
Farhan melepar ponselnya ke kursi sebelahnya yang kosong, setelah mendengar ucapan orang di seberang sana. Lalu ia memutar balik mobilnya, karena tadi ia sudah berada di komplek dekat rumah orang tua Nayla. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tidak perduli dengan umpatan orang-orang yang ia lewati.
Membelokkan mobilnya ke sebuah bangunan bertingkat. Memarkirkan mobil, lalu ia berlari memasuki bangunan tersebut yang tak lain adalah rumah sakit. Ia langsung menuju IGD, melihat dua orang yang amat ia kenali duduk sambil berpelukan.
"Ma, Pa, gimana Nayla?" tanyanya saat sudh berada di dekat kedua orang itu.
Papa menggeleng, sedangkan Mama masih setia memeluk tubuh suaminya, sambil terisak.
"Belum tahu, dokter masih menanganinya," jawab sang Papa.
Farhan menyugar rambutnya, frustasi, lalu ia duduk di sisi kedua orang itu, "Ya Allah, selamatkan istriku," lirihnya.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini Pa, Ma? Bukannya tadi Nayla pergi sama Mama?" tanya Farhan menyelidik, karena ia melihat seluruh tubuh mama mertuanya tidak ada yang terluka sedikit pun.
Papa Aditama pun menceritakan semuanya jika mereka bertemu di mall saat akan pulang, dan Nayla menyuruh sang Mama untuk ikut mobil Papanya.
"Lalu, kenapa Nayla bisa kecelakaan Pa?" tanya Farhan.
"Papa juga enggak tahu, tadi Papa datang Nayla sudah di tolong oleh beberapa orang, mereka yang menyaksikan katanya mobil yang Nayla bawa seperti tak terkendali, mungkin remnya blong, dan Nayla ternyata nekat melompat keluar dari mobil setelah membanting setir," jelas sang Papa.
Farhan kembali menyugar rambutnya, ia tidak habis fikir, kenapa bisa terjadi seperti itu. Bahkan Nayla senekat itu untuk keluar dari mobil, bukannya itu lebih berbahaya.
"Ya Allah, selamatkan istriku," Farhan berkali-kali mengatakan seperti itu. Ia juga berdizkir untuk menenagkan pikirannya yang kacau, memikirkan nasib sang istri yang masih di tangani oleh dokter.
Tak berapa lama pun dokter keluar, "Keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Kami Pak, gimana keadaan anak saya?" tanya Papa Aditama.
Farhan pun mendekat ke arah dokter. "Iya Pak, bagaimana keadaan istri saya?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf Pak, istri anda kehabisan banyak darah, dia membutuhkan banyak darah, tapi kami di sini hanya punya satu kantong darah, dan butuh satu kantong lagi," tutur sang dokter.
Seketika, kedua orang tua Nayla tampak lesu. Bahkan sang Mama kembali terisak dalam pelukan Papa.
"Golongan darahnya apa Dok?" tanya Farhan.
"Golongan darahnya AB, bapak atau ibu darahnya mungkin sama, bisa langsung untuk mendonorkan darahnya untuk putri anda," ucap sang dokter itu, lalu ia permisi meninggalkan mereka.
Papa dan Mama Nayla tampak bimbang, namun keduanya tidak ada yang mau berbicara.
"Pa, Ma, siapa yang golongan darahnya sama dengan Nayla?" tanya Farhan karena kedua mertuanya hanya diam.
Papa menghela nafas panjang, ia tidak menyangka hal yang mereka sembunyikan selama ini akan segera terbongkar. Tapi mau tidak mau, dengan berat hati ia harus mengatakan yang sejujurnya.
"Golongan darah Papa A sama juga dengan Mama," akhirnya kata itu keluar dengan sendirinya meskipun berat. Mama yang menengar itu, kembali terisak lebih kencang. Ia tidak ingin anaknya tahu satu kenyataan yang ia sembunyikan selama hampir dua puluh tahun.
Setahu Farhan, anak akan mewarisi golongan darah yang sama dengan orang tuanya, mungkin salah satu dari keduanya, atau perpaduan dari mereka. Sedangkan Nayla, orang kedua orang tuanya golongan darah sama A, harusnya Nayla juga sama A atau O, tapi ini berbeda jauh, AB.
Farhan menggeleng samar, ia menyangkal jika Nayla bukan anak kedua orang tuanya. Tapi untuk saat ini bukan itu prioritas utamanya.
"Aku tunggu penjelasan Papa dan Mama," ucapnya setelah lama kedua mertuanya tidak menjawab pertnyaannya.
Lalu ia teringat, jika sang Mama memiliki golongam darah AB seperti sang istri, ia pun menghubungi Mama Sinta, karena ini keadaan darurat.
¤¤¤
Farhan meneteskan air mata ketika melihat keadaan istrinya yang penuh perban. Wajah pucat pasi, bibir pun sama tidak terlihat merah jambu lagi. Ia menggenggam tangan sang istri yang belum sadarkan diri.
"Sayang, bangun ya," lirihnya.
__ADS_1
Beberapa kali ia mencium punggung tangan sang istri yang sedikit lecet, menatap kembali wajah istrinya, kristal bening pun menetes lebih deras saat menatap wajah yang selalu ceria itu. Wajah yang seperti tak pernah merasakan beban berat, hanya semalam ia menyadari perubahan aneh sang istri. Ia baru menyadari, mungkin Nayla seperti itu karena merasakan akan terjadi sesuatu pada dirinya sendiri.
Nayla saat ini berada di ruang ICU, karena sudah beberapa jam ia tak kunjung sadarkan diri. Menurutk keterangan dokter, jika Nayla sudah sadar maka ia bisa di pindahkan ke ruang perawatan. Sebab Nayla mengalami banyak luka, jika saja wanita itu tidak nekat keluar dari mobil, mungkin tidak akan separah ini. Karena ternyata mobilnya berhenti setelah menaberak sebuah pohon.
Farhan keluar dari ruangan Nayla, ia tidak kuasa melihat penderitaan sang istri, sebenarnya jika bisa ia yang akan menggantika penderitaan itu, tapi nyatanya itu tak mungkin terjadi. Duduk di sisi sang Mama, lalu memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.
"Sabar Nak, doakan istrimu, semoga dia baik-baik saja," tutur Mama Sinta. Mengelus pundak putra sulungnya.
Mama Sinta dan Papa Bayu sudah datang beberapa jam yang lalu, bahkan dirinya juga sudah mendonorkan darah untuk menantu tercinta, ia sempat terkejut mendapatkan kabar jika Nayla kecelakaan apalagi kenyataan yang ada jika kedua orang tua Nayla tidak ada yang cocok darahnya dengan sang menantu. Meskipun kedua orang tua Nayla belum mengatakan yang sesungguhnya, tapi mereka sudah bisa menebak.
"Iya Ma, Mama juga doakan istri Farhan ya. Aku enggak akan kuat jika terjadi sesuatu pada Nayla Ma," lirih Farhan, ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya bahkan tidak tak sungkan untuk menangis dipelukan sang Mama.
"Istri kamu pasti sembuh, dia akan sehat kembali," Mama meyakinkan.
Farhan mengangguk samar. Lalu ia melepaskan pelukannya.
Papa Bayu mendekat ke arah Farhan, ia baru saja dari mushola melaksanakan sholat isya'.
"Papa sudah suruh orang untuk menyelidiki kecelakaan istrimu, ini seperti ada yang menyabotase, kenapa tiba-tiba rem mobil blong tanpa ada sebab," tutur sang Papa. Menepuk pundak Farhan.
"Makasih Pa," jawab Farhan.
"Sekarang, kamu sholat dulu, biar Papa dan Mama yang jaga Nayla. Sebentar lagi mertuamu juga akan datang," ucap sang Mama, karena Farhan sendirilah yang belum melaksanakan sholat Isya'.
Pemuda itu mengangguk, ia beranjak dari duduknya. Lalu melangkah menuju mushola. Penampilannya terlihat kacau, dengan kemeja yang sedikit kusut, bahkan tatanan rambutnya pun berantakan. Jas dan dasi yang tadi ia kenakan sudah hilang entah kemana.
Bersambung....
Hayo tebak, siapa yang menyabotase mobil yang Nayla kendarai? Apakah ada hubungannya dengan Sherena? Atau orang lain?
__ADS_1