Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Aku Mau Menikah Tanpa Pacaran


__ADS_3

"Aku akan belajar mencintai kamu Nayla," gumamnya, masih lekat memandang wajah ayu sang istri, telunjuknya menyentuh bibir merah jambu itu, lalu


Cup


Ia mendaratkan kecupan kilas di bibir tersebut, ternyata kecupan kilasnya membuat sang empu menggeliat, buru-buru Farhan menjauh dari wajah Nayla, ia takut jika Nayla menyadarinya.


Perlahan Nayla membuka mata, ia melihat ke arah Farhan yang berdiri di ambang pintu, ia tadi benar-benar merasakan ada yang mencium bibirnya, tanpa sadar dia memegangi bibirnya.


"Tadi seperti ada yang menciumku, apa mungkin Mas Farhan?" Batinnya.


Farhan jadi salah tingkah sendiri, takut-takut Nayla mengetahu jika ia sempat mengecup bibirnya. Tapi ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Baru aja mau aku bangunin udah bangun duluan," ucap Farhan, ia sengaja berbohong, "Ayo pulang ini sudah sore," ajak Farhan.


"Berarti aku cuma mimpi, ada-ada aja sich mimpinya," gumam Nayla dalam hati.


"Kok malah melamun?" ucap Farhan karena Nayla justru melanjutkan lamunannya.


Nayla tersadar dari lamunannya, "Iya Mas," jawabnya, lalu mengambil buku yang terletak di sebelahnya. Beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Farhan.


"Buku apa yang kamu baca?" tanya Farhan, pura-pura tidak tahu.


"Em ... ini buku pelajaran," jawab Nayla sedikit gugup, ia malu jika Farhan mengetahui apa yang di bacanya, nyatanya Farhan sudah melihat buku itu, ia sengaja menguji Nayla.


"Coba lihat." Tangannya terulur meminta buku tersebut.


"Buat apa? Enggak usah aja deh," Nayla menyembunyikan buku tersebut di belakang tubuhnya.


"Semakin kamu melarang, aku jadi penasaran Nay, pasti bukan buku pelajaran, kan?" tanya Farhan, ia menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


Dengan ragu Nayla menyerahkan buku yang ada di tangannya pada Farhan, ia menundukan kepala, malu.


Farhan menerima buku itu, lalu ia tersenyum, "Pelajari dengan baik isi bukunya." Ia mengacak puncak rambut Nayla.


Gadis itu terkejut, lalu ia mendongakkan kepala menatap Farhan yang tersenyum manis ke arahnya. Membalas senyuman itu dengan canggung.


"Aku seneng kamu baca buku itu, tapi jangan cuma di baca di praktekin juga ya," tutur Farhan, "Ayo kita pulang sekarang," tambahnya tanpa menunggu jawaban Nayla. Lalu ia mengembalikan buku itu pada Nayla, gadis itu pun menerimanya.


Farhan mengambil tas kerjanya, begitu pun Nayla, ia mengambil tasnya dan memasukkan buku tersebut ke dalam tas. Ia tadi meninjam buku tersebut dari teman kampusnya. Saat tahu apa yang di baca oleh temannya, ia pun meminjam buku tersebut, karena belum sempat membaca jadi, ia bawa pulang.


"Kita satu mobil aja, biar mobilmu di bawa pulang sama Dika, tadi aku sudah menyuruhnya," ucap Farhan lalu ia meraih tangan Nayla. Gadis itu pun tidak menolaknya, ia menerima uluran tangan Farhan dengan senang hati.


Farhan kembali menggandeng tangan istrinya saat keluar dari ruangannya. Entah ia sengaja bersandiwara di depan para karyawannya supaya terlihat bahagia, atau memang melakukan itu karena keinginan dari dalam hatinya, entahlah.


Bahkan setelah sampai di parkiran, ia membukakan pintu mobil untuk Nayla. Nayla tersipu malu dengan perlakuan Farhan, pasalnya ia tidak pernah di perlakukan manis seperti itu oleh orang lain sebelumnya. Orang lain? Ah iya sekarang bahkan Farhan bukan orang lain, dia adalah suaminya.


"Makasih Mas," ucap Nayla, wajahnya sudah memerah bagaikan tomat yang membusuk.


Farhan menyusul Nayla masuk ke dalam mobil, ia menutup pintu mobil lalu melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.


"Kamu pernah punya pacar sebelumnya?" tanya Farhan, beberapa saat setelah melajukan kereta besinya.


Nayla menggeleng, "Enggak pernah Mas," jawabnya singkat.


"Pernah suka sama seseorang? Maksudku mencintai seorang laki-laki?" Farhan kembali bertanya, ia penasaran dengan kehidupan Nayla yang belum ia ketahui.


Nayla kembali menggeleng, "Enggak juga," jawabnya.


"Benarkah? Di jaman sekarang ini jarang sekali ada yang seperti kamu, aku rasa seribu satu mungkin," pandangannya tetap fokus ke arah jalan, "Kalau yang menyukaimu?" kembali bertanya.

__ADS_1


"Mungkin ada, tapi enggak tahu juga sih Mas,"


Farhan mengangguk, "Kenapa tidak mau pacaran?" lagi-lagi ia bertanya.


Nayla berfikir sejenak, "Karena aku mau menikah tanpa harus pacaran, biasanya yang pacaran sampai bertahun-tahun saja mereka tidak jadi menikah, bahkan ada yang setelah menikah mereka bercerai, dan aku enggak ingin itu terjadi, enggak mau merasakan patah hati juga," kali ini Nayla menjawab panjang lebar.


"Dan Tuhan mengabulkan doa kamu sekarang," Farhan menoleh sebentar kearah Nayla, ia tersenyum pada istrinya itu. Tentunya senyuman Farhan di balas oleh Nayla.


Waktu berlalu, mereka pun sampai di halaman rumah. Selama perjalanan keduanya terlihat asyik mengobrol, bahkan tanpa terasa mereka sudah sampai di halaman rumah.


Keduanya turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Nayla meletakkan tas di tempatnya, begitu pun dengan Farhan.


"Mas Farhan, mau langsung mandi apa mau istirahat dulu?" tanya Nayla.


"Langsung mandi aja, badanku gerah banget," jawabnya, lalu ia melepas jas yang ia kenakan. Nayla mengambil jas yang akan di letakkan Farhan di atas ranjang, lalu ia membawa jas tersebut dan menyimpannya bersama pakaian kotor yang lain.


Menyiapkan air hangat untuk sang suami, karena ini sudah terlalu sore, akan masuk angin jika mandi dengan air dingin. Keluar kamar mandi setelah selesai menyiapkan air hangat untuk Farhan. mengambil pakaian ganti untuk sang suami.


"Udah aku siapin air hangat, ini baju gantinya." Nayla meletakkan pakaian ganti untuk Farhan di atas ranjang, "Aku mau masak untuk makan malam, semoga kali ini enak enggak seperti tadi pagi," tambahnya tersenyum ke arah sang suami, lalu ia melangkah keluar dari dalam kamar.


Farhan pun membalas senyuman Nayla, "Makasih ya Nay," ucapnya, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Nayla keluar kamar menuju dapur, ia akan membuat makan malam untuk mereka, ia berusaha menjadi istri yang baik meski cinta belum hadir diantara keduanya. Meski begitu Nayla bahagia melakukan semua tugas-tugasnya.


Nayla sampai di dapur, ia melihat pembantunya sedang berada di sana juga, sepertinya sedang mempersiapkan makanan untuk makan malam.


"Bik, biar aku aja yang masak ya, Bibik bisa melakukan pekerjaan yang lain, kalau enggak Bibik bisa istirahat aja," pinta Nayla, ia ingin masak sendiri tanpa bantuan pembantunya.


"Baik Non, Bibik permisi," ucap pembantunya, lalu ia melangkah meninggalkan dapur.

__ADS_1


Nayla berfikir mau masak apa untuk makan malam, setelah menemukan ide ia pun mulai mempersiapkan bahan-bahan yang di butuhkan.


Bersambung.....


__ADS_2