Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Mempertahankan Rumah Tangga


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kini Nayla kembali masuk kuliah. Setelah libur beberapa hari membuatnya lebih fresh menghadapi berbagai mata kuliah. Hubungannya dengan Farhan masih sama, ia selalu meneror Dika menanyakan kabar sang suami, sedangkan Farhan lebih memilih diam, tak urung ia pun bahagia karena Nayla menghawatirkannya. Kadangkala Farhan juga yang membalas pesan Nayla di ponsel Dika, tentunya berpura-pura sebagai Dika. Entah kenapa keduanya masih malu-malu kucing.


Hubungan Nayla dengan Rita, tampak biasa saja. Nayla tidak merasa terganggu meski kadang Rita bersikap tidak mengenakkan hati, bahkan Rita sering kepo dengan kegiatan Nayla. Tapi Nayla tak jarang mengabaikan pertanyaan Rita.


"Gimana hari pertama masuk kuliah setelah liburan?" tanya Erva, keduanya kini duduk di kantin.


"Lumayan lah Va, dari pada di rumah suntuk banget tau enggak, mending kuliah ada kegiatan," jawab Nayla.


Erva menyenggol bahu Nayla, "Sstt ... Doni kesini Nay," bisik Erva.


Sontak Nayla menoleh ke arah pandangan Erva, netranya bertemu dengan netra Doni yang juga menatapnya, hal yang tidak terduga Doni tersenyum ke arahnya, Nayla pun membalas senyuman itu. Selama beberapa minggu setelah tahu Nayla menikah, Doni memang menjauhi gadis itu, bahkan menyapa pun seakan enggan.


"Boleh gabung?" tanya Doni.


"Boleh kok, silakan," jawab Nayla.


"Makasih Nay," Doni duduk berhadapan dengan Nayla. "Nay, boleh bicara sebentar?" tanya Doni.


Nayla sedikit heran dengan perubahan pemuda itu, ia terlihat bukan seperti Doni yang ia kenal.


"Silahkan, bicaralah di sini, aku enggak keberatan," timpal Nayla.


"Nay, maaf ya selama beberapa minggu ini gue ngejauh, sekarang gue sadar Nay, jodoh itu sudah ketentuan dari Allah, ya meskipun gue sempet kecewa sama lo, tapi itu cuman sebatas rasa kecewa aja, dan gue harap lo masih mau berteman sama gue. Gue janji kita cuma berteman enggak lebih, karena gue ngerasa enggak enak, gara-gara rasa cinta gue ke lo, menjadikan pertemanan kita berantaakan, sepertinya itu bukan hal yang baik, secara kita udah berteman lama," tutur Doni panjang lebar. Doni benar-benar menyesalinya, terlihat saat berbicara ia selalu menatap netra Nayla dengan penuh ketulusan.


Nayla tersenyum, ia tahu pemuda itu tulus, Nayla tahu seperti apa Doni, ia bukan pecundang yang hobi main belakang, Doni juga bukan laki-laki yang tidak bisa memegang ucapannya. Jika saja Nayla belum menikah dengan Farhan, mungkin Doni akan menjadi orang yang akan ia pertimbangkan untuk jadi suami, meskipun ia selalu menolak ketika Doni memintanya menjadi kekasih.


"Kita kan memang beteman sejak dulu Don, dan gue selalu anggap lo sebagai teman. Lo orang baik Don, lo pasti dapet jodoh yang baik juga," timpal Nayla.


"Makasih Nay, kalau gitu gue permisi dulu, ada urusan, sekali lagi makasih ya Nay, salam buat Icha, maaf gue belum bisa jenguk anaknya," ucap Doni, ia beranjak dari duduknya.


"Pasti gue sampein salamnya," timpal Nayla.

__ADS_1


Doni pun melangkah meninggalkan kedua gadis itu dengan penuh kelegaan, ia tersenyum ketika melihat Nayla benar-benar mau memaafkannya.


"Doni baik juga ternyata ya Nay, meskipun dia dulu keliatannya lebay pas deket sama lo, tapi kenapa sekarang berubah drastis ya?" tanya Erva, ia menerawang sikap Doni yang dulu dan sekarang.


"Dia aslinya emang baik Va, dia juga dulu di SMA gitu, kalau sama gue emang lebay gitu, tapi pas sama yang lain, dia bersikap biasa aja. Lebaynya kumat kalo sama gue dan Icha, karena sejak kelas satu kita selalu satu kelas," terang Nayla, ia menceritakan masa-masa SMAnya.


"Kalau Irfan?" Erva penasaran dengan pemuda itu.


"Ciee, suka pasti sama Irfan, iya kan?" bukannya menjawab Nayla justru menggoda Erva.


"Enggak tuh, suka ngarang lo ah," kilah Erva


"Kalau enggak kenapa mukanya merah gitu? Ngaku aja, ntar gue bilangin sama dia," goda Nayla.


"Enggak Nay, udah ah, mau jawab enggak pertanyaan gue?" Erva terlihat mulai kesal.


"Iya deh, gue jawab, kalo lo penasaran banget," ucap Nayla tersenyum, "Gue itu waktu SMA enggak deket sama dia, kenal itu setelah ujian, kita pergi ke puncak bareng-bareng nah di situ ada Irfan, kita kenal waktu itu, deket juga pas kuliah ini," jelas Nayla.


"Oh gitu, kirain lo kenal sama dia dah lama banget, karena yang gue tahu dia itu suk ...." Ucapan Erva terpotong karena Irfan tiba-tiba datang, jadi Erva memotong paksa ucapannya.


"Heran deh, semua orang dari tadi mau bicara sama Nayla," Erva mendengus, "Jangan berdua aja, inget Nayla udah ada yang punya, kalau ada yang liat bisa salah faham," tambahnya.


"Oke deh, sama lo," putus Irfan, "Tapi enggak di sini," tambahnya.


"Enggak bisa, gue ada urusan," tolak Erva, "Bicaralah di sini aja, saran gue, enggak usah keluar kampus, apalagi suami Nayla sedang enggak di rumah. Gue duluan bye," Erva pun berlalu meninggalkan ke duanya.


"Bener kata Erva, kalau lo mau bicara di sini aja, gue enggak mau ada yang salah faham," Nayla membenarkan ucapan Erva.


"Oke, kita bicara di area kampus. Tapi enggak di sini, ayo ikut gue," Irfan menyetujui permintaam Nayla, lalu ia melangkah lebih dulu dan di susul oleh Nayla.


Irfan berjalan menuju taman kampus, yang letaknya ada di bagian belakang kampus, di sana ada sebuah danau buatan dan juga jembatan penguhubung. Melewati jembatan itu, dan duduk di bawah pohon besar yang memang di sediakan kursi di sana. Di sekitar daerah itu terlihat ada beberapa mahasiswa yang sedang belajar ada juga yang duduk berdua bersama teman atau kekasihnya.

__ADS_1


Irfan duduk menghadap Nayla, "Nay gue mau ngomong sama lo, dengerin sampai gue selesai ngomong ya, jangan di potong, oke," ucap Irfan.


Irfan merasa ini saat yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang ia pendam selama ini. Entah ia siap apa tidak jika hasil yang di harapkan tak sesuai keinginannya.


"Oke, cepetan mau ngomong apa sih, sampai sejauh ini," Nayla melihat sekeliling untung di sana bukan hanya mereka berdua.


Irfan meraih kedua tangan gadis itu, tetapi seketika Nayla menepisnya. "Apaan sih Fan?".


"Oke gue minta maaf untuk itu, sekarang dengerin gue ngomong ya," seketika wajah Irfan menjadi serius, ia menatap Nayla dengan tatapan penuh arti. "Inget jangan potong ucapan gue, oke," tambahnya. Kali ini Irfan memgang ke dua pundak Nayla.


Nayla hanya mengangguk.


"Nay, gue suka sama lo sejak pertama kita kenal," Irfan memberi kode supaya Nayla diam dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. "Gue bener-bener enggak bisa menahan perasaan ini, apalagi beberapa hari ini, gue bahagia banget lo mau bales semua pesan-pesan gue," tambahnya.


Seketika netra Nayla membola, ia akan bicara tetapi Irfan mencegahnya kembali.


"Gue tahu lo udah punya suami, tapi please beri gue kesempatan buat jadi bagian dalam hidup lo Nay, meski sebagai orang ke dua sekali pun, kalau lo sama suami lo pisah gue bakalan siap jadi gantinya Nay,"


Terlihat selama Irfan bicara kedua tangan Nayla mengepal, netranya membola memancarkan api kemurkaan, ia tidak menyangka orang yang selama ini ia anggap teman bisa mengatakan seperti itu. Ia berdiri lalu


Plak


Satu tamparan nendarat di pipi Irfan, "Lo gila ya Fan? Gue kira lo itu baik ternyata ...." Nayla menggelengkan kepala tidak percaya dengan ucapan Irfan. "Jangan pernah temui gue, sampai lo bisa move on!," Nayla mengacukan tangannya di hadapan Irfan. "Satu lagi, gimana pun caranya gue akan mempertahankan rumah tangga gue, dan gue enggak akan biarin siapapun merusaknya, inget itu." Nayla berlalu meninggalkan Irfan yang terlihat memendam amarah.


Irfan memang sering bergonta-ganti pacar waktu SMA dulu, tetapi entah kenapa saat mengenal Nayla ia ingin menjalin hubungan serius dengan gadis itu, tetapi terlambat. Ia kembali mendapatkan angin segar, ketika Nayla sering mencurahkan isi hatinya tetang suami yang selalu mengabaikannya, ia mengira Nayla akan menerima cintanya, nayatanya itu semua mustahil.


Irfan memukul kursi yang ia duduki beberapa kali. Tamparan yang Nayla berikan tidak terasa apa-apa di banding penolakan gadis itu. Ia tidak menyangkan Nayla akan menamparnya bahkan menolak cintanya.


"Kenapa lo sekaan ngasih harapan ke gue Nay!" teriak Irfan, ia frustasi, kembali memukul kursi panjang yang ia duduki, bahkan ia tidak merasakan sakit saat tangannya mengeluarkan darah.


Bersambung.....

__ADS_1


》》Kalian kecewa sama siapa?


Boleh kecewa sama siapapun, tapi jangan sama aku yah. Di sini memang banyak pelakor, awal hubungan mereka yang seperti itu, membuat banyak pelakor/pembinor, tapi santai aja mereka tidak akan bertindak extrem. Masih dalam batas wajar.


__ADS_2