Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Terimakasih Istriku


__ADS_3

Seharian ini benar-benar melelahkan plus menyenangkan, pasalnya sejak tadi pagi Nayla harus menuruti permintaan bumil yang tak lain adik ipar sekaligus sahabatnya. Setelah sarapan tadi, sahabatnya itu minta di buatkan kue, padahal Nayla belum pernah yang namanya membuat kue, dengan dalih mengajari membuat kue, akhirnya Nayla menyetujuinya. Benar saja, Icha hanya memberi komando, ia tak sedikit pun menyentuh bahan-bahan kue, ia hanya memberi tahu sambil menjadi mandor buat Nayla.


Setelah membuat kue, bumil yang satu itu meminta di temani nonton drama, padahal setahu Nayla bahwa adik iparnya itu tidak begitu menyukai drama atau pun film, ia sukanya membaca novel. Tapi entah kenapa kali ini ia minta di temani nonton drama, Nayla pun menurutinya, ia bahagia karena ada teman saat nonton drama romantis kesukaannya.


Saat akan makan siang pun, sahabatnya itu minta di masakkan sesuatu, lagi-lagi Nayla menurutinya, tentunya dengan Icha yang menjadi mentor memasaknya.


Yang di lakukan suami-suami mereka entah apa, menunggu kedua istrinya asyik sibuk sendiri. Sepertinya mereka juga bosan menunggu seharian, tentu saja keduanya tidak protes, takut jika ibu hamil yang satu itu merajuk.


Suami istri itu pulang saat hampir senja, benar-benar mengganggu liburan pengantin baru itu. Tapi Nayla tidak mempermasalahkan semuanya, ia tetap enjoy melakukan semua hal bersama sahabatnya itu.


"Capek ya? Nurutin semua permintaan Icha," tanya Farhan, keduanya kini duduk di sofa, setelah membersihkan diri.


Nayla yang meluruskan kakinya di atas sofa itu mengangguk, "Lumayan, tapi seneng juga, udah lama kita enggak bisa bareng seperti tadi," papar gadis itu. Ia sedikit memijit-mijit kakinya.


"Setelah Icha menikah, kami jarang seperti itu melakukan aktifitas bersama, aku enggak enak kalau di rumah mertuanya, meskipun dulu hanya ada mereka berdua, enggak enak sama Al juga sih," tambahnya.


"Mau aku pijitin?" Farhan memberi tawaran.


Nayla menurunkan kedua kakinya, lalu menggeleng, "Enggak usah, aku enggak capek kok," tolak Nayla, untuk saat ini ia tidak mungkin menerima tawaran Farhan entah jika suatu saat nanti.


"Beneran? Aku serius ini, mumpung lagi baik, jarang-jarang dapat tawaran enak seperti itu," tambah Farhan.


"Iya Mas, aku enggak capek kok," lagi-lagi Nayla menolaknya.


"Oke sekarang ganti, tadi aku menawari sekarang aku minta," Farhan tersenyum saat melihat wajah Nayla berubah menjadi bingung.


"Minta apa?" tanya Nayla, ia takut Farhan meminta sesuatu yang belum siap ia lakukan.


"Maunya kamu, aku minta apa?" Farhan tersenyum menggoda saat menanyakan hal itu.

__ADS_1


Nayla menggeleng.


Farhan masih dengan senyuman yang penuh arti, ia suka sekali menggoda gadisnya itu. "Aku enggak minta macem-macem, cuman minta satu macam aja," ucapnya sambil mengedipkan mata.


Bagaimana wajah Nayla saat ini? Saat mendapatkan kedipan mata dari Farhan, tentu saja sudah memerah seperti tomat rebus.


Farhan beranjak dari duduknya, karena tadi ia duduk di single sofa, ia mendekati Nyla dan duduk di sisi gadis itu. "Karena kamu enggak mau aku pijitin jadi, aku yang minta di jipitin," ucapnya setelah duduk.


"Kamu mau kan mijitin suamimu ini?" tanya Farhan.


Nayla mau menolak tapi tidak mungkin, jika menengiyakan ia sedikit ragu, tapi akhirnya ia mengangguk.


Farhan tersenyum, "Pijitin punggung aja," ia memposisikan diri di hadapan Nayla, dengan memunggungi gadis itu.


Nayla menaikkan kedua kakinya, menumpukah tubuhnya dengan kedua lutut, tangannya mulai menyentuh punggung Farhan yang tertutup oleh kaos. Dengan perlahan ia memijit punggung Farhan, sebisanya karena ia jarang sekali memijit orang.


"Iya Mas," jawab Nayla sedikit ragu.


Farhan meraih kedua tangan Nayla, hingga saat ini terlihat Nayla sedang memeluk leher Farhan dari belakang. Nayla gugup, tapi ia tidak menolak dengan perlakuan Farhan, sepersekian detik kemudian ia terkejut karena Farhan mengecup kedua tangannya secara bergantian. Bahkan wajahnya kembali memerah karena malu.


"Terimakasih istriku," ucap Farhan, lalu ia membalikkan badannya dan kini menghadap Nayla.


Nayla membeku dengan perlakuan Farhan, setimulus otaknya seakan berhenti seketika.


"Baru di cium tangan udah separah ini, gimana kalau aku cium yang lain," Farhan terkekeh melihat wajah Nayla, ia bahagia membuat gadis itu malu-malu kucing.


"Katanya mau makan di luar, ayo siap-siap, atau mau aku cium di tempat yang berbeda?" tanya Farhan, ia berkata seperti itu karena sepertinya Nayla belum sadar sepenuhnya.


"Iya Mas, aku siap-siap," ucapnya, lalu beranjak dari duduknya dan melepaskan kedua tangannya yang masih dalam genggaman Farhan.

__ADS_1


Nayla masuk ke ruang ganti, ia melihat dirinya di cermin yang ada di ruangan itu. Lalu menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Kenapa aku bisa semalu itu sih, duh mana Mas Farhan menyadarinya," gumam Nayla.


"Jangan lama-lama Nay," seru Farhan, dari luar.


"Iya Mas," Nayla pun langsung membuka almari yang menyimpan pakaiannya, lalu memilih salah satu gaun yang menurutnya cocok. Setelah mengenakannya Nayla pun keluar, lalu ia melangkah ke arah meja rias, merias dirinya dengan make up seadanya.


"Sudah siap?" tanya Farhan, setelah ia keluar dari walk in closet untuk berganti pakaian.


"Sudah Mas," gadis itu berdiri, lalu melangkah mendekati Farhan.


"Kenapa aku baru sadar sekarang ya, kalau kamu itu sebenarnya cantik, padahal kita sering bertatap muka," celetuk Farhan, ia memperhatikan penampilan Nayla yang anggun, dengan dress berwarna baby blue, yang panjangnya di bawah lutut, sepatu dengan hak tidak terlalu tinggi, karena tubuhnya memang sedikit lebih tinggi.


Nayla hanya tersenyum malu-malu menanggapi ucapan Farhan, karena ia bingung harus menjawab apa.


Lalu Farhan meraih salah satu tangan Nayla, ia menggandeng tangan gadis itu, karena tidak mungkin jika Nayla berinisiatif terlebih dahulu.


Sejak tadi jantung Nayla sudah berpacu dengan cepat, ia bahkan berkali-kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan karena saking sesak dadanya. Entah Farhan menyadari itu atau tidak. Jika setiap hari ia di perlakukan seperti itu, maka hanya dalam hitungan hari saja ia pasti sudah jatuh cinta pada suaminya itu. Tapi entah dengan Farhan, mengingat lelaki itu begitu mencintai mantan kekasihnya dulu.


Farhan masih menggenggam tangan Nayla, bahkan saat di halaman rumah saat akan memasuki mobil ia membukakan mobil untuk Nayla. Setelah Nayla masuk ia pun menyusulnya, masuk lewat pintu sebelah kemudi.


Di dalam mobil mereka tampak terdiam, Nayla larut dalam pikirannya. Ia jadi berfikir, apakah Farhan melakukan hal itu juga pada Sherena dulu saat mereka pacaran? Ia jadi gelisah sendiri memikirkan sesuatu yang harusnya tidak ia pikirkan.


"Kenapa Nay?" tanya Farhan saat menyadari Nayla menggeleng-gelengkan kepala, ia tahu gadis itu sedang memikirkan sesuatu.


"Enggak apa-apa Mas," jawab Nayla, ia tersenyum lalu menatap Farhan dari arah samping, karena suaminya fokus menyetir.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2