Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Mama Pasti Bahagia


__ADS_3

Seminggu berlalu, Nayla sudah pulang dari beberapa hari yang lalu akan tetapi ia masih menggunakan kursi roda, karena kakinya belum sembuh total. Hari ini adalah hari minggu, setelah sarapan Nayla memilih untuk menonton TV di ruang keluarga, Farhan juga ada di sana, ia sedang menikmati secangkir kopi panas yang jarang sekali ia nikmati, salah satu tangannya memegang ponsel, entah apa yang sedang ia kerjakan karena sepertinya sangat serius sekali.


"Mas, antar aku ke rumah Mama Dela yuk," Nayla sudah membuka hatinya untuk memaafkan Mama kandungnya itu tentu saja karena Farhan selalu saja menasehatinya.


Seperti tadi malam saat akan tidur, keduanya sudah berda di atas kasur.


"Sayang, kapan kamu mau nemuin Mama Dela? Kasian Mama Dela pasti sudah menunggu kedatanganmu," tanya Farhan.


"Entahlah Mas, aku belum siap,"


"Jangan seperti itu, Mama Dela itu Mama kandungmu, meskipun beliau tidak membesarkanmu dan bahkan hampir membunuhmu tapi beliau orang yang harus kamu hormati, karena beliau sudah mengandungmu selama sembilan bulan, bahkan bersusah payah kala itu, bayangkan saja, wanita hamil itu mau tidur susah, mau duduk tidak nyaman berdiri terlalu lama lelah, kenapa ibu wajib di hormati ya karena itu," tutur Farhan.


"Dan lagi, ada hadits Nabi yang mengatakan: Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Kemudian ayahmu. (HR. Al Bukhari)."


"Kamu tahu kan apa maksdu hadits di tadi? Jadi jangan berlarut-larut memendam amarah pada Mamamu, meskipun tanggung jawabmu serta baktimu sekarang ada padaku tapi aku juga harus mengingatkan akan hal itu, karena baik buruknya seorang istri itu tergantung suaminya dan aku tidak mau istriku menjadi durhaka sama orang tuanya," tutur Farhan panjang lebar.


Nayla terharu mendengar semua penuturan sang suami, ia beruntung memiliki suami seperti Farhan, "Iya Mas, aku akan fikirkan lagi untuk secepatnya bertemu dengan Mama Dela," timpal Nayla


Karena ajakannya tidak mendapatkan respon dari sang suami, membuat Nayla memikirkan ucapan suaminya tadi malam. Ia terlonjak kaget saat Farhan bertanya, "Ada apa Sayang? Mas tadi enggak denger," ucap Farhan.


"Antar aku ke rumah Mama Dela yuk Mas, aku mau bertemu dengannya," ulang Nayla.


Farhan tersenyum mendengar ucapan sang istri, lalu ia mendekat ke arah Nayla yang duduk di sofa panjang sambil meluruskan kedua kakinya.


"Alhamdulillah, ayo, Mas ganti baju dulu ya. Kamu mau ganti enggak?" tanya Farhan, melihat penampilan Nayla yang hanya mengenakan baju santai.


Nayla mengangguk, "Iya Mas," jawabnya.

__ADS_1


Tanpa permisi Farhan menggendong tubuh Nayla untuk masuk ke dalam kamar mereka. Sesuai permintaan Nayla untuk sementara mereka menggunakan kamar tamu, ia kasihan dengan sang suami jika harus menggendongnya menaiki anak tangga setiap hari.


Baru saja melangkah, kaki Farhan terhenti karena bel rumah berbunyi.


"Bik, tolong bukakan pintu ya," titah Farhan saat mendapati ARTnya turun dari lantai dua membawa peralatan pel.


"Baik Pak,"


Farhan kembali melangkah masuk ke kamar tamu yang mereka tempati, meletakkan tubuh Nayla di atas tempat tidur lalu menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan serta istri tercintanya. Setelah cukup lama memilih, Farhan pun menjatuhkan pilihannya.


"Pakain ini aja ya sayang," ucap Farhan, ia meletakkan pakaian itu di samping istrinya.


"Mau aku pakein apa pake sendiri?" tanya Farhan, karena biasanya ia membantu Nayla mengenakan pakaian selama wanita itu sakit.


"Sendiri aja, Mas ganti baju di kamar mandi, biar aku ganti di sini," ucapnya.


Tok


Tok


Tok


Farhan, melangkah ke arah pintu, membukanya dan nampaklah Bik Sumi di sana.


"Ada Den Irfan, mau ketemu sama Non Nayla katanya penting Pak," beritahu Bik Sumi pada Farhan. Bik Sumi memang sudah mengetahui jika Irfan itu Kakak Nayla karena beberapa kali Irfan datang setelah Nayla keluar dari rumah sakit, Nayla juga sudah menceritakan siapa Irfan sebenarnya.


"Suruh tunggu sebentar Bik," timpal Farhan dan di angguki oleh Bik Sumi.

__ADS_1


Farhan kembali masuk ke dalam kamar, ia memberi tahu Nayla jika Irfan datang ingin bertemu dengannya. Lalu keduanya dengan segera berganti pakaian dan meris diri seadanya.


Setelah selesai, Farhan mengambil kursi roda mendudukkan Nayla di sana dan mendorong kursi itu ke ruang tamu.


Melihat kedatangan tuan rumah, Irfan segera berdiri menemui mereka, menjabat tangan satu sama lain. Nayla bahkan sudah tidak canggung untuk mencium tangan kakaknya itu.


"Nay, Mama sakit, Mama memikirkan kamu terus sampai-sampai dia jarang makan dan sekarang Mama terkena typus, aku mohon temui Mama ya, sekarang di rumah sakit, please aku mohon," Irfan memohon supaya Nayla mau menemui Mama Adela, karena sejak beberapa hari yang lalu Mama Adela selalu menyebut nama Nayla.


"Mama sakit?" tanya Nayla terkejut, "Aku baru aja mau ke rumah Mama, mau ketemu sama Mama. Yaudah sekarang kita temui Mama di rumah sakit," putus Nayla, ia sedikit menyesal kenapa baru sekarang ingin menemui sang Mama.


Ternyata feeling orang tua dan anak sangat lah kuat, Nayla tadi tiba-tiba ingin menemui Mama Adela mungkin ia merasakan jika sang Mama sedang sakit.


"Yaudah, ayo. Gue bawa motor ntar gue sharelok aja, biar cepet," Irfan terlihat bahagia saat mendengar penuturan Nayla yang ingin menemui sang Mama. Tadinya ia tidak yakin jika Nayla mau menemui sang Mama, mengingat Nayla selalu menolaknya.


Farhan kembali mengangkat tubuh Nayla untuk di dudukkan di jok mobil, setelah Nayla duduk ia pun menyusulnya, memasang seatbelt ia pun memasangkan di tubuh sang istri. Lalu melajukan mobil menuju rumah sakit yang sudah di beri tahu oleh Irfan lewat pesan.


Tiga puluh menit mereka pun sampai di rumah sakit yang di tuju, ternyata Irfan menunggu mereka di loby rumah sakit karena ia tidak memberitahu Mama Adela di rawat di ruangan mana.


Farhan mendorong kursi roda yang di duduki Nayla, ia mengekori ke arah mana pun Irfan berjalan. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan VIP rumah sakit yang letaknya di lantai tiga rumah sakit itu.


Perlahan Irfan membuka pintu ruang rawat tersebut. Nayla yang berada di belakangnya merasa gemetar, ia masih ragu untuk bertemu dengan Mama Adela.


"Bismillah, Mama Dela pasti bahagia liahat kamu datang, sayang," Farhan mengetahui kegelisahan sang istri, ia mencoba menenagkan sang istri sebelum memasuki ruang rawat Mama Adela.


Dengan perlahan Farha membuka pintu yang belum tertutup sempurna, ia pun membawa Nayla untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2