Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Terimakasih Nayla


__ADS_3

Saat memasangkan cincin tersebut Farhan tertegun, pasalnya cincin itu pas di jari manis Nayla bahkan tidak kebesaran atau pun lekecilan. Lalu bergantian Nayla memasangkan cincin di jari manis Farhan. Sesuai arahan dari penghulu ia mencium punggung tangan Farhan yang telah menjadi suaminya, bergantian Farhan dengan sedikit ragu mencium kening Nayla.


Lalu penghulu membacakan do'a untuk kedua mempelai, diaminkan oleh seluruh tamu undangan yang hadir.


Setelah acara ijab qobul, dilanjutkan dengan acara resepsi, memang konsep sejak awal seperti itu. Kini kedua mempelai telah berganti kostum dengan pakain yang berwarna senada, meski bukan Nayla yang fitting baju pengantin, ternyata lagi-lagi gaunnya pas ditubuhnya. Entah itu sudah jalan takdir atau bagaimana, mereka menrimanya dengan pasrah.


Menyalami para tamu satu persatu, membuat keduanya sedikit lelah, saking banyaknya para tamu yang hadir, hingga tak henti-henti, silih berganti menyalami keduanya.


"Selamat bro, istri lo cantik banget, gue sampai iri. Bahkan lebih cantik dari Sherena menurut gue," celetuk salah satu tamu undangan yang tak lain sahabat Farhan sendiri, ia paham sahabatnya batal menikah dengan Sherena dan digantikan oleh Nayla.


"Makasih, gue seneng lo sama istri lo hadir diacara pernikahan gue," balas Farhan, ia menerima jabatan tangan dari sahabatnya.


"No problem, lo itu sahabat gue. Jaga istri lo baik-baik," memeluk tubuh Farhan, "Saat malam pertama jangan bayangin wajah Sherena, kasian istri lo," bisiknya, benar juga apa yang dikatakan sahabatnya itu.


Farhan tak menanggapi bisikan sahabatnya, tetapi dia menyadari benar apa kata sahabatnya itu. Dia berfikir tak mungkin melakukan hal itu disaat hatinya masih milik wanita lain, bukan istrinya.


"Salam dari bokap, nyokap gue, mereka enggak bisa pulang ke Indo, banyak pekerjaan di sana," tambahnya, ia adalah Fahri sahabat Farhan.


"Iya enggak apa-apa," timpal Farhan


Nayla berjabat tangan dengan temannya yang juga adik Fahri, "Selamat ya Nay, Doni bakalan patah hati kalau tahu ini. Semoga lo bahagia sama suami lo," ucap orang itu.


Nayla tersenyum, "Terimakasih Fan atas do'anya, jangan menjauh meskipun aku sudah nikah kamu tetap temanku dan biar aku yang kasih tahu sendiri sama Doni," celetuk Nayla. Ia tidak tahu saja, jika hati Irfan juga terluka melihat gadis yang sudah masuk dalam relung hatinya itu menikah dengan orang lain.


Irfan tersenyum, "Iya Nay, lo tenang aja," timpalnya. Ia pun berlalu, berlanjut dengan tamu undangan lain.


¤¤¤

__ADS_1


Sore menjelang, acara resepsi telah usai. Mereka saat ini berkumpul bersama keluarga besar Farhan karena keluarga Nayla yang hadir hanya Papa dan Mamanya saja.


Seorang wanita hamil mendekat ke arah pengantin baru itu, "Selamat Nayla, tak di sangka ternyata kamu yang justru jadi Kakak iparku." Ia memeluk tubuh Nayla dan Nayla pun membalas pelukan tersebut.


Air mata menetes karena haru saat sahabat yang telah menjadi adik iparnya itu memeluknya dengan erat, "Terimkasih Cha, ajari aku supaya jadi istri yang baik ya," ucapnya.


Icha mengangguk, lalu ia melepas pelukannya, "Iya Nay, kamu pasti bisa," menatap gadis itu dengan tersenyum, "Buatlah Kakakku jatuh cinta padamu, aku yakin kamu bisa," tambahnya.


Nayla mengangguk ia tersenyum.


Icha bergantian menatap wajah sang Kakak yang terlihat kelelahan, meraih ke dua tangan Kakaknya, "Kak, jaga Nayla dengan baik. Belajarlah untuk mencintainya, karena dia istrimu dan berhak mendapatkan cinta darimu, Kakakku pasti bisa melakukan itu," tuturnya, ia berharap sang Kakak segera mencintai istrinya, karena ia pernah merasakan mencintai suaminya yang belum mencintainya, rasanya sakit apalagi saat tahu suaminya justru bermesraan dengan perempuan lain.


"Insyaallah Cha, semoga saja Kakak bisa melakukan itu," timpalnya.


Setelah berkumpul dengan keluarga besarnya sebentar, pasangan pengantin baru itu baru saja memasuki kamar yang di khususkan untuk mereka. Farhan menutup dan mengunci pintu kamar, lalu ia duduk di sisi ranjang, melepas sepatu yang menempel di kakinya.


Farhan tahu, gadis itu canggung, ia juga sebenarnya canggung sekali, tetapi sebisa mungkin ia bersikap biasa, karena jika seperti itu terus menerus mereka akan saling membisu tanpa ada yang mau memulai berbicara terlebih dahulu. Mendekat kearah Nayla yang masih memandangi layar ponselnya, sebenarnya ia tidak melakukan apa-apa, hanya melihat pesan dari Papanya.


"Nay, makasih udah ngorbanin dirimu buat keluarga ku," ucap Farhan ia duduk disisi istrinya.


Nayla mendongak menatap wajah tampan suaminya untuk pertama kali, "Tidak masalah Kak, aku sudah menganggap keluarga Kakak seperti keluarga ku sendiri, jauh sebelum ini," ucapnya dengan tersenyum.


"Terimakasih sekali lagi Nay, jika tidak ada kamu, keluargaku akan malu, bahkan seluruh negeri ini akan tahu dan menertawakan keluargaku Nay," dengan sedikit ragu, Farhan memeluk Nayla dari samping.


Hati Nayla berdetak tak menentu, ia tak tahu apa yang terjadi dengan hatinya, padahal cuma di peluk. Ia memang selama ini tak pernah bersentuhan dengan laki-laki selain Papa dan Kakaknya, bahkan dengan Kakaknya saja jarang bertemu. Ia tak pernah berpacaran, beberapa laki-laki mendekatinya tapi ia tak pernah menanggapi, bahkan sampai sekarang pun ada yang masih setia mengejar cintanya.


Farhan melepaskan pelukannya, "Aku mau mandi dulu ya," beranjak dari duduknya, "Aku sudah menyuruh orang memngirimkam baju ganti untukmu, tunggu saja sebentat lagi pasti datang," melangakah meninggalkan Nayla lalu memasuki kamar mandi.

__ADS_1


Nayla mengangguk, "Makasih Kak," jawab Nayla, ia juga menunggu orang suruhan Papanya yang juga membawakan pakain ganti untuknya.


Tok


Tok


Tok


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar, Nayla beranjak dari duduknya, ia melangkahkan kaki mendekati pintu kamar tersebut, membukanya dengan perlahan. Nampaklah seseorang yang tak dikenal olehnya.


"Maaf Buk, ini baju pesanan Pak Farhan, mohon diterima," ucap seseorang itu, usianya terlihat seumuran dengan Farhan bisa jadi itu karyawan Farhan.


"Terimakasih Mas," Nayla menerima tiga buah paper bag yang dibawa pemuda itu. Ia tahu isi paperbag tersebut pasti pakaian ganti untuknya.


"Kalau begitu saya permisi Bu," membungkukkan badan dan berlalu meninggalkan kamar pengantin itu.


Nayla menutup pintu kamar, meletakkan paperbag di sofa, melihat isinya. Ternyata benar itu adalah baju-baju perempuan, sudah dipastikan untunya.


"Nay, bisa ambilkan bajuku di koper?" suara orang dari dalam kamar mandi, Farhan ragu akan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja, ia belum terbiasa dengan situasi seperti ini.


"Iya Kak, sebentar ya," Nayla meletakkan paperbag yang tadi ia letakkan diatas pangkuannya, lalu ia melangkah mendekati koper Farhan, mencari pakaian untuk Farhan suaminya.


Tampak ragu saat akan mengambil celana dalam Farhan, dia takut lancang, tetapi saat di pikir-pikir masak iya Farhan tidak memakai dalaman. Ia tersenyum saat tidak sengaja memikirkan itu. Dengan sedikit ragu ia mengambil benda itu dan menumpuknya dengan celana dan kaos yang menjadi pilihannya.


Melangkah mendekati pintu kamar mandi, "Kak ini bajunya," ucapnya.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya yah, makasih.


__ADS_2