Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Coklat Panas


__ADS_3

Karena malam minggu dan tidak ada kegiatan, mau belajar rasanya sungkan sekali meskipun sebentar lagi ujian, Nayla memilih menonton drama kesukaannya. Terlihat ia duduk di tengah-tengah ranjang dengan laptop berada di pangkuannya. Sedangkan Farhan entah mengerjakan apa, karena ia tidak nampak di dalam kamar.


Setelah obrolannya tadi dengan Nayla, Farhan berkata mau menyelesaikan pekerjaan yang belum ia selesaikan, ia masuk ke dalam ruang kerja bahkan sampai sekarang belum terlihat masuk ke dalam kamar. Padahal ia tadi bilang hanya sebentar.


Merasa tenggorokannya kering, Nayla beranjak dari duduknya, keluar dari kamar ia ingin mengambil air minum. Saat di depan pintu kamar, ia melihat pembantunya baru saja keluar dari ruangan kerja Farhan, dengan membawa satu kardus kecil, entah apa isinya.


"Bik, bawa apa?" tanya Nayla, ia sedikit penasaran.


"Sampah Non," jawab pembantu itu.


"Mas Farhan sedang apa Bik? Di dalam sana, kan?" tanya Nayla lagi.


Pembantu itu mengangguk, "Bapak lagi bersih-bersih ruangan kerjanya Non," jawabnya.


"Oh gitu ya Bik, yaudah aku mau ke dapur ambil minum," pamitnya, lalu ia lebih dulu melangkahkan kaki menuruni anak tangga.


Nayla akan membuatkan kopi untuk Farhan, karena ia rasa Farhan pasti membutuhkan minum.


"Non, kalau malam begini Bapak biasanya minta di buatkan coklat hangat, jarang sekali minta kopi, biasanya minta kopi kalau pagi hari saat libur kerja," beritahu pembantunya, ia melihat Nayla yang akan membuat kopi.


"Terimakasih Bik," Nayla tersenyum, ia menyimpan kopi lalu mengambil coklat untuk ia seduh.


"Emang Mas Farhan sudah berapa lama tinggal di rumah ini Bik? Setau aku, dia masih satu rumah sama orang tuanya sebelum nikah," tanya Nayla, ia penasaran karena pembantunya sudah hafal dengan kesukaan Farhan.


Pembantunya berfikir, "Sekitar dua atau tiga bulan lalu Non, kekasihnya juga dulu sering ke sini," ucapnya.


Nayla mengangkat kepalanya menoleh ke arah pembantu itu, "Pernah menginap?" tanyanya. Entah kenapa di sudut hatinya ada rasa ketidak sukaan saat pembantu itu mengatakan seperti itu.


Melihat perubahan raut wajah Nayla, pembantu tersebut jadi serba salah, ia keceplosan mengucapkan kalimat tersebut. Ia menggeleng, "Enggak pernah Non, maaf Bibik lancang," ucapnya sambil menunduk.


Nayla tersenyum, ia tahu pembantunya itu merasa bersalah, "Enggak apa-apa Bik, aku memakluminya. Yaudah aku ke atas dulu ya," ucap Nayla, lalu ia membawa dua gelas coklat hangat naik ke lantai atas.


Tok


Tok


Tok


"Mas, aku boleh masuk?" mengetuk pintu, karena ia tidak mau lancang masuk tanpa permisi.


"Masuk aja Nay," jawab Farhan dari dalam.

__ADS_1


Nayla membuka pintu, lalu ia masuk kedalam ruangan yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Ia melihat Farhan sedang duduk di depan meja kerjanya. Nayla melangkah mendekat, ia meletakkan dua gelas coklat panas di atas meja, tapi bukan meja yang Farhan gunakan, melainkan meja yang berada di depan sofa yang ada di ruangan itu.


"Aku buatkan minum," ucapnya setelah meletakkan dua minuman itu.


Farhan mengangkat kepalanya, menatap Nayla yang juga menatapnya, "Terimakasih Nay," ucapnya sambil tersenyum.


Nayla membalas senyuman itu, "Tadi Bibik bilang kalau Mas Farhan sering minta di buatin coklat panas dari pada kopi, jadi kali ini aku buat coklat panas bukan kopi panas," beritahu Nayla, ia melangkah melihat-lihat isi ruangan tersebut.


"Iya, aku memang jarang minum kopi," beritahu Farhan.


Nayla menanggapi dengan mengangguk, lalu ia kembali melangkah melihat isi dalam ruangan tersebut. Bayak sekali buku-buku tentang bisnis, ia tak berniat mengambil salah satu buku itu. Lalu ia melihat ke arah dinding, ada fotonya bersama Farhan saat acara resepsi pernikahan.


"Mas Farhan pasang foto ini kapan?" tanyanya.


Farhan melihat ke arah Nayla, "Barusan, itu juga tadi di kirim sama Dika," jawabnya.


"Kok aku enggak tahu ya kalau dia ke sini,"


"Ya karena kamu lagi asyik nonton,"


Nayla menyengir, ia memang sejak tadi asyik menonton darama, hingga tidak mendengar di luar kamar ada apa.


"Untung saja, tadi udah nurunin semua foto-foto Sherena, kalau tidak Nayla pasti akan berfikir yang tidak-tidak," batin Farhan.


Ia tadi di bantu sama Dika dan pembantunya untuk membereskan beberapa foto-foto Sherena bersama dirinya yang belum sempat ia buang, dan tentunya isi kardus yang di bawa pembantunya tadi adalah foto-foto mereka, untung saja Nayla tadi tidak kepo apa isi kardus itu.


"Minuman kamu tidak di minum Nay?" tanya Farhan, karena Nayla asyik melihat-lihat isi ruangan tersebut.


"Iya Mas, sebentar," jawab Nayla.


Saat Nayla masih asyik dengan kegiatannya, tiba-tiba lampu padam.


"Aaaa! Kok mati sih lampunya!" teriak Nayla. Ia terkejut saat lampu tiba-tiba padam.


"Mas, aku takut," ucap Nayla, ia tidak beranjak dari tempatnya.


Farhan mengambil ponsel yang untungnya ada di saku celananya, karena biasanya saat di rumah ia meletakkan ponselnya di dalam kamar. Ia menyalakan ponsel tersebut, lalu berjalan mendekati Nayla yang masih mematung di tempat dengan mata terpejam.


Saat mengetahui Farhan sudah berada di dekatnya, ia langsung menubruk tubuh Farhan dan memeluknya.


"Aku takut gelap Mas, apalagi ruangan ini serem," pekiknya.

__ADS_1


"Sstt ... emang ruangan ini serem, kadang aku juga mendengar ada orang bicara sediri di sini," Farhan sengaja menggoda Nayla.


Benar saja, Nayla mengeratkat pelukannya, ia tidak peduli karena rasa takut lebih menggerogoti pikirannya.


Farhan terkekeh saat melihat tingkah Nayla yang menenggelamkan wajahnya di dadanya dan memeluknya erat. "Tapi bukan hatu Nay, yang bicara sendiri ya aku, pas lagi telfonan sama Dika atau rekan bisnisku," ucapnya.


Bugh


Nayla memukul dada Farhan, tapi ia tidak mau melepaskan pelukannya, karena lampu belum juga nyala.


"Ih, ngeselin banget sih, aku beneran takut malah tambah di takutin," protes Nayla, dengan gemas ia mencubit pinggang Farhan.


"Aaw, sakit Nay," Farhan mengaduh karena cubitan Nayla terasa sakit, meski Nayla menyubitnya tidak terlalu keras.


"Rasakan, itu pembalasannya," ucapnya masih dalam pelukan Farhan.


"Nyaman banget ya di situ, sampai enggak mau lepas," goda Farhan.


Nayla melepas pelukannya, ia mendengus mendengar ucapan Farhan tapi kembali memeluk pemuda itu saat menyadari lampu belum juga menyala.


Farhan kembali terkekeh, ia merasa lucu melihat tingkah Nayla yang seperti itu, "Yaudah ayo keluar," ucap Farhan, ia tidak mau kembali menggoda Nayla karena sepertinya gadis itu benar-benar ketakutan.


Mereka keluar dari ruang kerja Farhan, menuju kamar. Selama berjalan Nayla selalu saja memeluk Farhan dari samping, menenggelamkan wajahnya di dada Farhan dan Farhan membiarkan itu, meski ia susah berjalan karena terhalang oleh Nayla.


Nayla naik ke atas ranjang, di susul oleh Farhan. Mematikan laptop yang masih menyala, lalu menyerahkan laptop itu pada Farhan, supaya ia menyimpannya. Nayla merebahkan diri, sebelumnya ia mengambil ponsel dan menyalakan lampunya.


"Kita tidur gelap-gelapan enggak apa-apa kan Nay, soalnya enggak kepikiran beli lilin," ucap Farhan saat ia sudah merebahkan diri di sisi Nayla.


"Tapi aku takut Mas, enggak bakalan bisa tidur kalau gelap," ucapnya, batrai dari ponselnya masih menyala.


Farhan menggeser tubuhnya, lalu memeluk Nayla, "Kalau gini takut enggak?" tanyanya setelah memeluk tubuh Nayla.


Nayla menggeleng.


Farhan mengambil ponsel yang Nayla pegang, lalu mematikan ponsel itu, meletakkan ponsel di atas nakas.


"Udah tidur ya." Farhan menepuk punggung Nayla yang berada dalam pelukannya.


Untuk pertama kalinya mereka tidur saling berpelukan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2