
Farhan sayup-sayup mendengar suara adzan subuh, padahal ia merasa belum lama memejamkan mata. Membuka kelopak matanya perlahan, melihat jam di dinding ternyata memang sudah memasuki waktu subuh. Melihat sang istri yang masih terlihat damai dalam tidurnya. Ia tersenyum saat mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Mengecup sekilas kening dan bibir sang istri.
"Sayang, bangun yuk." Ucap Farhan sambil sambim mengelus pipi Nayla. Berulang kali Farhan melakukan hal tersebut, hingga Nayla terbangun.
"Masih ngantuk Mas, rasanya juga capek banget, sebentar lagi ya," ucap Nayla dengan suara yang kurang jelas. Wanita isu justru mengeratkan pelukannya.
"Bangun dulu ya, kita sholat subuh, setelah sholat boleh kalau mau tidur lagi," tutur Farhan dengan lembut.
Nayla terpaksa membuka matanya dengan perlahan, ia tersenyum canggung saat mengetahui jika sang suami sedang menatapnya dengan lekat.
"Ayo mandi dulu, setelah itu sholat," ucap Farhan, ia masih menatap Nayla.
Nayla mengangguk, lalu ia melepaskan pelukannya. Membiarkan Farhan bengun terlebih dahulu, ia berniat akan tidur lagi sambil menunggu Farhan mandi. Tapi harapannya sirna, karena tiba-tiba iya merasakn tubuhnya melayang di uadara. Terkejut ternyata Farhan mengangkat tubuhnya yang tak terbalut benang sedikit pun. Tak urung ia pun melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Aku tahu, kamu pasti akan tidur lagi kalau aku tinggal mandi, makanya kita mandi barenga aja," ucap Farhan, ia hafal dengan tingkah Nayla.
Nayla tersenyum canggung, ternyata sang suami bisa membaca pikirannya.
Farhan meletakkan tubuh Nayla ke dalam bathub yang belum terisi air, lalu ia pun mengisinya.
"Mas, aku mandi sendiri ya," ucap Nayla saat melihat Farhan akan memasuki bathub. Ia menutupi dadanya dengan ke dua tangan bersedekap.
"Kenapa, hm?" tanya Farhan.
"Malu," jawab Nayla sambil menunduk.
Farhan tak menghiraukan ucapan Nayla, ia memilih masuk ke dalam bathup. "Kenapa malu sayang? Bahkan aku sudah menyentuh setiap inci tubuhmu tanpa terkecuali," bisik Farhan di dekat telinga Nayla, karena ia memeluk tubuh Nayla dari belakang.
Wajah Nayla bersemu merah, tentu saja Farhan tidak menhetahui itu, karena ia berada di belakang Nayla.
"Yaudah, mandi aja tapi," ucap Nayla.
"Emang mau ngapain kalau enggak mandi?" Farhan sebenarnya tahu apa yang di maksud oleh Nayla, tetapi ia sengaja berpura-pura tidak tahu.
Nayla hanya menggelengkan kepala. Ia tidak mau melanjutkan pembicaraan yang menjurus ke arah sana.
"Apa ini masih sakit?" tanya Farhan, tangannya sudah menyentuh inti Nayla tanpa wanita itu ketahui.
Nayla mengangguk, "Sedikit," jawabnya.
__ADS_1
Sesuai permintaan Nayla, keduanya hanya mandi bersama tanpa melakukan aktifitas lebih. Farhan juga merasa kasihan dengan sang istri, ia tahu Nayla pasti lelah, apalagi area intinya pasti masih merasakan sakit, meski gadis yang baru saja melepas kegadisannya itu tidak mengeluh.
Keduanya baru saja menyelesaikan sholat subuh berjamaan yang jarang mereka lakukan, karena Farhan selalu sholat di masjid, dan Nayla sholat di rumah sendirian. Farhan membalikkan tubuhnya hingga menghadap Nayla. Menyodorkan tangan kananya dan Nayla menyambutnya dengan mencium punggung tangan Farhan. Lalu Farhan mengecup kening Nayla sekilas.
"Kalau masih ngantuk tidur lagi enggak apa-apa," ucap Fathan.
"Temenin," rengek Nayla dengan manja.
"Manja banget sih." Mencubit hidung Nayla dengan gemas, dan sang empunya mengaduh kesakitan.
"Iya, ayo aku temenin. Lagian Mas juga masih ngantuk," timpal Fathan, lalu ia lebih dulu berdiri di susul oleh Nayla.
Lebih dulu Nayla mengganti sepray yang kotor, karena terdapat bercak darah miliknya, akibat perbuatan sang suami.
Benar saja, ke duanya kembali terlelap dalam mimpi sambil berpelukan seakan enggan untuk melepaskannya. Karena semalam mereka hanya tidur kurang dari satu jam.
¤¤¤
"Bik, Farhan mana?" tanya Rita, gadis itu baru saja keluar dari kamar tamu, meletakkan koper di ruang keluarga.
"Enggak tahu, sepertinya belum bangun Mbak, kenapa?" jawab dan tanya Bik Sumi.
"Mau pamitan, Bik," ucap Rita.
"Yaudah biar Bibik panggilin," ucap Bik Sumi lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamar sang majikan. Sedangkan Rita menunggu di ruang keluarga.
Beberpa kali Bik Sumi mengetuk pintu, akhirnya pintu terbuka menampakkan Farhan yang terlihat baru saja bangun tidur. "Ada apa Bik?" tanyanya
"Itu, Mbak Rita mau pamit katanya Pak," jawab Bik Sumi.
Farhan pun mengangguk, lalu ia menutup pintu kamar, menuruni anak tangga dan menghampiri Rita yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Baru bangun?" tanya Rita sambil geleng-geleng. "Istri kamu juga jam segini belum bangun?" tanyanya lagi.
"Dia lagi enggak enak badan," kilah Farhan, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. "Mau pulang sekarang?" tanya Farhan, ia melihat koper yang berada di sisi sofa.
"Iya, aku pamit ya, sekalian mau ke kantor juga," jawab Rita.
"Makasih udah nemenin Nayla. Bilang sama Dika gue libur hari ini, suruh handle semuanya," Farhan sengaja ingin menghabiskan waktu bersama Nayla hari ini.
__ADS_1
"Iya sama-sama, yaudah aku pamit," setelah mendapat anggukan dari Farhan, Rita pun meninggalkan rumah Farhan.
Sepeninggal Rita, Farhan menuju ruang makan, ia melihat sudah ada sarapan yang tersaji di sana. Perutnya sudah keroncongan, cacing-cacing di dalan perut juga sudah mulai demo. Lalu ia mengambil satu piring penuh nasi beserta lauk. Membawa makanan itu ke dalan kamar, ia tidak tega jika harus makan tanpa Nayla.
Meletakkan makanan tersebut di atas nakas, lalu ia menaiki ranjang dan mendekat ke arah Nayla yang masih terlelap.
"Sayang, bangun yuk, sarapan," ucap Farhan sambil menepuk-nepuk pipi Nayla perlahan.
"Jam berapa Mas?" tanya Nayla dengan suara serak, ia belum membuka matanya dengan sempurna.
"Jam setengah delapan, ayo bangun kita sarapan dulu,"
Nayla mengangguk, beranjak dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang, sepertinya wanita itu masih enggan untuk bangun.
"Ini minum dulu air putihnya," Farhan menyodorkan segelas air putih di hadapan Nayla, ia benar-benar seperti mengurusi orang yang sedang sakit.
"Makasih Mas," ucap Nayla lalu wanita itu pun menerimanya dan menenggak habis air dalam gelas tersebut.
"Sarapan di sini?" tanya Nayla saat menyadari Farhan membawa piring beserta isinya.
"Iya, aku tahu kamu pasti masih males untuk turun," tebak Farhan dan tebakkannya benar sekali.
Nayla pun menyengir, sebenarnya ia juga masih enggan untuk bangun. "Kalo gitu aku mau cuci muka dulu," ucap Nayla. Ia bangkit dari duduknya menuju kamar mandi.
"Apa masih sakit?" tanya Farhan saat Nayla sudah kembali dari kamar mandi. Entah sudah berapa kali Farhan bertanya seperti itu karena ia khawatir dengan keadaan Nayla.
"Lumayan, tapi sudah agak mendingan dari pada semalam," jawab Nayla.
"Syukurlah, sekarang sarapan dulu," ucap Farhan.
Nayla pu mengangguk, ia mengernyitkan dahinya saat menyadari hanya ada satu piring dan satu sendok, terus gimana dirinya mau makan. Apakah sang suami sudah makan? batinya.
"Mas udah sarapan? Kok piringnya cuma satu?" tanya Nayla.
"Belum, kita sarapan sepiring berdua, biar Mas yang suapin kamu," jawab Farhan.
Nayla tersenyum, lalu ia mengangguk menyetujui ucapan Farhan. Lalu ia menerima suapan pertama dari Farhan.
"Maka ...." ucapan Nayla terpotong karena Farhan memotongnya.
__ADS_1
"Kalau makan enggak boleh ngomong," ucap Farhan. Nayla pun terdiam dan melanjutkan makannya.
Bersambung....