Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Ke Luar Kota


__ADS_3

Sebulan berlalu, ngidam Nayla tidak aneh-aneh seperti waktu itu, tidak tahan dengan bau parfum masih saja belum hilang hingga kini, membuat wanita hamil itu terpaksa kuliah online di kantor sang suami, karena Farhan selalu mengajak Nayla ke kantor. Tentu saja kantor Farhan sudah steril dan tidak ada bau parfum yang membuat Nayla mual-mual. Karena Farhan melarang karyawannya menggunakan parfum, mereka sebenarnya mau protes, tapi tidak berani takut jika di pecat dan lebih baik menuruti perintah atasan.


Nayla juga sudah normal saat bertemu dengan Dika, tapi justru Dika yang merasa was-was ketika bertemu dengan wanita hamil itu, takutnya jadi santapan sang bos karena ulah istri bosnya.


"Pak, lusa seminar di kota B selama dua hari, di lanjut pertemuan dengan klien di sana," ucap sang sekretaris yang memang sedang berada di ruangan tersebut.


Farhan memang sering mengisi seminar tentang dunia bisnis apalagi dirinya pembisnis muda yang sukses, tentunya banyak yang mengetahui dan mengenal sosok Farhan karena sepak terjangnya di dunia bisnis tidak di ragukan lagi.


"Jam berapa seminarnya?" tanya Farhan tanpa menoleh ke arah Rita karena di sibukkan dengan pekerjaan.


"Siang setelah dhuhur Pak, dan malamnya jadwal bertemu dengan klien, lalu di hari ke dua seminarnya pagi pukul delapan," jelas sang sekretaris.


"Yaudah kamu urus semuanya, kita berangkat pagi dan malamnya menginap di sana saja," titah Farhan dan diangguki oleh sang sekretaris.


Setelah sekretaris itu ke luar ruangan, Nayla yang tadi hanya diam menyimak kini duduk di hadapan sang suami yang tadi di duduki oleh sekretaris Farhan.


"Mas, ikut ya," ucap Nayla dengan manja.


Farhan mengalihkan pandangan dari laptop di hadapannya, "Jauh sayang, kalau kamu kecapean gimana? Kemarin dokter kan bilang, kamu jangan capek-capek, usia kehamilan kamu masih rentan," mereka memang beberapa hari yang lalu memeriksakan kandungan Nayla ke dokter.


Nayla mengerucutkan bibirnya, selama ini dirinya memang selalu mengikuti sang suami saat ke luar kota bahkan ke luar negeri pun selalu ikut.


Farhan mendekati sang istri, memutar kursi yang di duduki Nayla supaya menghadap dirinya, berlutut lalu menggenggam kedua tangan Nayla, "Mas, paling cuma nginep semalam aja, dan setelah seminar di hari ke dua selesai, Mas janji akan langsung pulang, kamu nanti nginep di rumah Mama aja ya," tuturnya lembut.


"Tapi Mas jangan berdua aja sama Rita,"


"Nanti Mas ajak Dika seperti biasa, jadi kamu enggak usah khawatir ya," tutur Farhan.


"Oke, aku enggak ikut kalo Mas bertiga sama Dika," akhirnya Nayla mengalah, sebenarnya ia tidak mau jika Farhan pergi hanya berdua dengan Rita sang sekretaris.

__ADS_1


¤¤¤


Pagi ini, Nayla sudah berada di rumah Mama Adela karena ia memutuskan untuk menginap di sana selama Farhan pergi ke luar kota. Sebelum berangkat, Farhan lebih dahulu mengantar Nayla ke rumah Mama Adela.


Baru saja Farhan akan berpamitan, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia pun segera menerima panggilan tersebut.


"Siapa Mas?" tanya Nayla setelah Farhan memutuskan panggilannya.


"Dika, dia enggak bisa ikut, Ibunya masuk rumah sakit katanya, terpaksa Mas pake supir kantor kalo enggak ada Dika," jawab Farhan, karena Dika tadi menelfon jika Ibunya masuk rumah sakit, tentu saja Dika tidak bisa ikut serta ke luar kota dengan Farhan.


"Tapi nanti malam dia janji mau nyusul," tambahnya.


Nayla menghembuskan nafas, "Mas cuma berdua aja sama Rita dong," ucapnya.


"Kan ada supir, kamu enggak usah mikir yang aneh-aneh gitu dong sayang, kita pergi bekerja, kalau kamu seperti itu seakan-akan kamu meragukan suamimu sendiri," Farhan bisa membaca ke khawatiran Nayla.


"Kamu percaya sama Mas kan?" tanyanya.


"Kalau percaya, biarkan Mas pergi ya, jangan cemberut lagi," ucap Farhan.


Membujuk istrinya seperti membujuk anak balita yang merajuk karena akan di tinggal bekerja oleh orang tuanya saja, membuat Farhan harus ektra sabar menghadapi wanita hamil itu.


"Yaudah, Mas berangkat ya," Farhan mendaratkan bibirnya di kening sang istri, lalu ia berjongkok, mengelus perut Nayla, "Sayangnya Papa, jaga Mama ya, jangan nakal, kamu harus jadi anak yang baik, doakan semoga pekerjaan Papa selesai dengan cepat dan bisa berjumpa kamu lagi," ucapnya lalu mengecup perut Nayla beberapa kali.


Nayla meraih tangan sang suami, lalu melambaikan tangan saat Farhan sudah masuk ke dalam mobil.


Setelah Farhan pergi, Nayla pun kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah yang masih terlihat murung. Ia duduk di sofa ruang keluarga bersama sang Mama yang memang sejak tadi di sana.


"Kenapa sayang?" tanya Mama Adela saat melihat putrinya cemberut.

__ADS_1


"Mama ngerti perasaan kamu, karena Mama pun pernah mengalami hal seperti itu, tapi percayalah dengan suamimu, di sana dia kerja, yang penting kamu doakan untuk keselamatan dan kesehatan suamimu," tutur Mama Adela.


"Iya Ma, aku cuma sedih aja entar malem tidur sendiri, enggak ada yang meluk," timpal Nayla, padahal alasan sesungguhnya bukanlah itu.


Mama Adela tersenyum, ia faham wanita hamil memang selalu ingin di manja oleh suaminya.


"Ma, aku pergi ya," tiba-tiba dari arah belakang Irfan berjalan dengan tergesa.


"Kemana? Buru-buru amat? Katanya kuliah siang?" banyak pertanyaan yang keluar dari bibir sang Mama.


Irfan menghampiri sang Mama, "Camer masuk rumah sakit Ma," ucapnya, lalu menyalami tangan sang Mama, setelah itu melesat tanpa menunggu Mamanya berbicara lagi.


"Anak itu, kebiasaan banget,"


"Siapa yang sakit?" tanya sang Mama pada Nayla, mengingat Nayla dekat dengan kekasih Irfan.


"Ibunya Rara Ma, tadi Dika telfon enggak bisa ikut Mas Farhan ke luar kota karena ibunya sakit," jawab Nayla.


"Rara itu anak yatim Ma, makanya sejak ayahnya meninggal, Dika yang menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga, Dika sudah bekerja sama Papa Bayu sejak masih kuliah dulu dan akhirnya di percaya oleh Papa untuk jadi asisten Mas Farhan, karena Dika itu cerdas dan bisa di percaya," Nayla menceritakan sedikit tentang kehidupan keluarga Dika.


"Apa Bang Irfan enggak pernah cerita?" tanyanya.


"Abang kamu mana pernah mau cerita sama Mama, punya pacar aja Mama enggak tahu kalau bukan kamu yang ngasih tahu dan Mama juga baru tahu kelakuan dia waktu SMA juga dari kamu," timpal sang Mama, karena Nayla memang menceritakan Irfan dulu waktu SMA yang sering bolos dan sering berganti pacar.


"Sepertinya semua anak laki-laki emang seperti itu Ma, beda sama anak perempuan, coba Ayna pasti selalu cerita kan sama Mama?" tebak Nayla.


"Iya kalau Ayna sih apa aja kejadian hari ini selalu dia ceritakan ke Mama," timpal Mama Adela.


Akhirnya mereka pun bercerita panjang lebar, dan Nayla bisa melupakan sejenak pikirannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2