
"Mampir beli sarapan dulu ya," ucap Farhan, keduanya kini berada di dalam mobil.
Mereka benar-benar pulang, entah apa yang di fikirkan Farhan, tadi setelah mendapat telfon dari Mamanya ia terburu-buru ke rumah sakit, tapi setelah sampai di sana tak lama justru mengaja Nayla pulang.
"Boleh Mas," jawab Nayla, ia menoleh ke arah sang suami, "Kenapa buru-buru pulang Mas? Padahal kita di sana baru sebentar, bahkan belum ada satu jam," tanya Nayla, ia penasaran. Kuliahnya saja masih jam delapan, ini masih pagi banget, bahkan belum jam enam pagi.
"Ya, kan kamu kuliah Nay," menoleh ke arah Nayla sebentar, "Tadi aku lupa nanya dulu sama kamu pas mau berangkat ke rumah sakit, jam delapan itu masuknya, kan? Ini udah hampir jam enam, kalo kita enggak pulang bisa-bisa kamu terlambat," jelas Farhan panjang lebar, karena memang benar ucapannya.
Nayla mengangguk, ia membenarkan ucapan Farhan. Karena dari rumah sakit ke rumah butuh waktu sekitar satu jam.
"Mau sarapan apa?" tawar Farhan.
"Apa ya?" Nayla berfikir, ia ingin sarapan apa pagi ini. "Bubur ayam di taman kota itu enak sepertinya," tambahnya, karena Nayla pernah sarapan di sana sebelumnya.
"Oke, boleh lah. Ini juga sudah deket taman kota," timpal Farhan. Melajukan mobilnya ke taman kota.
Sepagi ini bahkan matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri, tetapi taman kota terlihat ramai, banyak orang berseliweran ke sana kemari, berpakaian lengkap khas orang berolah raga.
Farhan memarkirkan mobilnya, ia turun dari mobil di ikuti oleh Nayla. Sepertinya hanya mereka berdua yang tidak mengenakan pakaian olah raga, tapi mereka tak memperdulikan itu semua.
Berjalan menuju tempat penjual bubur ayam legendaris yang sudah terkenal dengan rasanya yang luar biasa.
"Bang, bubur dua ya," ucap Farhan, keduanya sudah berada di area penjual bubur ayam.
Setelah di angguki oleh penjual, keduanya mencari tempat yang masih kosong, karena di sana di sediakan beberapa kursi untuk makan. Melihat sekeliling, Nayla menghela nafas saat tak menemukan kursi kosong, semuanya penuh.
"Haruskah kita duduk di atas rumput?" tanya Nayla, melihat sekeliling, hanya rerumputan yang bisa di duduki.
Saat akan benar-benar duduk di atas rumput, tiba-tiba Farhan menarik tangan istrinya.
"Ayo ikut," ucapnya sambil menarik tangan Nayla.
__ADS_1
Ternyata Farhan melihat ada salah satu kursi taman yang baru saja di tinggalkan oleh seseorang.
Keduanya duduk di kursi tersebut, "Masih beruntung bisa duduk di sini," celetuk Nayla, ketika ia sudah duduk.
Farhan mengangguk. Tak lama pedagang bubur tersebut seperti mencari keduanya, Farhan melambaikan tangan ketika menyadari kebingungan penjual bubur tersebut.
"Maaf Bang, sampai sejauh ini," ucap Farhan sungkan. Tempat duduk mereka memang sedikit lebih jauh dari penjual bubur itu.
"Tidak masalah Mas," timpal penjual bubur tersebut, ia menyerahkan nampan yang berisi dua mangkok bubur beserta pelengkapnya.
Aroma yang keluar dari asap bubur tersebut amat menggoda. Nayla mengambil satu mangkok bubur itu, memberi beberapa sendok sambal, saat akan menambah lagi tangannya tiba-tiba menggantung tak sampai di manggok sambal.
"Jangan kebanyakan makan sambal, nanti perutmu sakit," siapa lagi kalau bukan Farhan, sejak tadi ia mengamati Nayla menyendok beberapa kali sambal berwarna merah itu.
Nayla tersenyum canggung, lalu ia mengangguk dan mengurungkan niatnya mengambil sambal lagi. Menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya, tersenyum ketika merasakan betapa nikmat bubur itu.
Setelah sarapan dadakan di taman itu, keduanya kembali ke rumah. Hampir jam tujuh mereka sampai rumah itu pun Farha mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Nayla bergegas masuk ke dalam kamar, membersihkan diri di kamar mandi.
Waktu berlalu, Nayla sudah siap dengan pakaian kuliahnya. Mencari keberadaan sang suami yang entah di mana, karena tidak ada di dalam kamar. Menuruni anak tangga, tetap tidak ada di ruang keluarga, di ruang tamu pun tak ada.
"Di sini," jawab Farhan, ternyata pemuda itu duduk di teras dengan santainya.
Nayla keluar, ia mendapati Farhan sudah berganti pakaian, sedang memainkan ponselnya.
"Berangkat sekarang?" tanya Farhan, ia medongak menatap penampilan Nayla, kemeja warna pink bermotif bunga sakura dengan celana jeans panjang berwarna navy, rambut yang di kucir kuda, flatsoes melengkapi penampilan gadis itu, sangat sederhana.
"Iya, sebentar lagi masuk Mas," jawab Nayla tidak menyadari jika sang suami memperhatikan penampilannya, ia melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.
Farhan pun mengikuti langkah Nayla masuk kedalam mobil. Melajukan mobilnya membelah jalanan kota, meninggalkan kediaman mewahnya.
"Baju-baju yang aku beli sepertinya enggak pernah kamu pakai?" tanya Farhan, ia menyadari jika selama beberapa hari tinggal bersama gadis itu, Nayla sama sekali tidak pernah memakain pakaian yang ia beli dulu.
__ADS_1
Nayla menoleh, "Aku enggak pede pakai pakaian seperti itu Mas, lebih nyaman yang seperti ini,"
"Maaf ya, kalau kamu enggak suka besok aku belikan lagi," Farhan merasa tidak enak, pasalnya baju-baju yang ia beli dulu di peruntukkan untuk Sherena.
Nayla tersenyum, "Tidak usah minta maaf Mas, aku ngerti kok, aku juga bisa belanja sendiri nanti kalau udah butuh," timpal Nayla, ia tahu suaminya itu sangat sibuk.
"Sesekali kita belanja bersama, tidak masalah kan?" tanya Farhan, ia menoleh sebenatar ke arah Nayla.
"Iya, tapi nanti pas Mas enggak kerja," jawab Nayla.
Tangan Farhan terulur meraih salah satu tangan Nayla, meletakkan di atas pangkuannya.
Jantung Nayla kembali berdegup di perlakukan seperti itu, dengan sekuat tenaga ia menetralkan degupan jantungnya.
"Terimakasih ya, kamu udah ngertiin aku," ucap Farhan, lalu ia mengecup sekilas punggung tangan Nayla.
"Sama-sama Mas, aku juga berterimakasih karena Mas udah mau menerimaku," timpal Nayla, ia tersenyum manis pada sang suami.
Farhan masih menggenggam jari-jari Nayla, ia seperti tidak akan melepaskannya. Farhan mengehentikan mobilnya ketika sudah berada di depan kampus Nayla.
"Semangat ujiannya ya," Farhan kembali mengecup beberapa kali punggung tangan Nayla, "Nanti pulangnya aku jemput," tambahnya.
Seperti apa Nayla, tentu saja jantungnya kembali berdetak tak karuan. Hal selanjutnya sesuatu yang tak pernah ia duga. Farhan mendekatkan wajahnya ke wajah Nayla yang memang jaraknya tidak begitu jauh, lalu ia mengecup kening Nayla selama beberapa detik.
"Supaya lebih semangat," ucap Farhan setelah mendaratkan kecupan di sana.
Wajah Nayla memerah, ia masih malu-malu di perlakukan seperti itu, "Makasih Mas," hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Farhan tersenyum, ia menyukai tingkah Nayla yang malu-malu seperti itu, karena gadis itu akan terlihat lebih imut.
Nayla meraih tangan Farhan, lalu ia mengecup punggung tangan suaminya.
__ADS_1
Saat akan membuka pintu mobil, suara Farhan mengurungkan niatnya.
Bersambung.....