
Farhan penasaran dengan apa yang di lihat oleh sang istri, pasalnya istrinya itu memperlihatkan senyum di bibirnya. Meski tidak menghadap ke arah Farhan, tapi ia bisa melihatnya. Farhan pun memutuskan untuk menghampiri Nayla yang masih betah duduk di sana.
"Kenapa kamu senyum sendiri sayang?" tanya Farhan, ia melihat sebuah buku catatan kecil yang sedang Nayla pegang.
Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Nayla justru berdiri lalu memeluk tubuh sang suami dengan erat. "Sepertinya aku hamil Mas, betul apa yang kamu katakan tadi, hampir tiga bulan aku tidak datang bulan dan bodohnya aku tidak menyadari itu," ucapnya dalam dekapan Farhan.
Farhan melepas pelukannya, ia menatap lekat netra Nayla, "Serius sayang?" tanyanya.
Nayla mengangguk, "Tapi kenapa aku tidak merasakan apa-apa jika beneran hamil ya? Aku inget betul saat Icha hamil, dia itu ngidam dan sering muntah-muntah, lah aku enggak ngerasain apa-apa," tiba-tiba wajah Nayla berubah murung, mengingat dirinya tidak merasakan apa pun.
Farhan kembali membawa tubuh sang istri dalam dekapannya, mengelus puncak kepala Nayla dengan lembut lalu mendaratkan bibirnya beberapa kali di sana.
"Besok kita ke dokter, enggak usah di tes seperti beberapa waktu lalu, takut kejadian yang sama terulang lagi. Setelah kita tahu dari dokter, maka kita harus menerima apa pun hasilnya. Sudah jangan bersedih lagi sayang," tutur Farhan panjang lebar.
Nayla mengangguk dalam pelukan Farhan. Ia tidak menimpali ucapan sang suami.
"Ayo sekarang kita tidur," ajak Farhan. Tanpa menunggu jawaban sang istri, Farhan langsung menggendong tubuh Nayla ala bridal style menuju tempat tidur.
Membaringkan tubuh sang istri di sana, lalu ia ikut merebahkan diri di sisi Nayla. Menyelimuti tubuh mereka dengan selimut hingga menutup seluruh tubuh kecuali bagian kepala. Farhan memeluk tubuh sang istri, yang masih terdiam, entah apa yang di fikirkan Nayla, mungkin ia masih takut jika kenyataan sebenarnya dirinya tidak hamil.
"Sudah, enggak usah di fikir lagi, apapun hasilnya besok, kita harus menerimanya dengan ikhlas," tutur Farhan sambil menenggelamkan wajah sang istri ke dalam dadanya.
Terlihat Nayla hanya mengangguk dalam dekapan suaminya. Dengan segala spekulasi dalam pikirannya, akhirnya Nayla tertidur dalam dekapan sang suami.
¤¤¤
Pagi hari Nayla terlihat lebih ceria dari pada semalam. Bukankah ia sudah terbiasa merasakan kekecewaan, jadi ia tidak akan terlalu memikirkan kemungkinan terburuknya nanti. Ia akan menerima semuanya dengan ikhlas. Seperti itulah hatinya berbisik.
"Lho Mas kok enggak pakai pakaian kerja? Emang libur hari ini?" tanya Nayla saat sang suami menghampirinya yang sedang mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Mas sengaja hari ini akan antar kamu ke rumah sakit, nanti setelah dari rumah sakit kita akan jalan-jalan, supaya kamu tidak terlalu stres memikirkan tentang kehamilan. Jika memang kamu hamil, anggap saja jalan-jalan nanti sebagai rasa syukur kita. Mas akan mengajak kamu ke suatu tempat," jawab Farhan, ia duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
Nayla ikut duduk di sisi sang suami, "Kemana Mas?" tanyanya. Ia tidak mau membahas kehamilan terlebih dahulu, takut jika harus kecewa lagi dan merusak moodnya yang sudah membaik.
"Ada deh, ke suatu tempat. Kamu pasti suka," jawab Farhan.
"Aku pasti suka Mas, apalagi kamu yang mengajak," timpal Nayla sambil tersenyum.
Mengambilkan nasi dan lauk untuk sang suami lalu untuk dirinya sendiri. Setelah itu keduanya tampak hening saat menikmati sarapan mereka.
Setelah sarapan, seperti biasa Nayla membereskan bekas makan keduanya. Sedangkan Farhan menunggu Nayla di ruang keluarga, kedua tangannya nampak fokus mengetik sesuatu di ponsel pintarnya.
Setengah jam kemudian, Nayla sudah rapi dengan pakaian tertutup yang sudah ia kenakan sejak sebulan yang lalu. Ia menghampiri sang suami yang masih setia menunggu dirinya di ruang keluarga.
"Ayo Mas," ajak Nayla setelah berada di dekat sang suami.
Farhan tersenyum, lalu ia beranjak dari duduknya, berjalan menghamipir Nayla. Keduanya pun keluar dari ruangan itu menuju teras.
Setelah mereka berada di dalam mobil, Farhan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Iya tenang saja sayang, Mas memang memilih dokter perempuan, dia kakak dari teman Mas waktu kuliah," timpal Farhan.
"Syukurlah,"
Setengah jam berlalu, mereka pun sampai di sebuah rumah sakit. Keduanya langsung menuju ruangam dokter tersebut, karena Farhan sudah menghubunginya terlebih dahulu sebelum sampai rumah sakit.
Mereka di antar oleh seorang suster menuju ruangan dokter itu.
"Bapak, sama Ibu tunggu di sini dulu, saya akan meminta ijin Dokter Risna, apakah beliau mengijinkan apa tidak," titah suster tersebut. Mereka berdua pun menurut, memilih duduk di depan ruang dokter itu.
Suster tersebut masuk kedalam ruangan dokter Risna, sekitar dua menit keluar lagi lalu mempersilahkan Nayla dan Farhan untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat pagi Pak Farhan dan Ibu, silahkah duduk," Dokter wanita yang usianya sekitar empat puluh tahun itu mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
__ADS_1
"Terimakasih Dok,"
"Gimana Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter itu.
Farhan menjelaskan keluhan yang di rasakan oleh sang istri dengan detail tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.
Setelah mendengar penjelasan Farhan, Dokter Risna tampak tersenyum, "Kita periksa saja langsung ya," ucapnya.
Lalu dokter itu menyuruh Nayla untuk berbaring di ranjang.
Suster yang tadi mengantar mereka, menyibakkan baju Nayla sampai ke perut dan menyelimuti bagian bawah tubuh Nayla. Lalu menuangkan jel di perut Nayla. Setelah itu dokter Risna melakukan aksinya. Tersenyum setelah menemukan sesuatu yang dia cari.
"Selamat Pak, Istri Anda hamil, dan kehamilannya sudah memasuki empat belas minggu," tutur sang Dokter.
Nayla yang mendengar itu terlihat bahagia, tanpa terasa bulir bening menetes dari pelupuk matanya. Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu, hingga tak kuasa berucap sepatah kata pun. Farhan yang melihat itu, hanya bisa mengelus punggung tangan istrinya. Ingin memeluk tidak mungkin karena Dokter Risna belum selesai memeriksa Nayla.
"Alhamdulillah," ucap Farhan penuh syukur.
Setelah pemeriksaan selesai, kini mereka sudah duduk kembali. Nayla masih belum percaya dengan semua ini, penantian yang panjang sampai membuat dirinya kecewa berkali-kali.
"Gejala wanita hamil itu berbeda-beda, ada juga yang seperti di alami oleh Ibu, bahkan mereka baru menyadari jika hamil saat usia kandungan sudah hampir enam bulan, kalau menurut Saya lebih baik yang seperti ini, karena kebutuhan gizinya akan terpenuhi dengan baik," tutur sang Dokter panjang lebar.
"Jadi ini wajar ya Dok?" tanya Farhan, sejak tadi Farhan yang lebih cerewet dan ingin tahu di bandingkan istrinya.
"Iya sangat wajar sekali Pak," jawab dokter itu.
Setelah selesai, dokter memberikan resep vitamin untuk Nayla. Lalu keduanya pun berpamitan.
Farhan tak henti-hentinya mengecup puncak kepala sang istri yang berjalan di sampingnya, mengabaikan beberapa pasang mata yang melihat aksinya. Salah satu tangannya, memeluk pinggang sang istri.
Nayla hanya pasrah dengan perlakuan sang suami, meskipun menurutnya sangat berlebihan apalagi mereka berada di tempat umum seperti ini.
__ADS_1
Bersambung....