
"Pak, Rita sudah ada di kantor polisi sekarang, baru saja saya di beritahu. Katanya Rita tertangkap di bandara saat akan ke luar kota," ucap Dika, saat ini dirinya berada di ruangan Farhan, duduk di depan bosnya itu.
"Antar saya ke sana Dik, sekarang tidak ada pertemuan kan?" tanya Farhan, memastikan apakah ada pertemuan apa tidak hari ini.
"Tidak Pak, tapi nanti setelah makan siang ada pertemuan dengan Bapak Wijaya di kafe Pelangi," jawab Dika.
"Baiklah, masih ada waktu sebelum makan siang. Ohya telfon adik kamu suruh nemenin istri saya di sini, kita nanti langsung lanjut bertemu Pak Wijaya saja, kalau Nayla ikut saya kasihan," ucap Farhan, ia kasihan jika istrinya ikut untuk pertemuan. Karena sampai saat ini Nayla masih saja tidak tahan dengan bau parfum.
"Baik Pak,"
Dika pun pamit keluar, lalu menghubungi adik tercintanya.
Sedangkan Farhan menghampiri sang istri yang berada di kamar, terlihat Nayla sedang mengerjakan sesuatu di komputer lipatnya.
"Kenapa Mas?" tanya Nayla tanpaengalihkan fokusnya, saat menyadari kehadiran Farhan.
Farhan mendekat, duduk di sisi sang istri, "Mas mau ke kantor polisi...." Farhan tidak meneruskan ucapannya, karena Nayla lebih dulu menyela.
"Rita sudah tertangkap? Aku ikut ya Mas, pegel aku sama wanita itu, pengen tak tabok rasanya," ucap Nayla menggebu-gebu.
"Enggak perlu, biar polisi yang menangani. Kamu enggak usah ikut, Mas sudah suruh Dika untuk menelfon adiknya supaya nemenin kamu di sini," tutur Farhan.
Nayla mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kamu ikut, nanti kamu malah mual-mual di sana gimana? Parfum bertebaran di sana, Mas enggak mau kamu kenapa-kenapa, di sini aja sama Rata ya," tutur Farhan lembut.
__ADS_1
"Setelah dari kantor polisi Mas juga ada pertemuan dengan klien, jadi Mas agak lama," tambahnya.
"Yaudah deh, tapi nanti aku beliin ayam goreng sambel mangga ya, aku baru liat di video, kayaknya enak deh," ucap Nayla sambil membayangkan makanan itu, yang ia bayangkan rasa sambal mangga yang menggoda, hampir saja air liurnya menetes.
"Oke, nanti Mas cariin. Sekarang Mas mau siapain dokumen buat pertemuan nanti sambil nungguin si Rara datang," ucap Farhan. Karena tidak ada sektretaris membuat Farhan sedikit kewalahan, bahkan saat akan pertemuan ia harus menyiapkan semuanya sendiri.
"Makanya biar aku jadi sekretaris Mas aja, dari pada kerepotan sendiri," timpal Nayla.
"Kamu enggak akan Mas biarkan kerja, apalagi saat ini kamu sedang mengandung. Soal sekretaris gampang," ucap Farhan. "Yaudah Mas keluar dulu ya, kamu lanjut lagi," tambahnya lalu mencium kening sang istri sebelum keluar dari kamar itu.
Tak berapa lama Rara pun datang, tapi ia tidak sendiri.
"Saya titip Nayla ya, tolong temani dia sebentar sampai saya kembali, terimakasih sebelumnya," ucap Farhan pada Rara dan Erva yang datang barusan.
"Iya Pak,"
"Bentar aku temui suamiku dulu ya," ucap Nayla saat melihat Farhan berada di depan pintu kamar.
"Mas berangkat ya," pamit Farhan setelah Nayla berada di hadapannya.
Nayla meraih tangan sang suami lalu mencium punggung tangan itu, "Iya Mas, aku tunggu kabar baiknya, dan jangan lupa pesanku," ucapnya.
Farhan tersenyum lalu mengangguk, ia mendaratkan bibirnya di kening sang istri, setelah itu keluar dari ruangannya diikuti oleh Dika.
Kemesraan mereka terlihat oleh tiga orang yang ada di sana, Dika sudah biasa melihat seperti itu sedangkan Rara dan Erva hanya bisa bengong dan mungkin membayangkan memiliki suami seperti Farhan.
__ADS_1
***
Setengah jam berlalu, Farhan dan Dika baru saja menginjakkan kakinya di halaman kantor polisi. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan tersebut, mencari informasi lalu mereka masuk ke dalam sebuah ruang tunggu. Karena Rita sudah berada dalam sel tahanan.
Tak butuh waktu lama, orang yang mereka tunggu pun keluar dengan seorang polwan, lalu Rita duduk di depan Farhan, sedangkan Dika memilih berdiri di sisi Farhan.
"Aku enggak nyangka kalo kamu akan melakukan hal seperti ini, kita bahkan saling mengenal sejak dulu, kenapa kamu jadi tidak waras seperti ini? Dulu kamu itu baik, makanya aku memilih kamu sebagai partner kerja. Apa karena hasutan seseorang?" tanya Farhan saat Rita sudah duduk di hadapannya sambil menunduk. Farhan sengaja bertanya seperti itu untuk memancing Rita mengatakan semua yang belum Farhan ketahui.
Rita mendongak menatap wajah mantan bosnya itu, menghela nafas, "Tebakan kamu benar sekali Han, aku menyesal, sekarang aku sadar seberapa pun aku berusaha untuk mendapatkan mu, tetap saja aku tidak bisa karena sepertinya kamu tidak di takdirkan untukku," jawabnya.
Farhan tidak menimpali karena ia tahu Rita belum menyelesaikan ucapannya.
"Pertama, aku sebenarnya sudah pasrah saat kamu menerima Sherena untuk jadi kekasih kamu, karena setahuku sejak dulu kamu tidak mau berpacaran, tapi saat Sherena menyatakan cinta ternyata kamu menerimanya dan menjadikan dia kekasihmu, bahkan kalian terlihat berhubungan dengan baik sampai beberapa tahun. Tapi aku berfikir masih ada kesempatan sebelum kalian menikah,"
"Kedua, saat tahu kalian akan menikah, aku bener-bener pasrah dan tidak pernah sedikit pun berfikiran akan merebut kamu dari Sherena, tapi tawaran dan hasutan Samuel membuatku berfikir keras, dan akhirnya menerima tawaran dia untuk menghancurkan pernikahan kalian, Sam berjanji akan bantu aku dapetin kamu setelah dia mendapatkan Sherena, tapi apa? Ternyata Samuel membohongi ku, dia hanya memanfaatkan aku saja karena janjinya tidak pernah di penuhi. Tapi aku bahagia juga saat tahu pernikahanmu hampir gagal itu, aku berfikir bisa menggantikan posisi Sherena,"
"Tapi ternyata aku salah, kamu justru mau menikah sama Nayla, dan itu membuatku semakin terobsesi untuk memilikimu Han, tapi setelah ku fikir-fikir, mungkin kamu memang bukan jodohku, karena beberapa kali aku mencoba merusak rumah tangga kalian tapi selalu gagal,"
Farhan mengernyitkan dahi, ia bingung apa yang di lakukan Rita untuk menghancurkan keluarganya?
"Maksud kamu?" tanyanya.
"Aku tahu saat pertama kalian menikah, istrimu dekat dengan teman kampusnya, yang ternyata dia juga suka dengan istrimu. Aku akan memanfaatkan momen ini, bahkan aku menyuruh pemuda itu untuk terus mendekati kamu, ya meskipun dia enggak tahu siapa aku, karena aku mengatakan itu lewat pesan-pesan yang ku kirim. Tapi sebuah kenyataan kalau mereka bersaudara membuatku kecewa,"
"Dan lagi, saat Sherena datang, aku kira istrimu akan marah saat tahu kalian berdua berada dalam satu ruangan, tapi ternyata istrimu tidak seperti yang aku harapkan. Sebenarnya aku mengharapkan hal buruk terjadi pada rumah tangga kalian. Aku jahat memang, ya karena obsesiku untuk dapetin kamu,"
__ADS_1
"Terahir kemarin sebenarnya aku seneng saat kita hanya ke luar kota berdua, dan akan menjalankan rencana jahatku, tapi lagi-lagi gagal. Dan sejak saat itu aku berfikir kamu memang bukan jodohku," Rita mengakhiri cerita panjang lebarnya.