Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Parfum


__ADS_3

Farhan paham jika istrinya itu ngambek, tapi ia juga tidak rela jika sang istri mendamba laki-laki lain, jadi ia putuskan untuk mengabaikan Nayla untuk sementara waktu, supaya istrinya itu sadar kalau semua permintaan tidak harus di penuhi.


Farhan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri sebelum berangkat bekerja. Saat keluar dari kamar mandi, ternyata Nayla masih dalam posisi yang sama, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Setelah berpakaian lengkap, Farhan memilih turun ke dapur untuk sarapan, setelah sarapan ia membawakan sarapan untuk sang istri ke kamar, tidak lupa susu ibu hamil yang ia seduh sendiri.


"Sayang, sarapan dulu ya," ucap Farhan lembut, ia duduk di sisi sang istri setelah meletakkan nampan berisi sarapan di atas nakas.


Nayla bergeming, tapi tunggu, Farhan mendengar suara sesegukan dari dalam selimut, dengan perlahan ia membuka selimut tersebut, ternyata dugaannya benar sang istri sedang menagis tapi tertahan.


Farhan ikut merebahkan diri di sisi Nayla, ia memeluk tubuh sang istri, "Maafkan Mas ya sayang, Mas akan lakuin apa pun yang penting permintaan kamu bukan yang aneh-aneh," tuturnya.


Bukannya diam, tangis Nayla justru bertambah, membuat Farhan semakin bingung.


"Sayang kamu kan tahu, memandang seseorang yang bukan muhrim itu dosa, apalagi di sengaja," Farhan mengingatkan sang istri.


Masih saja Nayla tidak mau diam dari tangisnya, bahkan kemeja yang di kenakan oleh Farhan basah karena air mata sang istri.


"Oke, kalau kamu mau makan sama Dika, nanti siang kita makan bareng dia, kalau saat ini kasian Dika harus bolak-balik, gimana?" Farhan menyerah, akhirnya ia menyetujui permintaan sang istri.


Nayla mendongak menatap wajah sang suami dengan tersenyum, padahal wajahnya masih basah dengan air mata.


"Iya aku mau," jawab Nayla.


Farhan menghela nafas, "Yaudah sekarang sarapan dulu, setelah itu mandi. Nanti ke kampus Mas yang antar," ucapnya.


Mereka berdua pun bangkit, Farhan mengambil makanan di atas nakas lalu memberikannya pada Nayla, tetapi istrinya itu menolak.


"Kenapa sayang? Enggak mau makan makanan ini?" tanya Farhan.


"Mau, tapi suapin," ucapnya dengan manja.


"Yudah Mas yang suapin," Farhan mengambil satu sendok nasi beserta lauknya, lalu menyuapi Nayla dengan hati-hati.


Waktu berlalu, mereka sudah siap untuk berangkat. Karena jadwal kuliah Nayla pagi, jadi Farhan lah yang mengantarnya ke kampus. Baru saja mereka keluar rumah, sebuah mobil berhenti di halaman rumah mereka. Mobil yang sangat di kenali oleh keduanya.


"Mama," ucap Nayla lalu ia menghampiri sang Mama yang baru datang bersama Kakaknya Irfan.

__ADS_1


"Kamu kuliah pagi? Yah padahal Mama mau ajak kamu ke ...." Ucapan Mama Adela terpotong.


Hoek Hoek


Farhan dan Mama Adela panik mlihat Nayla seperti itu.


"Kenapa sayang?" tanya Mama Adela dan Farhan hampir bersamaan.


"Bang bau banget, ya Allah, parfum apa sih ini. Sana jauh-jauh." Naya mengibaskan tangan mengusir Irfan dari hadapannya.


Irfan menciumi bagian tubuhnya, wangi bahkan ia tidak pernah ganti parfum sejak dulu, tapi kenapa baru sekarang Nayla mengomentari jika parfumnya tidak enak.


"Parfum yang biasa aku pake, hidung kamu aja tuh yang eror, wangi gini," protes Irfan.


Nayla mendengus, ia menutup mulut dan hidungnya dengan jilbab yang ia kenakan. "Kamu pergi Bang, aku enggak kuat," ucapnya.


Irfan pun memilih untuk masuk ke dalam mobil, ia kesal di bilang seperti itu oleh adiknya. Tidak tahu saja jika sang adik sedang mengandung.


"Kamu hamil?" tanya Mama Adela bahagia.


"Alhamdulillah, selamat ya sayang, sebentar lagi kamu akan jadi ibu, Mama juga dulu pas hamil enggak suka sama bau parfum, tapi kenapa hanya bau parfum Irfan saja, sedangkan Farhan kannjuga pakai parfum?" tanya sang Mama yang merasa heran.


"Mas Farhan parfumnya seger Ma, enggak kaya parfum Bang Irfan," jawab Nayla. Memang parfum yang di pakai oleh Farhan bau green tea yang segar, bukan parfum-parfum cowok yang cool.


Membuat mereka tertawa, sedangkan Irfan mendengus kesal.


Farhan menemukan ide, setelah tahu jika sang istri tidak suka dengan bau parfum. Ia tersenyum dan akan menjalankan idenya nanti.


Karena Nayla kuliah pagi, sang Mama dan Irfan pun tidak jadi mengajak Nayla pergi.


¤¤¤


"Pulang aja ya Nay, dari tadi kamu seperti ini, enggak usah masuk kuliah dulu deh kalo emang enggak betah sama bau parfum, lo kan tahu sendiri mayoritas mereka pake parfum yang enggak lo suka, masak cowok suruh pake parfum bau buah seperti permintaan lo, kan enggak lucu," ucap Rara panjang lebar.


Saat ini mereka berada di depan toilet, karena Nayla mual-mual sejak pertama masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Lemes banget gue Ra, padahal sebelum gue tahu kalo hamil, enggak ngerasain apa-apa, lah setelah tahu kenapa jadi gini ya, bener-bener enggak kiat kalo gini," keluh Nayla.


"Gue anterin pulang ya, ntar gue pinjem mobil Irfam dulu," ucap Rara, baru saja ia akan melangkah Nayla menarik tangannya.


"Jangan mobil dia, pasti bau parfum juga. Gue naik taksi aja,"


"Iya naik taksi kalo abang taksinya pake parfum juga gimana?"


Nayla menghembuskan nafas, "Bener juga, ribet banget ternyata ya," ucapnya.


"Ntar gue telfon Icha aja," tambahnya.


Nayla pun menelfon adik iparnya itu, karena kelas mereka berbeda.


"Lo masuk kelas aja Ra, biar gue pulang sama Icha, kebetulan dia bawa mobil," titah Nayla setelah memutuskan sambungan telfon dengan Icha.


"Lo serius?"


Nayla mengangguk, "Iya, kasian kalo lo ketinggalan mata kuliah lagi," ucapnya.


"Yaudah, gue anter ke parkiran,"


Rara pun mengantar Nayla ke parkiran. Setelah ia ia kembali ke dalam kelas lagi.


"Kamu sakit Nay?" tanya Icha setelah mereka masuk ke dalam mobil.


Nayla pun menceritakan apa yang ia alami.


"Alhamdulillah aku ikut seneng dengernya, semoga anti parfum itu enggak bertahan lama, kasian juga kalo sampai berlarut-larut," ucap Icha setelah mendengar cerita dari Nayla.


"Aamiinn, semoga aja Cha. Anehnya aku tu eneg kalo bau parfum cowok, kalo parfum cewek kok enggak ya, lucu enggak menurut kamu Cha?" tanya Nayla karena ia memang tidak bisa mencium bau parfum laki-laki, jika parfum perempuan penciumannya tidak bermasalah.


"Biasa wanita hamil memang seperti itu Nay," timpal Icha yang memang lebih berpengalaman.


Tak lama mereka pun sampai di kantor Farhan, karena Nayla minta di antar ke kantor bukan ke rumah. Icha memutuskan untuk mengantar Nayla sampai ke ruangan sang Kakak, karna takut jika terjadi sesuatu dengan Kakak iparnya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2