
Karena belum pengalaman dalam urusan dapur, Nayla bingung harus memulai dari mana dulu. Lalu pikirannya menemukan sebuah ide.
"Kenapa enggak lihat cara masak di channel yuhu aja ya? Bodoh banget sih aku, sampai lupa kalau ada aplikasi seperti itu." Nayla menepuk jidatnya, kenapa ia melupakan kecanggihan teknologi jaman sekarang, mau kupas buah salak aja ada tutorialnya apalagi memasak, sudah pasti bejibun.
"Ponselku kan di tas, ambil dulu berarti," ia berbicara sendiri, jika saja ada yang melihat pasti dikira sudah tidak waras.
Nayla keluar dari dapur, menaiki anak tangga satu persatu, lalu masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Aaaaa!" teriaknya, lalu ia reflek menutup wajahanya dengan telapak tangan dan berbalik badan.
Tentu saja orang yang berada di dalam kamar terkejut mendengar teriakan seseorang, ia yang sedang mengenakan celana buru-buru menyelesaikan kegiatannya. Setelah selesai mengenakan pakaiannya Farhan pun bersuara.
"Udah selesai Nay," ucap Farhan, lalu ia mendekat ke arah Nayla.
Nayla tampak malu, ia tidak sengaja melihat Farhan bergati pakaian, padahal Farhan sudah mengenakan celana dalam, tetapi tubuhnya belum tertutup sempurna, tubuh atasnya saja masih polos. Dengan wajah menunduk, ia pun berbalik, terkejut karena Farhan sudah berada tepat di hadapannya.
"Eh ... maaf Mas, aku enggak sengaja, maaf juga aku masuk enggak ketuk pintu dulu," ucapnya sambil menunduk, wajahnya terlihat memerah karena malu.
"Tidak masalah, suatu saat kamu juga akan terbiasa," ucap Farhan, ia tahu gadisnya itu malu.
Lalu tangannya mengangkat dagu Nayla supaya gadis itu menatapnya, ia ingin melihat seperti apa wajah Nayla saat ini. Farhan tersenyum saat melihat ekspresi Nayla dengan wajah memerah dan tersenyum canggung menahan malu, di tambah Farhan melakukan seperti itu.
Deg
Tiba-tiba ritme jantungnya bertambah lebih cepat tanpa komando. Dengan susah payah Nayla menelan salivanya, melihat tatapan Farhan yang seperti itu, bahkan tangan Farhan masih setia menempel di dagunya.
"Enggak usah malu-malu gitu, aku ini suami kamu, bukan orang lain," ucapnya lalu melepas tangannya dari dagu Nayla.
Nayla mengangguk, ia tersenyum canggung, "Maaf Mas, aku mau ambil ponselku sebentar," ucap Nayla mengalihkan suasana yang membuat jantungnya seakan mau copot, lalu ia melangkah mengambil ponsel tersebut.
"Enggak jadi masak?" tanya Farhan, melihat Nayla yang sedang mencari sesuatu dalam tas.
"Jadi Mas," jawab Nayla, ia melangkah akan meninggalkan kamar dengan ponsel di tangannya, "Aku lanjut masak dulu ya," pamitnya dan di angguki oleh Farhan.
__ADS_1
Menutup pintu kamar, ia berdiri sejenak di depan pintu, memegang dadanya yang masih sesak. Menetralkan degupan jantung yang masih saja berlari tak beraturan.
Setelah di rasa cukup, ia pun melanjutkan langkahnya, menuruni anak tangga menuju dapur.
Sampai di dapur, ia menonton tutorial memasak dari aplikasi yuhu, lalu mempraktekkan apa yang di katakan oleh seseorang yang memberi tutorial tersebut. Menjeda video sejenak saat mempersiapkan bahan-bahan yang di butuhkan, lalu ia mulai memasak dengan mengikuti tutorial tersebut.
Memasak dua jenis makanan saja menghabiskan waktu hampir dua jam, ia benar-benar meneliti, bagaimana rasa masakannya, tidak mau kecewa untuk ke dua kalinya. Kali ini ia ingin memberikan yang terbaik buat sang suami.
Selesai memasak, ia menata semua makanan di atas meja makan. Setelah selesai ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, tersenyum saat mengingat perjuangannya untuk memasak. Bahkan tangannya yang terkena minyak panas pun tidak menjadi hambatan untuk menerusakan kegiatan memasaknya.
Membuka pintu kamar, dahinya mengkerut ketika melihat suaminya masih saja sibuk bekerja, duduk di sofa dengan memangku laptop, "Enggak istirahat Mas? Kok kerja lagi?" tanyanya lalu berjalan mendekat ke arah Farhan.
Farhan mengangkat kepalanya, ia menatap Nayla sambil tersenyum, "Aku enggak kerja," jawabnya.
"Terus?" tanya Nayla, ia tidak menyadari jika yang berada di pangkuan Farhan adalah laptopnya.
"Liat-liat isi dalam laptop ini," jawabnya sambil tersenyum, karena tahu jika Nayla belum menyadari itu laptop miliknya.
"Enggak tahu belum aku periksa, aku cuma liat tugas-tugas kuliah kamu aja. Mau periksa kamu ngerjain tugas dengan bener apa belum," ucap Farhan.
Nayla mengangguk, ia tidak mempermasalahkan jika Farhan membuka laptopnya, karena isinya jug tidak aneh-aneh.
"Mas Farhan mau periksa yang lainnya juga enggak apa-apa, aku enggak keberatan. Paling isinya cuma lagu sama beberapa filem dan drama aja," ucap Nayla memberi tahu.
"Oke, jika nanti aku menemukan yang aneh-aneh gimana?" tanya Farhan.
"Enggak bakalan," Nayla menggeleng, "Aku mau mandi dulu ya, gerah banget," tambahnya lalu melenggang memasuki kamar mandi.
Setelah di ijinkan oleh Nayla, Farhan berani membuka beberapa file yang tersimpan di dalam laptop istrinya itu. Karena tadi ia memang hanya ingin memeriksa tugas Nayla saja, tanpa ingin kepo lebih jauh lagi.
Yang pertama ia klik adalah file berisikan foto-foto istrinya. Isinya hanya foto Nayla dan beberapa temannya. Menscrol ke bawah isinya tetap sama. Jarinya terhenti ketika melihat foto gadis itu sendirian di dalam kamar dengan rambut masih berantakan.
"Dasar bocah, bangun tidur aja sempet-sempetnya selfie," Farhan geleng-geleng kepala melihat foto Nayla dengan rambut berantakan, bahkan beberapa pose, tidak hanya satu.
__ADS_1
Ia melanjutkan menjelajahi isi laptop itu, lalu terhenti ketika melihat ada fotonya disana, meng-klik foto tersebut, ternyata ada sebuah tulisan di dalam foto itu.
"Kakak idaman? Apa maksdunya?" Farhan membaca tulisan itu, tapi ia tidak mengerti dengan isi tulisan tersebut, ia berniat akan menanyakan sama Nayla nanti.
Dua puluh menit berlalu, Nayla keluar kamar mandi sudah berganti pakaian, wajahnya pun terlihat lebih segar dari sebelumnya. Ia melangkahkan kaki menuju ke meja rias, mengambil hair dryer lalu mengeringkan rambutnya.
"Nay, sini." Farhan menepuk sofa di sebelahnya.
Dada Nayla kembali berdetak lebih cepat, entah kenapa jika dekat-dekat dengan Farhan jantungnya serasa mau copot. Tak urung ia pun mengangguk, lalu mepangkah mendekati Farhan dan duduk di sisi suaminya.
"Kenapa Mas?" tanyanya setelah duduk di sisi Farhan.
"Aku menemukan sesuatu yang aneh, kamu mau lihat aku nemuin apa?" Farhan menatap wajah Nayla yang terlihat gugup, ia tidak bisa menebak apa yanh di temukan Farhan.
"Apa Mas? Aku enggak merasa menyimpan sesuatu yang aneh," ucap Nayla, ia penasaran.
Farhan membuka file yang isinya foto. Ia memperlihatkan foto Nayla dengan rambut acak-acakan, "Ini, aneh kan?" tanya Farhan sambik tersenyum menggoda.
Bugh
Nayla memukul lengan Farhan, "Mas Farhan, aku malu!" serunya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Farhan terkekeh, "Sempet-sempetnya bangun tidur malah selfie, mana ilernya masih keliatan lagi," ucapnya masih terkekeh geli.
Nayla merebut laptop itu, ia meneliti foto yang di tunjukkan Farhan, benarkah seperti yang Farhan katakan? Ternyata Farhan hanya mengerjainya, nyatanya di dalam foto tidak seperti yang suaminya katakan.
"Mana? Enggak ada kok, ih Mas Farhan nyebelin," ucapnya lalu beranjak dari duduknya. Sebelum Nayla berjalan Farhan lebih dulu memegang pergelangan tangannya.
"Sini dulu, ada satu lagi yang mau aku tanyain," ucap Farhan.
Nayla kembali duduk, ia menyerahkan laptop itu pada Farhan.
Bersambung....
__ADS_1