
"Mas, besok siang kita di undang Mama untuk makan siang di rumah Mama. Katanya Mama kangen sama kita," ucap Nayla setelah mendapatkan telfon dari sang Mama.
Tadi saat ia sedang asik membaca novel, tiba-tiba sang Mama menelfon, ia pun segera menjawab panggilan Mamanya.
"Iya sayang, besok kamu kuliah Mas yang antar, terus pulangnya Mas yang jemput, sekalian ke rumah Mama," jawab Farhan, ia menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu menoleh ke arah Nayla.
Saat ini ke duanya sedang berada di dalam kamar. Nayla yang tidak ada tugas, memilih untuk membaca novel sambil menemani sang suami yang sedang bekerja.
"Baiklah Mas," timpal Nayla, "Aku sebenarnya juga kangen sama si kembar Mas, hari minggu kita main ke sana ya," tambahnya.
"Iya Mas juga kangen sama mereka, kebetulan juga mereka sedang berada di rumah Mama dari kemarin katanya, hari minggu pasti masih ada di sana," jawab Farhan. Mereka memang sudah beberapa hari tidak mengunjungi ponakan kembarnya karena kesibukan masing-masing.
Nayla menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sang suami, ia melihat apa yang sedang Farhan kerjakan. Sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Mas, kamu apa enggak capek kerja melulu? Seharian di kantor kerja, setelah sampai rumah kerja lagi," ucapnya.
Farhan menghentikan pekerjaannya, ia faham jika Nayla sudah berkata seperti itu pasti ingin di perhatikan. Memencet rombol off pada komputer lipatnya, meletakkan di atas meja.
Nayla mengernyitkan dahi, ia mengangkat kepala yang berada di bahu Farhan, "Kok dimatiin? Udah selesai?" tanyanya.
Farhan tersenyum, "Bisa di kerjakan besok lagi," ucapnya. Lalu meraih kedua tangan Nayla, ia kecup sekilas, beralih mengecup pipi Nayla. Menyandarkan kepala sang istri di dadadnya.
"Enggak biasanya kamu manja kek gini? Kenapa? Ada yang kamu inginkan?" tanya Farhan, karena Nayla jarang sekali manja seperti saat ini, biasanya Nayla memang manja, tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda, seperti ada yang di fikirkan wanita itu.
"Enggak apa-apa Mas, enggak tahu aja aku rasanya lagi pengen manja aja sama kamu, pengen meluk kamu terus. Perasaanku juga aneh gini Mas, padahal aku enggak punya masalah yang berat," jawab Nayla, ia meneggelamkan wajahnya di ketiak Farhan, menghirup aroma yang entah sejak kapan ia sukai.
"Geli sayang," protes Farhan, karena Nayla mengunyel-unyel ketiaknya.
"Anehnya gimana sayang?" tanya Farhan, karena Nayla memberi jawaban yang membingungkan.
__ADS_1
"Aneh aja, was-was gimana gitu, sudahlah Mas enggak usah di pikirkan, mungkin aku cuma capek aja, jadi begini," Nayla menepis fikiran-fikiran negatif yang bersarang di kepalanya dengan beristighfar dalam hati, ia takut suaminya jadi ikut memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Ayo sekarang kita tidur Mas, semoga aja besok pagi udah lebih baik," ajak Nayla, lalu ia melepas pelukannya dan keduanya beranjak menuju tempat tidur dengan Nayla yang bergelayut manja di lengan sang suami.
¤¤¤
Sudah tengah malam, tapi Nayla tak kunjung memejamkan mata, padahal ia sudah berdoa berulang kali, tapi tetap saja matanya tak mau terpejam. Ia memilih untuk bangun, melaksanakan ibadah sunnah. Menarik tangannya dengan amat pelan yang bertengger di pinggang sang suami, takut jika membangunkan tidur Farhan. Setelah terlepas ia mengganti dirinya dengan guling, berharap supaya Farhan tidak menyadari jika dirinya tidak ada dalam dekapan sang suami.
Benar saja setengah jam kemudian, Farhan merasakan jika sang istri tidak ada di sampingnya, lalu ia beranjak ingin mencari Nayla. Tapi saat mengetahui jika Nayla sedang membaca ayat suci, Farhan pun merasa lega. Lali ia beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.
Farhan keluar kamar mandi dan mendapati Nayla sedang melipat mukenanya. "Sayang, kenapa kamu enggak bangunin aku?" tanyanya.
"Tadinya mau aku bangunin setelah aku selesai, ternyata kamu udah bangun duluan," jawab Nayla sambil tersenyum.
"Yaudah, sana kalau kamu mau tidur lagi, aku sholat dulu,"
Nayla mengangguk, lalu ia berjalan ke arah tempat tidur, merebahkan dirinya sambiln memandang langit-langit kamar. Perasaannya sedikit lega, setelah melaksanakan ibadah sunnah. Tak lama Farhan pun menyusul dirinya yang belum memejamkan mata.
"Nungguin kamu Mas," jawab Nayla sambil tersenyum. "Aku enggak bisa tidur kalau enggak kamu peluk," tambahnya.
Farhan merengkuh Nayla dalam pelukannya, "Mas tahu, kamu memikirkan sesuatu, apa masih memikirkan tentang kehamilan?" tanya Farhan, ia tahu istrinya sangat ingin segera memiliki momongan.
Nayla menggeleng, "Enggak Mas, kalau soal itu aku yakin suatu saat pasti akan di beri, mungkin saat ini kita di suruh pacaran dulu," Nayla tersenyum memandang wajah tampan suaminya.
"Bener juga apa yang kamu katakan, pacaran setelah menikah, lebih leluasa bebas melakukan apa aja, tentunya semuanya menjadi ibadah dan berpahala," timpal Farhan, "Bagaimana kalau kita cari pahala lagi sekarang?" tanyanya.
Nayla mengangguk sambil tersenyum, ia tahu apa yang dimaksud oleh suaminya. Mungkin dengan melayani sang sumi, akan menghilangkan pikiran negatif yang bersarang di dalam otaknya.
Farhan mendaratkan bibirnya di bibir merah jambu Nayla, dan malam ini mereka kembali melakukan ibadah yang hampir tiap malam mereka lakukan.
__ADS_1
¤¤¤
"Sayang, kamu berangkat ke kantor dulu aja, nanti aku berangkat kuliah pake mobil, terus pulangnya kamu jemput di kampus sebelum ke rumah Mama, biar mobilku di bawa Rara," ucap Nayla, ia sedang membereskan bekas sarapan mereka. "Jadwalku agak siangan, karena jadwal paginya di rubah besok," tambahnya sebelum Farhan menimpali.
"Yaudah, terserah kamu aja. Mas juga pagi ini ada meeting. Kamu kabari Mas, kalau udah selesai kuliahnya," timpal Farhan, "Kalau gitu aku siap-siap dulu ya," tambahnya.
Nayla pun mengangguk, ia melanjutkan mencuci piring kotor tanpa menoleh ke arah suami yang sudah melenggang menuju kamar.
¤¤¤
"Assalamu'alaikum," ucap salam Nayla dan Farhan saat memasuki rumah keluarga Nayla.
"Wa'alaikumussalam, kalian sudah datang?" jawab salam Mama Hania dari dalam, lalu ia menghapiri anak dan menantunya.
Nayla menyalami Mamanya, di susul oleh Farhan.
"Papa mana Ma?" tanya Nayla, karena biasanya Papanya akan makan siang di rumah jika tidak ada pertemuan.
"Ada, Papa sudah menunggu kalian di meja makan," jawab Mama Hania.
Mereka pun menuju ruang makan, karena Papa sudah menunggu. Keduanya menyalami Papa Aditama lalu duduk di kursi yang kosong. Mereka pun makan siang dalam keadaan hening, hanya dentingan sendok dan garpu yang berperang dengan piring.
"Sayang, setelah ini antar Mama belanja yuk, sekalian kalau kamu mau belanja," ucap Mama Hania, mereka sedang membereskan piring bekas makan siang. Mereka sudah lama tidak berbelanja bersama, padahal dulu sebelum Nayla menikah, mereka sering ke mall bersama meski hanya sekedar beli bahan makanan.
"Boleh banget Ma, aku ijin Mas Farhan dulu ya,"
Mama Hania mengangguk, ia faham, putrinya sekarang sudah memiliki suami dan tidak sebebas dulu.
Bersambung....
__ADS_1
》**Maaf jika lama menunggu🙏
Part santai ya, tapi tenang aku enggak akan buat bertele-tele karena setiap episode meskipun santai tapi akan berkaitan dengan part yang akan datang**.