Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Siapa Pelakunya?


__ADS_3

Farhan kembali dari mushola, ia melangkahkan kaki menuju ruang di mana Nayla dirawat. Ia terkejut saat melihat dari kejauhan di dalam ruangan ada dokter, tidak tahu apa yang sedang di lakukan dokter itu.


"Nayla kenapa Ma? Kok ada dokter?" tanya Farhan saat sudah berada di depan pintu ICU, sedikit panik takut terjadi sesuatu pada sang istri.


"Alhamdulillah, istrimu sudah siuman, dokter sedang memeriksa keadaannya," jawab Mama Sinta.


Farhan merasa lega mendengar ucaoan sang Mama, "Alhamdulillah, ya Allah," ucap syukur Farhan, lalu ia memeluk Mamanya.


Farhan di mushola memang cukup lama, dan saat Nayla siuman ia tidak mengetahuinya.


Tak lama dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


"Gimana keadaan istri saya Dok?" tanya Farhan tidak sabaran.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, sekarang bisa di pindah ke ruang perawatan. Nanti suster yang akan mengantarnya," jelas dokter tersebut.


Semua yang mendengar mengucapkan rasa syukur, karena Nayla sudah lebih baik. Meski luka-luka yang ia alami butuh waktu lama untuk sembuh.


Setelah kepergian dokter tersebut, Farhan langsung masuk menemui istri tercintanya.


Sang Mama mertua yang sedang duduk di sisi Nayla pun segera berdiri setelah melihat kedatangan Farhan, ia juga keluar ruangan tersebut, memberikan ruang untuk anak dan menantunya.


"Mas," lirih Nayla dengan suara parau, saat melihat kedatangan suaminya.


Farhan duduk di kursi sebelah brangkar Nayla, lalu ia menggenggam salah satu tangan Nayla yang tidak terpasang cairan infus.


"Iya sayang, Mas bersyukur banget kamu sudah sadar," ucap Farhan, ia mengecup tangan Nayla berulang kali. "Jangan pernah berbuat nekat seperti itu lagi ya, Mas takut kehilangan kamu, Mas juga enggak tega liat kamu menderita seperti ini," tambahnya.


Nayla hanya tersenyum, ia ingin bicara tetapi tak kuasa karena menahan sakit di sekujur tubuhnya. Bahagia saat mendengar ucapan sang suami yang menghawatirkannya.


Tak lama suster pun datang, mereka akan memindahkan Nayla di tempat perawatan yang sudah di siapkan. Mereka semua mengikuti kedua suster yang membawa brangkar Nayla ke sebuah ruang VVIP.


"Ini obatnya di minum setelah makan ya Buk, kami permisi dulu," ucap salah seorang suster tersebut setelah mengantar Nayla.


"Terimakasih sus," jawab mereka yang ada di ruangan itu.


Farhan meraih mangkok berisi bubur, lalu ia duduk di sisi Nayla.

__ADS_1


"Makan dulu ya sayang, biar aku suapai," ucapnya.


Nayla tersenyum lalu mengangguk, ia menerima suapan dari sang suami.


"Mas sudah makan?" tanya Nayla, ia bisa menebak jika suaminya itu belum makan karena memikirkan dirinya.


"Mas gampang, yang penting kamu makan dulu, setelah itu minum obat biar cepet sembuh," ucap Farhan.


Nayla pun mengangguk, ia menuruti apa kata Farhan. Setelah menghabiskan makanannya ia pun meminum obat pemberian suster tadi.


¤¤¤


"Pa, Ma, kalian pulang saja enggak apa-apa, biar aku yang jaga Nayla, kalian semua pasti lelah," ucap Farhan, setelah membantu Nayla makan dan minum obat.


"Biar Mama di sini temanin kamu, Mama enggak tenang kalau harus pulang," timpal Mama Hania, ia tidak tega meninggalkan Nayla.


"Yaudah, kalau gitu kami pulang dulu ya Mbak, Mas," pamit Mama Sinta dan Papa Bayu.


Setelah kepergian dua orang itu, Papa Aditama pun ikut pulang, ia sebenarnya ingin menginap tapi Mama Hania melarangnya, karena besok ia harus bekerja.


¤¤¤


Setelah kedatangan Dika, Farhan pun langsung membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Ia juga meminta Dika untuk menghandle perusahaan selama Farhan tidak masuk, ia akan menunggu istrinya sampai sembuh.


"Sayang, tidurlah ini sudah malam," ucap Farhan setelah ia membersihkan dirinya, melihat sang istri yang belum memejamkan mata.


"Iya Mas, temani aku ya," ucapnya.


"Iya Mas akan temani, kamu tidurlah," Farhan duduk di kursia sebelah Nayla, ia menggenggam tangan Nayla.


Nayla pun mengangguk.


"Sakit banget ya sayang?" tanya Farhan saat Nayla meringis karena ingin merubah posisi tidurnya.


Nayla mengangguk, ia masih meringis menahan sakit.


"Coba aja Mas bisa gantiin kamu, pasti udah Mas gantiin biar Mas yang merasa sakit. Enggak tega lihat kamu seperti ini," ucap Farhan sendu, ia sedih melihat keadaan Nayla tapi ia juga bahagia karena Nayla sudah sadarkan diri, itu membuat ia lebih lega.

__ADS_1


"Enggak perlu Mas, anggap saja ini sebagai penganpunan atas semua dosa-dosaku," timpal Nayla. Ia juga tidak akan tega jika melihat sang suami sakit.


Seperti itulah pasangan yang menyayangi kita, ia tidak akan tega melihat belahan jiwanya tersakiti, lebih baik dirinya yang sakit dari pada belahan jiwa mereka.


Farhan mengusap-usap punggung tangan Nayla, mengecupnya berulang kali, lalu mengecup pipi nayla sekilas. "Tidurlah sayang," ucapnya.


Nayla tersenyum, ia pun mulai memejamkan mata.


¤¤¤


"Menurut CCTV mall, mobil yang Nayla tumpangi memang sengaja di sabotase, tapi orangnya tidak begitu jelas, mereka sangat pintar. Karena memakai kaca mata hitam dan juga topi yang menutup kepalanya. Ada dua orang yang melakukan itu," jelas Papa Bayu, ia mendapatkan informasi dari orang suruhannya.


Farhan menyimak penjelasan sang Papa. "Tapi siapa yang sengaja mencelakai Nayla Pa?" tanyanya.


"Entahlah, kita sedang mencari siapa yang sengaja melakukan itu," Papa Bayu menghela nafas, "Apa kalian punya musuh?" tanyanya.


Farhan menggeleng, sepertinya ia tidak memiliki musuh, tapi entah jika ada orang yang menganggap jika dia musuhnya.


"Serahkan semua pada pihak berwajib saja, pasti mereka akan menemukan pelakunya," timpal Papa Aditama.


Mereka saat ini sedang berada di ruang rawat Nayla, Papa Bayu memberikan info tersebut setelah di telfon oleh orang suruhannya. Kebetulan juga Papa Aditama ada di sana.


"Apa Mas Adit punya musuh?" tanya Papa Bayu menyelidik.


Papa Aditama menggeleng, "Saya merasa tidak punya musuh Pak," jawabnya. "Sama seperti yang dikatakan Nak Farhan, entah jika ada yang mengamggap saya musuh mereka," tambahnya.


Saat akan menimpali ucapan Papa Adit, tiba-tiba ponsel Papa Bayu berdering. Ia pun langsung menerima panggilan di ponselnya dan berjalan keluar dari ruangan Nayla.


Tak lama ia pun kembali ke ruang rawat Nayla, duduk di tempat yang tadi ia duduki.


"Saya baru dapat telfon dari orang yang saya tugaskan untuk mencari pelakunya. Mereka mengatakan jika kedua pelaku sudah pergi meninggalkan negara kita, seperitnya mereka sudah menyiapkan ini semua dengan matang, bahkan rencana ke luar negeri pun sudah mereka susun sebelumnya," tutur Papa Bayu.


Farhan tampak frustasi mendengar ucapan sang Papa, ia mengarah pada seseorang. Tapi ia segera menepisnya, takut jika ia suudzon. Tetapi di fikir-fikir lagi siapa yang melakukan itu, selain orang yang itu. Farhan menggelengkan kepalanya, ia tidak mau menuduh sembarangan.


"Kenapa Han?" tanya Papa Bayu.


"Enggak apa-apa Pa," jawabnya, ia tidak akan mengatakan kecurigaannya pada seseorang, sebelum menemukan bukti.

__ADS_1


Memikirkan itu semua, Farhan sampai lupa menanyakan siapa Nayla sebenarnya. Dan itu membuat Papa Aditama sedikit lebih tenang, tapi entah untuk besok apakah dia akan tenang atau sebaliknya.


Bersambung....


__ADS_2