Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Nayla Ya


__ADS_3

Hari minggu menjadi momen berharga untuk orang-orang yang bekerja, karena setiap hari Minggu mereka bisa berkumpul bersama keluarga besarnya. Ada juga yang memilih untuk malas-malasan di rumah sambil menikmati libur mereka. Berbeda dengan pasangan yang satu ini, setelah melaksanakan sholat subuh, mereka memilih untuk jalan-jalan pagi mengelilingi komplek.


"Pulang yuk Mas, aku dah capek," keluh wanita dengan perut yang semakin membesar itu.


"Baru aja kita melewati dua rumah, masak dah cepak sih sayang?" Nayla cemberut mendapatkan jawaban seperti itu dari sang suami.


"Yaudah ayo kalo mau pulang,"


Akhirnya mereka pun berjalan beriringan menuju kediaman mereka. Dengan kaki telanjang tanpa alas.


"Kok enggak jadi olah raganya?" tanya Mama Adela saat melihat putrinya masuk ke dapur.


Mama Adela sudah beberapa hari ini menginap di rumah mereka.


"Jadi kok Ma, tapi cuma bentar, capek banget rasanya," keluh sang putri yang sudah mendudukkan dirinya di kursi.


"Yaudah istirahat aja, Mama siapin sarapan dulu," Adela melanjutkan kegiatannya, memasak sarapan untuk mereka.


"Iya Ma,"


Nayla duduk sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit, perkiraan dalam waktu sebulan lagi anti itu akan lahir ke dunia.


"Sayang, apa enggak lebih baik kamu tinggal di rumah Mama sampai lahiran?" tanya Adela, ia meletakkan sup daging yang baru saja matang di atas meja makan.


"Mas Farhan maunya di rumah aja Ma, aku sih ikut dia, sebenarnya aku juga ingin di rumah Mama atau rumah Papa, biar ada yang nemenin, rame juga, kalo di sini kesepian," keluh Nayla.


"Coba nanti kamu bicarakan lagi sama suamimu," Adela kembali meletakkan sesuatu ke atas meja, kali ini segelas susu rasa coklat untuk Nayla.


"Makasih Ma," ucap Nayla setelah menerima susu tersebut. Menenggaknya hingga sisa setengah, "Iya nanti aku bicarakan sama Mas Farhan, semoga aja dia mau," tambahnya.


"Aku mandi dulu ya Ma, gerah banget," Nayla beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan sang mama yang masih memasak menu sarapan mereka.

__ADS_1


***


"Kamu udah mandi Mas?" tanya Nayla saat mendapati sang suami baru saja keluar dari kamar mandi. Sebenarnya bukan pertanyaan yang harus di jawab, karena Nayla melihat jelas jika rambut sang suami masih basah.


"Iya, sana kamu mandi dulu, setelah ini kita belanja untuk keperluan anak kita, dan ajak Mama sekalian, Mama pasti lebih tahu apa aja yang di butuhkan,"


Mereka memang belum membeli perlengkapan bayi. Dulu saat kehamilan Nayla baru menginjak enam bulan, wanita hamil itu antusias untuk membeli perlengkapan bayi, tapi dilarang oleh para orang tua, katanya pamali membeli pakaian bayi sebelum bayi itu berumur tujuh bulan.


"Baik Mas," Nayla pun masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berdandan alakadarnya, mereka berdua pun turun ke dapur untuk sarapan. Nayla tidak pernah memilih-milih makanan apapun di kehamilannya kali ini, semua bisa ia makan. Tidak suka dengan bau parfum sudah berangsur-angsur menghilang, sekarang ia bisa mencium bau parfum dan apapun itu tanpa rasa mual.


"Ma, habis ini ikut kita belanja perlengkapan bayi ya, aku enggak begitu tahu apa aja yang di perlukan," ucap Nayla, setelah mereka menghabiskan sarapannya.


"Iya, Mama sebenarnya juga mau ngajak kalian untuk belanja hari ini, mumpung Farhan tidak bekerja," timpal sang Mama sambil membereskan bekas makanan mereka di bantu oleh Nayla.


"Habiskan susunya sayang, masih setengah gitu masak mau di buang," titah Farhan saat mendapati Nayla akan membuang susu yang dibuatkan oleh sang Mama tadi.


"Kenyang Mas," protes Nayla.


Setelah membereskan semuanya, mereka pun bersiap-siap untuk ke mall belanja perlengkapan bayi.


"Kalau capek kamu duduk aja, biar Mama yang cari, strolernya," ucap sang Mama.


Akhirnya Nayla duduk di sofa yang ada di tempat itu, dengan Farhan yang berada di sampingnya.


"Nih minum dulu sayang," Farhan menyodorkan air mineral yang sudah terbuka tutupnya di hadapan Nayla.


"Makasih Mas," Nayla menerima air minum tersebut, laluenegaknya hingga setengah.


"Capek ya? Dedek pasti capek juga udah jalan-jalan," Farhan mengelus perut buncit sang istri yang terhalang oleh gamis.

__ADS_1


"Dia gerak sayang," bukan kali pertama merasakan pergerakan dalam perut sang istri, tapi tetap saja membuat Farhan terharu dan bahagia.


"Mungkin dia menjawab pertanyaan Papanya," Nayla tersenyum bahagia ketika melihat sang suami bahagia.


Farhan mengecup sekilas perut sang istri, ia tidak peduli saat ini berada di mana. "Anak pintar, sehat-sehat dalam perut Mama ya, bulan depan Dedek bisa lihat Mama dan Papa," ucapnya masih mengelus perut sang istri.


"Udah Ma?" tanya Nayla saat mendapati sang Mama menghampiri mereka.


"Sudah, semua barang-barang akan di kirim ke rumah kalian," jawab sang Mama. "Udah Mama bayar semuanya," tambahnya saat melihat Farhan bangkit dari duduknya.


"Lho Ma? Biar aku aja yang bayar, itu banyak banget lho," Farhan tidak enak hati jika sang Mama yang membayarkan semua yang mereka beli tadi.


"Enggak apa-apa, anggap saja ini hadiah dari Mama, karena dulu pas kalian menikah Mama tidak memberi hadiah apa pun. Selama ini Mama juga tidak pernah memberikan apa-apa sama Nayla, jadi biarkan Mama memberikan ini semua untuk cucu Mama," ucap Mama Adela.


Nayla memeluk sang Mama, "Mama, aku cukup bahagia saat ini bisa bersama dengan Mama. Yang lalu biarlah berlalu Ma, yang penting masa sekarang dan yang akan datang kita harus bahagia," ucapnya.


"Iya sayang," membalas pelukan Nayla. Lalu melepaskannya, " Ayo antar Mama cari baju, Mama mau baju yang seperti ini," tambahnya sambil memegang pakaian yang di kenakan Nayla.


"Mama serius?" tanya sang putri terkejut mendengar penuturan Mama Adela.


"Iya, seribu rius malahan, yuk,"


Mereka pun keluar dari toko perlengkapan bayi itu lalu menuju tempat yang biasan Nayla kunjungi untuk membeli pakaiannya. Nayla memilihkan beberapa pakaian untuk sang Mama. Mereka terlihat antusias, sedangkan Farhan menunggu sambil memainkan gawainya.


Setelah membeli beberapa pakaian dan membayarnya, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu, karena waktu sudah cukup siang. perut juga sudah keroncongan.


Memesan makanan yang mereka inginkan, sambil menunggu mereka bertiga terlihat mengobrol santai. Hingga ada seseorang menghampiri mereka bertiga.


"Nayla ya," ucap orang tersebut, orang itu datang dari arah depan Nayla, hingga tidak melihat wajah Farhan yang berada di hadapan Nayla.


Sontak ketiga orang itu menoleh, mereka bertiga terkejut saat mendapati siapa yang memanggil nama Nayla.

__ADS_1


"Eh ada Tante juga," ternyata orang itu mengenal Mama Adela.


Bersambung....


__ADS_2