
Pagi ini setelah melaksanakan sholat subuh dan memebaca beberapa lembar ayat suci, Nayla memutuskan untuk memeriksa kembali tugas kuliahnya. Di tinggal selama seminggu, tentu saja ia harus mengejar banyak mata kuliah, dan seminggu sudah berlalu setelah ia pulang dari Paris, tapi tugas kuliahnya belum juga kelar.
Saat membuka tas, ia menemukan buku kecil yang biasa ia gunakan untuk mencatat tanggal datang bulannya. Nayla jadi teringat ucapan sang Mama waktu ia dan sang suami berkunjung ke rumahnya.
"Sayang, kalian kan baru saja pulang bulan madu, coba deh priksa ke dokter, siapa tahu sudah ada cucu Mama di sini," Mama Adela mengelus perut rata putrinya. Saat itu mereka sedang berada di ruang keluarga.
Ya, Mama Adela sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari putri kandungnya itu. Berbeda dengan Mama Hania dan Mama mertuanya, mereka masih sabar untuk menunggu Nayla mengandung, mereka memahami betapa sedihnya wanita yang sudah menikah jika selalu di tanyai tentang momongan.
"Baru aja mereka pulang dua hari yang lalu Ma, Mama yang sabar dong kasian Nayla kalau di desak seperti itu," timpal Papa Aditya yang kala itu juga ada di sana.
"Biarkan Pa, nanti Nayla akan periksa ke dokter, siapa tahu apa yang Mama katakan benar," tidak mau membuat kedua orang tuanya itu berdebat, Nayla memilih untuk mengiyakan ucapan sang Mama, tapi hatinya bimbang, jika saja ia belum positif hamil akan seperti apa reaksi sang Mama, Nayla jadi tidak bisa membayangkannya.
"Sayang, kok melamun? Katanya mau ngerjain tugas," ucapan Farhan menyadarkan Nayla dari alam bawah sadarnya.
Nayla mendongakan kepalanya, menatap wajah Farhan yang berdiri di sampingnya, "Ah iya Mas, tadi teringat sesuatu," timpal Nayla sambil tersenyum menatap wajah tampan sang suami.
"Apa perlu bantuan?" tanya Farhan, ia memang sering membantu Nayla jika istrinya itu kesusahan.
"Enggak usah Mas, aku cuma mau ngecek aja," Nayla menolak, karena tugasnya memang sudah di kerjakan semua, akan tetapi ia harus mengecek ulang tugas tersebut.
Farhan mengangguk, lalu ia meninggalkan Nayla di depan meja belajarnya, lalu mendudukkan dirinya di sofa.
Nayla membuka buku catatan tersebut, karena sejak tadi ia belum membukanya. Setelah melihat ternyata dirinya sudah telat selama lima hari, wajah yang tadinya murung kini terlihat tersenyum. Lalu ia beranjak dari duduknya membuka laci meja rias, meraih sebuah benda dan langsung berlari ke arah kamar mandi.
Farhan yang melihat istrinya seperti itu jadi heran, ada apa dengan Nayla, terlihat bahagia saat masuk ke dalam kamar mandi.
Tak berapa lama Nayla keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berbeda dari sebelumnya, kini terlihat raut kekecewaan di wajah cantiknya, lalu ia duduk di depan meja rias, membuka laci yang isinya beberapa tespek bergaris satu yang sengaja ia kumpulkan, entah akan ia buat apa nantinya.
Farhan yang melihat wajah istrinya seperti itu, ia pun menghampiri Nayla.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Pas masuk kamar mandi tadi seneng banget, terus keluar dari kamar mandi malah cemberut gini," ucap Farhan yang berdidi di belakang Nayla, menatap wajah sendu sang istri dari cermin.
Nayla tidak menjawab, ia memberika tes peck yang tadi ia gunakan pada sang suami.
Farhan menerima itu, setelah melihat hasilnya, ia pun meletakkan tes peck tersebut di atas meja, lalu memutar tubuh sang istri supaya menghadap dirinya. Farhan berjongkong di hadapan sang istri, ia bisa melihat jelas wajah cantik Nayla yang kini di penuhi awan hitam. Lalu ia meraih ke dua tangan Nayla.
"Mas kan sudah berkalai-kali bilang sama kamu, kalau kita harus sabar, mungkin saat ini belum waktunya kamu mengandung, suatu saat Allah pasti akan memberikan amanah itu pada kita, jadi jangan bersedih ya, Mas juga enggak nuntut kamu supaya cepet-cepet hamil, nikmati dulu masa-masa berdua kita, udah ya jangan sedih lagi," tutur Farhan panjang lebar.
"Tapi Mas, aku jadi teringat ucapan Mama, gimana kalau Mama tahu aku belum hamil, pasti Mama kecewa banget," Nayla menyeka air mata yang entah sejak kapan menetes tanpa aba-aba.
"Kamu enggak usah khawatir, Mama pasti ngerti, udah ya jangan nangis lagi," bujuk Farhan, ia menyeka air mata sang istri dengan buku-buku jarinya. Lalu mendekap tubuh Nayla dengan erat.
"Sudah-sudah, sekarang kita siap-siap, kamu berangkat pagi kan? Biar Mas yang antar ke kampus, nanti pulangnya juga Mas yang akan jemput," titah Farhan, masih mendekap erat sang istri.
Nayla mengurai pelukannya, "Iya Mas, biar aku siapin sarapan dulu," ucapnya.
"Enggak usah, biar Bibik aja, sekarang kamu mandi terus siap-siap," Farhan mencegah Nayla, ia tahu suasana hati sang istri sedang buruk, jika membiarkan istrinya itu memasak maka hasilnya akan berantakan.
¤¤¤
"Di antar suami tumben?" tanya Rara saat melihat kedatangan Nayla. Ia tadi sempat melihat Nayla turun dari mobil Farhan.
"Iya, dia yang nawarin jadi gue iyain aja," jawab Nayla sambil tersenyum.
Keduanya lalu berjalan bersama menuju kelas mereka. Belum saja sampai di kelas Nayla merasakan sesuatu di area intinya.
"Ra, anter ke kamar mandi yuk, sepertinya gue dapet deh. Lo bawa penangkalnya enggak?" tanya Nayla, ia merasakan jika dirinya kedatangan tamu bulanan.
"Penangkal?" tanya Rara heran, ia tidak tahu apa yang di maksud penangkal sama Nayla.
__ADS_1
Nayla pun membisikkan sesuatu di telinga Rara. Setelah tahu apa yang di maksud, Rara pun mengangguk, "Iya gue bawa, kebetulan gue juga lagi dapet," celetuknya.
Mereka pun akhirnya ke toilet dulu sebelum masuk kelas.
"Gini amat ya jadi wanita, pantesan tadi di tes negatif," rutuk Nayla saat ia berada dalam toilet. Kekecewaan itu pasti ada, tapi ia ingat dengan ucapan sang suami yang menyuruhnya untuk bersabar, karena suatu saat pasti akan di beri amanah jika sudah waktunya.
"Baru seminggu pulang bulan madu, udah dapet aja, bulan madunya gagal dong," celetuk Rara setelah Nayla keluar dari toilet.
Nayla mendengus, "Enggak usah bahas itu kenapa? Gue sedih tau enggak," ucapnya dengan nada sendu.
"Maaf deh, gue kan cuma becanda Nay,"
Nayla hanya mengangguk, mereka pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas.
¤¤¤
"Ra, lo entar bisa anterin gue enggak? Ada seseorang entah siapa ngirim pesan ke gue, katanya mau bicara penting tapi enggak boleh ngajak suami, gue kalo sendiri takut, lo mau kan anterin gue?" tanya Nayla, keduanya kini berada di kantin menunggu beberapa saat sebelum mata kuliah selanjutnya di mulai.
"Gue sih mau aja, tapi kalo dia berbahaya gimana? Gue takut ntar kita kenapa-napa," Rara khawatir terjadi sesuatu pada mereka.
"Tenang aja, dia ngajakin ketemunya di kafe kok, kan pasti rame tu, dia bilang juga engga akan berbuat jahat, dia mau memberitahu sesuatu sama gue katanya, dia bilang gue kenal sama dia, tapi gue enggak tahu siapa, nomernya aja baru," terang Nayla, ia percaya begitu saja dengan pesan yang di kirim oleh orang tersebut.
"Misterius amat, siapa sih? Oke deh gue mau tapi lo bilang dulu sama suami lo,"
"Iya, gue udah bilang kalo pulangnya sama lo aja, dia udah setuju kok," Nayla memang sudah memberi tahu Farhan jika ia akan pulang dengan Rara.
Bersambung....
Maklum kalo banyak typo, enggak aku edit🙈
__ADS_1
Yuk Bantu Like novel temenku ini