Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Aku Kira Nayla


__ADS_3

Sore hari Nayla kembali ke rumah, karena tidak mungkin ia akan menginap di rumah Mamanya jika tanpa Farhan. Sudah di pastikan kedua orang tuanya akan curiga. Ia pulang membawa mobilnya yang ada di rumah sang Mama, meski mobil itu tak semewah mobil yang Farhan belikan tetapi itu lebih baik, dari pada memakai mobil yang harusnya bukan untuk dirinya itu. Ya Nayla jadi merasa sungkan memakai semua barang yang di peruntukkan untuk Sherena.


"Assalamu'alaikum, Mas Farhan ada Bik?" ucap salam Nayla, disusul dengan pertanyaan yang ia lontarkan pada pembantunya.


"Wa'alaikumussalam, ada Non, di kamar sepertinya, karena sejak pulang tadi enggak keluar kamar, sepertinya Bapak sedang ada masalah, Non," jawab Bik Sumi yang sedang memasak di dapur itu, ia tadi melihat Farhan pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Masalah apa Bik? Emang Bapak pergi ke mana?" banyak pertanyaan yang muncul di benak Nayla,


"Enggak tahu masalah apa Non, tapi tadi keluar sama Pak Dika, pulang-pulang seperti sedang marah dengan seseorang, terlihat dari wajahnya," terang pembantu itu.


"Yaudah aku naik dulu ya Bik, biar aku lihat," ucap Nayla, lalu ia melenggang menuju kamar mereka.


Membuka pintu kamar, ternyata benar Farhan ada di dalam kamar, ia sedang duduk di sofa sambil memangku laptop.


"Sudah puas kencannya?" tanya Farhan dengan nada sinis, tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.


"Siapa yang kencan?" Nayla justru balik bertanya, pasalnya ia tidak merasa kencan dengan seseorang.


Farhan mendengus, tapi ia tidak berbicara sedikit pun, memilih melanjutkan pekerjaannya. Tentu saja Nayla bingung melihat perubahan Farhan, tadi pagi suaminya itu masih seperti biasa, kenapa sekarang berbeda sekali? Ia jadi tak berani bertanya banyak, bahkan ingin menanyakan tentang mimpi tadi malam tidak ada keberanian.


Nayla memilih keluar kamar, ia akan membantu artnya memasak, dari pada di dalam kamar membuat suasana hatinya menjadi tidak nyaman.


Tak seperti biasanya pula, Farhan baru saja pulang dari masjid setelah isya' karena biasanya suaminya itu setelah sholat maghrib di masjid ia akan kembali ke rumah dan kadang sholat isya' juga di rumah, itu membuat Nayla menjadi tambah keheranan, lagi-lagi Nayla memilih cuek, ia sedikit gengsi inginnya di sapa terlebih dahulu. Pun sama dengan Farhan, ia ingin Nayla menjelaskan kejadian hari ini tanpa di minta, benar-benar keduanya mementingkan keegoisan mereka.


Setelah makan malam dalam keheningan, bahkan tidak ada yang mau menyapa terlebih dahulu. Farhan lebih dulu naik ke atas, ia memasuki ruang kerjanya. Sedangkan Nayla, memilih membereskan bekas makan mereka, setelah selesai ia baru masuk ke dalam kamar.


Melihat sekeliling kamar, ternyata sang suami tak ada di dalam, ia yakin Farhan berada di ruang kerja. Padahal selama ini Farhan selalu bekerja di dalam kamar menemani ia belajar, tapi lihatlah kali ini, lelaki itu memilih menghindari Nayla, membuat hati Nayla bertambah sakit. Sudah sakit dengan kejadian semalam, di tambah di abaikan oleh suaminya, tanpa terasa air bening menetes dari pelupuk matanya, ia seka dengan kasar lalu naik ke atas ranjang, membuka ponselnya ternyata banyak pesan dari teman-temannya. Yang pertama ia lihat dari Irfan, pemuda itu menanyakan bagaimana keadaan Nayla, ia juga menanyakan bagaimana dengan suaminya.

__ADS_1


Nayla bahkan menceritakan semuanya, ia sudah terlanjur bercerita dengan pemuda itu sejak awal. Pesan yang awalnya curhatan kesedihan Nayla, kini menjadi makin seru dengan membahas hal-hal sepele, padahal Nayla jarang sekali membalas pesan seseorang sampai seperti itu, dulu ia lebih cuek, tapi entah kenapa adanya Irfan membuat ia melupakan sekejap masalahnya.


Bahkan Nayla tak sadar saat Farhan masuk ke dalan kamar. Lelaki itu tersenyum getir manakala mendapati istrinya senyum-senyum sendiri sambil memegang ponsel, ia menebak jika Nayla sedang berbalas pesan dengan entah siapa, tapi pikirannya tertuju pada seseorang yang tadi pagi bersama istrinya, Irfan.


Farhan memutar tubuhnya, ia tidak jadi masuk ke dalam kamar, lebih baik kembali ke ruang kerjanya.


"Sama orang lain aja gitu, mungkin alasan sebenarnya dia sengaja bersikap dingin, supaya dengan mudah menjauh," gumam Farhan, tentu saja lelaki itu menjadi salah faham, setelah melihat sikap Nayla yang berbeda ketika dengan orang lain.


Nayla melirik jam, sudah pukul 22.00 tetapi Farhan belum juga kembali ke kamar, ia ingin menghampiri suaminya itu tetapi enggan, lalu ia memutuskan untuk ke dapur, membuatkan suaminya coklat hangat seperti biasa. Setelah coklat hangat itu jadi, ia pun bingung, tidak ada keberanian untuk memberikannya langsung, dan kebetulan sekali artnya datang.


"Bik, minta tolong boleh enggak?" tanya Nayla.


"Boleh Non, minta tolong apa?"


"Tolong berikan ini ke Mas Farhan, dia ada di ruang kerjanya, jangan bilang kalau saya yang buat,"


"Please Bik, ya," memohon sambil menyatukan kedua tangannya di dada.


"Iya Non,"


Bik Sumi melangkah naik ke atas, Nayla pun mengekori dari belakang, ia menunggu di depan kamar sampai artnya keluar dari ruangan Farhan, karena ingin tahu seperti apa reaksi Farhan.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Masuk," ucap Farhan dari dalam.


"Aku kira Nayla," batin Farhan, ia menghembuskan nafas kasar. Ketika mendapati pembantunyalah yang masuk. Ia berharap Nayla yang mengantarkab minum untuknya.


Bik Sumi pun masuk, "Ini minumnya Pak." Meletkan minuman itu di atas meja.


"Saya kan enggak minta Bik," Farhan mengernyitkan dahinya, menatap artnya penuh selidik.


Bik Sumi terlihat salah tingkah, ia bingung mau menjawab apa, "Anu ... itu saya permisi Pak," pembantu itu justru langsung pergi tanpa menimpali ucapan Farhan.


"Ternyata masih inget sama aku," gumam Farhan, ia tahu jika itu Nayla yang membuatkan minum, karena kebiasaan gadis itu ketika Farhan bekerja hingga larut, membuatkan segelas coklat hangat.


Farhan tersenyum, lalu mengambil gelas tersebut dan meminumnya.


Sedangkan di luar kamar, Bik Sumi sedang di introgasi oleh Nayla.


"Gimana Bik?" tanya Nayla saat art itu keluar dari ruang kerja Farhan.


"Bapak sepertinya curiga kalau Non yang buat minumnya, Bibik kan enggak akan buatkan minum tanpa di minta sama Bapak, Non," jelas art itu.


Nayla menghela nafas, "Yaudah lah Bik, yang penting dia mau minum, Bibik boleh kembali lagi," ucap Nayla, lalu ia masuk ke dalam kamar.


Merebahkan diri di atas ranjang, netranya menatap langit-langit kamar. Ia memikirkan bagaimana caranya bicara sama Farhan jika lelaki itu memilih diam dan bersikap cuek seperti itu. Padahal tadi pagi dirinya yang memulai, tapi entah kenapa ia merasakan rasanya tidak enak sekali di cuekin oleh suami sendiri.


Nayla pun berfikir, jika Farhan sengaja membalas perbuatannya tadi pagi, tapi yang ia bingungkan kenapa harus membalasnya bukannya malah membujuk supaya Nayla kembali seperti semula.


Tanpa terasa ia terlelap dalam keadaan seperti itu, tidur terlentang di tengah-tengah ranjang, sudah di pastikan Farhan tidak akan mendapatkan tempat tidur karena di kuasai oleh Nayla.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2