Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Sesuatu Apa?


__ADS_3

"Mama, Kakak mau ikut Ante," rengek Rendra, anak Arumi yang kini ada dalam gendongannya.


"Kakak sama Mama aja ya, kasain Adek Nevan Mamanya enggak di sini, biar sama Tante, kalau Rendra kan ada Mama," Arumi berusaha membujuk putra semata wayangnya itu.


Bukannya diam, Rendra justru menangis.


Huaa Huaa Huaa


"Mau Ante, mau Ante!" Rendra semakin merancau dan menangis.


Sejak bangun tidur, dua anak balita itu berebut mau minta gendong Nayla. Karena Nevan di sana tidak ada Mama dan Papanya, akhirnya Nayla memilih mengajak Nevan, balita berusia tiga tahun itu juga tidak mau mengalah dengan Kakak sepupunya.


"Sini Nevan sama Om ya," Farhan yang baru datang mencoba membujuk Nevan supaya ikut dengannya, karena sejak tadi semua penghuni rumah itu sudah mencoba untuk mengajak Nevan, alhasil anak itu menolaknya dan hanya ingin bersama Nayla.


Nevan menggeleng, ia semakin mempererat pelukannya pada sang tante, "Evan au Ante," ucapnya, sambil menenggelamkan wajahnya di dada sang tante.


"Nevan sama Nenek dulu ya, kasian Kak Rendra nangis, nanti tante janji deh ajak Nevan naik kereta," Nayla membujuk suapaya anak itu mau ikut sang Nenek. Karena ia kasihan melihat Rendra yang menangis dan tidak bisa di tenangkan oleh sang Mama.


Akhirnya Nevan mengangguk, Mama Hania pun menerima cucunya dari gendongan Nayla. Lalu Nayla meraih Rendra yang masih menangis belum bisa di tenangkan. Setelah ada dalam gendongan Nayla, Rendra langsung diam dan semua orang yang ada di sana tertawa melihat tingkah dua bocah itu.


"Kalo punya anak dua sekaligus gini repot banget ya," celetuk Nayla, satu tangannya mengusap air mata di pipi Rendra.


"Tanya aja Mama, dulu Mama kan punya dua anak sekaligus," timpal Arumi.


"Repot, tapi menyenangkan kalau lihat mereka sudah besar, dan semua kerepotan saat mereka masih kecil menghilang begitu saja," timpal sang Mama.


"Rum, panggil Papa sama suamimu, kasihan Farhan nanti telat masuk kantor, karena harus pulang dulu," titah sang Mama. Sarapan pagi sudah siap di atas meja.


"Iya Ma," Arumi melesat memanggil Papa dan sang suami.

__ADS_1


Setelah semuanya berkumpul, mereka pun menikmati sarapan bersama keluarga besar yang jarang sekali mereka lakukan.


"Sayang, Mas berangkat dulu ya, nanti kalau mau berangkat kuliah telfon aja biar Mas yang jemput," Farhan berpamitan untuk berangkat ke kantor.


Mereka kini berada di halaman depan, Nayla masih menggendong Nevan, sedangkan Rendra sedang mandi dengan Neneknya.


"Enggak usah, biar nanti Nayla berangkatnya sama aku, kasian kamu kalau harus bolak-balik," timpal Arumi yang baru saja keluar dari dalam rumah diikuti oleh Sandi sang suami, ia juga akan mengantar suaminya yang ada pertemuan dengan klien pagi ini. Karena Sandi ada kerjaan di ibu kota jadi mereka menginap di rumah sang Mama untuk beberapa hari ke depan.


"Makasih Mbak, jadi merepotkan Mbak Arumi," ucap Farhan sungkan.


"Tidak masalah, sekalian mau jalan-jalan sama anak-anak," timpal Arumi sambil tersenyum


"Yaudah Mas berangkat ya sayang," pamit Farhan, Nayla meraih tangan sang suami untuk di cium, tak lupa Fathan mendaratkan kecupannya di kening sang istri. Adegan itu di saksikan oleh Arumi dan Sandi, tapi Nayla tidak mempermasalahkan akan hal itu, karena itu sudah menjadi kebiasaan pasangan suami istri itu


Setelah berpamitan, Farhan pun berangkat ke kantor. Ia tidak pulang ke rumah terlebih dahulu, karena sudah menyuruh seseorang untuk mengambil berkas-berkas yang ada di rumahnya.


Sudah seminggu ini, Nevan tinggal di rumah Nayla, selama seminggu pula sang Mama selalu menyambangi rumah anaknya itu. Entah mengapa Nevan lebih betah tinggal bersama Nayla di bandingkan tinggal dengan Kakek dan Neneknya. Padahal sejak dulu Nevan tidak begitu dekat dengan Nayla saat masih bersama Mamanya.


"Nay, apa Nevan masih sering nanyain Mamanya?" tanya Mama Hania, mereka saat ini sedang berada di dapur untuk membuat makan siang, sedangkan Nevan sedang bermain dengan Farhan dan sang Kakek, karena ini hari minggu jadi Farhan ada di rumah.


"Enggak Ma, dia anteng-anteng aja di sini, enggak pernah rewel juga, paling sesekali dia enggak mau makan, tapi dengan rayuan maut Mas Farhan dia mau makan, meski sedikit," jelas Nayla, wanita itu sedang mencuci ayam.


"Syukurlah, Mama khawatir kalau dia kangen sama Mamanya. Karena selama sebulan ini Murni enggak pernah mau tahu kabar anaknya, dia seperti sudah melupakan Nevan," memang sudah sebulan lamanya Nevan tidak tinggal bersama Papa dan Mamanya, tapi seminggu sekali Enggar akan mengunjungi sang anak dan untuk minggu ini dia tidak bisa datang, karena ada kerjaan di luar kota.


"Biarkan saja lah Ma, yang penting Nevan baik-baik saja meskipun enggak sama Mamanya. Mungki Mbak Murni sedang fokus untuk kelahiran anak ke duanya," Nayla tidak mau berperasangka buruk terhadap Mamanya Nevan.


Mereka memasak sambil terus mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Hingga selesai acara memasaknya, mereka semua pun makan siang bersama.


Sore hari Mama dan Papa berpamitan pulang dan mengajak Nevan untuk ikut bersamanya, dengan segala bujuk rayu tentunya. Kasian jika Nayla harus terus menjaga anak itu, karena Nayla masih dalam masa kuliah, jika ada Nevan waktunya akan berkurang untuk belajar, itu menurut sang Mama. Berbeda dengan Nayla, ia justru menikmati saat mengasuh Nevan, apalagi anak itu menurut semua perkataan Nayla dan Farhan.

__ADS_1


"Sepi ya Mas, Nevan enggak ada di sini. Biasanya jam segini dia minta di bacain dongeng hewan, terus Mas di suruh meragain jadi hewannya," Nayla terkekeh mengingat kekonyolan anak itu.


"Iya sayang, Mas juga merasa kesepian. Apa kita ajak dia tinggal di sini aja ya, biar rame lagi rumah ini," Farhan memberi usulan.


"Maunya sih gitu Mas, tapi Mama keberatan, takutnya Nevan betah di sini dan tidak mau ikut Papanya, nanti malah hak asuh Nevan jatuh ke tangan Mbak Murni, dan Mama tidak mau itu terjadi Mas," timpal Nayla.


Keduanya kini sedang berada di atas tempat tidur. Nayla menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil mengelus kepala sang suami yang tidur dengan berbantalan pahanya, sesekali Farhan mencium perut Nayla dan membuat istrinya itu tertawa karena kegelian.


"Iya bener juga apa yang Mama katakan. Takutnya nanti mereka mengira Mas Enggar menelantarkan Nevan," Farhan membenarkan ucapan Mama yang di sampaikan oleh Nayla.


Nayla hanya mengangguk, tiba-tiba ia murung. Mengingat hingga saat ini dirinya belum juga di beri kepercayaan untuk memiliki momongan.


"Sayang, kenapa kamu sedih?" tanya Farhan, ia menatap wajah sang istri. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Nayla, Farhan pun bangkit dari pembaringannya, lalu menagkup wajah mendung Nayla.


"Pasti kamu kepikiran tentang anak lagi? Sudah enggak usah difikirkan, kita sama-sama berusaha dan berdoa saja, semoga Allah segera memberi kepercayaan pada kita," tutur Farhan, lalu ia menarik tubuh sang istri masuk kedalam dekapnnya. Mengelus rambut panjang Nayla yang bebas terurai.


Nayla membalas pelukan itu, lalu keduanya hening untuk beberapa saat, menikmati harumnya aroma tubuh dari pasangan mereka dan hanyut dalam lamunan masing-masing.


"Sayang, apa kamu tidak menyadari sesuatu?" tanya Farhan saat ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


Nayla melepas pelukannya, lalu menatap wajah sang suami, "Sesuatu apa Mas?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi, bingung.


"Sepertinya udah lama banget kamu enggak datang bulan, terahir yang Mas ingat setelah kita pulang dari Paris itu, dan itu sudah lama hampir tiga bulanan, kan?" tanya Farhan, ia memastikan apakah benar jika Nayla sudah selama itu tidak datang bulan, karena dirinya juga lupa.


Bukannya menjawab, Nayla justru melesat menuju meja belajarnya. Mencari tas yang selalu ia bawa, lalu meraih sesuatu dari dalam sana.


Farhan heran dengan sikap sang istri, kenapa juga tidak menjawab pertanyaanya tapi malah mencari entah apa Farhan sendiri tidak tahu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2