
Sudah hampir dua minggu lebih Nayla kuliah dengan tenang tanpa gangguan, karena Farhan menepati janjinya untuk memindah Nayla ke kelas yang berbeda dengan Irfan. Ia bahkan tidak sekali pun bertemu dengan Irfan, karena mereka berbeda kelas, tetapi ia selalu meminta info sama Erva, kapan jam kuliahnya, mengantisipasi untuk tidak bertemu Irfan. Nayla juga jarang sekali berlama-lama di kampus, setelah selesai mata kuliah ia akan langsung pulang. Seperti saat ini, Nayla baru saja menyelesaikan mata kuliahnya hari ini.
"Makan dulu yuk Ra, gue laper. Lo bawa motor apa enggak?" tanya Nayla pada temannya.
"Enggak, tadi kebetulan berangkat bareng Bang Dika," jawab Rara.
Rara itu teman Nayla sejak masih di SMA, tetapi mereka dulu tidak dekat hanya saling mengenal saja dan Nayla beruntung bisa satu kelas sama orang yang sudah dia kenal. Ia tidak menyangkan jika Rara juga kuliah di kampus yang sama dengannya, karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya di kampus.
"Nama Abang lo Dika?" tanya Nayla, karena baru kali ini Rara menyebut nama Kakaknya.
"Iya, Mahardika Nugraha, asisten suami lo," jawab Rara.
"What?" Nayla terkejut, kenapa ia baru mengetahui fakta itu, "Jadi lo adiknya Dika? Kenapa enggak pernah ngomong sih?" tanya Nayla.
"Lah lo sendiri enggak pernah nanya," timpal Rara.
"Iya juga sih," menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. "Apa jangan-jangan gue satu kelas sama lo juga karena Dika?" tanya Nayla.
Rara mengangguk, "Ya gitu deh," jawab Rara.
Nayla menghela nafas panjang, "Yaudahlah, ayo kita makan di kafe waktu itu," ucap Nayla lalu keluar ruangan di ikuti oleh Rara.
"Lo yang nyetir," ucap Nayla lalu memberikan kunci mobilnya pada Rara. Keduanya sudah sampai di parkiran.
Saat Nayla akan masuk, tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di dekatnya. Ia paham sekali siapa pemilik motor tersebut. Bubur-buru ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.
"Nay, Nayla buka pintunya please," ucap orang tersebut sambil menggedor kaca mobil.
"Jalan Ra, biarian aja dia," titah Nayla.
Rara pun melajukan mobilnya meninggalkan pemuda tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Irfan.
"Kenapa gue harus ketemu dia lagi sih? Pasti nanti bakalan nyariin gue lagi tu anak," dengus Nayla.
"Coba dengerin aja dia mau ngomong apa Nay, ntar gue temenin deh," timpal Rara tanpa menoleh ke arah Nayla karena dirinya fokus melihat jalanan.
"Ntar kalo gue udah enggak males lagi," jawa Nayla sekenanya, karena jujur ia masih enggan bertemu dengan Irfan.
Tak lama ke duanya sampai di lampu merah. Rara menyadari sesuatu, jika ada yang mengikuti mereka.
"Nay, Irfan ngikutin kita, gimana nih, apa berhenti aja?" tanya Rara.
__ADS_1
"Tuh kan, dia emang enggak ada kapoknya, bahkan rela bolos kuliah," ucap Nayla, "Kita ke kantor Mas Farhan aja, makan siang di sana," tambahnya.
"Oke deh, sesekali makan di kantin kantor, siapa tahu dapet cowok keren," timpal Rara sambil tersenyum membayangkan bertemu dengan cowok keren yang bekerja di perusahaan Farhan.
Nayla memutar bola matanya jenggah, pasalnya temannya yang satu itu selalu saja cowok yang di bicarakan. Beberapa detik kemudian ia tersenyum, menemukan sebuah ide, "Ada cowok keren di sana, kalo enggak salah dia bagian manager, ntar aku kenalin," ucap Nayla, padahal faktanya tidak seperti itu, Nayla juga tidak mengenal manager tersebut, hanya pernah melihat.
Rara menoleh sekilas, wajahnya berbinar, "Serius?" tanyanya.
Nayla mengangguk mengiyakan.
Beberapa menit berlalu keduanya pun sampai di kantor Farhan, Rara membelokkan mobilnya. Ia melirik ke belakang ternyta Irfan masih mengikuti mereka, dan berhenti di pinggi jalan saat tahu mereka memasuki area perkantoran.
Keduanya turun dari mobil, berjalan menuju kantin terlebih dahulu karena perut sudah keroncongan. Selama berjalan ke arah kantin, banyak karyawan yang tersenyum menyapa Nayla, karena mereka semua tahu jika Nayla istri dari pimpinan mereka.
Mengedarkan pandangan, ternyata kantin sudah mulai sepi, karena jam makan siang sudah hampir habis. Lalu mereka pun langsung memesan makanan.
"Mana katanya ada cowok keren Nay?" tanya Rara penasaran.
"Sepertinya udah kembali ke ruangannya deh, sabar ya," ucap Nayla cekikikan.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, karena orang yang di maksud oleh Nayla muncul memasuki area kantin.
"Wah pas banget Ra, itu orangnya muncul, dia masih jomblo lho," ucap Nayla menunjuk seseorang dengan kepala plontos dan perut buncit. Yang Nayla tahu orang itu manager di sana, ia sudah sudah beristri, tetapi istrinya meninggal beberapa waktu yang lalu.
Hahahaha. Nayla tertawa melihat ekspresi wajah Rara.
"Sialan lo Nay," dengusnya. "Seandainya cuma dia cowok satu-satunya di dunia ini aja gue ogah," tambahnya.
Nayla kembali tertawa karena berhasil menggoda temannya itu.
Acara makan siang mereka pun akhirnya usai, mereka bersama-sama keluar dari kantin.
"Gue mau ketemu suami dulu ya, lo mau ikutan enggak?" tanya Nayla saat mereka sudah keluar dari kantin.
"Gue pulang aja lah, ngapain gangguin penganten baru, yang ada gue jadi obat nyamuk," timpal Rara.
"Oke, bawa aja mobil gue," ucap Nayla lalu melenggang meninggalkan Rara menuju ruang sang suami.
Saat di jalan Rara menyadari jika Irfan masih mengikutinya, ia sengaja membuat Irfan mengikuti dirinya sampai rumah, biar tahu rasa, batin Rara.
Rara membelokkan mobilnya ke sebuah rumah sederhana, halaman yang luas di penuhi oleh berbagai macam tanaman bunga. Berhenti di depan gerbang, karena memang gerbang tidak ada yang menjaga. Keluar dan menoleh ke belakang mendapati Irfan yang juga turun dari motornya.
__ADS_1
"Wah, ada cowok ganteng ngikutin gue ternyata," ucap Rara pura-pura tidak tahu.
"Nayla di mana?" tanya Irfan tanpa basa-basi.
"Sama suaminya lah, ngapain cari Nayla ke sini?" jawab dan tanya Rara dengan sewot.
Irfan mendekati mobil Nayla, ia mengintip dari luar jendela, setelah yakin jika Nayla tidak ada ia langsung pergi tanpa pamit pada Rara dengan wajah yang tampak kesal, bahkan ia menendang udara saat berjalan. Sedangkan Rara terkekeh geli melihat tingkah Irfan.
"Rasain lo, udah ngikutin sampai sejauh ini ternyata zong, ha-ha-ha," ucapnya sambil tertawa.
¤¤¤
Sedangkan di sisi lain, Nayla membuka pintu ruangan Farhan tanpa permisi. Ia terkejut saat mendapati di dalam ruangan Farhan ternyata sedang ada tamu. Menyengir karena salah tingkah.
"Maaf, Pa, Om, aku main nyelonong aja," ucapnya lalu mendekati tamu itu dan menyalami tamu itu bergantian menyalami suaminya.
Duduk di sisi sang suami, "Apa kabar Pa? Mama juga gimana kabarnya?" tanya Nayla pada Papa mertuanya.
"Alhamdulillah, kami sehat semua, kamu sendiri bagaimana kuliahnya?" jawab dan tanya Papa Bayu.
"Alhamdulillah, lancar semuanya Pa," jawabnya. Ia betalih menatap orang di samping Papa mertuanya, "Om Adit gimana kabarnya?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik juga," jawab orang tersebut.
Mereka kembali mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan, dan Nayla hanya sebagai pendengar. Sepertinya mereka sedang membicarakn tentang bisnis.
Tak berapa lama pun kedua orang itu berpamitan.
"Mas, kenapa ya, Om Aditiya itu seperti memperhatikan aku sejak tadi?" tanya Nayla, ia menyadari jika tamu suaminya itu memperhatikannya.
"Mungkin cuma firasat kamu saja," jawab Farhan, ia tidak mau berfikir negatif. "Kamu sudah makan apa belum?" tanyanya sambil mengelus rambut panjang Nayla.
"Udah Mas, barusan sama Rara di kantin kantor, Mas Farhan udah makan?" tanya Nayla menatap wajah sang suami yang sedang tersenyum.
"Udah juga, terus mana Raranya?" tanya Farhan karena ia tidak mendapati Rara bersama Nayla.
"Pulang, aku ajak ke sini enggak mau. Eh iya, ternyata Rara itu adiknya Dika ya Mas? Kenapa enggak bilang sih Mas?" tanya Nayla, ia berfikir suaminya itu pasti mengetahui jika Rara adalah adik Dika.
"Mas juga baru tahu kemarin sayang, Dika yang ngasih tahu. Mas tahu Dika punya adik, tapi enggak tahu namanya dan enggak tahu kalau satu kampus sama kamu juga," jelas Farhan masi setia mengelus rambut panjang Nayla.
"Oh, kirain udah tahu dari dulu," timpal Nayla.
__ADS_1
"Mas kerja lagi ya sayang, kamu kalau mau tidur siang tidurlah, nanti Mas bangunin," ucap Farhan, lalu ia mengecup puncak kepala Nayla, beranjak dari duduknya, melangkah dan duduk di kursi kebesarannya.
Bersambung....