Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Tidak Makan Apapun


__ADS_3

Setelah memanggil supir, Irfan kembali ke kamar hotel Farhan, ternyata Dika juga masih di sana menunggunya. Tepatnya masih menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar. Kamar hotel itu tidak terhubung antara ruang tamu dan tempat tidur, ada sekat yang memisahkan antara dua ruangan tersebut.


Irfan duduk di sofa, ia menyambar secangkir kopi yang masih hangat dan sepertinya belum di sentuh itu.


"Ini bukan minuman Bang Dika kan?" tanyanya setelah menyeruput secangkir kopi itu.


"Bukan, itu tadi Rita yang buat untuk Pak Farhan," jawab Dika.


"Ck, berapa lama sih tu sekretaris kerja sama Farhan? Selera bosnya aja enggak tahu," Irfan berdecak, pasalnya ia paham jika Farhan tidak menyukai kopi.


"Yaudah habisin kamu aja," ucap Farhan yang baru keluar dari kamar.


"Makasih, sampai sini langsung di suguhi kopi," ucap Irfan terkekeh.


"Kalau Dika mau persen lagi aja, karena sepertinya Rita enggak jadi mesenin, sekalian sama Pak supir," ucap Farhan.


"Nanti aja Pak,"


Farhan dan Dika kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda karena kehadiran Nayla. Seperempat jam berlalu, Dika, Irfan dan Pak supir pun meninggalkan kamar Farhan, karena pekerjaan sudah selesai. Bahkan malam pun semakin larut.


****


Tok


Tok


Tok


"Siapa sih malam-malam gini ngetuk pintu?" gerutu Farhan, padahal baru saja ia memejamkan mata, tapi terganggu dengan suara ketukan pintu.


"Siapa Mas?" tanya sang istri yang berada dalam dekapannya. Sepertinya wanita itu pun terganggu dengan ketukan pintu yang berulang-ulang.


"Enggak tahu sayang, Mas buka dulu ya," ucap Farhan, baru saja akan beranjak dari atastempat tidur, tiba-tiba ponselnya berdering.


Drrrtt Drrrttt Drrrttt


Farhan memilih mengangkat telfon terlebih dahulu.

__ADS_1


"Hallo, kenapa Dik?" tanyanya pada orang di seberang sana.


Setelah mendengar ucapan Dika, sontak netra Farhan membola, entah apa yang di katakan Dika, hingga membuat Farhan terkejut seperti itu.


"Tenangkan dia dulu, kita bawa ke rumah sakit sekarang," tukas Farhan lalu mematikan panggilan telfonnya.


Nayla yang tadinya ogah-ogahan untuk membuka mata, sontak ia membuka mata lebar-lebar lalu duduk saat mendengar sang suami menyebut rumah sakit.


"Siapa yang sakit Mas?" tanyanya yang sudah di penuhi oleh rasa penasaran.


"Abang kamu, kata Dika dia uring-uringan enggak jelas, seperti orang mabuk," jawab Farhan.


Nayla membulatkan matanya, ia langsung beranjak dari atas tempat tidur menuju kamar mandi, membasuh muka lalu mengenakan hijabnya sembarangan yang penting jadi.


"Aku ikut ke rumah sakit ya Mas," ucap Nayla.


"Jagan sayang, angin malam enggak baik buat kamu dan anak kita, kamu di sini aja, nant aku panggilin Rita supaya nemenin kamu," cegah Farhan, ia tidak tega jika meninggalkan istrinya di kamar hotel seorang diri.


Nayla mengerucutkan bibirnya, lalu ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Ponsel Farhan kembali berdering, Farhan dengan segera mengangkatnya.


"Kenapa Mas?" tanya Nayla.


"Dika udah bawa Irfan ke rumah sakit sama Pak supir, kita tunggu kabar dari mereka aja, besok baru kita ke rumah sakit kalau memang abangmu harus di rawat di sana," jelas Farhan.


"Tapi aku khawatir sama Irfan Mas," ucap Nayla.


"Doakan saja semoga Irfan baik-baik aja, sekarang kita tidur lagi ya, nanti Dika akan ngabari kabar terbaru dari kondisi Irfan,"


Nayla mengangguk, meskipun begitu ia tetap kepikiran dengan kondisi abangnya. Bahkan karena memikirkan hal tersebut membuat Nayla sulit untuk memejamkan mata.


****


Pagi menjelang, sejak tadi Nayla sudah uring-uringan memohon pada sang suami untuk segera ke rumah sakit, ia khawatir dengan keadaan kakaknya, pasalnya Dika belum memberikan kabar sejak terakhir kali tadi malam.


Setelah mandi, Farhan pun menuruti sang istri untuk ke rumah sakit, padahal istrinya itu belum mandi atau berganti pakaian karena ia tidak membawa baju ganti dan berencana akan membelinya nanti setelah dari rumah sakit. Farhan terpaksa membatalkan atau mengundur waktu seminar, tapi sejak tadi ia sulit menghubungi Rita bahkan saat datang ke kamarnya pun sekretaris itu tak ada di ruangannya. Akhirnya Farhan menginfirmasi sendiri pada pihak penyelenggara seminar dan mereka menyanggupi untuk penukaran waktu dengan pengisi seminar yang lain.

__ADS_1


"Gimana keadaan Irfan, Dik?" tanya Farhan, mereka sudah berada di rumah sakit, melihat Dika yang sedang duduk di depan IGD.


"Sedang di periksa sama Dokter Pak,. Dokternya baru aja tiba, tadi malam tidak ada dokter hanya perawat jaga saja," jawab Dika, karena Dika membawa Irfan ke klinik terdekat bukan ke rumah sakit besar.


Tak berapa lama dokter pun keluar dari ruang IGD. "Keluarga pasien?" tanya sang Dokter.


"Saya Pak," jawab Farhan.


Dokter itu mengajak Farhan ke ruangannya, sedangkan Nayla memilih untuk menemui sang Kakak yang berada di dalam IGD.


"Kamu kenapa sih Bang?" tanya Nayla saat sudah berada dihadapan Irfan.


"Enggak tahu, tiba-tiba aja seluruh tubuh panas, menggigil, pusing, panas dingin, campur aduk lah, dan akhirnya pingsan, tau-tau udah di sini aja," ucap Irfan, mengingat kejadian semalam.


"Sekarang gimana keadaannya?" tanya Nayla.


"Udah mendingan sih, cuman masih pusing ja nih kepala," jawab Irfan sambil memegangi kepalanya. "Jangan kasih tahu Mama! Aku takut Mama jadi khawatir," Irfan memperingati Nayla supaya tidak memberitahu Mama Adela tentang kondisi Irfan.


"Iya, moga aja ini enggak berlanjut sampai besok, biar Mama enggak khawatir," timpal Nayla.


Tak berapa lama Farhan masuk bersamaan dengan Dika.


"Kata dokter gimana Mas?" tanya Nayla penasaran.


Farhan menghela nafas, "Dokter bilang Irfan mengonsumsi obat perangsang dosis tinggi, untung saja enggak sampai anfal," jelas Farhan.


Mereka yang mendengar penjelasan Farhan mengernyitkan dahi, bingung dengan apa yang dikatakan oleh Farhan, terutama Irfan, ia tidak merasa minum obat perangsang atau apalah itu, tapi kenapa bisa dokter mengatakan seperti itu.


"Bener kan dugaanku, ini pasti kerjaan sekretaris kamu Mas, dia sengaja mau jebak kamu tapi ternyata yang minum kopi itu bukan kamu tapi Bang Irfan, karena saking takutnya dia kabur sekarang, takut ketahuan," Nayla menduga-duga, ia bersyukur untung saja semalam ngotot untuk menyusul sang suami.


"Sttt, jangan suudzon dulu sayang, enggak ada buktinya jadi kita enggak boleh nuduh orang sembarangan," Farhan tidak mau menuduh Rita tanpa bukti.


"Coba aja cek CCTV, pasti bener dugaanku," Nayla memberi saran, ia geram jika memang Rita melakukan itu.


"Biar saya yang urus Pak," tanpa diminta Dika lebih dulu menawarkan diri, lalu ia pergi meninggalkan ketiga insan itu.


"Emang sih, gue enggak makan atau minum apapun setelah sampai hotel, kecuali kopi itu," ucap Irfan, setelah mengingat semalam ia tidak makan atau minum apapun kecuali kopi buatan Rita yang di peruntukkan untuk Farhan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2