
SUPRISE
Ucap semua orang yang ada di dalam rumah itu. Nayla terkejut, melihat mereka semua. Bukan hanya keluarga saja yang hadir, tetapi sahabat-sahabat kampusnya juga nampak hadir, entah siapa yang sudah mempersiapkan ini semua.
Happy birth day to you
Happy birth day to you
Happy birth day to you
Mereka semua kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun dalam versi Inggris dan lokal.
Nayla masih mematung di tempat, ia terharu sekaligus bahagia, bahkan ia melupakan jika hari ini adalah hari kelahirannya dan satu lagi, jika esok ternyata hari pernikahan mereka, Nayla baru teringat sebelum acara pernikahan mendadaknya ia melaksanakan acara ulang tahun hanya bersama Papa dan Mamanya. Buliran bening menetes dari pelupuk matanya, ia tersenyum haru.
Ucapan sang suami yang entah sejak kapan berada di hadapannya, membuyarkan lamunan Nayla.
"Selamat ulang tahun istriku," ucap Farhan lalu mengecup kedua tangan, beralih ke kening sang istri.
Nayla tersenyum, lalu memeluk tubuh sang suami, "Makasih Mas," ucapnya.
"Udah pelukannya di lanjut nanti kalau kita semua udah pulang," celetuk Fahari yang ternyata berada di sana juga.
Nayla melepas pelukannya sambil tersenyum canggung karena malu. Lalu Farhan menuntun Nayla sampai ke tengah-tengah ruangan, di mana semuanya berkumpul di sana.
"Ayo kalian tiup lilinnya bareng-bareng, karena ini hari bahagia kalian berdua," titah Mama Sinta yang berdiri di sisi Nayla.
Setelah mendapat aba-aba keduanya pun meniup lilin yang terletak di atas kue tart berukuran besar, di sana juga ada tulisan 'Happy birth day Nayla' dan 'Happy Unniversary'.
Huuuf
Huuuf
__ADS_1
Keduanya kompak meniup lilin tersebut, setelah lilin mati mereka saling pandang, lalu saling melempar senyum. Kemudian Nayla memotong kue tersebut dengan hati-hati, menyuapi sang suami dengan potongan kue pertama, bergantian Farhan yang menyuapi Nayla dari kue yang di potong oleh Nayla tadi.
Tepuk tangan meriah dari semua yang hadir di acara tersebut. Mereka secara bergantian mengucapkan selamat ulang tahun untuk Nayla dan juga mendoakan untuk kelanggengan pernikahan Nayla dan Farhan.
Setelah acara potong kue selesai, mereka pun menyantap hidangan yang sudah di persiapkan di samping rumah, mereka menikmati hidangan yang tersaji dengan saling bercanda ria. Ternyata taman sebelah rumah di sulap menjadi tempat pesta yang mengasyikkan, karena terdapat beberapa kursi dan meja yang tertata rapi, menjadikan mereka yang hadir tampak nyaman menikmati makan malam mereka.
Farhan terlihat berbincang-bincang dengan para Papa dan ada Fahri juga di sana beserta Papa mertuanya tak lupa Papanya Al pun ada di sana. Sedangkan para Mama sedang asyik menjaili cucu-cucu mereka.
"Ante," Aufa menyodorkan ke dua tangannya ke hadapan Nayla yang baru saja menghampiri mereka. Bayi sebelas bulan itu memang lebih akrab dengan tantenya.
"Aufa sayang, mau ikut Tante ya, yuk," Nayla mengambil alih Aufa dari tangan neneknya, lalu ia mencium pipi gembul bayi itu.
"Ma, Tan, aku bawa Aufa ke sana ya," Nayla berpamitan untuk berkumpul dengan teman-temannya.
"Wah dah cocok banget lo Nay jadi mamud, cepetan bikin sendiri," celetuk Erva yang juga hadir di sana.
Nayla duduk diatara mereka, "Kalau bikin mah udah tiap hari, tapi belum di kasih, doakan ya," ucapnya, ia tidak terlihat sedih saat mengucapkan itu.
Mereka pun kembali mengobrol, sesekali menggoda Aufa yang enggan berpindah dari pangkuan Nayla, bayi berumur sebelas bulan itu terus memeluk leher Nayla saat salah satu dari mereka mencoba mengambilnya.
Malam semakin larut, satu persatu di antara mereka pun ijin untuk pulang.
Oh iya tentang Irfan, pemuda itu sudah berbaikan dengan Papa Aditama sebulan yang lalu, berkat nasehat dari Nayla dan Mamanya, akhirnya Irfan menyadari jika dirinya salah kalau mendiamkan Papa kandungnya terus menerus. Dan kini keluarga mereka sudah kembali membaik dan menerima satu sama lain, melupakan kesalahan mereka di masa lalu.
¤¤¤
"Uh capeknya." Nayla menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Semuanya sudah kembali ke rumah masing-masing, keadaan rumah masih berantakan, rencananya Farhan akan menyuruh orang untuk membereskan semuanya besok.
"Ganti baju dulu sayang, kalau mau tidur," titah Farhan yang baru saja masuk kamar dan mendapati Nayla tidur terlentang di atas kasur.
Nayla pun beranjak dari tidurnya, ia duduk di sisi ranjang, "Iya Mas," jawabnya lalu ia beranjak dari duduknya, berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Waktu berlalu, keduanya kini sudah bersiap untuk tidur. Kebiasaan mereka sebelum tidur berbincang-bincang hangat, duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Jadi semua ini rencana siapa Mas? Jangan-jangan kamu sengaja nyuruh Irfan sama Ayna ngajakin aku pergi ya?" tanya Nayla, ia masih penasaran dengan kejutan ulang tahunnya tadi.
"Ini ide banyak orang, Mama Adela yang nyuruh supaya kamu di ajak pergi sama Irfan dan Ayna, supaya enggak curiga katanya. Tadinya aku cuma mau ngerayain ulang tahun kamu sama unniversary kita hanya berdua saja, tapi mereka justru memberi ide untuk melakukan pesta meskipun tidak meriah, unniversary kita kan harusnya besok, katanya sekalian di gabung aja, aku sih ngikut mereka," jawab Farhan panjang lebar.
"Berarti kalian merencanakan ini sudah jauh-jauh hari ya?" tanya Nayla lagi, "Sebenarnya aku udah curiga tadi, saat Ayna maksa aku buat pakai gaun, terus kamu yang enggak bisa di hubungi, dan lagi Irfan sama Ayna yang sudah rapi katanya mau kondangan, masak iya mereka ikut kondangan Mama, eh ternyata itu cuma alasan saja, padahal pada mau ke sini," tambahnya.
"Ya begitulah,"
"Berarti tadi pagi Mas yang bilang mau ikut kami cuma ekting ya?" Nayla mendengus saat mengingat tadi pagi Farhan merengek untuk ikut mereka, ternyata Farhan cuma ekting saja.
Farhan tersenyum lalu mengangguk, "Buat nyempurnain kejutannya, biar kamu enggak curiga juga," ucapnya sambil mencubit hidung Nayla gemas, karena istrinya itu terlihat imut saat besikap pura-pura ngambek.
"Sakit Mas," rengeknya manja. Farhan pun melepaskan cubitannya.
"Oh iya sayang, tadi Papa nawarin kita untuk liburan atau bisa di katakan bulan madu, kita kan belum melakukan bulan madu, gimana menurut kamu?" tanya Farhan, ia tadi saat di tawari oleh Papanya tidak langsung menjawab, ia akan meminta pendapat Nayla juga.
"Aku sih mau banget kalau liburan," jawab Nayla antusias, "Ke luar negeri kan?" tanyanya. Pasalnya ia tidak pernah berlibur ke luar negeri.
"Boleh, terserah kamu mau kemana, aku setuju-setuju aja," jawab Farhan sambil mengelus rambut panjang Nayla.
"Nanti aku pikir-pikir mau kemananya, cari referensi dulu, yang penting ke luar negeri yah, aku pengen ngerasain jalan-jalan di negeri orang," timpal Nayla.
"Iya, ke luar angkasa juga boleh, asalkan sama kamu," jawab Farhan sambil tersenyum menatap Nayla.
"Enggak mau kalau ke luar angkasa, maunya ke bulan," timpal Nayla yang juga membalas senyuman sang suami.
"Ayo kalau ke bulan sekarang aja," ucap Farhan sebelum Nayla menjawab Farhan lebih dulu membungkam mulutnya.
Dan malam ini mereka melakukan sesuatu yang sering mereka lakukan selama setahun ini.
__ADS_1
Bersambung...