Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Makanan Jepang


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kewajibannya ia pun membangunkan Nayla, "Nay bangun, ini sudah sore, sholat asar dulu Nay." Farhan mengguncang tubuh Nayla yang tertutup selimut.


"Bentar Ma, Nay masih ngantuk, lima menit lagi ya," gumam gadis itu, sedikit tidak jelas.


Farhan memincingkan mata mendengar ucapan istrinya, "Ma katanya? Apa dia lupa?" gumam Farhan


"Nay, ayo bangun, sudah sore," tak mau menyerah, dia terus membangunkan istrinya yang sulit sekali di bangunkan itu.


Nayla menyodorkan kedua tangannya, ia mengira yang membangunkan adalah Mamanya. Tak urung Farhan pun menerima uluran tangan Nayla, menarik tubuh istrinya hingga terduduk, Nayla masih memejamkan mata. Dengan perlahan dia membuka matanya, dan terkejut saat tahu siapa yang ada dihadapannya.


"Asthaghfirullah, Kak Farhan ngapain di dalam kamarku?" teriaknya, nyawanya belum terkumpul semua sepertinya.


Farhan hanya menaikkan satu alisnya, ia tak berniat menjawab apapun.


Nayla menyengir saat sudah ingat, jika Farhan sekarang suaminya, dan mereka berada di kamar hotel bukan di kamarnya, "Maaf Ka, eh Mas, aku lupa," malu sekali rasanya, apalagi ia tadi sempat mengulurkan tangannya, memanggil Farhan dengan sebutan Mama. Tapi sepertinya Farhan tak peduli akan hal itu.


"Tidak masalah Nay, sekarang bangunlah, sholat asar dulu, ini sudah terlalu sore," titah Farhan, lalu ia turun dari ranjang.


Nayla mengangguk lalu ia pun bergegas turun dari ranjang, masuk kedalam kamar mandi untuk wudhu lalu melaksanakan sholat asar.


Setelah menyelesaikan sholat asar, ia duduk di sofa sambil menonton TV dan juga memainkan ponselnya, entah mana yang lebih ia perhatikan, ponselnya atau TV, tidak tahu.


Sedangkan Farhan? Ia juga duduk di sofa yang berbeda dengan Nayla, memainkan ponsel entah apa yang sedang ia kerjakan, karena terlihat serius sekali.


Tok


Tok


Tok


Nayla mendongak melihat ke arah Farhan, saat akan berdiri membukakan pintu Farhan lebih dulu berdiri dari duduknya, ia sudah bisa menebak siapa yang datang. Membukakan pintu tersebut. Benar saja orang suruhanya yang datang, orang yang sama dengan yang mengantarkan pakaian Nayla tadi.


"Terimakasih Dika, kamu boleh kembali," ucap Farhan setelah menerima paperbag yang isinya ponsel pesanannya. Lalu ia menutup pintu, melangkan ke arah sofa yang tadi ia duduki.

__ADS_1


Nayla melihat Farhan membawa sesuatu, ia pun penasaran, "Apa Mas?" tanyanya.


"Ponsel, tadi ponsel yang satunya hancur," jawabnya lalu mendudukan dirinya di sofa yang tadi ia duduki.


Nayla mengangguk, ia tidak bertanya lagi setelah itu. Suasanan pun menjadi lebih canggung, karena mereka saling diam. Nayla kembali memainkan ponselnya, sedangkan Farhan membuka ponsel barunya.


¤¤¤


Malam harinya setelah melaksanakan sholat isya' keduanya masih terlihat canggung, Nayla mendudukkan dirinya di sofa, sedangkan Farhan dia memilih duduk di sisi ranjang. Tak ada yang memulai perbincangan, hingga lima menit berlalu Farhan merasa harus lebih dulu mengajak Nayla berbicara. Dia berdiri mendekat kearah Nayla yang sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Nay, cari makan yuk. Kamu laper enggak?" tanpa di tanya pun dia pasti sangat lapar, tapi malu jika harus mengutarakan pada Farhan.


"Ah iya Kak, maksudku Mas Farhan," salah tingkah, karena salah memanggil nama berulang kali, "Iya aku lapar Mas," jawabnya dengan canggung.


Farhan tersenyum, "Nanti lama-lama akan terbiasa Nay. Yuk cari makan di luar," Farhan berjalan lebih dulu, ia membuka pintu kamar hotel disusul oleh Nayla.


"Mau makan di resto hotel apa cari di luar?" anya Farhan, ketika keduanya berjalan menuju lift. Mereka berada di ruang VVIP hotel, letaknya di lantai atas.


"Resto hotel aja ya, aku males keluar, capek banget," keluh Farhan, seharian melakukan serangkaian acara pernikahan membuatnya lelah, apa lagi sebelum hari H tadi, kemarin juga ia tak cukup istirahat karena mengontrol semua persiapan acara hari ini yang tidak dikatakan sukses.


"Iya Mas, aku juga," timpal Nayla tanpa menatap Farhan


Mereka memasuki lift, ada beberapa orang disana yang juga akan turun. Resto hotel terletak di lantai paling bawah, jadi mau tak mau mereka harus turun ke lantai bawah. Padahal mereka bisa memesan makanan dari kamar jika mau, tapi entah kenapa Farhan melupakan hali itu, mungkin karena terlalu memikirkan kejadian hari ini.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di lantai bawah, memilih tempat duduk yang masih kosong. Seorang pelayan datang membawakan buku menu, memberikan pada Farhan.


"Mau pesen apa Nay?" tanyanya saat melihat-lihat menu yang ada.


Nayla menoleh ke arah Farhan, "Apa aja Mas," ia tak mau memilih sendiri menu makanannya.


Saat Farhan mengucapkan menu-manu yang tidak ia sukai, ia pun berucap, "Mas, aku enggak suka makanan Jepang," ucapnya, karena tadi yang Farhan sebutkan adalah jenis makanan jepang.


"Oh kamu enggak suka ya, yaudah yang tadi satu-satu aja mbak. Kamu pilih sendiri yang kamu suka ya," Farhan memberikan buku menu pada Nayla, dia pun menerimanya.

__ADS_1


Menyebutkan makanan yang dia pesan pada pelayan. Lalu pelayan itu pergi.


"Aku enggak tau, maaf ya Nay," Farhan tersenyum, Nayla pun mengangguk dan tersenyum.


"Tidak masalah Mas, Nay ngerti," timpalnya.


"Biasanya aku sama Sherena suka makanan itu, jadi aku kira kamu juga iya," beritahu Farhan dengan santainya.


Wajah Nayla berubah sedikit sendu, walaupun sudah di tinggal kabur tapi tetap saja Farhan menyebut nama wanita itu, bisa dilihat betapa besar cintanya pada Sherena.


"Maaf Nay, bukan maksudku menyamakan kamu sama dia, maaf udah nyebut nama dia," Farhan mengerti jika wajah Nayla menjadi muram karena dia menyebut nama Sherena.


Nayla menggeleng, "Iya Mas, enggak apa-apa kok," jawabnya dengan tersenyum paksa.


Tak butuh waktu lama, makanan yang mereka pesan pun datang. Keduanya menikmati makan malam mereka dengan pikiran yang berbeda-beda. Bahkan saat makan mereka tak sedikit pun membuka suara entah enggan atau bingung harus berbicara apa.


"Sudah selesai Nay?" Tanya Farhan saat melihat Nayla meletakkan sendok di atas piring, padahal makanannya belum habis sempurna.


Nayla mengangguk, "Udah Mas, enggak habis, aku udah kenyang banget," jawabnya panjang lebar. Biasa wanita jika di tanya jawabannya pasti panjang kali lebar kali tinggi.


"Enggak usah di paksain kalau tidak habis," timpal Farhan. Lalu ia melambaikan tangan ke arah pelayan dan pelayan itu pun mendekat.


Farhan meminta bill yang harus ia bayar, setelah itu ia pun membayar semua makanan yang telah mereka makan.


"Mau kembali ke kamar apa mau kemana dulu?" tanya Farhan saat mereka sudah keluar dari resto hotel tersebut.


"Ke kamar aja ya Mas, aku udah ngantuk rasanya juga capek banget," jawab Nayla, ia memang merasa masih lelah setelah seharian melaksanakan rangkaian acara pernikahan mereka.


Farhan mengangguk, ia berjalan ke arah lift yang menuju kamar mereka di lantai paling atas. Keduanya masuk kedalam lift, ternyata hanya ada mereka bedua di dalamnya. Selama di dalam lift mereka tampak enggan berbicara, hingga lift terbuka dan keduanya pun keluar, berjalan menuju kamar yang tadi mereka tempati.


Bersambung....


Jangan lupa like dan komennya yah...

__ADS_1


__ADS_2