakan," Farhan mengusir Samuel secara halus.


Samuel langsung percaya dengan ucapan Farhan, karena ia bisa melihat kejujuran di mata Farhan, lalu ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut dan menutup pintu dengan kasar. Sepertinya ia masih di kuasai oleh amarah, karena calon istrinya menghilang. Iya, Sherena sengaja kabur untuk menghindari pernikahannya dengan Samuel yang sudah di persiapkan oleh lelaki itu di Australia.


Saat tahu Sherena kabur, Samuel pun kembali ke Indonesia. Tempat pertama yang ia datangi adalah kantor Farhan, karena ia yakin jika Sherena pasti akan datang ke sana dan meminta Farhan untuk membantunya menghindari kejaran Samuel. Tapi ternyata ia salah, justru Farhan mengusir wanita itu.


Farhan keluar dari ruang tunggu setelah kepergian Samuel, lalu ia masuk ke dalam ruangannya, langsung duduk di sofa samping Nayla yang sedang fokus dengan ponselnya.


Nayla menoleh ke arah Farhan, ia terkejut mendapati wajah suaminya lebam. "Sayang, kamu kenapa? Kok muka kamu seperti habis kena pukulan?" tanya Nayla, ia mengelus pipi Farhan dengan lembut.


Farhan pun menceritakan, jika dirinya di pukul oleh Samuel karena Samuel mengira jika ia menyembunyikan Sherena.

__ADS_1


Nayla menghela nafas, "Biar aku obati lukamu," ucap Nayla lalu ia beranjak mengambil kotak obat.


"Sakit ya sayang? Sampe berdarah gini bibir kamu," ucap Nayla saat dirinya sedang membersihkan darah yang sudah mengering.


"Lumayan," jawab Farhan singkat, ia menahan perih di sudut bibirnya.


"Enggak tahu masalah mereka apa, justru kamu jadi korban, coba tadi aku ikut udah ku balas dia," ucap Nayla geram. Ia membayangkan akan membalas pukulan Samuel yang di layangkan pada suaminya. Karena Farhan tadi mengatakan kalau ia tidak membalas perbuatan Samuel.


"Kenapa kamu enggak bales sih sayang?" tanya Nayla penasaran.


Farhan meraih tangan Nayla yang sudah selesai mengobati luka di sudut bibirnya, lalu ia menggenggamnya. Membuang nafas perlahan, "Sayang, semua masalah itu tidak harus di hadapi dengan emosi. Jika kita sama-sama dalam keadaan emosi, masalah tidak akan terselesaikan justru makin bertambah runyam. Coba tadi kalau aku balas dia, pasti akan terjadi baku hantam yang lebih parah, dan lukaku pastinya tidak cuma ini," menghela nafas sejenak, "Dengan aku mengalah, suasana menjadi lebih baik bukan?" tambahnya.


Nayla mengangguk, lalu ia memeluk suaminya, "Suamiku memang terbaik, aku bangga punya suami sepertimu Mas," ucapnya dalam pelukan sang suami.


Farhan membalas pelukang sang istri, lalu ia menghujani kecupan di puncak kepala Nayla. "Terimakasih sayang, aku juga bangga punya istri sepertimu," Farhan mengurai pelukannya, mereka pun saling menatap, "Kamu cantik, perhatian dan mengerti apa yang ku mau," tambahnya.


Nayla tersenyum menanggapi, lalu ia mengecup pipi Farhan yang tidak terluka, "Makasih sayang," ucapnya.


Farhan membalas senyuman Nayla, lalu ia mengangguk, "Sekarang aku kerja lagi. Nanti kita pulang lebih awal," ucapnya.


Farhan mengecup kening Nayla, lalu ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju meja kerjanya.


"Kamu istirahatlah, nanti aku bangunin," ucap Farhan setelah duduk di kursi kebesarannya.


"Enggak ah Mas, aku sudah tidur dari tadi sejak kamu berangkat ke kantor. Sekarang aku mau nemanin kamu kerja," tolak Nayla. Dirinya tadi pagi setelah Farhan pergi memang kembali tidur, karena badannya yang kurang sehat. Dan saat ini ia merasa sudah baikan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2