Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Hampir Saja Membunuh Anakmu


__ADS_3

Drrt Drrt Drrt


Mama Hania menghentikan obrolannya dengan anak dan menantunya yang baru saja tiba. Ia meraih ponsel dari dalam tasnya, lalu menjawab panggilan telfon yang ternyata dari sang suami.


"Assalamu'alaikum, Pa, ada apa?"


"...."


"Baik, Pa Mama akan keluar sekarang," Mama Hania melangkah keluar dari ruangan rawat Nayla.


"Gimana Pa?" tanyanya.


"...."


"Apa? Papa serius? Terus kita harus bagaimana?"


"...."


"Tapi Pa, apa Papa yakin? Mama ikut apa keputusan Papa saja, kalau memang itu yang terbaik, karena Nayla juga harus tahu Pa, meskipun Mama merasa berat, tapi mau bagaimana lagi," tanpa terasa air mata Mama Hania menetes mendengar ucapan suaminya di seberang sana.


"...."


"Kalau itu yang terbaik, Mama ikhlas Pa,"


Setelah itu mereka pun mengahiri panggilannya. Mama Hania menghapus air mata yang sempat menetes sebelum masuk ke dalam ruang rawat Nayla.


¤¤¤

__ADS_1


Di kantor polisi, Papa Aditama kembali ke ruangan penjengukan setelah menutup telfon. Ia melangkah dan duduk di kursi yang masih kosong, tatapan matanya tak lepas memandang seseorang yang berseragam oranye di hadapan mereka. Orang itu pun sama, ia menatap Aditama dengan tatapan penuh amarah.


Sedangkan Farhan dan Papa Bayu merasa heran dengan keduanya, mereka tidak menyangka jika Papa Aditama mengenal orang itu. Bahkan tidak menyangka juga pelakunya adalah orang yang mereka kenal.


"Pak Bayu, Nak Farhan, saya mohon tinggalkan kami berdua?" pinta Papa Aditama.


"Baiklah, kami akan tunggu di luar," ucap Papa Bayu. Lalu mereka berdua pun keluar dari ruang penjengukan, menyisakan Papa Aditama dan seseorang itu.


Orang itu tersenyum sinis, "Meskipun aku gagal membuat wanita itu mati, setidaknya aku berhasil mencelakai putrinya. Harusnya mereka berdua mati, seperti anakku yang mati karena dia!" seru orang tersebut, setelah kepergian Farhan dan Papa Bayu.


Papa Aditama diam, ia ingin mendengarkan apa yang akan di katakan orang di hadapannya ini.


"Bahkan aku belum bisa memeluk anakku, tapi dia sudah pergi lebih dulu, apa itu adil Mas? Sedangkan wanita itu bisa membesarkan anaknya, bahkan mendapatkan cinta dari kamu, sedangkan kamu menelantarkanku dan anak kita Mas, kamu jahat Mas!" orang itu meluapkan emosinya.


"Kamu salah, Hania tidak bersalah dalam hal ini, tapi kita yang salah. Asal kamu tahu, anak yang kamu kandung tidak meninggal," jelas Aditama dengan lembut, ia tahu dirinya bersalah.


"Maksud kamu?" tanya orang itu.


"Terus anakku dimana?" tanya orang itu.


"Kamu hampir saja membunuh anakmu sendiri Adel," lirih Aditama. Ia sebenarnya berat mengatakan hal tersebut.


Wanita yang di sapa Adel itu pun terkejut, ia menutup mulutnya yang menganga, "Ja ... di ... dia anakku Mas?" tanya wanita itu. Ia luruh, sorot matanya memancarkan kesediahan, emosinya yang sempat meledak kini telah terkikis oleh rasa terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui. Air matanyapun tanpa permisi membanjiri pipi mulusnya.


Aditama mengangguk lemah, "Iya, dia anak kita Adela. Hania yang sudah berbesar hati membesarkan anak dari madunya, yaitu kamu. Bahkan dia menganggap Nayla seperti anaknya sendiri, kurang baik apa dia coba? Harusnya kamu berterimakasih, bukan malah ingin membunuhnya," tutur Aditama lemah, ia tak kuasa menahan air matanya, karena sudah membuka rahasia terbesarnya.


"Tapi kenapa kamu bohong kalau anak kita sudah meninggal?" tanya Adela lirih, ia menyesal setelah mengetahui anak yang ingin dia bunuh ternyata darah dagingnya.

__ADS_1


"Aku terpaksa, karena Mama kamu yang menyuruh dan mengancam akan membunuh anak itu jika aku mengatakan yang sesungguhnya, dan Mama kamu juga yang menyuruh aku untuk menceraikan kamu waktu itu, jika tidak dia akan membunuh anak-anakku dari Hania, aku melakukan itu terpaksa supaya baik untuk kita semua, kamu selamat dan anak-anak kita juga selamat," tutur Aditama panjang lebar, menjelaskan alasannya meninggalkan Adela.


Adela menunduk, ia menyesal kenapa selama ini percaya dengan ucapan Mamanya tanpa mencari bukti bahkan ia selama ini telah salah menilai. Ia juga sudah termakan oleh omongan orang tuanya, padahal ia tahu sejak dulu Mamanya tidak menyetujui hubungan keduanya. Hingga Adela terpaksa kabur dari rumah mencari kekasihnya yang sudah lebih dulu pulang ke kotanya. Dan kenyataan pahit yang dia dapat, ternyata Aditama sudah menikah dan memiliki dua orang anak.


Tanpa sengaja, mereka bertemu kembali saat Adela masih di kota itu. Aditama yang mengatakan, ia terpakasa menikah karena perjodohan dan tidak mencintai sang istri, membuat Adela bahagia, karena ia merasa masih memiliki kesempatan untuk merebut Aditama. Dan tak lama setelah pertemuan itu, mereka memutuskan untuk menikah tanpa sepengetahuan Hania dan juga keluarga mereka. Bahkan selama hampir dua tahun, mereka menjalin rumah tangga dan memiliki seorang putra, bahkan Adela kembali mengandung, sebelum putra pertamanya berumur satu tahun.


"Bolehkan aku bertemu dengan anakku Mas?" tanya wanita itu, ia berharap Aditama mengijinkannya.


Aditama nampak berfikir, sebelum menjawab pertanyaan wanita itu.


"Please, Mas. Aku mau minta maaf juga sama istri kamu," Adela memohon, baginya tidak masalah mendekam di dalam jeruji besi asal bisa bertemu putrinya dan meminta maaf.


"Aku memang pernah bertemu dia sekali, dan saat aku tahu dia anakmu dan Hania, saat itu aku memang merencanakan untuk membalas dendamku Mas, aku selalu menyuruh orang untuk mengintai rumah mu sejak beberapa bulan lalu. Dan lagi, saatku tahu putra kita mencintainya, saat itu menurutku gadis itu harus mati, karena aku tidak mau dia tahu masa laluku sama kamu Mas, aku selalu mengatakan ayahnya sudah meninggal dan dia percaya itu. Dan setelah aku menikah dengan Aditya, dia merasa bahagia karena memiliki ayah, saat itulah aku tidak ingin memebuka luka lama," menyeka air matanya yang terus berjatuhan.


"Aditya memang pernah mengatakan, dia melihat seorang gadis yang wajahnya hampir mirip denganku saat masih muda karena dia pernah lihat fotoku saat masih SMA, aku selalu menyangkal mungkin dia salah satu orang yang kebetulan mirip, karena kamu dulu mengatakan anakku yang meninggal itu laki-laki bukan perempuan," tambahnya.


Aditama menghela nafas panjang, "Aku ijinkan kamu bertemu dengan dia, tapi ...." ucapan Aditama terpotong, karena Adela lebih dulu menyela.


"Tapi apa Mas? Aku ibunya! Apa sebegitu bencinya kamu sama aku Mas? Sampai tidak mengijinkan aku bertemu anakku darah dagingku sendiri, meskipun aku sudah mencelakainya, setidaknya aku akan meminta maaf," ucap Adela dengan nada tinggi di awal dan mengahiri kalimatnya dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Apa kamu juga tidak ingin bertemu dengan anak kita Mas?" tanya Adela, karena di sini bukan hanya Adela yang sudah lama tidak bertemu anaknya, tapi Aditama pun sudah lama tidak bertemu dengan anak mereka.


Aditama terlihat menitikan air mata kembali, ia ingat jika masih memiliki satu anak lagi dari wanita di hadapannya ini, kenapa ia tidak pernah berfikir untuk mencari tahu dimana anaknya, seperti apa sekarang kabarnya sekarang?


"Aku tahu dia pasti baik-baik saja, hidup denganmu dan keluargamu. Tak memungkiri aku juga ingin bertemu dengannya," tutur Aditama. "Karena waktu itu, Mamamu sepertinya menyayangi dia," tambahnya.


"Kamu boleh bertemu Nayla, aku tidak akan melarangnya, silahkan jelaskan pada dia jika kamu ibunya, dan bawa putra kita. Sekarang aku permisi, aku akan mencabut tuntutanmu," ucap Aditama, ia pun beranjak dari duduknya. Ia tak ingin berlama-lama berhadapan dengan wanita yang pernah mengisi hatinya di masa lalu, karena hanya luka yang tersisia di antara keduanya saat ini.

__ADS_1


Bersambung....


》Tahu kan siapa Adela? Dan pastinya di sini menyelesaikan dua masalah yang buat kalian takut🤭 Selamat membaca.


__ADS_2