Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Surprise


__ADS_3

"Doni? Kalian pacaran?" tanya Nayla, ia menebak seperti itu karena Doni memanggil Dea dengan sebutan 'sayang'.


"Eh ada Nayla juga ternyata. Benar tebakan kamu Nay," jawab Doni, sambil tersenyum.


Sedangkan Dea tersenyum lalu mengangguk membenarkan ucapan Doni, "Aku kesini sama Doni juga Rara. Tadi Rara yang maksa buat jalan ke mall ini, katanya dia mau ketemu sama Irfan," jawab Dea jujur.


"Maksdunya apa? Irfan sama Rara janjian? Kok bisa?" tanya Nayla bingung.


"Emang, kamu enggak tahu mereka kan udah jadian," jawab Dea.


Nayla melongo mendengar ucapan Dea, "Seriusan? Sejak kapan mereka jadian? Terus kenapa aku enggak tahu ya, bener-bener mereka berdua, padahal kita hampir ketemu setiap hari," Nayla tidak percaya jika Irfan sudah jadian dengan Rara, Nayla memang menyadari jika Rara sepertinya menaruh hati pada Kakaknya itu, tapi ia tidak bisa menebak jika mereka sudah jadian.


"Kak, ayo pilihin baju buat aku," baru saja Dea akan menjawab, Ayna lebih dulu datang dan menarik Nayla.


"Gue nemenin adek belanja dulu ya, nanti bisa ngobrol lagi," pamit Nayla lalu ia mengikuti Ayna dari belakang.


Memilih beberapa baju yang mereka sukai, terutama Ayna, karena Nayla hanya mengantar, ia sedang tidak berminat untuk berbelanja.


Setelah membeli beberapa pakaian yang di inginkan oleh Ayna, Nayla pun membawa baju-baju pilihan Ayna ke kasir. Ayna yang membayar dengan debit card yang tadi di beri oleh sang Mama.


"Lho, Bang Irfan kemana ya Dek?" tanya Nayla setelah mereka membayar semua belanjaan.


"Enggak tahu Kak, bentar aku telfon," jawab Ayna, ia mengambil ponsel dari tas slempangnya. Saat membuka ponsel, ternyata ada pesan dari Irfan.


"Kak, Bang Irfan nunggu di kafe bawah, kita di suruh melanjutkan belanja katanya," beritahu Ayna setelah membaca pesan dari Irfan.


Nayla yang mendengarnya hanya berdecak, ia jadi teringat dengan ucapan Dea tadi, jika Irfan janjian dengan Rara.


"Yaudah ayo, kamu mau belanja apa lagi?" tanya Nayla.


Ayna melirik jam, ternyata sudah siang, "Kita pulang aja lah Kak, tadi Mama ngirim pesan ke aku katanya Kakak di suruh makan siang di rumah, ayo cari Bang Irfan," Ayna sebenarnya masih ingin belanja, tetapi saat ini sudah masuk jam makan siang, ia juga mengurungkan niatnya untuk meninton, karena mendapat pesan dari sang Mama.


¤¤¤


"Kamu janjian sama Rara kan Bang?" tanya Nayla, mereka berdua baru saja memasuki mobil, karena Irfan mengatakan menunggu di parkiran.

__ADS_1


"Kata siapa? Aku bosen aja nungguin kalian belanja lama banget," jawab Irfan, ia melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya. Setelah pembicaraan itu, Nayla memilih menyandarkan tubuhnya di jok mobil, sambil memejamkan mata.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah Mama Adela. Mama sudah menunggu anak-anaknya, setelah mereka datang Mama langsung mengajak ketiga anaknya untuk makan siang. Tentu saja ada Aditya juga karena ini hari minggu jadi, Aditya tidak bekerja.


"Sayang, kalau kamu mau istirahat Mama sudah siapkan kamar untuk kamu nginep di sini, ada di atas sebelah kamar Ayna," ucap Mama Adela setelah keduanya menyelesaikan mencuci piring.


"Aku pulang aja deh Ma," Nayla menolak, ia tidak enak hati jika meninggalkan sang suami terlalu lama.


"Katanya tadi kamu bilang suamimu mau menjemput di sini, tunggu dia datang aja, sesekali main di sini lebih lama, anggap aja rumah sendiri, jangan sungkan. Papa Aditya aja sudah menganggap kamu anak sendiri," ucap sang Mama, mencoba membujuk Nayla.


"Baiklah Ma," akhirnya Nayla mengikuti saran sang Mama.


Mama Adela mengantar Nayla ke kamarnya, saat melewati kamar Ayna yang pintunya sedikit terbuka, ia menghentikan langkah, "Ma, aku temuin Ayna dulu deh, mau ngobrol-ngobrol sama dia," ucap Nayla dan diangguki oleh Mama Adela.


Ternyata Ayna sedang menonton drama kesukaan Nayla, alhasil mereka yang memiliki hobi sama yaitu menonton drama, keduanya pun asyik dalam dunia mereka hingga tak terasa sore pun menjelang dan Nayla tidak jadi istiraht di kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.


"Kakak mandi dulu aja, ayo aku antar ke kamar sebelah," keduanya turun dari ranjang, lalu keluar kamar Ayna menuju kamar Nayla.


Nayla pun mengikuti langkah Ayna, mengedarkan pandangan keseluruh ruangan bercat biru muda itu. Kamar yang cukup besar hampir sama dengan kamar Ayna, tapi tetap lebih besar kamar dirinya di rumah.


"Mama itu udah nyiapain baju-baju untuk Kakak, banyak banget malahan, lihat deh," membuka satu persatu gaun yang ada di sana, "Setelah Mama tahu jika Kakak itu anaknya, Mama langsung membeli ini semua buat Kakak, tenang aja ini sudah di cuci dulu sebelum masuk lemari, jadi Kakak tinggal pakai," ucap Ayna.


Nayla tampak takjub dengan isi lemari itu, berbagai gaun tersedia di sana, bahkan gaun branded.


Ayna mengambil salah satu gaun berwarna hitam panjang, di bagian dadanya ada tail seperti mutiara, lengannya pun sedikit panjang, lalu menyerahkan pada Nayla. "Pakai ini aja Kak, sepertinya cocok," ucap Ayna.


Nayla melihat gaun yang terlihat mewah itu, "Ini terlalu mencolok Dek, ganti yang lebih santai ya," tolak Nayla dengan halus.


"Ini aja, Kakak enggak bakalan nyesel deh kalau pake ini. Harus pakai ini pokoknya, kalau enggak aku ngambek," Ayna mengancam Nayla, akhirnya Nayla pun menuruti permintaan Ayna.


¤¤¤


Waktu berlalu, setelah menyelesaikan sholat maghrib, Nayla pun berniat menghubungi sang suami yang belum menjemputnya hingga saat ini. Baru saja akan menelfon, ia melihat ponselnya ternyata Farhan mengirim pesan. Mengatakan jika dia tidak jadi menjemput Nayla, setelah menerima pesan itu, Nayla pun tampak kesal, bahkan ia mencoba menghubungi Farhan, tetapi ponsel suaminya mati.


Nayla memutuskan untuk pulang dan minta Irfan supaya mengantarnya. Ia keluar kamar menuju kamar Irfan yang bersebelahan dengan kamar Mamanya.

__ADS_1


"Mama sama Papa mau kemana? Kok rapi banget?" tanya Nayla saat melihat kedua orang tuanya keluar kamar dengan pakain rapi.


"Mau kondangan sayang, maaf Mama tinggal ya, tunggu aja suamimu sebentar lagi kesini," jawab Mama Adela.


"Mas Farhan enggak jadi jemput Ma, aku mau minta Bang Irfan buat nganterin pulang aja deh," timpal Nayla.


"Oh yaudah, sana panggil Irfan, Mama sama Papa duluan ya," pamit kedua orang tuanya.


Nayla mengangguk, lalu ia mengetuk kamar Irfan, setelah mendapat jawaban dari dalam ia pun masuk ke dalam kamar Irfan, ternyaya Ayna ada di sana dan mereka berdua terlihat rapi, entah mau kemana Nayla tidak tahu.


"Anterin pulang ya Bang, Mas Farhan enggak jadi jemput. Tapi sepertinya kalian mau pergi ya? Kalau kalian mau pergi biar aku pulang naik taksi aja deh," belum juga Irfan menjawab, Nayla sudah lebih dahulu menerka.


"Ayo, tak anterin. Kebetulan kita mau pergi, tempatnya searah sama rumah kamu," ucap Irfan.


"Kemana?" tanya Nayla.


"Kondangan," jawab Irfan asal.


Nayla pun mengangguk, ia menganggap jika Ayna dan Irfan akan ikut Mama dan Papanya ke tempat kondangan.


Empat puluh lima menit berlalu, mereka pun sampai di kediaman Nayla, Irfan memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Nayla yang tampak gelap gulita, tidak ada pencahayaan sedikit pun, sepertinya listrik belum di bayar jadi terpaksa di putus oleh PLN.


"Kok gelap banget sih, pada kemana?" tanya Nayla entah pada siapa.


"Ayo kita akan mengantar Kakak sampai masuk rumah," Ayna menggandeng tangan Nayla. Mereka berjalan menuju pintu utama.


"Lho pintunya juga enggak di kunci, Bibik sama yang lainnya kemana?" lagi-lagi Nayla bertanya.


Membuka pintu tersebut, baru saja ia akan mencari ponselnya untuk penerangan, lampu lebih dahulu di nyalakan.


SUPRISE


Ucap semua orang yang ada di dalam rumah itu. Nayla terkejut, melihat mereka semua.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2