
Setelah kejadian di dalam kamar itu, keduanya memutuskan untuk pulang. Sebelumnya Nayla lebih dulu mandi dan berganti pakaian, sedangkan Farhan ia tidak mengganti pakaiannya karena di rumah mertuanya ia tidak menyimpan baju ganti.
"Makan di luar aja gimana?" tanya Farhan, keduanya kini berada di dalam mobil.
"Boleh Mas, ini juga sudah masuk waktunya makan malam," Nayla menyetujui usulan Farhan. "Mas Farhan sholat maghrib dulu aja," tambahnya.
Farhan mengangguk, kebetulan di depan mereka ada sebuah masjid. Mungkin Nayla mengatakan itu karena ia sudah melihat ada masjid di sana. Farhan membelokkan mobilnya masuk ke dalam masjid tersebut. Menunggu Farhan sholat, Nayla tidak berniat untuk turun dari mobil, ia akan menunggu suaminya di dalam mobil.
Tak berapa lama Farhan pun kembali ke dalam mobil, ia melajukan mobilnya menuju sebuah rumah makan.
Seperti biasa Farhan menggandeng tangan Nayla saat memasuki sebuah restoran, kali ini Nayla terlihat lebih nyaman, mungkin karena kejadian tadi sore berefek untuk kebaikan keduanya.
"Mas kenapa enggak hubungin aku pas mau pulang?" tanya Nayla, keduanya sedang menunggu makanan yang mereka pesan.
"Sengaja, mau buat suprise untuk kamu," Farhan tersenyum menatap istrinya, "Sebenarnya emang jadwal awal pulangnya malam minggu, tapi karena aku kelarin semua kerjaan pagi tadi jadi, bisa pulang lebih awal, di tambah udah kangen juga sama kamu," tambahnya, senyuman masih melekat di bibirnya.
Nayla tersenyum malu mendengar ucapan 'kangen' Farhan, padahal pemuda itu tadi sudah mengatakannya.
Obrolan mereka terhenti saat pesanan datang. Lalu mereka menikmati makan malam dengan hening. Hingga suara seseorang mengejutkan keduanya.
"Sepertinya ada yang sedang kencan," ucap orang itu.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara, ada dua orang pria berbeda generasi, sepertinya mereka ayah dan anak, masih mengenakan pakaian formal dengan jas yang masih melekat di tubuh keduanya.
"Om Adit, Fahri, silahkan duduk makan malam bareng kita," ucap Farhan, ia mengenali kedua orang itu.
Nayla tersenyum ke arah keduanya.
"Istri kamu?" tanya orang yang di sapa Om Adit oleh Farhan.
"Iya Om," jawab Farhan sambil mengangguk.
"Om kok enggak asing sama kamu," Aditya mengingat-ingat di mana dia melihat gadis itu.
"Om yang nolongin Icha waktu kecelakaan, kan?" tanya Nayla, ia ingat banget dengan orang itu.
__ADS_1
"Iya, kamu masih ingat ternyata," Aditya mengangguk, tapi bukan itu yang ia fikirkan, ada hal lain, tapi entah apa.
"Silahkan kalian lanjut makannya, kami baru saja makan malam bersama klien, kami berdua permisi," Aditya berpamitan pada pasangan pengantin baru itu.
Kedua lelaki itu pun meninggalkan Nayla dan Farhan.
"Kenapa Pa? Seperti ada yang Papa pikirkan saat melihat gadis itu?" tanya Fahri ia bisa melihat perubahan wajah sang Papa.
Aditya menggeleng, "Enggak, lupakan saja," ucapnya.
Fahri pun mengangguk, mereka melanjutkan perjalanannya.
¤¤¤¤
Setelah menyelesaikan makan malamnya mereka pun kembali ke rumah. Saat ini keduanya sudah berada di dalam kamar, karena rasa lelahnya Nayla pun sudah berbaring di atas ranjang dengan netranya yang fokus menatap langit-langit kamar. Entah apa yang ia fikirkan.
Sedangkan Farhan memilih melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah selesai ia pun menghampiri Nayla yang masih berada di tempat semula, berbaring di atas ranjang dengan tangan terlentang dan kaki menjulur ke bawah.
"Apa yang kamu fikirkan Nay?" tanya Farhan, ia sudah duduk di sisi ranjang.
"Aku punya sesuatu buat kamu, tunggu ya," ucap Farhan, ia melangkah mendekati koper yang ia bawa ke luar kota kemarin. Mengambil sesuatu yang terbungkus oleh paperbag, lalu membawa ke hadapan Nayla.
Farhan memberikan paperbag itu pada Nayla, "Ini, bukalah," titahnya.
Nayla pun menerima paperbag tersebut, ia membuka dan tersenyum saat tahu isi paperbag itu, "Makasih Mas." Nayla memeluk Farhan. "Inikan novel yang aku tungguin launcingnya, dan baru hari ini novel ini di jual ke pasaran," tambahnya masih dalam pelukan Farhan.
"Iya sama-sama, kebetulan yang mencetak novel itu ada di sana," timpal Farhan, ia membalas pelukan Nayla.
Nayla melepas pelukannya, "Kok Mas tahu kalau aku mau novel ini?" tanya Nayla, ia penasaran dari mana suaminya itu tahu kalau ia menginginkan novel itu.
"Rahasia, kalau aku kasih tahu nanti kamu terkejut gimana?" tanya Farhan sambil tersenyum menggoda, "Aku tahu semua yang kamu inginkan," tambahnya.
Nayla berdecak, "Aku enggak percaya," ucapnya. Ia mulai membuka halaman pertama novel tersebut, ia tersenyum ketika melihat ada tanda tangan sang penulis di sana.
Farhan akan menimpali ucapan Nayla, tetapi gadis itu lebih dulu memeluknya lagi.
__ADS_1
"Makasih Mas, ada tanda tangan penulisnya juga," ucap Nayla dalam pelukan Farhan.
"Sekarang udah berani pelak-peluk ya," ucap Farhan, ia tidak menimpali ucapan Nayla.
Nayla melepas pelukannya dengan kasar, "Yaudah aku enggak akan meluk lagi," ucapnya dengan cemberut, ia akan beranjak dari duduknya tapi Farhan lebih dulu menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku bercanda Nay," Farhan mengelus rambut hitam nan panjang Nayla, "Aku bahagia Nay, itu artinya kamu sudah menerima keberadaanku," tambahnya.
Nayla mendongak menatap Farhan, "Sejak awal aku udah menerima Mas Farhan, jika tidak mana mungkin aku mau nikah sama Mas Farhan,"
Farhan tersenyum, "Makasih ya," ucapnya.
Nayla mengangguk, senyumnya tiba-tiba memudar, ia menghela nafas panjang, "Aku seperti wanita murahan saja ya, menawarkan diri untuk menajdi mempelai wanita, tapi entah kenapa waktu itu aku enggak terfikirkan akan hal itu," ucapnya, ia menunduk.
Farhan mengangkat dagu Nayla hingga gadis itu menatapnya, "Kamu bukan wanita seperti itu Nay, meskipun awalnya seperti itu tapi aku tahu kamu melakukan itu demi keluargaku. Jangan fikirkan hal seperti itu lagi," tutur Farhan, ia tidak mau Nayla berfikiran yang tidak-tidak.
Nayla menganggukkan kepala pelan, "Mas Farhan nyesel enggak nikah sama aku?" tanyanya, ia takut Farhan menyesal.
Farhan tersenyum, "Enggak, kenapa harus nyesel? Kamu cantik, baik meskipun enggak bisa masak," Farhan sengaja menggoda Nayla, ia mau tahu seperti apa reaksi gadis itu.
"Tuh kan, bilang aja kalu nyesel. Aku siap jika Mas Farhan mau menceraikanku," ucapnya, ia akan melepaskan pelukan Farhan tadi pemuda itu menahannya.
"Sstt, nagwur kamu kalau bicara. Kamu tahu? Perceraian itu meskipun di perbolehkan tapi Allah sangat membencinya, jadi jangan ngomong sembarangan lagi ya," Farhan terlihat serius saat mengatakan itu, membuat Nayla sedikit takut, lantas Nayla pun mengangguk.
"Iya Mas, maaf atas ucapanku tadi," ucap Nayla. "Mas lepas, aku mau ke kamar mandi," tambahnya, ia akan melepaskan pelukan Farhan tapi sangat sulit, karena Farhan mengunci tubuhnya dengan erat.
Farhan melepas pelukannya setelah mendengar ucapan Nayla, ia membiarkan Nayla masuk ke dalam kamar mandi. Ia pun merebahkan diri di atas ranjang.
¤¤¤
Pagi hari bahkan sebelum adzan subuh berkumandang, Farhan terbangun karena mendengar ponselnya berbunyi. Ia melepaskan pelukannya dari sang istri yang masih berkelana di alam mimpi. Mengambil ponsel di atas nakas, melihat siapa si penelfon yang mengganggu tidurnya. Ia terlihat khawatir saat tahu siapa sang penelfon.
"Assalamualaikum ad ...." ucapan Farhan menggantung, saat orang di seberang sana lebih dulu menajwab salamnya, dan mengatakan sesuatu.
Bersambung....
__ADS_1