Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Tunggu Di Sini


__ADS_3

Pagi hari, setelah olah raga sebentar. Farhan menghampiri sang istri yang sedang asyik mengaduk-aduk masakannya. Entah sedang membuat apa, Farhan tidak tahu. Tapi jika di cium dari baunya, sepertinya enak, batinya.


"Masak apa sayang?" tanya Farhan, ia sudah bergelayut manja di belakang tubuh sang istri. Kedua tangannya memeluk pinggang Nayla, meletakkan dagunya di atas pundak sang istri.


"Tadi kan Mas sendiri yang minta di buatkan sup," jawabnya, pasalnya tadi pagi Farhan meminta Nayla untuk memasak sup.


"Ah iya Mas lupa," ucap Farhan, ia masih menempel di punggung istrinya seperti ulat bulu.


"Mas, jangan gini ah, malu di liatin Bibik," Nayla tidak nyaman dengan perlakuan Farhan, malu jika orang lain melihat kemesraan mereka.


"Biarkan saja, Bibik pasti memaklumi," tak mau melepaskan pelukannya, bahkan ketika Nayla bergeser mengambil mangkuk untuk tempat sup yang sudah matang Farhan pun masih menempel, membuat Nayla susah bergerak.


"Mandi dulu aja sana, setelah ini kita sarapan. Baru ke rumah Mama," titah Nayla, tetapi Farhan masih bergeming, ia enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Mas," panggil Nayla.


"Hem," Farhan hanya berdehem.


"Aku mau naruh supnya di meja makan, kalo kamu seperti ini aku enggak bisa gerak dong," ucap Nayla.


Farhan melepaskan pelukannya, lalu ia meraih mangkuk berisi sup tersebut dan meletakkan di atas meja. Ia kembali memeluk sang istri setelah meletakkan sup tersebut.


Nayla hanya pasrah menerima perlakuan manja sang suami.


"Mandi bareng yuk sayang," bisik Farhan tepat di samping telinga Nayla, "Udah lama kita enggak mandi bareng," bisiknya lagi.


"Enggak jadi ke rumah Mama kalo jam segini mau mandi bareng, lagian aku sudah mandi," tidak menolak atau mengiyakan, Nayla justru mengelurakan unek-unek dalam pikirannya.


"Mandi lagi, Mas tadi juga udah mandi," timpal Farhan.


"Mas aja yang mandi, habis olah raga, bau asem tau," Nayla mencoba menghindari ajakan sang suami untuk mandi bersama.


Farhan melepaskan pelukannya, ia mencium aroma tubuhnya. Benar saja meskipun sudah mandi ia masih bau keringat karena habis olah raga.

__ADS_1


"Yaudah Mas mandi dulu," ucapnya, lalu meninggalkan Nayla tanpa menunggu jawaban dari sang istri.


¤¤¤


Farhan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah sepuluh menit ia menunggu sang istri yang sedang berdandan. Tidak seperti biasanya Nayla berdandan lama seperti ini.


"Sayang, kok lama sekali sih," Farhan agak berteriak, karena Nayla berada di dalam kamar lantai dua sedangkan dirinya berada di ruang keluarga.


Karena tidak ada jawaban, ia pun berinisiatif menghampiri Nayla ke kamar.


Cklek


Farhan membuka pintu kamar dengan tergesa. "Say ...." Farhan menghentikan ucapannya saat melihat penampilan berbeda dari sang istri, saking terkejutnya ia sampai lupa menutup mulut yang menganga.


Di hadapannya sang istri memakai gamis berwarna silver dengan jilbab senada tapi terlihat lebih terang. Bahkan jilbab itu menjulur sampai bawah perut dan menutupi bagian depan yang menonjol


"Bagaimana cocok apa tidak Mas?" tanya Nayla.


Farhan bergeming ia masih menatap lekat penampilan sang istri.


"Ah, iya sayang. Kamu cantik sekali bahkan terlihat lebih cantik dengan penampilan ini," ucap Farhan, masih meneliti seluruh tubuh sang istri yang tertutup.


Nayla tersenyum, "Ini semua Icha yang memilihkan baju untukku," ucapnya.


"Bukan bajunya yang membuat cantik, tapi memang kamu terlihat lebih cantik saat memakai jilbab, bahkan Mas pangling," timpal Farhan sambil tersenyum masih memandang lekat wajah sang istri.


"Kamu serius merubah penampilanmu mulai saat ini? Kalau sudah seperti ini jangan pernah mencoba untuk melepaskannya, jadi jika belum siap Mas tidak akan memaksakan," tutur Farhan.


"Aku serius Mas, aku sudah memikirkan semua ini matang-matang, dan mulai saat ini sampai seterusnya, aku akan berpenampilan seperti ini. Bukankah harusnya seorang wanita muslim penampilannya seperti ini?" ucap Nayla di akhiri dengan sebuah pertanyaan.


Farhan mengangguk, lalu ia memeluk tubuh sang istri, "Mas bahagia kamu mau berubah, tapi ingat kamu lakukan semua ini karena Allah jangan karena mahluk-Nya, jika karena mahluk-Nya maka jika suatu saat kamu kecewa dengan orang tersebut, kamu pasti akan melepaskan semua ini," tutur Farhan masih memeluk sang istri.


"Iya Mas, aku melakukan semua ini bukan karena kamu atau siapapun, tetapi ini keninginan dari hatiku dan mungkin Allah telah membukanya," menjeda sejenak ucapannya, "Aku sebenarnya sudah ingin berpenampilan seperti ini beberapa waktu yang lalu, mengingat ulang tahun Mas sebentar lagi, jadi aku akan melakukannya saat Mas ulang tahun, sebagai hadiah dariku," tambahnya.

__ADS_1


Farhan melepas pelukannya, "Kamu tahu sayang, jika seorang istri memperlihatkan auratnya pada laki-laki yang bukan muhrimnya, maka dosa-dosanya di tanggung oleh sang suami," tutur Farhan.


"Kenapa Mas baru mengatakan sekarang?" tanya Nayla, karena ia tidak mengetahui akan hal itu.


"Karena Mas tidak mau memaksa kamu, jika Mas memaksa maka kamu melakukan itu karena paksaan dan saat kamu kecewa sama Mas, pasti kamu akan kembali seperti semula atau bahkan lebih parah. Karena Mas sadar jika bukan seseorang yang sempurna dan pasti akan melakukan kesalahan," jelas Farhan. "Mas akan menunggu sampai kamu melakukan ini karena kemauan kamu sendiri bukan karena Mas," tambahnya.


"Terimakasih Mas, beruntungnya aku menjadi istrimu Mas," Nayla kembali memeluk sang suami, dan tanpa terasa buliran kristal menetes dari pelupuk matanya. Air mata haru dan bahagia tentunya.


Farhan membalas pelukannya, "Kita jalani ini bersama-sama, saling mengingatkan jika salah satu dari kita berbuat kesalahan," tutur Farhan.


Nayla mengangguk dalam dekapan sang suami.


"Ayo katanya mau ke rumah Mama," Farhan melepaskan pelukannya.


Nayla menyeka air mata yang menetes tanpa ijin tersebut, lalu ia menerima uluran tangan sang suami, berjalan bersama keluar kamar.


¤¤¤


Setengah jam berlalu, mereka pun sampai di rumah keluarga Aditama. Farhan memarkirkan mobil di depan halaman, bersebelahan dengan mobil berplat nomor AB, di sebelahnya juga ada mobil dengan plat nomor sama.


"Mas Enggar ada di sini juga ternyata, kenapa Mbak Arumi enggak bilang ya tadi malam?" tanya Nayla entah pada siapa, ia terlihat tidak bersemangat saat mengetahui ada Kakaknya di sana. Arumi memang tadi malam mengatakan jika dirinya dan keluarga saat ini sedang berada di rumah sang Mama dan meminta Nayla untuk datang, katanya Arumi rindu dengan adiknya itu.


"Sudah, enggak apa-apa. Ayo turun, sudah sampai sini masak mau balik lagi, kan lucu," timpal Farhan, ia turun terlebih dahulu dan di susul oleh Nayla.


Mereka melangkah memasuki rumah tersebut, mengucapkan salam tetapi tidak ada yang menjawab dari dalam. Karena pintu terbuka mereka pun berinisiatif untuk masuk saja.


Langkah mereka terhenti ketika baru berada di ruang tamu, samar-samar mereka mendengar ucapan seseorang dari dalam, sepertinya berada di dalam ruang keluarga, karena sebelah ruang tamu adalah ruang keluarga.


"Mas, kita tunggu di sini apa masuk aja ya? Sepertinya mereka sedang berbicara serius," ucap Nayla, ia sempat mendengar beberapa percakapan dari dalam sana.


"Tunggu aja, kita duduk di sini dulu, enggak enak juga, siapa tahu mereka tidak ingin kita mendengar perbincangan itu," timpal Farhan.


Keduanya pun memutuskan untuk duduk di ruang tamu, menunggu mereka yang ada di dalam selesai berbicara.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2