
Lima bulan sudah Nayla dan Farhan menjalani mahligai rumah tangganya. Keduanya makin mesra saja, merka sudah melewati beberapa rintangan, mungkin ke depannya akan lebih banyak rintangan yang harus mereka lalui, dan juga lebih berat. Keduanya berkomitmen untuk saling mempercayai satu sama lain, karena hubungan tanpa sebuah kepercayaan tidak akan bertahan lama.
Beberapa kali Irfan mencoba untuk mendekati Nayla, tetapi selalu saja tidak memiliki kesempatan, selain Nayla selalu menghindar ternyata kehadiran Rara sangat berperan penting, karena gadis itu selalu saja mengetahui niat Irfan. Katakanlah Rara itu seperti seseorang yang sengaja di utus untuk menjaga Nayla, padah tidak seperti itu. Rara hanya merasa ia wajib membantu sesama teman.
Pagi ini, Nayla sedang membaca ayat suci setelah melaksanakan sholat subuh, dengan Farhan yang menyimak Nayla membaca, karena istrinya itu belum begitu lancar membaca, sesekali masih mengeja dan terbata-bata. Nayla tidak menyerah, ia selalu bersemangat untuk belajar, bahkan ia bahagia karena Farhan mau membimbingnya. Kegiatan ini sudah berlangsung selama hampir tiga bulan, Farhan yang sadar selama hidup satu atap dengan Nayla, ia tidak pernah mendengar Nayla mengaji, sebab itu Farhan menyuruh Nayla untuk membaca beberapa ayat, ternyata alasan Nayla tidak membaca ayat suci karena ia tidak lancar saat membaca.
"Ayo ulangi lagi sayang, yang tadi itu bacanya kepanjangan," ucap Farhan, "Yang ini," Farhan menunjuk bacaan yang kurang tepat.
Nayla mengangguk, lalu ia mengulangi bacaannya. Baru saja akan meneruskan ayat selanjutnya, Nayla menutup mulutnya, lalu memberikan kitab suci pada Farhan, dan berlari masuk kamar mandi tanpa melepas mukenanya.
Hoek
Nayla memuntahkan isi perutnya.
Farhan pun bergegas menghampiri Nayla, ia panik melihat Nayla yang memuntahkan semua isi dalam perutnya, lalu ia membantu memijat tengkuk sang istri. Setelah di rasa isi dalam perutnya sudah habis, Farhan pun menuntun Nayla duduk di ranjang, lalu ia memberikan segelas air putih.
"Masih mual?" tanya Farhan.
Nayla mengangguk, lalu ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Biar aku panggil dokter," ucap Farhan lalu meraih ponselnya untuk menghubungi dokter pribadi.
Sedangkan Nayla, ia berfikir apakah dia sudah telat datang bulan? Tapi saat di hitung-hitung, ia belum telat. Ia tersenyum ketika memikirkan jika di dalam rahimnya ada janin yang sedang tumbuh.
"Sakit kok malah senyum-senyum gitu, apa yang ada di pikiranmu sayang?" tanya Farhan ia duduk di sisi Nayla.
"Mas, apa aku hamil ya? Kalau iya aku seneng banget," ucap Nayal dengan wajah berbinar, seakan melupakan rasa mualnya.
"Semoga saja, kalu memang bener seperti itu Mas juga bahagia sayang," timpal Farhan lalu ia memeluk tubuh Nayla dan mengecupi puncak kepala istrinya.
Keduanya membayangkan betapa bahagianya mereka jika Nayla benar-benar hamil. Dan itu momen yang paling mereka tunggu-tunggu.
Tak lama dokter pun datang, ia memeriksa kondisi Nayla.
"Gimana Dok? Apa istri saya hamil?" tanya Farhan tidak sabaran.
__ADS_1
Dokter tersenyum, "Istri anda cuma masuk angin Pak, dan sepertinya belum ada tanda-tanda hamil," jelas dokter tersebut.
Seketika wajah sepasang suami istri itu menjadi murung, padahal mereka sudah berharap sekali memiliki momongan, tapi apa daya, Sang Penguasa Langit dan Bumi belum mengijinkannya.
Nayla menghela nafas, "Oh gitu ya Dok, saya kira hamil," ucapnya sambil menunduk, sedih.
Farhan hanya bisa mengelus punggung istrinya yang tampak kecewa.
"Yang sabar ya Bu, semoga aja keinginan Ibu dan Bapak segera terkabulkan," ucap Dokter paruh baya yang terlihat masih cantik itu.
"Aamiinn. Terimakasih Dok," ucap keduanya, secara bersamaan.
Farhan pun mengantar dokter itu sampai teras rumahnya. Setelah itu ia kembali ke kamar menemui sang istri yang terlihat masih murung.
"Sudah sayang, masih banyak waktu kita masih bisa berusaha. Kita menikah baru lima bulan, bahkan ada yang menikah sampai belasan tahun baru di beri momongan, yang sabar ya," tutur Farhan menenagkan Nayla, ia memeluk tubuh istrinya dari belakang. Karena Nayla tidur membelakanginya.
Nayla mengangguk, ia tidak menjawab ucapan sang suami.
"Hari ini kamu enggak usah kuliah, istirahat aja. Mas sudah suruh Bik Sumi bikin sarapan buat kamu, setelah sarapan baru minum obat ya," tutur Farhan lembut.
Tak lama sarapan untuk Nayla pun sudah di antar ke kamar. Setelah menghabiskan makanannya, Nayla minum obat dan kembali merebahkan diri.
"Sayang, Mas harus berangkat ke kantor hari ini, karena nanti jam sembilan ada rapat penting, kamu di rumah sendiri enggak apa-apa kan?" tanya Farhan, ia duduk di sisi Nayla yang sedang berbaring. Sudah dengan pakaian rapi.
"Iya Mas, enggak apa-apa, aku juga udah lebih enakan kok dari pada tadi pagi," jawab Nayla, lalu ia duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Baiklah, nanti Mas usahakan pulang lebih awal," Farhan menyingkirkan anak rambut Nayla yang menghalangi wajah cantik itu. "Sudah, kamu enggak usah pikirin tetang tadi pagi lagi ya, yang penting kita terus berusaha dan berdoa," tambahnya, ia takut Nayla masih memikirkan tentang kehamilan lagi.
"Iya Mas, aku udah enggak mikirin itu lagi. Yaudah sana kalau mau berangkat kerja, sudah hampir jam delapan lho Mas," ucap Nayla sambil melirik ke arah jam dinding.
"Iya sayang, Mas berangkat dulu ya," pamit Farhan.
Nayla mencium punggung tangan suaminya, lalu Farhan mengecup kening Nayla cukup lama.
"Istirahatlah," ucap Farhan, lalu ia berlalu meninggalkan Nayla menuju kantor.
__ADS_1
¤¤¤
Setelah rapat selesai, Farhan kembali ke ruangannya. Betapa terkejutnya dirinya saat mengetahui di dalam ruang kerjanya ada seseorang yang tidak ia harapkan kehadirannya.
Menyadari kehadiran Farhan, orang yang duduk di sofa itu beranjak, ia menghampiri Farhan. Lalu memeluk Farhan tanpa permisi.
"Lepas!" Farhan berusaha melepas pelukan orang tersebut, dan berhasil. Orang itu mencoba memeluk Farhan lagi, dengan gerakan cepat Farhan menghindarinya.
"Ngapain kesini?" tanya Farhan sinis.
"Han, aku mau ngomong sama kamu," ucap orang tersebut.
"Kita sudah tidak ada urusan apa pun, pergilah. Aku sudah tidak perduli kamu mau berbuat apa dengan siapa karena itu bukan urusanku lagi," ucap Farhan dengan nada tinggi.
"Please Han, dengerin aku dulu. Aku mau jelasin semuanya," orang tersebut tetap kekeh ingin berbicara pada Farhan.
"Untuk apa? Aku sudah tidak butuh itu semua, aku sudah bahagia dengan istriku, anggap saja kita tidak berjodoh," timpal Farhan dengan suara meninggi.
Ya, orang itu adalah Sherena, entah kenapa secepat itu ia kembali menemui Farhan.
"Aku enggak percaya, kamu pasti masih cinta sama aku kan Han? Kita bahkan sudah lama menjalin hubungan, apa semudah itu kamu melupakanku?" tanya Sherena dengan menekan semua kata-katanya.
Farhan diam, ia malas untuk menjawab pertanyaan wanita itu. Ia bahkan enggan menatap wajahnya.
"Han, aku di jebak, dan aku baru tahu beberapa hari yang lalu, kalau Samuel ternyata jebak aku, supaya dia bisa nidurin aku Han. Dan aku tidak jadi nikah sama kamu, aku nyesel kenapa aku enggak jujur sama kamu Han, maafkan aku Han. Please tolong aku, dia maksa aku untuk nikah sama dia, tapi aku enggak mau. Padahal kandunganku sudah keguguran juga karena ulah dia, tolong Han," lirih Sherena, ia tetap menjelaskan maksud kedatangannya, meskipun Farhan enggan mendengarkan.
Farhan terdiam mencerna semua ucapan Sherena, ia sedikit merasa iba dengan orang yang pernah singgah di hatinya tersebut.
Merasa Farhan tidak meresponnya, Sherena pun mendekati Farhan yang masih berdiri. Lalu ia memeluk Farhan dengan erat. Ia merasa Farhan sudah memaafkan dirinya.
"Nikahi aku Han, aku siap jadi istri kedua," lirihnya.
Cklek
Bersambung....
__ADS_1