Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Suamimu Lebih Manis


__ADS_3

Setelah seharian bercengkrama dengan anak panti asuhan, membuat badan Nayla sedikit lelah. Bahkan wanita hamil itu tertidur di mobil sejak keluar dari panti asuhan hingga sampai rumah, dengan cekatan sang suami menggendongnya menuju kamar. Baru saja di letakan di pertengahan kasur, wanita hamil itu terlihat mengerjapkan mata, sepertinya tidurnya terganggu dengan pergerakan tangan Farhan yang menaruhnya di atas kasur.


"Lho kok udah sampai kamar aja? Sejak kapan? Bukanya aku tadi tidur di mobil ya?" tanyanya pada sang suami.


"Baru aja, kamu susah banget di bangunin jadi Mas terpaksa gendong kamu," jawab Farhan, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi, karena badan terasa lengket setelah seharian bermain di luar.


Setelah sang suami masuk ke dalam kamar, Nayla memilih untuk merebahkan diri di atas tempat tidur. Rasa lelah membuatnya terlelap kembali, dan berkelana di alam mimpi.


Tak lama terlihat Farhan ke luar dari kamar mandi, ia hanya geleng-gelang kepala melihat Nayla yang sudah terlelap lagi. Padahal perjalanan dari panti sampai rumah tidaklah sebentar, sekitar satu jam.


"Sayang, bangun. Mandi dulu sana, apa kamu enggak gerah?" tanya Farhan, ia membangunkan Nayla yang tidur dengan posisi miring memeluk guling.


Farhan sudah rapi dengan pakaian santainya.


"Males Mas, aku mau tidur aja," gumam Nayla yang masih di dengar oleh Farhan. Tetapi kelopak matanya masih tertutup


"Ini sudah sore sayang, kamu juga belum sholat asar, ayo bangun terus mandi," titah Farhan, ia tidak mau menyerah.


Nayla membuka matanya, lalu ia duduk, mengucek matanya yang masih berat untuk di buka, "Aku sholat aja ya, setelah sholat mau tidur lagi, capek plus ngantuk Mas," malas sekali rasanya beranjak dari tempat tidur yang empuk dan begitu nyaman.


"Kalau enggak mandi sekarang, terus mau mandi kapan? Emang enggak gerah seharian di luar?" tanya sang suami.


"Males Mas," rengeknya dengan manja.


"Mau Mas yang mandiin?" tanya Farhan sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


Nayla tersenyum, "Boleh Mas, gendong ya," Nayla mengulurkan tangannya ke hadapan sang suami.


Farhan heran dengan perubahan sang istri, biasanya istrinya itu akan menolak jika Farhan mengatakan hal tersebut, tapi lihatlah saat ini Nayla justru mengiyakan bahkan minta di gendong ke kamar mandi.


Farhan pun menggendong tubuh sang istri, membawa tubuh itu ke dalam kamar mandi.


"Udah Mas, aku mandi sendiri aja deh. Makasih udah di anterin sampai sini," ucap Nayla setelah mereka berada di dalam kamar mandi.


Farhan pun menurunkan tubuh sang istri, "Yaudah, Mas keluar ya," ucapnya dan berlalu dari kamar mandi.


¤¤¤¤


"Akhir-akhir ini tiap malam mesti kebangun, dan lapar, apa karena sedang hamil ya?" Nayla bermonolog, mengingat akhir-akhir ini dirinya selalu terbangun tengah malam dan perutnya merasa kelaparan, tapi ia selalu mengabaikannya karena malas untuk ke dapur mencari makanan.

__ADS_1


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul dua malam. Karena rasa laparnya sudah tidak tertahan lagi, akhirnya Nayla membangunkan sang suami yang sedang berkelana di alam mimpi.


"Mas, bangun. Aku laper," ucapnya sambil menggoyangkan tubuh sang suami yang setia mendekap tubuhnya.


"Emh, apa sayang?" tanya Farhan dengan suara parau, ia membuka kelopak matanya perlahan.


"Lapar," rengek Nayla dengan manja.


Farhan mengernyitkan dahi, "Jam berapa ini?" tanyanya.


"Jam dua,"


Farhan melepaskan dekapannya, lalu ia beranjak terlebih dahulu, "Mau makan apa? Biar Mas yang ambilin," tanyanya. Ia tahu jika wanita hamil sering terbangun di malam hari, karena dulu adiknya pun seperti itu dan ia sering memergoki adik dan suaminya tengah malam berada di dapur.


"Ikut," rengek Nayla.


"Iya ayo," Farhan turun dari ranjang di susul oleh Nayla, "Sayang, kamu kok jadi manja gini sih?" tanyanya sambil merangkul pundak sang istri.


"Enggak tahu Mas, apa mungkin karena bawaan bayi ya," jawab Nayla yang tidak begitu yakin.


"Mungkin saja sih,"


Keduanya turun ke dapur bersamaan, rumah terlihat sepi bahkan beberapa lampu di matikan dan Farhan pun menyalakan lampu setiap ruangan yang mereka lewati.


Nayla yang tadinya duduk, ia beranjak mendekati sang suami yang berada di depan kulkas.


"Sepageti aja deh Mas, ada bahanya kok," ucap Nayla saat melihat ada bahan makanan yang ia nginkan.


"Baiklah, kamu tunggu aja di sana, biar Mas yang buat," titah Farhan.


Nayla menurut, ia memilih untuk duduk, melihat sang suami yang akan membuatkan makanan untuk dirinya. Karena Farhan fokus dengan masakannya, Nayla pun tertidur di meja makan sebelum sang suami menyelesaikan masakannya. Rasa kantuk yang masih melekat, membuatnya mudah untuk memejamkan mata, apalagi sejak tadi ia belum mencuci mukanya.


Setelah menyelesaikan masaknya, Farhan pun menghampiri sang istri. Betapa terkejutnya Farhan saat mendapati Nayla sudah tertidur dengan pulas, padahal Farhan masak tidak begitu lama.


Farhan menggelengkan kepala, istrinya ini sejak di ketahui hamil doyan banget tidur. "Sayang, bangun, makananya sudah jadi," ucap Farhan sambil mengelus puncak kepala Nayla.


"Ngantuk Mas," ucapnya lalu membuka kelopak matanya.


Saat mencium bau harum dari masakan yang di buat oleh Farhan, membuat ia bersemangat kembali, "Sepertinya enak," ucapnya lalu meraih piring yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Memasukkan sesuap ke dalam mulut, "Nyummi, enak banget Mas, baru kali ini makan sepageti seenak ini, kamu mau?" ucap Nayla dan di akhiri dengan pertanyaan.


"Habiskan kamu aja, Mas udah seneng lihat kamu lahap makannya. Besok Mas buatkan lagi deh," ucap Farhan sambil tersenyum.


Tak butuh waktu lama, sepageti buatan Farhan sudah tandas tanpa sisa, bahkan sepertinya Nayla masih ingin menambah jika sepageti itu masih ada. Tapi ia juga kasihan jika menyuruh sang suami membuatkan lagi, karena ini sudah terlalu pagi, bisa-bisa Farhan akan mengantuk jika bekerja esok.


"Enggak usah Mas, biar aku aja," Nayla mencegah sang suami yang akan mengambil piring kotor bekas makanannya. Setelah itu ia pun menaruh piring tersebut ke wastafel.


"Biar di cuci Bik Sumi aja sayang, kita kembali ke kamar aja sekarang," tutur Farhan, ia melihat sang istri ingin mencuci bekas makannya.


Nayla pun menurut, ia melangkah mendekati sang suami, lalu keduanya pun kembali ke kamar.


"Sholat dulu, setelah itu tidur lagi, karena subuhnya juga masih lama banget," titah Farhan saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Lalu keduanya pun melaksanakan sholat malam yang sering mereka lakukan bersama.


¤¤¤¤


Pagi hari setelah melaksanakan sholat subuh Nayla kembali naik ke atas ranjang, padahal biasanya wanita itu akan membuat sarapan untuk sang suami, tapi lihatlah saat ini dia justru bermalas-malasan.


"Habis subuh jangan tidur lagi sayang, tidak baik," tutur Farhan.


"Iya Mas, aku enggak tidur," ucap Nayla sambil tersenyum.


"Oh iya Mas, nanti suruh Dika sarapan di sini ya," titah Nayla.


Farhan mengernyitkan dahinya, tumben sekali sang istri menyuruh Dika untuk sarapan di sini, ada apa dengan Nayla.


"Aku ingin melihat senyum manisnya," ucap Nayla seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Farhan.


Farhan terkejut mendengar ucapan sang istri, "Mas enggak akan ngundang dia kalau itu tujuan kamu," ucapnya.


Nayla turun dari ranjang, ia menghampiri sang suami yang duduk di sofa, "Please ya Mas, ini demi anak kita dia yang mau, bukan aku," ucapnya mengiba.


"Kenapa harus Dika sih? Bukannya senyum suami kamu ini lebih manis dari senyuman Dika?" tanya Farhan, ia tidak rela jika sang istri mengagumi laki-laki lain.


"Iya kamu memang paling manis, tapi kali ini aku pengen liat Dika tersenyum di hadapanku, karena selama ini aku enggak pernah liat dia tersenyum," ucap Nayla.


"Enggak, Mas enggak akan ngundang dia ke sini, lagian ngidam kok aneh-aneh sih. Mending suruh manjat pohon dari pada seperti ini," tolak Farhan dengak telak.

__ADS_1


Nayla mengerucutkan bibirnya, lalu ia beranjak dari samping Farhan, kembali menaiki ranjang. Merebahkan dirinya di sana, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ngambek🤣


Bersambung....


__ADS_2