
Setelah keluar dari rumah sakit, Farhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Senyum di bibirnya tak pudar sedikit pun sejak keluar dari ruangan Dokter Risna, begitu pun dengan Nayla, ia tampak bahagia terlebih ketika melihat suaminya begitu bahagia, membuat kebahagiaannya berlipat-lipat. Farhan menarik tubuh sang istri supaya bersandar di dadanya, meskipun membuat dirinya kesulitan untuk menyetir, akan tetapi Farhan tetap nyaman dengan keadaan seperti itu.
Tak lama Farhan membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket.
"Kenapa kita ke sini sayang?" tanya Nayla, ia tidak ingin belanja kebutuhan rumah tapi kenapa sang suami mengajaknya ke supermarket? Pikir Nayla.
"Mas mau membeli sesuatu, kalau kamu tidak mau turun di sini aja juga enggak apa-apa, tapi kalau mau ikut ayo," jawab Farhan.
Nayla memilih untuk ikut ke supermarket, ia ingin tahu suaminya itu mau membeli apa.
Mereka berdua masuk ke dalam supermarket, Farhan mengambil troli berjalan lalu mendorongnya. Ia mengambil beberapa cemilan, jajan-jajan dan lain-lain. Hingga saat mengambil susu formula, ia melihat susu untuk ibu hamil.
"Sayang, kamu pilih mau yang rasa apa?" tanya Farhan pada sang istri, lalu ia mengambil susu formula untuk balita, membuat Nayla menghentikan aktifitasnya memilih susu untuk dirinya.
"Susu itu mau kamu kasih siapa Mas? Itu kan susu anak-anak?" tanya Nayla penasaran.
"Ada, nanti kamu bakalan tahu. Sekarang pilih susu ibu hamil yang kamu mau, dan pilihlah sesuatu yang kamu inginkan juga," titah Farhan.
Nayla mengikuti ucapan sang suami, memilih bebrapa fariant susu ibu hamil, supaya tidak bosan saat meminumnya jika ada beberapa fariant rasa.
Tak berapa lama mereka pun menyelesaikan belanjanya.
"Mbak seperti biasa ya," ucap Farhan pada seorang kasir yang sepertinya sudah mengenal Farhan.
"Baik Pak," timpal kasir tersebut dengan hormat.
Nayla di buat heran dengan tingkah Farhan, sepertinya mereka sudah saling mengenal. Ia berfikir keras, tapi tidak menemukan jawabannya. Tidak mungkin jika supermarket itu milik suaminya, karena yang ia tahu keluarga suaminya itu tidak memeiliki supermarket.
"Ayo sayang," ucapan Farhan menyadarkan Nayla dari lamunannya.
Kedua tangan Farhan di penuhi banyak belanjaan yang kebanyakan isinya adalah snack dan ada beberapa susu formula. Keduanya berjalan menuju mobil Farhan yang terparkir rapi di depan supermarket.
"Karyawan tadi sepertinya hafal sama kamu Mas? Kok bisa?" tanya Nayla yang di buat penasaran.
"Ya bisa dong, Mas kan sudah lama jadi langganan di supermarket itu," jawab Farhan yang memang benar adanya.
__ADS_1
Nayla mengerutkan dahinya, "Masak sampai sehafal itu sih?" tanyanya lagi.
Farhan hanya tersenyum, ia kembali membawa tubuh sang istri ke dalam dadanya. Nayla pasrah dengan perlakuan sang suami, ia juga masih malas untuk mengintrogasi karena tiba-tiba rasa kantuk menyerang tubuhnya. Farhan melajukan mobilnya kemabli menuju suatu tempat.
Beberapa waktu berlalu, Farhan sudah memarkirkan mobilnya di halaman sebuah bangunan. Tapi ia belum keluar dari dalam mobil, karena sang istri yang masih pulas dalam mimpinya.
"Sayang, bangun. Ini sudah sampai, ayo turun," tutur Farhan sambil mengelus puncak kepala Nayla yang tertutup oleh kerudung.
"Emh, sudah sampai ya Mas? Aku pulas banget tidurnya," ucap Nayla, lalu ia melihat sekeliling luar mobil. Ini bukan di tempat yang ia bayangkan, tapi mereka seperti berada di sebuah perkampungan.
Nayla mengira Farhan akan membawanya jalan-jalan ke pantai atau ke perbukitan, ternyata tidak.
"Mas, kok kesini mau ngapain?" tanya Nayla.
"Ayo masuk dulu, nanti kamu pasti tahu," ucap Farhan, tangannya terulur membenahi tatanan jilbab Nayla yang tampak berantakan.
"Sip, dah cantik," celetuknya setelah membenarkan tatanan jilbab Nayla.
"Kan memang cantik sejak dulu," timpal Nayla sambil mengerucutkan bibirnya.
Nayla yang mendengar ucapan Farhan, pipinya terlihat bersemu merah. Lalu ia pun mengikuti sang suami untuk turun dari mobil. Belum juga membuka pintu, tapi pintu sudah terbuka lebih dahulu, siapa lagi yang membuka jika bukan Farhan.
"Tempat apa sih ini Mas?" tanya Nayla karena sejak tadi belum mendapat jawaban dari sang suami.
"Ayo masuk aja nanti kamu akan tahu," ucap Farhan lalu meraih salah satu tangan sang istri supaya menggandengnya.
Farhan mengucapkan salam, tak lama seorang wanita paruh baya menghampiri mereka, lalu mempersilahkan untuk masuk.
Nayla baru menyadari ini berada di tempat apa saat setelah masuk ke dalam ruangan tersebut, karena di ruangan itu terdapat beberapa foto dan juga tulisan sebuah nama panti asuhan.
"Saya, senang sekali Pak Farhan dan Istri mau bertandang ke sini," ucap wanita paruh baya tersebut.
"Iya Buk sama-sama, kami ke sini ingin bertemu dengan anak-anak, bisa kan Buk?" tanya Farhan.
"Oh boleh Pak, mari Saya antar," ucap wanita itu. Lalu mereka pun masuk lebih dalam gedung tersebut.
__ADS_1
Ternyata setelah ruangan yang seperti ruang tamu itu, ada taman yang luas, beberapa anak-anak bermain di sana. Depan taman sepertinya kamar untuk anak-anak panti tersebut.
Wanita paruh baya yang mungkin ibu pengasuh itu pun pamit, setelah mengantar mereka berdua.
"Sejak kapan Mas mengetahui panti ini? Sepertinya ibu-ibu tadi hafal sekali sama Mas," tanya Nayla yang di buat penasaran.
"Sebenarnya udah lama banget, tapi Mas belum sempet mau ajak kamu ke sini," jawab Farhan.
Melihat kedatangan Farhan, anak-anak di panti itu terlihat berebut ingin bersalaman dengan sepasang suami istri itu.
"Ana, ajak dua teman kamu untuk ambil jajan di dalam mobil Kakak ya, tadi lupa," titah Farhan pada seorang anak perempuan yang usianya sekitar lima belas tahunan.
"Siap Kaka," ucap gadis itu. Lalu ia membawa dua temannya untuk mengambil beberapa cemilan yang tadi di beli oleh Farhan.
"Kamu kok kenal namanya Mas?" Nayla di buat heran lagi, kenapa bisa suaminya itu mengenal salah satu anak panti di sana.
"Dia itu dulu gelandangan, orang tuanya sudah tidak ada karena kecelakaan. Mas bertemu dengan dia waktu melakukan bhakti sosial saat masih kuliah beberapa tahun lalu, dia menceritakan kehidupannya pada kami, lalu Mas berinisiatif memasukkan dia ke dalam panti ini. Alhamdulillah katanya dia betah tinggal di sini," Farhan menceritakan awal bertemu dengan gadis kecil bernama Ana tersebut.
"Keluarga Mas, sejak dari Kakek dulu memang sering berdonasi di panti ini. Tadi Mas bilang sama petugas supermarket itu, supaya mengirim bahan makanan ke panti ini, kenapa petugas supermarket itu mengenalku ya karena itu," Farhan menjawab pertanyaan yang tadi di tanyakan Nayla saat masih di dalam mobil.
Nayla hanya ber 'oh' ria. Ia bangga dengan keluarga suaminya, ternyata mereka sering berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang mampu.
Mereka berdua duduk di bangku taman, melihat anak-anak bermain di sana. Kebanyakan anak di panti itu usianya masih kecil, sepertinya hanya Ana yang paling besar di panti tersebut, atau ada yang lainnya, entah Nayla tidak mengetahui.
"Mas boleh aku main sama mereka?" tanya Nayla sambil menunjuk ke arah anak-anak yang sedang bermain.
"Boleh ayo," Farhan juga ikut serta bermain dengan anak-anak itu.
Anak-anak panti terlihat bahagia saat bermain tebak-tebakan sama Farhan dan Nayla. Karena ketika salah menajwab pertanyaan dari keduanya, anak-anak itu pun harus bernyanyi di depan teman-temannya.
Nayla tersenyum bahagia, melihat sang suami yang dengan mudah membuat mereka tertawa.
Bersambung.....
Maaf telat, sedikit ada hambatan.
__ADS_1