Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Obat Kesal Itu Apa?


__ADS_3

Nayla berjalan dengan tergesa-gesa, bahkan ia menaberak beberapa mahasiswa. Amarahnya masih belum mereda, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Irfan, kesal sekali rasanya melihat pemuda itu bersikap seperti itu. Padahal Nayla menganggap Irfan sebagai sahabat tidak lebih sama seperti ia menganggap Doni.


Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata, karena ia masih sayang dengan nyawanya, masih ingin memperbaiki rumah tangganya denga Farhan.


"Bodoh banget sih, bodoh! Bodoh! Kenapa enggak sadar kalau Irfan itu punya maksud tertentu." Memukul setir mobil beberapa kali, ia membodohkan dirinya sendiri. Ia sedang berada di lampu merah saat ini.


"Mas Farhan, maafin aku, karena ikutin saran Irfan aku jadi diemin kamu selama ini, coba aja aku ikutin kata hati buat enggak gengsi, aakh!" masih memaki dirinya sendiri.


Nayla bersikap seperti itu ternyata karena saran dari Irfan. Jika Nayla harus menunggu Farhan bertanya dahulu, baru menceritakan semuanya. Awalnya Irfan mengatakan kalau Nayla harus jujur, tapi saat gadis itu bercerita jika Farhan balik mendiaminya, Irfan pun menyarankan untuk ikut diam, biar Farhan yang berbicara terlebih dahulu.


"Ternyata dia punya maksud tertentu, menyebalka!" teriak Nayla. Perasannya tak menentu setelah mengetahui maksud Irfan sebenarnya.


Nayla kembali melajukan mobilnya membelah jalan raya. Terik matahari dan polusi, tak mengganggunya sama sekali.


Beberapa saat kemudian, ia pun sampai di rumah. Menutup pintu mobil dengan kasar, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia tidak bertemu siapa pun saat memasuki rumah, karena Rita masih di kantor dan Bik Sumi entah kemana. Ia hanya bertemu satpam saja di depan gerbang.


Nayla memilih masuk ke dalam kamar, ia ingin mendinginkan kepalanya dengan cara mandi.


Beberapa menit berlalu, Nayla pun keluar kamar mandi dengan keadaan lebih segar. Mengeringkan rambut, lalu berganti pakaian, setelah itu ia memilih duduk di sofa sambil memeriksa ponselnya.


Banyak sekali panggilan dan pesan dari Irfan, ia memilih untuk memblokir nomer Irfan, menghapus tanpa membaca isi pesan, kekesalannya pada pemuda itu masih sama. Ia tidak akan dengan mudah memaafkan pemuda itu.


Nayla mencoba menghubungi Farhan, ia tidak akan bersikap gengsi kali ini. Tetapi ternyata nomer Farhan tidak aktif. Menghembuskan nafas kasar, lalu mencoba mengirim pesan ke Dika.


Ternyata sama, pesan yang ia kirim pada Dika tak mendapat balasan setelah beberapa waktu berlalu, ia memilih untuk naik ke atas ranjang, merebahkan diri di sana. Tak butuh waktu lama, ia pun sudah berkelanan di alam mimpi.


¤¤¤


Sore hari Nayla terbangun, melihat jam ternyata sudah waktunya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Lalu ia pun melangkah menuju kamar mandi untuk wudhu. Melaksanakan kewajibannya, setelah itu ia memilih turun ke dapur, membantu Bik Sumi memasak.


Menyapa artnya, seperti biasa mereka berbasa-basi membahas kegiatan hari ini. Saat sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba Rita datang mengusik mereka.

__ADS_1


"Nah gitu Nay, belajar masak biar suami betah di rumah," celetuk gadis itu saat melihat Nayla sibuk di dapur. Ia terlihat lebih santai tidak seperti biasanya.


"Non Nayla emang selalu memasak untuk Pak Farhan," Bik Sumi entah mendapat keberanian dari mana bisa mengatakan hal itu.


Rita mendengus.


"Makasih Mbak," Nayla tersenyum ke arah Rita yang terlihat sedikit kesal dengan ucapan Bik Sumi.


Setelah beberapa saat, Rita pun meninggalkan keduanya, karena ia ke dapur hanya untuk mengambil air putih.


"Kayak dia bisa masak aja, kesel Bibik Non, kapan sih dia pergi dari sini?" Bik Sumi tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Rita.


"Sudahlah Bik, enggak usah di masukin ke hati, lupakan saja ucapannya, sekarang kita lanjut masak ya," tutur Nayla, ia tidak mau terlarut dalam kekesalan yang tidak beralasan.


¤¤¤


Setelah makan malam, Nayla kembali ke kamar, membuka ponselnya, ternyata pesan yang ia kirim ke Dika belum juga di baca oleh pemuda itu. Mencoba menghubungi Farhan juga masih sama, ponselnya tidak aktif, sepertinya kedua pemuda itu sengaja melakukan hal tersebut, supaya Nayla kebakaran jenggot.


Entah kenapa Nayla rasanya ingin masuk ruang kerja Farhan, yang selama beberapa hari ini tidak di huni oleh penghuninya, ia rindu duduk di sofa sambil menunggu Farhan bekerja, ia juga rindu membuatkan coklat hangat untuk sang suami.


Membuka pintu ruang kerja Farhan, tampak sepi bahkan gelap karena lampu tidak di nyalakan. Meraih sakelar lampu dan menyalakannya. Ia menghampiri meja yang biasa Farhan gunakan untul bekerja. Duduk di kursi yang biasa Farhan duduki.


"Kenapa rasanya kangen ya?" Nayla bertanya pada dirinya sendiri, lalu ia meletakkan kepalanya di atas meja berbantalan kedua telapak tangannya.


"Jangan gini ah, entar ketiduran di sini," berbicara sendiri. Lalu ia mengangkat kepalanya.


Nayla penasaran saat melihat ada laci di bawah meja kerja suaminya. Ia pun membuka laci tersebut. Isinya tidak ada yang menarik, hanya kertas-kertas entah apa, ia juga tidak mengerti. Saat akan menutup kembali laci tersebut, ia mengurungkan niatnya karena melihat sesuatu yang menjadi perhatiannya.


"Foto?" Nayla meraih foto tersebut, saat melihat siapa foto itu, ia pun refleks menaruh kembali foto tersebut ke dalam laci dengan kasar. Kini dirinya terlihat bertambah kesal, sejak tadi banyak orang yang mbuatnya kesal. Seperti di sengaja saja.


Nayla mendengus, "Kenapa sih Mas Farhan masih nyimpen fotonya sama Kak Sherena, aku kan cemburu," gumamnya, lalu ia beranjak dari duduknya tidak mau berlama-lama di tempat itu karena akan membuatnya lebih kesal.

__ADS_1


Di foto itu, terlihat Farhan sedang merangkul bahu Sherena, sepertinya itu foto saat mereka masih kuliah, karena di pundak Farhan terdapat tas punggung yang tersampir rapi.


Meninggalkan ruangan kerja Farhan lalu masuk ke dalam kamar, merebahkan diri di atas ranjang. Ia teringat dengan ponselnya, lalu meraih ponsel itu melihat pesan yang ia kirim ke Dika, tetap sama. Lalu ia melempar ponsel tersebut, tentu saja tidak sampai terjatuh.


Lalu meraih kembali ponsel itu, melihat jam masih sore, ia pun memutuskan untuk mengirim pesan pada sahabat sekaligus adik iparnya.


{Obat kesel itu apa Cha?} seperti itu pesan yang Nayla kirim.


Tak butuh waktu lama pesannya pun di balas.


{Kesel sama siapa Nay? Eh Kakak Ipar maksudku. Kesel sama Kakakku ya?}


{Salah satunya. Apa dong obatnya, butuh banget nich, kirim segera, aku tunggu,}


{Sholat, terus baca Al-Qur'an, sayang. Di jamin keselnya ilang,}


{Terimakasih Bu ustadzah. Oh iya lupa, dapet salam dari mantan ketua kelas, dia minta maaf belum bisa jenguk si kembar,}


{oh iya tidak masalah, udah baikan sama dia?}


{Alhamdulillah udah, dia minta maaf tadi.}


{Baguslah, ikut seneng dengernya,}


Mereka berdua berkirim pesan dari obrolan A sampai Z. Sebenarnya Nayla ingin menelfon sahabatnya itu, akan tetapi ia urungkan karena takut mengganggu tidur pulas si kembar.


Setelah selesai berbalas pesan dengan Icha, Nayla pun melakukan saran sahabatnya untuk sholat dan mengaji sebelum ia tidur. Benar saja setelah melaksanakan itu, ia terlihat lebih tenang, lalu merebahkan dirinya di atas ranjang.


Bersambung....


》》》 Tiga part gays... Beri hadiah ya, kirim satu hadiah bunga aja aku dah girang banget dan makasih buat yang udah kasih hadiah ke aku. Untuk yang belum, aku tunggu, benar-benar mengharap ini.

__ADS_1


__ADS_2